humor

29.5.11

APA KABAR PENGANGGURAN?

 

Angka pengangguran di indonesia masih cukup tinggi. Data paling baru menyatakan, angka pengangguran mencapai 8,14% atau 9, 26 juta jiwa usia produktif. Menakertrans Muhaimin Iskandar menyatakan tingginya angka itu disebabkan tidak seimbangnya antara pencari kerja dan lapangan kerja yang produktif (Jawa Pos/ 29/11). Cukup tingginya pengangguran tersebut menurut Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar karena tidak seimbangnya pencari kerja dan lapangan kerja produktif.
Data di atas menunjukkan adanya permasalahan yang cukup pelik di negara ini. Yaitu meningkatnya minat kerja yang tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja. Perkara rumit ini dapat ditelisik dari berbagai dimensi. Pertama, dimensi sosial. Dalam perkara ini, lapangan pekerjaan yang disediakan pemerintah selama ini terbatas pada wilayah birokatis-teknokratis. Hal ini juga ditunjang dengan proses peremajaan birokrasi yang berlangsung lamban. Alhasil, terjadi sebuah simplikasi makna birokratis sebagai sebuah wilayah elit(is) yang eksklusif. Proses imagologi semacam ini semakin membuat dunia birokrasi dibanjiri peminat.
Faktor di atas, jika dilihat, merupakan warisan pola priyayi warisan Belanda. Priyayi, dalam konteks zaman saat itu, menempati posisi sebagai bagian high class dalam kultur inlander. Akibatnya, banyak anak bangsa yang memilih berebut menjadi priyayi dibanding dengan upaya “pemerdekaan” diri.
Kedua, dimensi mental. Dalam perkara kedua ini, angka pengangguran yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun, dapat dilihat sejauh mena kreatifitas dan daya tahan masyarakat, terutama di usia produktif, dalam mencari peluang garapan usaha. Rata-rata, mereka yang berada dalam usia produktif ini (pasca SMA dan sarjana), memburu pekerjaan yang menjanjikan kemapanan. Faktanya, bursa kerja dan ujian CPNS selalu kebanjiran peminat. Dalam dimensi mental ini, pekerjaan yang dianggap menjanjikan adalah pekerjaan yang “berangkat pagi-pulang malam”.
Arah pendidikan di tanah air yang tak jelas juga turut memperkeruh masa depan para pemuda. Prinsip-prinsip pendidikan hanya diarahkan pada taraf learning to know, yang tak diimbangi konsep learning to learn, learning to do, learning to be, dan learning to live together.
Akibatnya, dalam konteks pendidikan Indonesia, nalar kreatif tertutup oleh nalar pasif. Begitu pula dengan paradigma para pencari kerja yang lebih dominan dibandingkan dengan paradigma para pencipta kerja. Hal ini dapat dilihat dari mainstream pendidikan Indonesia secara menyeluruh melanggengkan proses dehumanisasi dan robotisasi terha-dap para alumninya yang memang ketika belajar didesain untuk memiliki special skill sehingga “siap pakai” (ready for use) atau “siap latih” (trainable) untuk memenuhi bi-rokrasi dan mesin produksi, sekalipun pada kenyataannya target yang dimaksud tak ter-penuhi. Lebih dari sekadar special skill, yang justru dperlukan adalah life skill. Yang berintikan kemandirian, kreatif, tahan banting, dan selalu belajar hal-hal baru.
Ya, lebih dari perkara memburu kerja semata, yang justru didekonstruksi pertama kali adalah paradigma manusia-manusia Indonesia. Betul kata Bung Hatta, mentalitas inlander adalah mentalitas bangsa kuli, bukan mentalitas juragan. Mentalitas yang lebih banyak menunggu dan menerima daripada mencipta dan memberi.
Resep Bernama Enterpreneurship
Melihat realitas demikian, saya setuju dengan gagasan Ciputra (Pak Ci) yang dengan semangat menggebu mengusulkan agar dunia pendidikan memberi porsi kurikulum entrepreneurship (kewirausahaan). Sebagai pelaku dunia bisnis, ia merasakan kegelisahan betapa minimnya para pembuka lapangan kerja di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan.
Enterpreneur berasal dari bahasa Prancis “entreprende” yang arti harfiahnya memulai, mengambil inisiatif dan tindakan sejenis. Kamus Webster kemudian mendefinisikannya sebagai seorang yang mengorganisir, mengelola, dan mengambil sebuah resiko dari suatu bisnis atau perusahaan. Richard Cantillon, seorang physiocrat ekonomi Austria (1680-1734), mendefinisikan enterpreneur sebagai orang yang mempekerjakan diri sendiri. Enterpreneur di sini identik dengan mereka yang menanggung ketidakpastian atau resiko. Di sini, terlihat penyempitan makna dari arti enterpreneur sehingga dihubungkan dengan aktivitas ekonomi saja (baca: pengusaha). Meminjam analisa Joseph Schumpeter, seseorang disebut enterpreneur jika ia mampu menghasilkan produk baru, metode produksi baru, atau bentuk organisasi baru.
Akan tetapi, tantangan melandaskan jiwa wirausaha di masyarakat masih menemui jalan terjal. Hal ini terkait dengan beberapa faktor. Di antaranya, konsep pasar bebas yang diadopsi semikian rupa oleh pemerintah, meskipun memberi efek kompetisi yang ketat, di sisi lain malah memporakporandakan kreatifitas masyarakat yang bergelut di wilayah wirausaha. Hal ini dapat dilihat dari serbuan produk impor akan manghabisi produk lokal secara perlahan.
Faktor lainnya adalah minimnya sosialisasi teladan nasional di bidang wirausaha. Media massa mencipta realitas artifisial berupa kesuksesan sosok-sosok yang meraih popularitas dalam sekejap dan mendapatkan kesuskesan secara instan. Padahal, salah satu dogma pokok dalam wirausaha adalah kerja keras, trial and error, dan kompetisi yang fair.
Maka dari itu, pengukuhan kurikulum enterpreneurship dalam dunia pendidikan di Indonesia merupakan conditio sine qua non (syarat mutlak). Sebab, dengan cara demikian penyumbatan di dunia kerja kembali mencair. Kita, saat ini butuh sosok-sosok yang dengan kreatif mencipta lapangan pekerjaan, hingga akhirnya mengurangi beban pemerintah dalam mengurangi jumlah pengangguran.

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan