humor

18.6.11

CIK GU KARIM RASLAN

 




{Makalah ini adalah pengantar diskusi dan peluncuran buku Ceritalah Indonesia karya Karim Raslan yang dihelat di auditorium rektorat IAIN Sunan Ampel Surabaya, Jumat 8 Oktober 2010}

“Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia bersama rakyatnya dari dekat,” - Soe Hok Gie

Tak ada yang saya ingat dalam perjumpaan perdana saya dengan Karim Raslan, kecuali celutukan santri putri yang duduk beberapa baris di belakang saya, saat ia melihat sosok Karim Raslan. “Whalah, gantengnya orang ini. Lebih cocok kalau jadi bintang sinetron.” Gendang telinga saya juga menangkap celutukan santri putri itu disambut cekikikan teman-temannya. Ya, itulah awal mula saya bertatap muka dengan Pak Karim—demikian saya memanggil kolumnis Malaysia ini. Saat itu, Mei 2004, Pak Karim mengunjungi Ponpes Mahasiswa Annur Surabaya. Didampingi KH. Imam Ghazali Said, pengasuh pesantren, ia mengadakan dialog interaktif dengan para santri putra-putri. Temanya beragam; tentang Siti Nurhaliza, Internal Security Act (ISA), TKI, NU, pesantren, dan tentunya Indonesia—negara yang membuat Pak Karim kembali “pulang”.
Nah, perjumpaan itu seolah menandai kekaguman saya terhadapnya. Ia, warga Malaysia, jatuh cinta dengan anasir Indonesia—saat dimana banyak warga Indonesia yang pesimis dengan ke-Indonesia-annya. Saat mendampinginya mengunjungi Makam Sunan Ampel (2004), Kya-Kya Kembang Jepun (2004), maupun makam Sunan Giri pada pertengahan Juli silam, saya merasakan betapa ia telah melampaui perbatasan identitas. Malaysia adalah tanah kelahirannya, Inggris adalah tempatnya bertumbuh, dan Indonesia adalah negeri di mana ia selalu ingin "pulang". Mungkin karena akarnya dipertautkan oleh cintanya akan kehidupan, tak sulit bagi Pak Karim melihat duduk soal secara lebih terbuka. Untuk itulah, ia terasa ringan saja—tak merasa menjadi orang asing—tatkala ngobrol ngalor ngidul dengan beragam kelas sosial di Indonesia. Ia mendengarkan dengan tulus keluh kesah beragam jenis manusia, merekam, merenungkan, lalu menulisnya dengan citarasa humanis yang subtil nan reflektif.
"Tahun demi tahun, saya jadi seorang pengelana, berpindah dari satu kota ke kota lain, naik-turun kapal laut, mobil dan pesawat terbang. Saya menyadari bahwa seorang pencerita juga harus jadi pengelana; tak henti mencari cerita baru, perspektif yang beda juga orang-orang yang mau mendengarkan ceritanya. Dengan begitu, saya menjadi pengumpul cerita. Para Pekerja Seks Komersial (PSK) di Surabaya, penyanyi, petani sawit, penjual bakso, petani di sawah, bankir, tukang becak, dan guru--semua telah membuka diri pada saya. Karena itulah saya menyusun rangkaian cerita yang tak ada habisnya--kisah-kisah yang secara perlahan tapi pasti telah memberikan keakraban, pemahaman, dan rasa sayang dalam perjalanan saya melintasi Indonesia." Demikian ia menulisnya dalam halaman xviii.
Dalam Ceritalah Indonesia, Pak Karim mengangkat suara-suara lirih dari pelipir Nusantara. Tentang Ustadz Khoiron Syuaib yang berjuang mengentaskan PSK di Lokalisasi Bangunsari; I Mangku Munik yang apolitik akibat trauma sejarah; “pahlawan” bernama Haji Bambang yang berupaya menjaga keharmonisan Islam-Hindu di Bali; atau pun Dendy Dharman yang melalui desainnya membuat Indonesia mampu bersaing dengan raksasa dagang Tiongkok. Dari sudut yang gemerlap, ia mengulas dan menganalisis jagat perpolitikan di Tanah Air; tentang Es Be Ye, Gus Dur, Pak Harto, hingga Megawati.
Ketika Gus Dur wafat, Karim menulis tentang sesuatu yang agaknya absurd, justru karena di dalamnya mengandung sebuah harapan: seandainya sosok seperti Gus Dur ada di Malaysia, negeri yang masih suka disibukkan oleh pandangan-pandangan Islam yang konservatif, ribut perkara rasial, dan sejumlah problem lain yang di Indonesia telah dianggap selesai. Dalam Gus Dur versi Malaysia?, misalnya, ia melihat ada semacam sentimen kerinduan penduduk Malaysia terhadap sosok seperti Gus Dur yang moderat, memahami al-Quran secara mendalam dan intuitif, memiliki komitmen terhadap demokrasi, memperjuangkan kebebasan sipil dan kadilan. Maklum, bertepatan dengan wafatnya Gus Dur, negeri jiran ini disibukkan oleh sentimen-sentimen keagamaan terkait dengan penggunaan lafadz Allah dalam tulisan-tulisan. Sampai akhirnya, masyarakat menilai bahwa Nik Aziz, ulama senior Panmalaysia Islamic Party (PAS). (hal. 126).
Sampai di sini, aroma pemberontakan Karim terhadap negaranya, sesungguhnya bisa kita rasakan sejak awal mula ia menulis sebuah kata Pengantar Penulis. Di situ, ia mengaku, sebagai orang Melayu, pertemuannya dengan Indonesia terjadi begitu mengharukan. Sebab Malaysia-Indonesia begitu terkait dalam banyak hal—bahasa, budaya, agama, makanan, bahkan hingga selera humor sekalipun. Namun, menurut apa yang ia amati dan alami saat blusukan di ketiak Nusantara, adalah bahwa menjadi manusia Indonesia adalah sebuah sikap. Sebuah rasa identifikasi, yang lebih mengutamakan bangsa daripada asal usul etnis. Perasaan ini terus bergerak dan berkembang, tidak statis dan kaku. Ia telah, dapat, dan akan berubah. Dinamis.
Baginya, tiada yang lebih kuat di Indonesia, kecuali aspek keberagamaannya. kemakmurannya yang sekarang tumbuh dari tradisi untuk menoleransi serta merayakan perbedaan dan pluralisme. Ini juga yang menjadi kunci dalam menghadapi dan mengatasi berbagai macam hambatan.
Di sisi lain, tulisan-tulisannya tentang Malaysia sendiri cukup kritis. Ia mengkritik praktik feodalisme dan demokrasi yang dalam praktiknya di Malaysia masih banyak yang bersifat kontradiktif. Tak sungkan ia kecam budaya korup yang masih mengemuka. Pernahkah Pak Karim berurusan dengan otoritas penguasa di sana terkait daya kritisnya? Saya tak tahu. Yang saya tahu, ia memiliki energi saat melakukan otokritik ”ke dalam” sambil melihat ”ke luar”.
Membaca buku Ceritalah Indonesia, yang terdiri dari 29 kolom, esainya yang tampak cerdas, kritis, dan kadang jenaka akan mengajak kita menyongsong masa depan Indonesia dengan optimistis, juga menjembatani hubungan bilateral pemerintah Indonesia-Malaysia ke arah yang lebih bermartabat dan saling menghargai. Beberapa kali insiden kecil yang terjadi antara militer RI dengan Tentera Diraja Malaysia di perbatasan laut, menyebabkan nostalgia ”Ganyang Malaysia” yang dicetuskan Bung Karno, kembali menjadi gumam-gumam di penjuru Indonesia.
Pak Karim melihat insiden-insiden semcam ini dengan menggunakan teori sederhana, bila dua orang berdiri terlalu dekat kemungkinan yang satu akan menginjak kaki yang lain. Relasi RI-Malaysia menurutnya terlalu dekat; hubungan yang kadangkala berakhir antiklimaks. Padahal, terdapat agenda utama bagi dua bangsa serumpun ini agar bergandeng tangan dalam mengamankan Selat Malaka. Baginya, jika Indonesia dan Malaysia tak akur dalam penanganan keamanan di Selat Malaka, maka AS akan semakin bernafsu melakukan penguasaan patroli laut di wilayah ini.
Dari sini, esensi tulisan Pak Karim yang paling utama adalah bagaimana kedua negara bertetangga dekat ini terus berupaya mencari ”titik temu” daripada mencari ”titik tengkar”. Dari sudut pandang ini, konflik Tengku Fahri dan Manohara tak perlu menjadi isu nasional, cukup hanya menjadi konsumsi infotainment kacangan. Selesai dengan kepala dingin, diiringi derai tawa ala Upin, Upin, Jarjit, Mail, Meimei, dan Susanti.
Melalui esai-esai terseleksi --yang meceritakan peristiwa-peristiwa penting di Indonesia dan sosok-sosok yang mengesankan untuk disimak--Pak Karim tidak hanya menyambung kembali hubungan kita dengan saudara serumpun melainkan juga juga mencerminkan pandangan intelektual Malaysia sekaligus penulis tersohor di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik, tentang persoalan-persoalan dalam hubungan dua negeri dan apa yang terjadi di Indonesia pasca-Soeharto.
***
Membaca esai-esai dalam buku ini, seolah melihat betapa kompleksnya nusantara. Pak Karim “menemukan” potensi-potensi anak bangsa yang menunggu dilejitkan. Suparman yang ia sebut sebagai ikon Philip Morris-nya Jawa, radio kayu Singgih Kartono di Temanggung, distro milik Dendy Darman di Bandung, lukisan Jumadil Alfi dam Agus Suwage, Alban Lompor dari Bugis yang kini tinggal di Tawau, hingga kabar kehidupan Deslinarti di pedesaan Lintau Padang. Sungguh asing nian nama-nama di atas bukan? Justru di sinilah letak kecanggihan Pak Karim dalam mengemas dan mengupas cerita-cerita yang tak tersampaikan. Itulah caranya mengenal suatu negeri. Kebudayaan yang bernapas dalam denyut kehidupan manusianya mendorong dia masuk ke tempat-tempat yang tidak banyak diperhatikan di Asia Tenggara. Pun di Indonesia. Ia berusaha menyentuh jantung negeri ini, antara lain dengan memasuki kehidupan di akar rumput agar bisa merasakan getarnya. Ia mencintai Indonesia, karena itulah ia masuk dan berkarib dengan dunia rakyat kecil, sebagaimana kata Soe Hok Gie di awal tulisan ini.
Akhirnya, melihat pengembaraan Pak Karim—menjelajah berbagai negara lalu menuliskan kisah-kisah—mengingatkan saya pada pola yang dilakukan oleh Ibn Bathutah ratusan tahun silam. Datang, mendengar dan mengamati, lalu menulis bak melakukan repotase. Tentu saya tak menyamakan Pak Karim dengan pengembara asal Maroko itu. Masing-masing punya cara yang khas untuk merekam dinamika anak cucu adam di berbagai kawasan.
Dalam perbincangan yang hangat di Hotel Majapahit, Juli silam, Pak Karim mendefinisikan dirinya sebagai warga dunia yang merdeka, tidak diikat oleh isu-isu yang secara politik diciptakan untuk memecah-mecah kemanusiaan. Tempat tinggalnya tidak dibatasi ruang, tetapi oleh rasa. Ia terbang dari satu tempat ke tempat lain untuk merawat sesuatu yang lebih hakiki di dalam diri. Karena itu, pekerjaan ia perlakukan sebagai hobi. Tak pernah membosankan. Sungguh, melihat ngalor ngidul-nya Pak Karim dalam menjelajah lekuk Nusantara, saya teringat kata mutiara dari Imam Syafii: “Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negeri mu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang. Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran…"
Mereka yang tidak menyimpan keinginan mengembara, fisik ataupun non-fisik, akan menjadi katak dalam tempurung, menyimpan rasa nyaman yang semu dalam keterbatasan pandangannya. Seperti dituturkan penulis Oscar Wilde: Anyone who lives within their means suffers from a lack of imagination.
Selamat Pagi, Cik Gu Karim Raslan!



Alas Beton Soerabaja, 7 Oktober 2010

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan