humor

28.8.11

"Ramadhan sebagai Teater Religi"

 

Oleh: Rijal Mumazziq Z





Saat menyaksikan pengajian “ustadz gaul” di salah satu stasiun TV, yang disiarkan langsung dari sebuah mal, penulis menyaksikan betapa gegap gempitanya pengajian tersebut. Sebuah fenomena wajar yang terjadi di bulan Ramadhan. Namun, sejenak penulis tercenung, benarkan pengajian “gaul” ini membawa efek positif jangka panjang pagi pendengarnya?


Jawabannya tentu sangat subyektif. Tetapi, tanpa bermaksud menihilkan peranan para dai/muballigh itu, penulis merasakan kegelisahan bahwa gempita penyambutan bulan suci ini hanya dimaknai secara seremonial; ritual berlangsung meriah tanpa meninggalkan makna berarti. Hal ini dapat dipahami jika kita mengembalikan substansi pemaknaan bulan Ramadhan pada hakikat manusianya.


Hakikat manusia adalah sebagai homo ludens sekaligus homo festivus. Sebagai—meminjam istilah J. Huizinga--homo ludens, manusia berusaha meraih kegembiraan dan kebahagiaan dalam menikmati permainan kehidupan. Kedatangan bulan Ramadhan merupakan salah satu sarana agar permainan jeda sejenak, dengan menyatukan seluruh fokus alam pikiran ke Dzat Yang Mahatunggal, sekaligus memompa semangat solidaritas horizontal. Berusaha menyatukan esensi rendah diri di hadapan Allah SWT dan rendah hati di hadapan sesama.



Sedangkan sebagai homo festivus, istilah yang saya pinjam dari Komarudin Hidayat, manusia bertindak sebagai makhluk yang suka dengan perayaan yang bersifat massif, publis disertai ekspresi yang plural. Manusia menikmati perayaan atau festival yang digelar secara ekstravagan sebagai bagian dari pengukuhan harga diri atau identitas. Sejak awal mula peradaban, festival digelar manusia dalam berbagai corak; agama, sosial, budaya, hingga tak memiliki corak yang jelas. Ritual Puasa, Haji, Idul Fitri, Paskah, Nyepi, Galungan, adalah festival sakral yang dirayakan dengan segenap keteguhan bagi mereka yang beragama. Untuk, itulah Komaruddin Hidayat menyebut manusia secara azasi adalah sebagai homo religius sekaligus homo festivus. Makhluk yang menikmati peranan sebagai seorang hamba yang melakukan upaya eskapisme religious secara massif di bulan Ramadhan.


Maka, perayaan kedatangan Ramadhan pun digelar, juga demikian Idul Fitri nanti. SMS selamat berpuasa memberondong handphone, sudut-sudut jalan dipenuhi spanduk politisi mengungkapkan kegembiraan kedatangan bulan ini, mal dan plasa sibuk berbenah diri menyiapkan big sale, para artis sibuk “mengislam”kan diri, dan para muballigh sibuk mempersiapkan safari Ramadhan. Semua bergembira. Kesan saya: setelah melalui bulan suci ini wajah masyarakat kita akan berubah total, menuju perbaikan kualitas yang lebih mantap.


Namun, hampir tujuh puluh Ramadhan dilalui umat Islam Indonesia sejak menikmati kemerdekaan, dan selama itu pula proses peningkatan kualitas seolah berjalan di tempat. Peningkatan kualitas hanya terjadi dalam skala konsumerisme. Konsumerisme, anak sah kapitalisme itu, merangkak cepat dalam bingkai hari suci keagamaan. Konsumsi yang diharapkan dapat dikontrol melalui medium puasa justru semakin liar dan tak terkendali. Faktanya, dalam bulan ini segala penyedia jasa konsumsi (pertokoan, mal, dan restoran) dengan dengan gencar merayu pembeli atas nama “big sale ramadan dan lebaran”. Puasa yang bertujuan untuk mengendalikan nafsu konsumtif dan materialistik manusia, justru (di)kerja(kan) dengan logika terbalik, malah meningkatkan derajat nafsu konsumtif dan materialistik orang-orang yang berpuasa. Tapi, tentu saja bukan Ramadhan yang kita jadikan kambing hitam atas meningkatnya konsumerisme ini. Para filsuf postmodernism telah menandai terjadinya gejala budaya massa konsumerisme ini pada pentingnya ”selubung” daripada substansi sesuatu. Jika gejala ini tidak diputus, maka secara perlahan-lahan makna Ramadhan telah ”dibunuh”.



Hingga akhirnya, menjelang berakhirnya bulan suci ini, saya merasakan bahwa Ramadhan telah mengalami proses reifikasi melalui simbol-simbolnya untuk kebutuhan pemuasan hasrat konsumerisme masyarakat. Lambat laun, ia mengalami pergeseran makna. Meminjam istilah Al-Quran, Ramadhan berhenti berfungsi sebatas syifa (obat), belum dilanjutkan sevagai hudan (petunjuk), ke arah peningkatan kualitas diri; baik secara vertikal maupun horizontal.

Dengan segala penghormatan dalam kegembiraan di bulan Ramadhan, tersirat gemuruh Ramadhan sebagai karnaval sosial yang dangkal. Penyambutan yang begitu khidmat atas bulan suci terkesan hanya merupakan lelaku rutin dan tak lebih menjadi ritual. Fenomena inilah yang tampak saat melihat fenomena memperlakukan Ramadhan sebagai teater. Tatkala teater selesai dan panggungnya dibersihkan, maka usai pula pertunjukan itu. Tatkala bulan puasa usai, berakhir pula segala ritualitasnya, dan kembali ke sedia kala. Idul Fitri bukan lagi kembali ke fitrah (kesucian), melainkan kembali ke masyarakat yang “labil” seperti semula. Korupsi tetap berjalan dengan mulus, pelecehan terhadap hukum masih marak terjadi, aksi kekerasan atas nama agama terus terjadi, dan berbagai tindakan amoral lainnya.



Inilah yang menjadi keprihatinan kita semua, bahwa perbincangan keagamaan sudah semakin jauh dari keprihatinan dan rasa peduli terhadap realitas sosial. Puasa sebagai sebentuk ibadah sudah kehilangan fungsi horizontalnya, dan mengalami penyempitan makna sebagai sekedar ritual personal yang tidak ada sangkut pautnya dengan realitas di sekelilingnya. Seorang yang berpuasa tidak mengalami transformasi kesadaran untuk menjadi lebih peduli sebagaimana yang dikehendaki oleh perintah puasa, takwa.


Semoga saja Ramadhan tetap lekat di hati kita, menjadi syifa (obat) bagi kegersangan spiritual, lalu beranjak menjadi hudan (petunjuk) menuju dimensi taqwa guna melangkah menuju ke-fitrah-an.



Wahai Allah, terimalah amal ibadah puasa dan zakat kami, dan pertemukanlah kami dengan Ramadhan tahun berikutnya, dan berikutnya. Amin.
Alhamdulillah http://www.lazuardibirru.org/content-573-Ramadhan_sebagai_Teater_Religi
berkenan mencantumkan article ini juga

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan