humor

29.5.11

PESANTREN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

 

Clifford Geertz, dalam The Javanese Kijaji: the Changing roles of a cultural broker (1960) menyebut kiai sebagai “makelar budaya” (cultural brokers). Ia bertindak menghubungkan pesantren dan budaya luar. Sebagai “makelar”, ia berhak menyaring unsur budaya yang boleh masuk atau tidak. Dalam keadaan demikian kiai akan kehilangan fungsinya sebagai perantara dalam arus perubahan masyarakat yang berlangsung cepat. Kiai kehilangan perannya tersebut, lalu hanya menjalankan posisi sekunder dan tak lagi kreatif.

Tesis Geertz (hasil obyektifikasi di Mojokuto (Pare), Kediri) bersimpangan dengan pendapat Hiroko Horikoshi (1987) yang meneliti peran ajengan di di Garut Jawa Barat. Jika Geertz berpretensi meletakkan kiai dalam posisi makelar budaya, maka Horikoshi menempatkan kiai sebagai enterprenuner yang dengan kreatif melakukan gerak transformasi sosial.

Horikoshi, menunjukkan bahwa kiai tidak berpretensi meredam gejolak perubahan yang terjadi, melainkan dengan kreatif mempelopori perubahan sosial yang terjadi. Ia bukan melakukan penyaringan informasi, tetapi menawarkan agenda perubahan nyata yang relevan dengan dinamika dan kebutuhan masyarakat. Horikoshi menyodorkan alasan bahwa peran kiai yang demikian ini karena ia menyadari bahwa perubahan merupakan sunnatullah.

Sebagai entrepreneur, kiai merespon perubahan ini tanpa merusak jalinan sosial yang ada, melainkan justru memanfaatkan jalinan-jalinan sosial tersebut sebagai prosedur dan mekanisme perubahan sosial yang diidealkan.

Tesis Geertz dan Horikoshi, tampaknya harus diletakkan dalam kerangka “keanekaragaman” dan kerumitan yang cukup tinggi dari kajian tentang para kiai dalam pengertian terminologinya yang bersifat tradisional. Pasalnya, kedua penelitian ini dilakukan di zaman dan konteks sosiologis yang berbeda. Padahal, dinamika zaman terlalu cepat. Bisa dibilang, Geertz-lah yang membuka kran perhatian internasional pada pesantren, sedangkan Horikoshi memetakan dinamika transformasi yang terjadi.
Perbedaan tesis Geertz dan Horikoshi tentunya juga ditunjang dengan perubahan gaya kepemimpinan kiai. Yang dimaksud dalam konteks ini adalah suatu pola perilaku konsistensi yang diterapkan pemimpin pesantren dalam relasi dengan santri dan masyarakat. Sebelum dasawarsa 1970-an, gaya yang paling menonjol adalah pola kepemimpinan yang bersifat religio-paternalistik-karismatik dimana relasi kiai-santri-masyarakat berdasarkan pada kepemimpinan profetik Nabi Muhammad SAW.

Namun seiring dengan arus perkembangan zaman, terdapat pergeseran pola kepemimpinan, dari religio-paternalistik-karismatik menjadi (meminjam istilah Sergiovanni & Strarratt, 1983) persuasif-partisipatoris. Gaya kepemimpinan ini lebih menonjolkan gaya kepemimpinan yang lebih terbuka dan interrelasional dengan jalan menjual ide (a sell type leader).

Pergeseran pola kepemimpinan kiai ini berakibat pada meningkatnya daya tahan pesantren menghadapi gerak zaman. Sebagai figur sentral pesantren dan masyarakat, kiai dituntut bersikap kontekstual, fleksibel dan elastis menyikapi dinamika sosial, sekaligus menjaga agar jatidiri dan sistem nilai pesantren tak luntur. Dalam strategi sosial kebudayaan, kepercayaan diri self confidence yang berkelindan dengan sikap pertahanan diri (self defensive) seperti ini, akan memberikan landasan kuat bagi transformasi sosial.

Strategi di atas, memungkinkan pesantren untuk melihat persoalan kemasyarakatan dengan prinsip dan nilai-nilai Islam. Dalam pandangan Abdurrahman Wahid (1999; 22), lembaga yang dilahirkan dari strategi ini tidak akan menjadi institusi yang eksklusif, melainkan berupa institusi umum yang diterima oleh seluruh masyarakat.

Pandangan Wahid selaras dengan pendapat M.M Bilah (1985; 293), yang menilai pesantren memiliki dua fungsi dasar yang perlu dikembangkan. Yakni kemampuan sebagai centre of excellence yang menjadi kawah candradimuka pemikir agama (religious intellectual) dan fungsi sebagai agent of development yang menangani pembinaan pemimpin masyarakat (community leader). Apabila fungsi pertama memaksa pesantren untuk berkembang menjadi pusat studi keagamaan dan kemasyarakatan, maka fungsi terakhir menuntut pesaantren menjadi pionir dalam program-program pengembangan masyarakat itu sendiri. Pada titik ini, pesantren telah menahbiskan diri sebagai institusi pendidikan, dakwah sekaligus lembaga sosial.

Basisnya di wilayah rural memungkinkannya untuk selalu merasakan denyut nadi masyarakat marginal. Secara sosial-ekonomi-politik-budaya, masyarakat seperti ini jelas tak punya daya tawar pada negara yang hegemonik. Di sinilah, barangkali, posisi strategis pesantren dalam memberikan kontribusi besar pada social engineering dan transformasi sosial.

Sebagai bukti, saat ini, beberapa pesantren bahkan menjadi motor pemberdayaan masyarakat. Pesantren Maslakul Huda Pati Jawa Timur dan an-Nuqayah Sumenep jawa Timur, melalui semacam Biro Pengabdian Masyarakat (BPM) telah menjadi mitra pendamping masyarakat melalui usaha simpan pinjam berjaminan, pembuatan pupuk, serta usaha air mineral dalam kemasan.

Di sini, terlihat relasi pesantren-masyarakat yang bersifat simbiosis mutualisme dan biner-komplementer (saling menunjang dan melengkapi). Lebih jelasnya, masyarakat merelakan dirinya menjadi “laboratorium sosial” dimana pesantren melakukan eksperimentasi pemberdayaan. Namun, harus diingat bahwa relasi ini merupakan salah satu wujud pesantren mewujudkan konsep alternatif pembangunan yang berpusat pada masyarakat itu sendiri (people centered development).

Akhirnya, sebagaimana kata Gus Dur, hanya sejarah lah yang akan menjadi hakim penentu (only history will be able to judge) atas upaya pesantren dalam membangun tatanan sosial untuk kemaslahatan bersama.

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan