humor

7.9.11

KH Zainuddin MZ: Ethos, Logos, Pathos

 

Zainuddin MZ: Ethos, Logos, Pathos
            Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Umat Islam Indonesia tiba-tiba dikejutkan dengan wafatnya dai sejuta umat, KH. Zainuddin MZ. Sungguh, mencari penggantinya, dalam pandangan penulis betul-betul sulit. Ia, tanpa bermaksud melebihkan, adalah mujaddid (pembaru) di bidangnya. Ia telah menjadi sintesa para orator nusantara: memukau sebagaimana gaya Bung Karno, lembut-menyentuh ala Buya Hamka, mengedepankan rasionalitas seperti KH. Idham Chalid, serta membumi layaknya KH. Syukron Makmun. Dan, ia berhasil. Meski sempat mengalami penurunan pamor pasca menjadi Ketua Umum PBR, toh ia tetap berada dalam poros “tidak dimana-mana, tapi ada dimana-mana”.
Ia, dalam konteks komunikasi ala al-Qur’an, telah  berhasil mengejawantahkan sesuatu yang oleh al- Qur’an disebut sebagai Qawlan Balighan (QS. 4:63). Kata baligh dalam bahasa Arab artinya “sampai”, mengenai sasaran, alias mencapai tujuan. Bila dikaitkan dengan qawl (ucapan atau komunikasi), baligh berarti fasih, jelas maknanya, terang, tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki. Karena itu prinsip Qawlan Balighan dapat diterjemahkan sebagai prinsip komunikasi yang efektif.

Mendadak Usytadz, ustadz ustadz instant by penerbit imtiyaz
            Menarik jika mempertautkan prinsip Qawlan Balighan dengan pola tiga persuasi efektif yang dicetuskan oleh Aristoteles; ethos, logos, dan pathos. Ethos menunjukkan kualitas komunikator. Komunikator yang kredibel, memiliki basis ilmu mumpuni, dapat dipercaya, ucapannya sesuai dengan perilaku kesehariannya, lebih efektif mempengaruhi massa. Sungguhpun dalam dasawarsa terakhir ini popularitas dirinya mulai tersaingi dengan munculnya dai-dai “instan”, namun tetap saja “kalah popular” tak mampu meruntuhkan pamornya sebagai dai sejuta umat, yang mangkatnya diiringi sejuta doa.
Adapun Logos menunjukkan rasionalisasi argumentasi, kelogisan berpikir, dan daya kritis seorang komunikator. Dalam tahap ini seorang komunikator berupaya menunjukkan kebenaran argumentasinya agar bisa diterima logika khalayak. Baiklah, dalam komunikasi politik, muballigh yang kental logat Betawinya ini kita akui kurang canggih, terbukti dengan kurang greng-nya partai yang pernah ia pimpin. Namun, dalam komunikasi religiusitas yang berbasis massa, ia unggul. Keunggulannya tentu saja terletak pada variasi tema yang akan ia sampaikan, serta field of excellence yang disesuaikan dengan kerangka rujukan dan medan pengalaman khalayak. Atau yang disebut al-Qur’an dengan istilah fi anfusihim (tentang diri mereka), atau dalam istilah Sunnah, Kallim an-nas 'ala qadri 'uqulihim,  bicaralah kepada masyarakat sesuai dengan kondisi masyarakat tersebut.
Sedangkan dengan Pathos, seorang komunikator berupaya “membujuk” khalayak agar bisa menerima pendapatnya. Ia bisa menggetarkan emosi, menyentuh sugesti, membangkitkan simpati, serta menyuguhkan daya terapeutis (yang menyembuhkan). Apakah yang harus diterapi? Manusia modern yang kehilangan spontanitas, kreativitas, dan individualitas, dimana perilakunya menunjukkan gejala—dalam istilah Yablonsky--“robopatis” (Robopath); manusia yang berperan sebagai robot yang bergerak monoton, tanpa emosi, tanpa nilai, tanpa makna. Di sinilah manusia modern butuh pencerahan, pengembalian indetitas hakikinya sebagai manusia maupun sebagai hamba Tuhan.
            Dan, KH. Zainuddin MZ., dalam ketiga konsep Aristotelian di atas, menguasai semuanya. Ia adalah komunikator yang ceplas-ceplos di hadapan elit sekaligus bisa ngemong ummat, rasionalisasi atas argumentasi yang ia sajikan bisa dilahap siapapun dari strata sosial manapun. Ia unggul dalam Ethos, Logos, dan Pathos. Karena itulah, saking akrab dan gayengnya, sungguhpun levelnya sudah kiai, masyarakat tak perlu memberinya embel-embel “Kiai” untuk menyebut namanya dalam keseharian. Tak percaya? Silahkan me-ngobrol-kan dirinya dengan siapapun. Lawan bicara Anda pasti spontan menyebutnya sebagai “Oh, Zainuddin Em Zed to?”, atau “Jualan VCD ceramah Zainuddin nggak, bang?”. Ya, Zainuddin tanpa gelar “kiai”-pun sudah menjadi trademark, ikon. Sungguhpun pelawak Kiwil pandai menirukan logatnya, ia tetap tak tergantikan. Ikon tetaplah ikon, tak tergantikan oleh  plagiator atau imitator.
Nasib Dakwah Layar Kaca
            Sepeninggalnya, masyarakat tetap disuguhi muballigh yang bervariasi (tarifnya juga variatif). Karena itu, begitu variatifnya, kegiatan dakwah juga semakin kental isi hiburannya. Hal ini dilakukan bukan disesuaikan dengan daya serap dan pemahaman khalayak, melainkan direlevansikan dengan pesan sponsor. Maklum, menyesuaikan dengan logika industri hiburan. Tumbuhnya naluri keberagamaan masyarakat juga disesuaikan oleh naluri kapitalistik televisi. Kawanan ustadz ini popular, bukan karena hadirnya karya intelektual yang gigantik atau pengalaman praksis membela ummat, melainkan campur tangan media dalam mengorbitkan mereka. Tak heran jika unsur-unsur dramatik dipoleskan pada figur-figur “mendadak ustadz” ini sehingga terlukis pesona dan profil si ustadz, melebihi kapasitas ilmu agama yang mereka miliki. Demikianlah siasat kerja media yang selalu memilih untuk mengangkat citra ketimbang realitas yang faktual sehingga membuat penyampaian pesan agama tak lebih dari upaya menjual produk (Eko Prasetyo, 2007:103).
Padahal agama tidak dikarakteristikkan dalam nilai guna dan nilai tukar, sebagaimana persepsi komoditi yang disiratkan oleh Karl Marx, tetapi bertumpu pada nilai tanda. Jean Baudrillard mendefinisikan nilai tanda sebagai ekspresi dan tanda gaya, prestise, kemewahan, kekuatan yang menjadi penting untuk kemudian dikonsumsi. Maka, ustadz berkedudukan lebih penting ketimbang pesan agama yang ia sampaikan karenaa dirinya mewakili sebuah citra yang memiliki simbolisme bentuk dalam berbagai model. Untuk itulah ustadz dadakan ini diposisikan tak lebih sebagai selebritas; punya manajemen khusus, kejayaan dan kejatuhannya ditentukan oleh rating, serta—sebagaimana bintang film/iklan--mendapatkan bayaran “wah”.
Akhirnya, banyak ustadz yang “memanipulasi” emosi jamaah dan kurang melatih daya kritis mereka. Keberagamaan yang emosional dan ekstravagan seperti saat ini memang memberikan kehangatan dan gairah, tetapi ia biasanya tidak tahan banting. Dalam kompetisi pemikiran (ghazw al-fikr), dibutuhkan ustadz-ustadz yang betul-betul mumpuni secara keilmuan, yang mengasah daya kritis jamaahnya, serta memberangus sikap cengeng menghadapi hidup.  Inilah alasan mengapa saya menyebut Zainuddin MZ sebagai “Kiai Zainuddin”, bukan “Ustadz Zainuddin”. Allahu A’lam Bisshawab.

SOERABAIA 7 DJOELI 11

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan