humor

13.5.11

Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis,

 


Membaca buku “Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis” saya teringat cerita salah satu teman saya. Dia bercerita tentang salah satu ungkapan “mengelitik” salah satu ustadznya ketika dia berkunjung ke rumahnya. Kebetulan ustadznya itu adalah seorang penulis yang hidup di reng perreng (desa) pedalaman, yang kalau bahasa kasarnya jauh dari peradaban. Maaf.

Kisahnya, ketika teman saya itu berkunjung ke kediaman ustadznya, sebut saja namanya Suhairi, ustadznya tadi sedang menggarap sebuah karangan yang akan dikirimkan ke media. Karena kebetulan temanku itu berkunjung ke sana, sang ustadz meminta komentar sebelum tulisannya itu dilayangkan ke media. Singkat cerita, di salah satu perbincangan keduanya, temanku bergumam dengan nada guyon; “meskipun penulis kalau hidupnya di reng perreng ustadz”. Mendengar centilan temanku itu, sang ustadz menjawab dengan nada datar tapi pasti; “ya jangan difrasekan; meskipun penulis kalau hidupnya di reng perreng, tapi baliklah; meski di reng perreng kalau penulis”. “Kan enak dengarnya” timpal sang ustadznya lagi sambil dibarengi tawa khas mereka.

Cerita di atas, benar apa adanya. Untuk menjadi seorang penulis tidak harus hidup di keramaian metropolitan. Orang yang hidup dan besar di reng perreng pun juga bisa menjadi seorang penulis. Karena untuk menjadi seorang penulis tidak harus kaya, dan tidak pula harus keturunan bangsawan. Yang dibutuhkan dalam menulis hanya membaca dan imajinasi. Semua orang bisa menjadi penulis jika ia mau membaca dan berimajinasi—yang pastinya disertai usaha.

Sebut saja seperti D. Zawawi Imron. Dia tidak hidup di keramain kota metropolitan dan tidak pula dari keturunan bangsawan. Dia hidup di daerah paling timur pulau Madura, Sumenep. Tapi dia menjadi budayawan terkenal karena dia ingin membaca dan berimajinasi. Tulisannya sering nongol di media. Dan bukunya pun banyak peminatnya. Kalau kita membaca Jawa Pos Minggu, maka kita akan bertemu dengannya di rubrik budaya. Dan kalau kita pergi ke toko buku dan menemukan buku yang berjudul “Celurit Mas”, itu adalah buku best seller. Tidak harus hidup di metropolitan dan berasal dari keturunan bangsawan kan?

Buku “Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis” yang ditulis oleh Rijal Mumazziq Zionis dan 12 teman lainnya mengungkap semua itu. Di dalamnya menyajikan lika-liku para santri dalam upayanya menjadi penulis. Anggapan bahwa santri itu kolot dan jauh dari peradaban dijawab dan dibantah buku ini. Insan pesantren juga bisa menghiasi dunia tulis menulis. Dunia yang dapat memperteguh eksistensi dan menunjukkan bahwa manusia akan berada pada dan dalam arti sebenarnya. Hidup tidak sekedar harus dijalani, tapi dikembangkan, diolah dengan penuh kreativitas dan kesungguhan serta melakukan transpormasi.

Menulislah!
Menulis tidak butuh bakat. Faktor bakat dalam menulis kalau mau dihitung hanya ada pada angka 5 persen. Yang dibutuhkan dalam menulis hanyalah membaca dan berimajinasi. Baik membaca buku, koran, majalah maupun membaca realita alam sekitar. Benang merahnya, barang siapa ingin menjadi kutu buku, maka jadilah seorang penulis. Logikanya, karena dalam proses menulis mau tidak mau harus kaya data, dan data itu bisa didapat dengan membaca.

Menulis, munurut istilah Prof. DR. Abd. A’la, MA. dalam epilog buku ini, dapat mengantarkan seseorang (penulis) dapat hadir tanpa fisik dalam suatu kehidupan yang sejatinya penulis itu belum pernah menyentuhnya dengan mata-kepala atau peraba yang badani (hal. 207).

Selain itu, dengan menulis seseorang (sudah) sadar dan berusaha peduli terhadap pengembangan dan kemajuan bangsa ini dan menghilangkan kebiasannya dalam memmbudayakan budaya verbal. Seperti yang kita ketahui, bahwa masyarakat Indonesia sampai saat ini lebih banyak mempopulerkan budaya verbal, yakni mengobrol dan menggosip—yang aktivitas itu tidak ada manfaatnya dan jauh lebih baik jika kita banyak membaca-menulis.

Sulit atau mudahkah menulis itu? Menulis sejatinya bisa dibilang sulit dan juga bisa dibilang mudah. Dibilang sulit karena menulis itu butuh usaha, ketekunan, keuletan, latihan dan perjuangan melawan rasa malas dan rasa tidak mood yang memang sering menghantui seorang penulis bahkan kadang ejekan dan cacian dari orang sekitar. Namun, di balik semua itu, ada kemudahan yang nantinya akan hinggap selama ada usaha sungguh-sungguh untuk menjadi seorang penulis.

Contoh kecilnya seperti apa yang diungkapkan oleh Rijal Mumazzaiq Zionis dalam buku ini, bahwa, dalam menjalani dunia tulis menulis dia harus dan memulainya dengan penuh perjuangan dan “berdarah-darah”. Mulai dari belajar menulis di mading sekolah (pondok) kala itu sampai harus kecewa karena harus ditolak media—yang akhirnya terpaksa dimuat di media pribadinya (hal. 1-11).

Buku ini sangat cocok dibaca oleh siapa saja yang ingin (akan) dan sedang berjuang dalam dunia tulis menulis, baik fiksi atau non fiksi. Orang yang ingin generasinya menjadi penulis juga cocok untuk membaca dan mungkin menghadiahkan buku ini.

"Dengan membaca kita akan tahu dunia dan dengan menulis dunia akan tahu kita... - Kata orang bijak"

Judul "Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis"  tanpa sadar telah memaksa saya untuk membuka kembali memory card yang berisi folder dan file-file penting selama tujuh tahun belajar di pesantren. Ada beberapa folder yang bertutur tentang hiruk-pikuk canda tawa, suka-duka, atau bahkan folder yang sengaja saya hidden agar tidak terindeks oleh virus yang siap menggerogoti. Dan yang paling krusial adalah file tentang fluktuasi ghirah (semangat) kepenulisan saya yang hampir mencapai titik maksimal, justru pada saat minimnya fasilitas dan sarana yang mendukung.

Itulah barangkali abstraksi awal yang hendak diangkat oleh buku Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis ini. Membacanya, kita akan menyaksikan tiap jengkal episode kepenulisan para santri yang penuh onak dan duri, melewati jalan setapak yang terjal dan penuh jurang. Tapi tekad telah menjadi karang yang tak goyah diterjang gelombang. Mimpi telah menjadi api yang mengobarkan semangat janji. Maka apapun yang terjadi, bahkan sejuta rintangan menghalangi, ikhtiar menulis tetaplah abadi.

Dari Catatan Harian Hingga Transformasi Gagasan
Simaklah dengan seksama, bagaimana seorang Suhaidi RB, salah satu santri penulis buku ini, bercerita tentang riwayat kepenulisannya yang sarat heroisme. Ia terlahir dari keluarga yang jauh dari budaya baca-tulis. Gen sebagai penulis bisa dikatakan tidak mengalir dalam keluarga saya, begitu pengakuannya. Kondisi sosial ekonomi dan tingkat pendidikan di kalangan rumahnya juga pas-pasan.

Bagi Suhaidi, teologi menulis adalah semangat pantang menyerah. "Sudah hampir 30 cerpen yang saya tulis hingga hari ini. Sudah banyak yang saya kirimkan ke berbagai media. Dan alhalmdulillah, satu pun belum ada yang dimuat", begitu kelekarnya pada waktu bedah buku di atas. Tapi ia pantang menyerah. Maka untuk menopang biaya studi sarjananya, ia mengubah haluan dari menulis fiksi ke non fiksi. Dan untuk pengiriman pertama kali, artikel opininya langusng diterima media. "Takdir sepertinya memang tidak mengizinkan saya menjadi seorang cerpenis", tambahnya bergurau.

Ya, cerita Suhaidi hanyalah satu dari sekian banyak perjalanan santri dalam menapaki dunia tulis-menulis, lika-liku yang menggairahkan dan penuh tantangan. Ada Rijal Mumazziq yang rela membuat buletin tandingan karena "mendendam" pada redaktur yang tidak pernah memuat karyanya. Ada Noviana Herliyanti, Hana al-Ithriyyah, Nur Faisal dan sederetan santri lainnya. Motivnya pun beragam, mulai dari dorongan orang tua hingga idealisme-pragmatis alias tuntutan kantong hidup.

Menulis bukanlah sesuatu yang mudah. Butuh kesabaran yang pantang menyerah, apalagi mengaku kalah. Berjuta-juta lembar sertifikat yang kita dapatkan dari diklat kepenulisan tak akan membuat kita menjadi penulis dadakan. Tak ada sejarahnya penulis hebat lahir hanya mengandalkan bakat. Ada banyak tahapan yang harus ditempuh bersusah payah dan berdarah-darah. Barangkali benar apa yang sering saya baca di buku-buku motivasi, bahwa pelaut yang hebat tidak dilahirkan dari ombak yang kecil, melainkan gelombang yang besar.

"Penulis itu adalah orang tersesat di jalan yang benar", begitu kata Lan Fang, salah satu pembanding dalam acara bedah buku Jalan Terjal santri Menjadi Penulis, yang diterbitkan oleh Muara Progresif bekerjasama dengan Pondok Budaya IKON Surabaya. Acara yang digelar di Auditorium Self Acces Center (SAC) IAIN Sunan Ampel Surabaya ini berjalan lancar dan semarak. Bukan hanya karena rentetan acaranya yang kocak, tapi karena komitmen para santri yang terkumpul dalam bunga rampai ini tiba-tiba memunculkan geliat semangat saya untuk bisa seperti mereka...

Akhirnya, kehadiran buku ini telah me-remove mitos bahwa santri adalah makhluk tradisional, sulit berkembang dan terkesan primitif. Jika sobat penasaran dengan jalan terjal kepenulisan mereka, tidak ada salahnya jika membacanya sampai tuntas. Dijamin sobat akan merasa puas, tetapi selalu dahaga untuk melukis kata-kata di atas kanvas.

Judul : Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis
Penulis : Rijal Mumazziq Zionis dkk.
Penerbit : Muara Progresif Surabaya
Tebal : xii + 224 halaman
Tahun : I, 2009
ISBN : 978-602-95087-1-0
Peresensi : Abd. Basid, penikmat buku dan pustakawan pesantren IAIN Sunan Ampel Surabaya

3 comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan