humor

22.9.11

Generasi yang Retak

 



Oleh : Rijal Mumazziq Zionis
(Direktur Penerbit IMTIYAZ Surabaya, Pengajar Sekolah Tinggi Agama Islam al-Falah As-Sunniyah (STAIFAS) Jember)


Membaca Indonesia, adalah menafsir ironi. Inilah firdaus yang sengaja dicetak Tuhan di bumi, namun penduduknya justru merasa berada di neraka wail. Bangsa yang memiliki kekayaan alam luar biasa, tapi tak didukung sumberdaya manusia. Bangsa besar yang sedang teler akibat terlalu rakus menenggak tuak kebudayaan bangsa lain, sekaligus mencampakkan kekayaan budaya sendiri ke dalam tong sampah peradaban.
Aha! Apakah saya melantur? Bisa iya, bisa tidak. Terserah pembaca. Hanya, sekali lagi, kita terlalu bodoh untuk memahami diri kita, kata Hamlet, tokoh rekaan Shekespeare. Maka, kebodohan inilah yang lambat laun menggerogoti identitas kita. Kita, agar dianggap modern dan ora katrok (meminjam istilah Tukul Arwana), selalu melahap produk-produk asing dengan nikmat dan hikmat, lalu menggerus kekayaan produk moyang kita bursa loak sejarah. Apapun produk itu. Pengisi perut, pemermak tubuh, budaya, konsopsi teori, hingga ideologi. Meskipun, tak semua produk asing itu negatif bagi kita. Begitu takzimnya, sebagian dari kita kemudian menyambut gegap gempita apapun yang dari luar, yang berbau asing. Apapun, asal dari luar, akan disambut dengan sukacita di negeri ini. Tak percaya? Datanglah ke Pantai Kuta atau Borobudur, dan saksikanlah saudara-saudara kita sebangsa dan se-Tanah Air yang antre berfoto dengan bule. Semua memasang wajah bahagia dan senyum berbunga. Kenalkah mereka dengan bule tersebut? Tidak penting. Bisa berfoto dengan bule adalah kebanggaan sekaligus kebahagiaan. Lumayan untuk dipajang di facebook atau dipamerkan ke tetangga.
Hal remeh di atas adalah contoh kecil kegamangan identitas kita, dan “kepasrahan” kita menyambut apapun yang berasal dari luar. Sikap inilah yang membuat identitas kita sebagai manusia inferior tampak di permukaan. Yang selalu rikuh dan rapuh. Jangan heran jika tayangan di televisi kita selalu menampilkan aksi-aksi tak penting dari segenap kawula modernitas yang menamakan diri sebagai selebritas. Dan, para remaja yang notabene calon pemimpin bangsa di masa depan adalah korban dari konstruksi alam bawah sadar tentang pentingnya sosok “selebritas” yang sebenarnya tak (terlalu) penting ini.
Media memang punya peran besar dalam menimbulkan wabah kecintaan artifisial terhadap sesuatu ataupun seseorang. Saat band F4 melejit pada era 2000-an, semua media mem-blow-up empat cowok keren asal Taiwan ini. Begitu pula yang terjadi saat demam Westlife, Avril Lavigne, hingga Justin Bieber, melanda. Semua penggemar seolah bersedia “sinting”, saking cintanya. Dari model rambut, cara berpakaian, gaya berbicara, serta gaya hidup selebritas, semua dijiplak meski terkadang hasilnya malah kacau balau; rambut dicat pirang, tapi hidung mancung ke dalam; tato naga diukir di kulit sawo matang menjelang legam, sehingga gambar naga terlihat mengkeret seperti cicak; ada pula yang keranjingan menjadi punk, yang berambut kesetrum, dekil, dan urakan, tapi 100% tak paham falsafah kemerdekaan diri dan pemberontakan yang dicanangkan pendiri aliran punk ini. Aneh bin ajaib, memang!
Proses imitasi terhadap sosok idola ini merupakan efek samping-negatif kampanye salah kaprah media massa. Dari blow up media, terjadilah demam, dari demam muncullah wabah, hingga akhirnya lahirlah histeria massa. Histeria massa adalah mekanisme kapitalis yang terjadi secara cepat dan melalui pola gerak yang canggih dan massif. Siapapun yang ada dalam lingkaran ini memiliki perhatian lebih terhadap sesuatu atau seseorang. Lalu meningkat menjadi cinta, jika sudah terlanjur tresno, apapun akan dilakukan. Tak heran jika seorang ABG rela antri 8 jam dengan posisi berdiri, berdesakan, dan hampir pingsan hanya untuk menebus tiket konser Justin Bieber, seharga 3 juta rupiah. Puas bagi dia, heran bagi kita.
Dalam konteks ini, remaja memang merupakan lahan empuk bagi gelontoran nilai-nilai kapitalistik. Remaja yang mengalami fase pancaroba membutuhkan proses pencarian jatidiri dan identitasnya. Ia membutuhkan sebuah sosok yang menginspirasi. Jika idolanya baik, pengaruhnya positif, begitu pula sebaliknya. Tak heran jika masa muda merupakan masa kekaburan identitas atau kehilangan identitas.
Modernitas Salah Kaprah
Kita mafhum, modernitas telah melahirkan orok globalisasi. Pada tataran budaya, globalisasi, tanpa bermaksud menafikan sumbangsihnya, telah mengakibatkan hilangnya identitas diri kawula muda dan pudarnya pesona nasionalisme dan denyut religiusitas. Budaya pop anak muda ditandai dengan adanya ikon, idola dari dunia selebritas, gaya hidup, musik dan junk-food. Seorang anak dikatakan gaul jika tahu atau paham musik-musik pop, up to date terhadap mode berbusana maupun gaya rambut serta nongkrong di mall atau kafe. Generasi anak muda sekarang dapat dikatakan sebagai generasi TV. Tampilan luar dan citra yang dibangun adalah sama dengan anak muda dari kota-kota besar di Amerika Serikat maupun Eropa. Tapi apakah gaya yang mengglobal tersebut diimbangi dengan kemampuan yang juga mengglobal? Belum tentu.
Sebuah produk tak lahir dari ruang kosong, ia mewakili berbagai kepentingan; ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Kita, terkadang terlalu rapuh untuk membendung semuanya. Maka lihatlah, gerai junk food yang selalu padat; ia menawarkan kemodernan secara naif nan bombastis. Mall (yang menyuntikkan gaya hidup ber”kelas”) selalu dijejali sebagian dari kita yang merindukan modernitas secara artifisial. Ya, kita pantas menertawakan diri kita yang terjebak pada tataran formal tanpa menyelami substansinya. Lucu.
Faktor reproduksi mekanik melalui industri media yang sifatnya global memang sangat signifikan. Media merupakan salah satu unsur pendukung terhadap terciptanya mass culture (budaya massa) yang sanggup menyebar ke seluruh dunia. Dan, TV menjadi proyektor sekaligus agigator dahsyat yang menyihir kawula muda mengikuti tren-tren dunia yang belum tentu cocok dengan identitas sebagai bangsa Indonesia.
Karakteristik lainnya adalah perubahan pola pikir ke arah pragmatisme. Hal ini ditandai dengan minimnya kepedulian melestarikan warisan leluhur, seperti nilai-nilai budaya etika, maupun produk kesenian. Apa yang dianggap masa lalu, harus dimasukkan ke "recycle bin" sejarah. Indikasinya, berapa banyak di antara kita, para pemuda, yang mau bersusah payah belajar kesenian-kesenian daerah. Ya, sebagai generasi millenium, produk-produk Barat (musik, life style, mode, dll) lebih memesona ketimbang warisan adiluhung kekek moyang kita.
Ya, kadang tak hanya lucu, bahkan kita terlalu aneh. Kita, yang terpukau balet, salsa, hingga tango, lupa bahwa bedhaya ketawang puspawarna lebih eksotis dari tari asing itu. Kita, yang terkagum pada tarikan nada musik klasik, tak ingat ada langgam gamelan yang begitu temaram dan mistis. Kita mungkin hafal narasi Romeo-Julietnya Shakespeare, tapi lupa bahwa kisah Zainuddin dan Hayati yang diramu Buya Hamka dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk tak kalah mempesona. Kita terkagum-kagum pada Napoleon, tapi lupa bahwa kejeniusan Gajahmada melebihi jenderal Perancis itu. Kita bisa jadi faham betul sejarah kekhalifahan, tapi lumayan pikun pada sejarah terbentuknya bangsa dan negara kita. Kita, yang ingin gagah dengan t-shirt Che Guevara, bahkan terlalu tolol untuk mengenal KH. A. Wahid Hasyim dan Tan Malaka. Ya, kita sebenarnya mewarisi kekayaan moyang yang berserak, tapi terlalu pongah (dan tolol) untuk sekedar memelihara dan melestarikannya.
Ini bukan perihal selera, ini adalah perkara bahwa ubun-ubun kesadaran kita sudah diinjeksi bahwa kita adalah fakir dalam hal apapun. Kita telah dikonstruksikan menerima “produk” impor, tanpa mampu menyeleksi dan mengolahnya. Kita adalah pengekor para penjajah (kesadaran) kita, sebagaimana ungkapan Ibnu Khaldun beberapa abad silam.
“Generasi biru” macam kita terlalu gamang. Dengan landas pijak yang tak kukuh ingin meraih bintang yang tinggi, lalu kita menggantung di tengahnya. Gamang, gagap, hedon, dan gemetar. Akhirnya, roboh. Hilang jati diri. Seperti terperangah dengan gegep gempita “asing”. Kita tak lebih dari, kata Emha Ainun Nadjib, anak yatim sejarah. Diam-diam kita, sebagai bangsa Indonesia, sedikit banyak telah mengalami guncangan citra diri (disturbance of self image). Padahal, bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai dan merawat warisan leluhur, kata Franklin D. Rosevelt.
Tentu, tak layak menggeneralisir bahwa generasi muda telah kehilangan identitas diri sebagai bangsa Indonesia. Masih ada beberapa dari mereka yang mampu mempertahankan identitas kebangsaannya, sekaligus merekonstruksi proses pencarian identitas yang berada di rel sebenarnya ala kawula muda. Tetapi, sebagaimana kata pepatah Arab, syubbanul yaum rijalul ghad (pemuda saat ini adalah pemimpin di masa depan), perlu upaya keras mengembalikan spirit generasi muda agar mampu mempersiapkan diri menyongsong masa depan yang cerah, sekaligus membangun identitas diri yang kuat sebagai calon pemimpin kelak.
Kita butuh merekonstruksi segala tatanan nilai yang berjejalan di kesadaran kita. Butuh mengembalikan eksistensi kita, dan meramu segala tatanan agar bisa membentuk kebesaran kita sesungguhnya. Kita adalah diri yang “retak”. Diri yang senantiasa bergerak mencari keutuhan, tiada habisnya. Lebih tepatnya, diri yang tak pernah jadi, tak akan jadi, tapi menjadi. Wallahu a’lam.
*
artikel untuk dek vina

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan