humor

1.9.11

Berapakah Maharku ?

 

Ditulis Oleh : Faizatur Rochmah Zaeen

Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bimahrin sittun milyun haalan wa muajjalan, mungkin kata-kata indah ini tidak asing lagi kita dengar, dan itu terkadang terlintas di benak saya sehingga kadang juga memikirkannya. Berapakah mahar kita besok??? Nah .. kali ini saya akan sedikit membahas tentang hal tersebut.


Karena pembahasan asal muasal sejarah mahar itu sendiri jarang diperdebatkan, saya akan mencoba menguaknya sedikit demi sedikit sebatas yang saya tahu. Adanya mahar itu asalnya untuk memulyakan perempuan, kenapa perempuan perlu dimulyakan?? Heemz… sambil terkekeh ku jawab bahwa perempuan tidak ada harganya sama sekali pada saat zaman jahiliyah, dan ketika agama islam datang memberikan suatu undang-undang baru dalam hal perkawinan, dan karena itu pula naiklah harga diri perempuan, karena secara langsung maupun tidak langsung dengan mahar perempuan cukup dihargai dengan adanya pembayaran itu.


Yang dimaksud mahar itu sendiri adalah pemberian wajib dari seorang suami kepada sang istri, dan mungkin karena seolah mahar adalah barter dalam pernikahan tak jarang beberapa dari kaum hawa menuntut harga yang tinggi, tetapi alangkah baiknya bila para wanita tidak berfikir seperti itu, sebagaimana Imam Ghozali berpendapat bahwa sebaik-baiknya kaum hawa ialah yang cepat nikahnya dan sedikit maharnya, mengapa Imam Ghozali berpendapat demikian?? Karena agama islam mengerti dan memahami manusia dalam segala aspek.. maksudnya keadaan manusia tidaklah semua sama, adakalanya yang kecukupan dan ada kalanya serba kekurangan. Coba bayangkan kalu seandainya seluruh kaum hawa menuntut mahar yang tinggi,.,.(jedah sebentar untuk kesempatan membayangkan hehe) para cowok akan takut nikah dan mungkin setelah nikah para suami bisa-bisa akan semena-mena terhadap istrinya karena meremehkan istri-istrinya karena merasa telah membayar dengan mahar yang tinggi, dan itu Alhamdulillah saya rasa di Negara kita sudah jarang tetapi masih banyak di Negara Arab sehingga disana para wanitanya memasang tarif yang tinggi.


Coba kalau kita pikir toh setelah menikah akan hidup bersama dengan sang suami, alangkah baiknya bila tidak memberatkan calon suami 2kali lipat, apalagi bila uang tersebut di hasilkan dari utang-piutang apakah setelah apakah istri akan cuek bebek , jawabannya pasti istripun akan ikut pusing 7 keliling mencari cara untuk mengembalikan hutang tersebut, meskipun secara hukum si istri tidak wajib ikut berusaha mengembalikannya.


Sahabat… yang dimaksud dengan sedikitnya mahar juga tidak terlalu sedikit, karena Imam Malik berpendapat sedikit mahar adalah ¼ dinar kalau dirupiahkan berapa yaaa??? Sedangkan Abu Hanifa 10 dirham, . kalau dirupiahkan saat ini dinar rata rata berharga besar (1 dinar = Rp 1.700.000.) jd kalo seperempatnya  sktr Rp. 425.000 insya Alloh , sedangkan Imam Syafii tidak membatasi sedikitnya mahar dalam pernikahan.


Naah,.. sekarang sudah terkonsepkah tentang apa atau berapa mahar untuk esok,, hhhihi jadi geli,sekarang atau esok pasti faham apalah arti sebuah mahar yang sedikit tetapi besok sang suami menghidupi istrinya dengan jauh lebih baik,…

allohumma istauda’na ma qod alamtanaa. amin


No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan