humor

30.9.11

Nasehat Cinta Dari Dimensi Berbeda

 

Pertemuan itu diawali saat 7 tahun silam. Tepat di bawah pohon beringin yang sangat lebat, tampak gadis kecil yang memandangi akar-akar pohon beringin yang menjalar tak teratur. Tatapannya lemah tanpa kedip. Kelopak matanya cekung dan bibirnya kering karena selalu menangis, gadis kecil yang putus asa dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Memang tak mudah diterima untuk anak sekecil Jany, di usianya yang masih 13 tahun ia harus kehilangan dua anggota keluarganya sekaligus. Tepat satu minggu yang lalu ibu dan adik bungsu Jany dipanggil oleh Yang Maha Berkehendak dengan cara tiba-tiba. Seorang anak yang seharusnya berlimpah kasih sayang orang tua, kini hanya bisa mengenang dan terisak meratapi. Tak ada yang tahu berapa lama lagi Jany harus melewati masa-masa sulit itu. Hatinya berkabung dan sangat terpukul. Dia masih berharap melihat senyum adik dan ibunya lagi, tangannya memegang erat boneka pooh yang dulu akan dihadiahkan pada ulang tahun adiknya yang rencananya lusa akan dirayakan.


Kali ini langit tampak mendung, sesekali tangan Jany mengusap air matanya, dia takut dengan hujan. Dia sangat membenci suara percikan air dari langit yang dulunya adalah melodi kedamaian. Karena hal itu mengingatkan terjadinya tragedi pilu kematian ibu dan adiknya. Saat itu ibu sedang berwudlu, Jany dan keluarga bersiap-siap untuk pergi ke musholla, adik kecil Jany mendekap tubuh ibu dari belakang, sambil bermain-main percikan air wudlu ibu. Ibu mendorong perlahan tubuh Intan supaya mau menjauh, ibu tak ingin adik basah oleh air. Tanpa sepengatahuan ibu, Intan bermain kabel yang putus bekas gigitan tikus, saat itu juga bocah berumur 5 tahun itu tersengat listrik yang tegangannya cukup besar. Ibu mendekati adik tanpa pikir panjang, padahal tubuh ibu dalam keadaan basah. Sayangnya tidak ada yang mengetahui kejadian itu, karena Jany dan ayah lebih dahulu berada di Musholla. Petirpun semakin keras menyambar-nyambar, hidup Jany berubah seketika. Jany dan ayahnya sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka melihat mayat ibu dan adik sudah membiru.


Seolah waktu mengubahnya menjadi semakin pendiam, suka melamun dan sering menyendiri, itu membuat Jany sering pingsan tanpa sebab. Kali ini Jany pingsan yang kesekian kali di bawah pohon beringin tua itu. Salah satu warga menolongnya dengan membawa tubuh mungil Jany ke rumah gubuk yang terletak 20 meter dari pohon. Ayahnya tidak ada di rumah, karena meskipun tanggal merah, ayah tetap mengais rizki dengan mengayuh kendaraan beroda tiga di tengah bisingnya kendaraan bermesin di kota.


Tuhan,…. Tempat apa ini?” Jany tursungkur di tengah padang pasir luas yang tak berpenghuni. Anginya kencang namun terasa panas, sangat aneh. Butiran lembut debu menari-nari terbawa angin. “Atau aku sudah mati?”, Jany bertanya-tanya tak jelas. “Assalamualaikum Jany”, suara lembut namun mengagetkan, tanpa ada suara langkah kaki sebelumnya. Karena terlalu takut, bibir Jany tak mampu mengeluarkan suara, hatinya terus bertanya. “Apakah begini bentuk malaikat itu, apakah dia Izroil yang akan membawanya ke alam baka?, alam yang biasanya para ustad menceritakan para santrinya agar mereka mau sholat 5 waktu dan rajin mengaji. Tapi dia sangat cantik, menawan namun parasnya alami, seperti tanpa polesan bedak, rambutnya panjang dan hitam pekat”, hati Jany bergumam butuh penjelasan. Sangat aneh, Jany memandang ke bawah kakinya berbulu coklat, yah… mirip kuda, tak punya jari-jari kaki, padahal jari tangannya lentik. Bau amis yang menyengat sepertinya berasal dari lehernya, tampak luka yang membusuk. Warnaya coklat tua berpadu merah kehitaman, tetap lebih cantik dari Jany, karena kulit putihnya seperti bersinar, gaun merah yang disemakatkan pada tubuhnya sangat indah sekali, gaun pengantin bangsa eropa kuno. Mustahil bila malaikat seperti ini.
“Siapa?”,
hanya sepatah pertanyaan itu yang mampu di ucapkan Jany.
“aku sangat mengenalmu, aku ingin menjadi sesuatu yang bisa merubah kebisuanmu. Aku ingin menjadi sebab mata mu melihat keindahan dunia dan terbangun dari kesedihan panjang, bahwa hidup bukan hanya untuk bersedih, kenapa selalu mendung dan mengapa selalu gelap yang terpandang, padahal cahaya itu dekat. Pintu-pintu kebahagiaan tersedia untukmu”, makhluk aneh itu berdalih.
 “Siapa kamu?!!”, kali ini Jany membentak tapi sungai-sungai kecil tetap mengalir di sudut mata Jany. Kata-kata makhluk itu jauh menyentuh hati Jany yang sudah lama rindu akan kepedulian seorang teman. Jany sudah lama terabaikan, hanya ibu dan adiknyalah teman sekaligus keluarga. Tapi sayangnya kini sudah tiada. “Aku Sintia”, tangan lembut Sintia menghapus sungai-sungai kecil ciptaan Jany. Sentuhan tangan itu membuat jany semakin tergetar, bibirnya digigit kuat-kuat. Dia menjatuhkan tubuhnya, kaki Jany tak mampu tegap menginjak daratan. Jany merasakan sentuhan ibunya pada jemari Sintia.Sintia tersenyum dan memaikan ranbutnya yang hitam tebal,”meski kita berbeda tapi aku mau menjadi sahabatmu, kamu mau??”. Jany menggigit lidahnya, suaranya terputus-putus. Jany mendongak dan berkata bahwa dia ingin mengajak Sintia pulang.

Tak lama Jany siuman, ayahnya yang tlah menunggui lama segera mengambilkan air putih. Jany tak hawatir lagi karena Sintia masih tersenyum-senyum di atas jendela  memberi isyarat kepada Jany, hidup baru di awali pada hari ini.

##

`Persahabatan yang indah, bertahun-tahun mereka hidup bersama. Meski tak jarang mereka sering berdebat tentang hal remeh sampai hal-hal yang sangat membingungkan. Di kebun tempat faforit mereka menghabiskan waktu luang  terjadi lagi sebuah perdebatan kecil.

“ Sekarang ku lihat ada yang berbeda, kenapa kamu  Jan?, aku tidak melihatmu manusia sebagai manusia sesungguhnya,aku melihatmu lebih dari seorang iblis…” pertanyaan Sintia mengagetkan Jany.

Jany merasa bingung karena tanpa penjelasan Sintia menyerbunya dengan pertanyaan kasar. Sepertinya hal yang sangat fatal telah dilakukannya.

Jany tersinggung dan tak mengerti,” Heii.. Apa maksudmu?. Apa  kamu tidak mau barteman lagi denganku?. Apa kamu merasa lebih baik dariku?. Padahal manusia yang diciptakan Tuhan dengan sebaik-baik penciptaan. Atau karena lebih tua dariku?.” Jany pun berbalik tanya. “Tidak begitu, bukankah SHADIQUK MAN SHADAQAK LAA MAN SHADDAQAK?. Aku ingin mengatakan hal penting, tapi Aku merasa perkataanku akan terlalu jauh kecuali kamu benar-benar membutuhkannya”. Suara Sintia lebih terdengar memelan di bagian kalimat akhir.

Jany  kali ini terpaksa menahan senyum mendengar kata-kata sahabatnya, kepalanya masih bingung karena penasaran, tapi dia mengerti dan  sadar bahwa Itulah kelebihan sahabat anehnya itu. Dia lebih tahu apa arti sebuah ikatan persahabatan dari pada manusia biasanya. Sahabat yang mengerti apa yang harus dilakukan ketika sahabatnya melakukan kesalahan, tidak rela bila sahabatnya disakiti, dan kata-katanya adalah sebuah obat, meski kadang jin tidak begitu kompeten dalam berintonasi dalam perkataannya. Tapi makna hakikinya sebuah perkataan bukan pada suara ataupun penyusunannya, tapi pada dampak perkataan ketika sampai pada orang lain.

“Katakanlah jika kau merasa sahabatmu ini pantas melakukan perbaikan,Jika aku tidak pantas lagi, simpan saja aku tidak mau kamu menyesal setelah kamu mengatakannya”,Jany memohon.

Sintia mengibas-ngibaskan rambutnya yang tidak bisa memutih itu, tampak sekali dia berfikir. Dia sangat menyayangi  Jany, jadi dia tidak akan tega untuk membiarkan sahabatnya terperosok  dalam kerusakan zaman yang di buat manusia sendiri.
“Kamu sekarang terlewat sombong Jan..”
“ Apa yang bisa aku sombongkan? Aku lahir dari keluarga yang kurang mampu, hidup sederhana, kecantikan atau juga kepandaian?Aku tak punya semuanya.” Ia berkomentar jujur.
“Sebagian orang menilai sombong adalah merasa hebat, menurutku itu hanyalah luarnya.  Yang lebih dalam, salah satunya adalah ketika seseorang sudah tahu salah masih tetap dilanggar, itu sama saja meremehkan dan mengejek Tuhan. Manusia dikasih tahu yang benar tapi ngeyel kayak udah gak butuh Tuhan aja, atau merasa Tuhan Maha Pengampun, tapi sengaja bersalah. Itu sama saja mengolok-olok Tuhan. Dosa Adam karena nafsu, jadi masih bisa diampuni, tapi iblis dengan kesombongan. Itu yang tidak bisa di tolerir. Tapi manusia lebih sombong lagi, semoga saja masih bisa diampuni”.

Kali ini Jany mengerti kesalahannya, tanpa penjelasan yang gamblang dari jin sahabatnya itu. Dua  minggu yang lalu Jany menerima cinta dari seseorang, ternyata selama itu Sintia menahan rasa kesalnya yang baru diungkapkan sore ini. Mungkin Sintia takut menghentikan kebahagiaan Jany yang baru dirasakan bersama cintanya

“Bagaimana dengan al insanu ibnu zaman?, ini semua juga pengaruh zaman, manusia tidak bisa lari dari zamannya”, sebenarnya Janypun tak mau mengalah. “Banyak manusia mendesak zaman dan sikon, padahal mereka mampu menyeimbangkannya. Setiap sesuatu yang wajar itu membuat celah mundurnya agama, bermiliaran contoh buat ini. Kalau bicara udzur, udzur seperti apa?. Umpama saja sakit. Lalu Nabi Ayyub bagaimana?. Sibuk karena harta? Nabi Sulaiman bagaimana? Miskin? Nabi Isa As bagaimana? Wanita dan kedudukan? Yusuf bagaimana? Lalu udzur apalagi yang diajukan?, semuanya ditolak mentah-mentah. Zaman memang pengaruh, Tuhan sudah mentolerir tuntutan setiap zaman makin mudah toleransinya, tidak ada udzur lagi”. Sintia panjang lebar menjelaskan pelajaran baru untuk sahabatnya.
“Jangan samakan aku dengan mereka, aku dan nabi-nabi itu berbeda maqom”, keluh Jany.
“Mereka juga manusia Jany, lalu apa gunanya kita mengetahui kisah-kisahnya jika tidak meneladaninya?. Kamu bisa sayang,.kamu pasti bisa meneguk kepahitan tanpa cemberut muka.. karena balasanNya akan terasa saat kau berada di perut bumi,. Bukan sekarang..”
“Sintia.. ini semua karena kamu tidak pernah merasakan cinta yang mendalam, seperti cintaku padanya. Aku tahu aku salah, karena aku tidak hanya mencintai makhluqNya namun terlena hingga tergila-gila, aku lupa suatu saat aku  pasti terpisah dengannya, tapi rasa yang ku miliki begitu indah.. kisah yang sempurna, ketika aku merasakan sakit karena memikirkan dia yang sedang sedih, ketika aku merasakan bahagia melihat rekah senyumnya, aku ingin menyayangi apa-apa yang ku miliki saat ini. Aku tak ingin kehilangan rasa ini, aku ingin memilikinya, meski sekarang belum saatnya” Linangan air mata Jany  membasahi kerudung hijaunya. Lautan telah pecah di pelupuk matanya.
Sintia sangat resah, seolah ia tak mau melanjutkan debat panjang itu. Sintia perlahan kehilangan kekuatannya saat mendengar keluh sahabatnya yang penuh linang air mata. “Pelan-pelan Jany.. Kamu pasti sanggup” batin Sintia tak henti-hentinya berharap. Memang tak sekali ini saja, Sintia sering kurang tepat   dalam menasihati Jany, kata-kata yang terdengar kurang halus menjadi awal percakapan, padahal seharusnya tidak begitu.
“Jany… cinta itu wajar, tanda keaguangan Tuhan, Tuhan menyukai cinta, namun kamu jangan lupa bahwa Dia juga sangat pencemburu”. Terang Sintia. “Aku lemah.. aku rapuh… aku tak mampu menguasai nafsuku, meski aku telah mengimbanginya dengan dzikir. Aku menyerah”. Suara serak Jany melelehkan hati Sintia yang sudah remuk. Tapi Sintia tak mau memperlihatkan kesedihannya, karena hal itu akan semakin membuat Jany merasa lemah.
 “Nyerah? Gak malu sama nyamuk?,ambil resiko tewas di tangan manusia demi masalah perutnya terisi darah?. Belum lagi malu dengan manusia, wanita adalah tiang Negara, ibu manusia, dan sekarang ada satu wanita harus nyerah dengan kehidupan, apa nggak malu?? Iftahi ainaik wa janahaik!” Tegas Sintia.”Sudahlah Sintia, biarkan waktu yang menjawab semuanya, biarkan waktu yang memberi keputusan”. Jany lemas, dia benar-benar putus asa. “Jany.., dua hal yang mampu membantumu, perjuangan dan doa. Tuhan sumbernya manusia penyalurnya, keduanya berjalan beriringan yakin separuh dari perjuangan, separuhnya adalah realisasi. Jangan putus asa, langit tak selamanya kelam. Satu hal pelajaran lama. Yang membuatmu bertahan hingga saat ini, bahwa sakitlah yang membuatmu berani”. Perkataan Sintia tak ada yang salah, imajinasi Jany semakin kuat merangkai serpihan masa lalu saat dirinya mampu bangkit dari cobaan yang bertubi-tubi, tapi mengapa masalah cinta seakan melebihi beratnya cobaan-cobaan tersebut. “Kalau kamu mengandalkan waktu, itu sama saja dengan cari jalan pintas, sama saja seperti abang pengendara  becak naik becak, bukannya mengendalikan tapi malah dikendalikan, iya jika jalannya sesuai dengan harapan kamu, kalau tidak?”,ucap Sintia semakin menekan dan memberi semangat. “Terimakasih sahabat.. dari mana aku harus memulainya?”, Tanya Jany sambil mengusap air matanya. “Modal utama adalah yakin, dalam bidang apapun, tanpa itu tidak ada semangat saat ada rintangan. Yakin itu separuh dari pastinya keberhasilan termasuk tembusnya doa di gerbang langit”.

Perlahan Jany merasa lega, Ingin rasanya ia memeluk sahabatnya itu, tapi karena menyentuh saja tidak bisa, Jany cukup merekahkan senyumnya tanda terimakasih. Mutiara yang mahal, tidak pada smua orang Jany bisa mendapatkan pelajaran berharga itu. Dan sekarang Jany tahu apa yang harus ia lakukan.

            Hari telah berganti malam, kamis malam jumat yang slalu Jany isi dengan membaca yasin dan tahlil kepada almarhumah ibu dan keluarga yang telah mendahuluinya. Air matanya terus mengiringi bait-bait kitab suci yang ia baca, begitu juga saat ia berdzikir, Jany merintih dalam kesunyian dia mengharap kekuatan.
***
 Assalamualaikum Wr Wb
Berkat kasih sayang Allah Jany dapat menggoreskan salam untuk mas.. entah surat apa ini bisa ku katakan,entah kabar buruk ataupun baik,  . Bukan maksud Jany ingin meninggalkan mas.. namun dengan sepucuk surat ini Jany ingin memutuskan untuk meninggalkan kediaman, Jany akan berangkat ke pesantren minggu depan, dengan begitu  Jany tak bisa melanjutkan hubungan kita.. Allah sudah sangat adil memberikan cinta kepada Jany namun selama ini Jany tak membalasNya. Jany ingin mencari cinta yang haqiqy, Mas…Ingat,.. Allah akan selalu menyayangi mas..   jadi jangan sedih Jany juga akan tetap menyayangi mas
Salam Sayidah Jany N.A

 Setelah menulis surat, hati Jany terasa terbebas. Terbang lepas tanpa beban, setinggi baitul ma’mur, di atas langit ke tujuh,, secepat Jibril dengan 600 ribu sayapnya, sejauh air yang tak pernah berhenti mengalir sejak penciptaan alam. Surat bersampul merah muda dilipatnya sangat rapi. Dia melangkah ke rumah Ari dengan penuh do’a. angin terasa sangat kencang saat melihat Ari berada di beranda rumah, kaki Jany kaku,. “Allah.. bantu aku, berikan kekuatanmu..” hati Jany meminta. Jany teringat pertama kali jatuh cinta pada Ari. Dia lelaki pemalu dan halus dalam bertutur kata. Meski tak tampan, wajah Ari membuat Jany selalu merindu dan bermimpi di malam-malamnya. Maklum hati tak bisa sepenuhnya disalahkan, namanya juga rasa.

Jany dan Sintia kini bersahabat sudah cukup lama, meski Sintia 100 tahun lebih dahulu menempati bumi sebelum ruh Jany ditiup oleh Sang Khaliq, tapi mereka sangat memahami perbedaan adalah sebuah keserasian dan itulah sunnatulloh. Jadi tak heran jika persahabatan mereka tidak mudah pupus ditelan masa 

Assalamualaikum.,..Mas Ari, maaf adik datang tiba-tiba”, suara Jany membuyarkan lamunan Ari. “Walaikum salam..”, jawab Ari. “Ini untuk mas.. jangan tanya apapun ya mas”, Jany langsung pamit pulang. “Assalamu alaikum” Ucap Jany terburu-buru dan segera beranjak dari hadapan sang pangerannya itu. Wajah jany merah padam karena tegang dan langsung pulang.

 Sesuai dengan apa yang telah Jany prediksi, Ari  tak banyak bicara meskipun batinnya penuh tanya, kapasitas rasa malunya melebihi lelaki pada umumnya. Ari pernah mengaku bahwa dirinya paling takut dengan wanita, tapi setelah mengenal Jany yang sederhana dan berbeda dengan wanita seusianya, Ari mencoba membuka hatinya, cinta mereka adalah cinta pertama.

***
“Nduk,..  sudah siap semua?”, tanya ayah.
“Iya sebentar yah”, Jany masih sibuk melingkari kalender bawaannya. Sesuai dengan rencana, Jany berangkat ke pesantren dan mulai masuk satu minggu sebelum bulan suci Ramadhan. Jany canggung, hatinya berdegup kencang bercampur sedih, karena Sintia tidak mau menemani Jany selama di pesantren. Tapi Jany bisa mengikhlaskan karena Sintia seperti itu untuk bermaksud baik, Sintia bukannya tak mendukung, melainkan ingin sahabatnya itu konsentrasi dalam menuntut ilmu di sana.
“Siap yah..”, ucap Jany.
Merekapun segera bergegas meninggalkan rumah.
Selama perjalan hati Jany  dihinggapi rasa cemas, tak bisa di pungkiri dia masih sangat memikirkan Ari. Bekas kenangan-kenangan bersamanya tertoreh dalam di hatinya, begitu juga dengan rumah kediamannya nan mungil, di sanalah tempat Jany bernaung dan tumbuh hingga dewasa. Jany ingin menangis, tapi dia berusaha menahan karena di sampingnya ada ayah yang sangat mengharap kesediaan Jany untuk nyantri di pesantren. Jany ingin mengabulkan permintaan ayah.

Bus berhenti tepat di depan pesantren yang megah, nama pondok pesantren Mambaus Sholihin terpampang besar di gerbang masuk. Para pengurus pondok menyambut Jany dan menerimanya dengan ramah, suara alunan ayat-ayat suci al-Qur’an membuat Jany seakan terbang, bait-bait yang dilantunkan terdengar sangat halus menyentuh ruas-ruas hatinya. “Ayah.. Jany pasti betah tinggal di pesantren ini, Jany pasti senang menjalani bulan suci Ramadhan di sini”, ucap Jany meyakinkan ayahnya. “Kalu begitu ayah langsung pulang saja ya nak”, ucap ayah Jany pamit. Jany mengangguk mantap dan mengecup tangan ayahnya tanda perpisahan.

***
Marhaban ya syahro Romadhon.. marhaban syahrol ibadah.. marhaban syahros sa’adah.. marhaban ya khoiro syahrillah. Alunan syair sayup-sayup indah dilantunkan para santri sebelum jamaah sholat ashar, Jany meneteskan air mata. Hatinya sangat tersentuh dengan gema suara santri yang serentak beralun-alun sangat indah, tak henti-hentinya Jany bersyukur diberikan karunia hingga dapat bertemu  dengan bulan suci di tahun ini.

Jany memang haus ilmu, di pondok pesantren Jany banyak mengaji kitab kuning. Sejak awal pondok pesantren ini memiliki kultur khas yang lahir dari budaya Nusantara, cara pengajarannya pun unik. Kyai Masbuhin Faqih yang menjadi pendiri maupun pemilik pesantren membacakan manuskrip-manuskrip berbahasa Arab itu, sementara para santri memberikan catatan dalam kitabnya (ngesahi). Jany mempunyai jadwal ngaji kitab kuning yang harus diikuti, dari setelah subuh mengaji kitab Jawahirul Kalamiyah, setelah dhuha kitab Ushfuriyah, sebelum dzhuhur kitab Akhlaqul Banat dan menjelang isyak kitab Jawahirul Bukhori. Jany tidak canggung dengan kegiatan pondok pesantren yang sangat padat. Hari demi hari telah dilalui, Jany dapat menyatu dengan para santri lainnya, keluarga besar dalam satu atap pesantren. Sedih, senang dilalui bersama dalam penjara suci, tanpa mengetahui hiruk pikuk kemegahan dunia luar.

Di hari-hari akhir bulan yang mulia ini Jany merasa sangat rindu dengan keluarganya, Jany hanya memejamkan mata sebentar, dia tak pernah melewatkan sepertiga akhir di malam-malanya, dia berdoa ingin bertemu dan berkumpul di surga bersama keluarganya. Dia tak mau kecolongan, dia bertekat harus memperoleh malam lailatul qodar. Malam mulia yang tiada bandingannya, malam yang terpilih sebagai malam turunnya Al-Qur’an, malam yang ketika itu banyak malaikat yang turun ke bumi, malam yang lebih baik dari seribu bulan, malam yang seluruh doa diijabahi.

***
“li ukhtina karimah Jany,. Sayidah Jany Nurul Azkiyah, arju an tahduro ila idaroh li ijabatil haatif”suara pengurus isti’lamah mengudara di pengeras suara pesantren. Jany berlari cepat. Tak diduga dia mendapatkan telpon, dia sudah lama ingin berbicara pada ayahnya, dia ingin bercerita bahwa dia sangat senang berada di pesantren. “Ukhty ana Jany”, Jany segera masuk kantor, “Naam hatif  laki” pengurus memberikan gagang telpon pada Jany. “assalamualaikum… Jany.. ini pak Dhe nduk, kamu segera pulang, ayahmu meninggal. Ayahmu mendapat musibah, beliau kebakaran saat terlelap dalam tidurnya”, halilintar menyeruak diruang hatinya, keras dan mendebar-debar. Tangannya memegang dada yang serasa bengkak dihunus pedang. Robek sakiiit,.. sakiit sekali.

“Ayah,,, aku sayang ayah,.. aku cinta ayah…. Mengapa kau begitu cepat meninggalkan Jany yah.. Ya Allah… Ya Maulay semoga Beliau syahid,.. “, air mata Jany sangat deras. Kesedihan Jany melebihi apapun yang pernah ia rasakan, rumahnya telah menjadi puing-puing, ayah telah pergi jauh, Jany menatap wajah ayah yang tak utuh lagi, Jany mencium wajah ayah. Ayah tercinta benar-benar pergi. “Ayah… doaku mengiringimu yah… hiks..hiks” keranda ayah diangkat para warga, laa ilaaha illallah..laa ilaaha illallah, laa ilaaha illallah..laa ilaaha illallah, laa ilaaha illallah..laa ilaaha illallah, laa ilaaha illallah..laa ilaaha illallah Jany mengeringi ayahnya dengan mengucap tahlil.

***
Bulan suci ini tetap menjadi hal yang paling istimewa bagi Jany meski dia mengalami hal terburuk sekalipun. Dan kini Jany benar-benar sendiri, dia ingin kembali ke pondok namun dia tidak mempunyai biaya untuk kelangsungan hidupnya di sana. Rumah Pak Dhe Ridwan memang sangat terbuka untuknya namun keadaan ekonomi Pak Dhe yang sangat kekurangan membuat Jany tidak tega tinggal di sana, dia merasa menambah beban orang lain.
“shuuuut…shuuut…”, Jany menoleh,
tak ada siapa-sipa.
“Hai..”
Sintia muncul tiba-tiba.  “Ada surat dari Ary”. Diberikan surat itu pada Jany, dia cepat-cepat membukanya.

Assalamualaikum warochmatulloh
Di sini akan ku wakilkan sgala perasaanku,tentang apa yang tlah terjadi padaku dan hatiku.Tak bisa  ku pungkiri ketika aku paksa untuk menepis noda noda  nafsu anehnya smakin aku meratap embun-embun cinta itu semakin deras membanjiri hatiku.
Meski berulang kali aku merasakannya tapi kali ini aku ingin belajar lebih bijaksana dan dewasa, tekad dan niatku ku bangun untuk tidak pacaran dg siapapun,demi  mencari ridhoNya dan orang tua. Tapi disatu sisi akupun hawatir jikalau suatu hari aku tak mampu mengendalikan gelora hatiku, yang tak urung membuatku meratap dan terisak.
Karena semua itu, aku akan lama akan menghitbahmu, aku akan datang menemuimu dan segera menikahimu..
Dan inilah saatnya, semoga permohonan tulusku ini kau terima
Ku tunggu balasan dari mu,,

Wassalamualaikum
Ahmad ghifari




“Allahuakbar,… !!!”
“Sintia, ternyata Ari masih sangat mencintaiku, aku tidak menyangka. Dia mau menikahiku meski begini keadaanku”, ucap Jany. “Kamu menerimanya?”,
Jany mengangguk mantap.
***
Matahari menyapa. Awan menari-nari dengan riangnya. Kecantikan sang surya tertandingi oleh pancaran pesona Jany. Dia duduk di pelaminan, bersanding dengan Ari kekasih hatinya. Banyak hal yang tak terduga dialami oleh Jany, semuanya menjadi pelajaran untuk menuju kedewasaan, karena tujuan Jany adalah hidup sukses di mata Tuhan. Bukan hidup mencari materi ataupun tahta. Hari ini Jany cukup bahagia, meski tanpa ayah, ibu,dan adiknya, Jany sudah ikhlas, malah ia merasa iri. Mereka pasti sudah berkumpul di surga.

“Sintia terimakasih, begitu banyak mutiara yang ku peroleh darimu, kau memang sahabat terbaikku”, Jany melambaikan tangannya, Jany dan Sintia berpisah untuk selamanya. Sintia berharap Jany bahagia bersama keluarga barunya. Sintia terbang jauh dan melambaikan tangannya.



***
selesai



haturan kasih teruntuk orang-orang yg tak lelah memberiku mutiara nasihat yang tak terbeli, smoga dengan adanya cerpen sederhana ini membuatku tak lupa akan tutur indah itu... tulisan yg terinspirasi dari sahabat pula...
terimakasih





Terima kasih untuk Boss Faizatur Rochmah Zaeen
Yang selalu menyumbangkan tulisannya untuk Penerbit imtiyaz, moga menjadi penulis yang selalu mendapat Ridha Allah ^o^,

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan