humor

2.10.11

,.Nasehat Hikmah Dari Dodolan Amaliyah Ilmiyah,.

 

Cerpen Pertama Dari Pena Nur Hanifansyah


, walaupun sebenarnya cerpen ini terinspirasi dari sosok pecinta buku yang selalu habiskan waktunya dengan membaca yaitu direktur penerbit imtiyaz rizal mumazziq zionis


Braak !!, terdengar hempasan kecil dari hentakkan tumpukan buku buku yang sudah pasrah untuk di tata rapi, “Ayah ga’ istirahat dulu ?, sini biar ifan yang bantu mindahin buku bukunya, biar ayah nanti tinggal menata rapi aja”, besarnya keinginan hati untuk membantu ayahku mungkin memang tidak sebanding dengan tubuh mungilku yang hanya Cuma bisa mengangkat beberapa buku, namun tetap saja maksud tulus hatiku selalu dibalas canda oleh ayahku, “Ohhhh Tidak Bisa !”, tiru ayahku layaknya gaya tatapan sule OVJ lengkap dengan intonasinya, aku hanya bisa tersenyum tanpa bisa menyaingi selera humornya yang tinggi, hatiku salut dengan gigihnya ayahku berjualan buku buku di toko buku depan rumah, lelah keringatnya selalu diusap dengan selera canda yang sehat,
            “Ayah kan pinter banget, kacamatanya aja kayak Profesor, kenapa ga’ jadi pejabat pejabat seperti di TV aja ?, kan lebih bisa dapat banyak uang ?,”. tanyaku polos dengan bahasa kekanak kanakanku sambil membantu ayahku mengangkat beberapa buku, “nak !, bukan ayah ga’ bisa jadi Pejabat pejabat seperti di TV, jadi Dosen terbang dan Profesor juga potensi ayah sangat menyanggupi” kupingku seakan melebar bangga ketika mendengar jawaban beliau, “tapi nak“ beliau mulai menyela Rasa Banggaku, “Tiap jabatan ada beban tanggung jawabnya, Cukuplah ayah menyandang jabatan “Kepala Rumah Tangga”, ayah cukup bersyukur punya toko buku yang ga’ jauh dari Rumah biar selalu bisa menikmati indahnya kebersamaan keluarga, dan ayah sangat bersyukur juga punya pendamping hidup yang mau berjuang bersama membesarkan ifan yang cerdas ini” kata ayahku , naluriku yang masih kecil hanya bisa menelan ending perkataannya sebagai pujian untukku, tanpa bisa mengerti seluruhnya ucapan Beliau.
“Ayah !,  ga’ mungkin buku buku ini bisa terjual habis semua, peminat baca kan kurang ?!!”, kenapa ayah ga’ ganti kerja lain aja ?, biar dompet ayah bisa lebih tebal ^o^ ” candaku, beliau tersenyum mendengar rangkaian kata kataku yang terkemas dalam nuansa polosku, “nak, rezeki itu pasti, usaha kita hanya perantara, ifan tau siapa Sang Maha Pemberi Rezeki !?!” sorot tatapan mata beliau mulai menajam seakan ingin mencongkel sifat keraguan hatiku kepada Sang Maha Pemberi Rezeki !, “ifan nanti kalau sudah besar, silahkan kerja apa aja yang penting halal, silahkan jadi apa aja yang penting benar, tapi  ingat !!,  Rezeki sudah diatur pasti oleh Sang Pemberi Rezeki, masing masing sudah dapat bagian yang telah ditentukan, setelah dapat bagian hasil jerih usaha, tugas kita kemudian mensyukuri Sang Pemberi Rezeki”, mutiara kata beliau terhenti, beliau kemudian meminum air mineral yang tersedia di meja, Tatapan polosku seakan masih menunggu mutiara hikma yang akan teruntai dari mulut ayahku, “gini nak, diantara kunci sukses kerja itu kecocokan hati dan keinginan kuat, ifan tau kenapa ayah jualan buku ?!, karena itu sudah menjadi panggilan hati ayah, selain karena ayah cinta ilmu juga biar ifan dan adek2nya sudah tertanam cinta buku dan cinta baca sejak dini, inilah yang disebut “amaliyah ilmiyah” selain ayah berjualan buku kan kita sekeluarga bisa baca gratis ^o^”, senyumku semakin merekah ketika mendengar kata “Gratis” yang happy ending, namun kemudian  sambil mengenyitkan dahi kedua alisku hampir menyatu karena bingung, ternyata volume otakku masih terlalu kecil untuk mencerna arti “amaliyah ilmiyah”, “abah, amaliyah ilmiyah itu apa ?” Rasa keingintauanku memaksaku bertanya, “amaliyah itu ya amal atau pekerjaan, ilmiyah itu ya ilmu”, sahut ayahku dengan simple, “ohhh” jawabku seakan paham, namun sebenarnya ketika menganjak dewasa aku baru mengerti sepenuhnya arti amaliyah ilmiyah yang ditanamkan ayahku di hatiku
Yupsss, Alhamdulillah, buku buku sudah tertata rapi semua, ayahku duduk di tempat kasir, sedangkan aku menemani beliau sambil membaca komik favoritku conan edogawa, “abah, ifan koq ga’ bisa baca cepat kayak abah yo, bisa baca buku buku tebal dalam waktu cepat ?”, tanyaku heran karena level bacaku Cuma masih sekitar comik dan cerpen cerpen, ayahku tersenyum sambil membetulkan kacamata beliau, “nak !, “membaca” itu kan tujuannya untuk memahami apa yang tertulis, sedangkan “memahami” tujuannya membaca apa yang tidak tertulis, jadi yang penting kamu paham dan rajin membaca, kamu nikmati aja gaya bacamu,”
Beberapa saat kemudian aku berucap dengan suara pelan seakan berbisik “Ayah !, dari tadi dia koq Cuma baca terus, tapi ga’ beli beli ?”, tanyaku jengkel sambil mengarahkan telunjuk mungilku ke salah satu pengunjung, “kalau ga’ beli beli ayah usir aja dia pakai cara halus !!” lanjutku sembari melengkapi luapan Rasa Jengkelku,  “nak !,” sahut ayahku seakan beliau berusaha meredam emosi  jengkelku sambil mengusap ubun ubunku yang mungil, “ayah ini bukan guru yang mempunyai lautan ilmu, biarlah dia lagi Asyik membaca !, dengan membaca beberapa lembar buku buku yang ada  anggaplah itu sudah menjadi titipan ilmu dari ayah, moga ilmunya bermanfaat biar bisa menjadi amal jariyah yang terus mengalir, ayah kan sudah bilang ini amaliyah ilmiyah ^o^”, perkataan ayahku membungkam rasa jengkelku, “itung itung juga menanamkan cinta baca kepada  yang lain juga kan ^o^” tutur kata ayahku lengkapi kesejukan hatiku
            Tiba tiba Orang yang menjengkelkan itu mendekati ayahku, “Mass Pelastiknya ini boleh dibuka ga ’?, sambil memperlihatkan  buku yang berbalut dengan plastik berjudul "ensiklopedia 22 aliran tasawwuf" dan “sekuntum nyawa untuk sahabat” diterbitkan oleh Penerbit Imtiyaz , senyum ayahku membalas sambil berucap ”Ohh silahkan, buka aja pelastiknya, kalau dodol & lemper baru ga’ boleh dibuka pelastiknya, nanti Basi ^!!^”, senyum dan tawa kecil kemudian memecahkan keheningan suasana dan membuahkan keakraban,
anakku, ayahmu hanya penjual buku. Tapi ayah bangga, penjual buku bukan profesi anakku, tapi Panggilan Jiwa.,.    ,pesan kang rizal tuk anaknya avisa ^o^

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan