humor

13.11.11

Harusnya Kau Memilih Aku,.,.,,

 

 Penulis Awan Pratiwi
Sinar mentari tak begitu menyengat siang ini.Nina tengah sibuk menyelesaikan tugas skipsinya.Lalu lalang orang tak menjadi penghalau untuk mengerjakan skripsinya itu.Nina memang gadis yang cuek tapi dia juga baik hati pada orang yang ia kenal salah satunya adalah Diera temannya,sekaligus sahabatnya.Mereka bersahabat  sekitar 4 tahun tentu waktu yang lama untuk dua orang manusia yang menyatukan perasaannya menjadi sahabat.Saling mengerti satu dengan yang lain adalah kunci utama sebuah persahabatan.Diera sosok lelaki tampan yang tinggi,dengan lengkuk tubuhnya yang ideal dialah pangeran kampus.Banyak yang menyukai dirinya termasuk Nina,sahabatnya sendiri.Nina mulai menyukai Diera sejak ia duduk dibangku sekolah,tepatnya waktu kelas 3 SMA.Nina tahu mengharapkan sebuah cinta dari sahabat adalah mustahil bagi Nina.Namun jika tuhan sudah menakdirkan 2 sahabat itu menjadi satu?Apa boleh buat?.Tapi sekali lagi itu hanya mimpi kosong dan anggan-anggan yang gag akan pernah terwujud karena Diera memiliki sosok perempuan yang layak meskipun umurnya dibawah Diera tetapi Agnes  adalah sosok impian Diera.Bersifat dewasa dan selalu ada disaat Diera membutuhkan Agnes selalu memberikan kasih sayang yang lebih pada Diera.Agnes juga mengenal Nina dengan sangat akrab bahkan Agnes sering menyebut Nina sebagai kakak keduanya.Nina menerima dengan hati lapang yang penting Diera bahagia itu adalah sesuatu yang bahagia bagi Nina.Kebahagian Nina adalah kebahagian seorang Diera.Seorang lelaki dengan kacamata kotaknya,hidung mancung dan matanya bagaikan mata malaikat yang dapat menarik pesona setiap wanita yang melihatnya.Tinggi badannya 170 cm dan berat badan 56 kg.Dengan rambutnya yang dimodel ala jappanees itu mampu menghipnotis semua kaum hawa yang  melihatnya.Senyumnya yang manis selalu mewarnai indahnya bibir merah marunnya itu.Dan satu lagi yang paling membuat Nina bahagia adalah kejuteknya yang kadang kala membuat Nina benci tapi rindu.Terlalu banyak kata-kata indah untuk seorang Diera.Ya,dia memang sangat menarik hati.Bisa kau bayangkan betapa sempurnanya makhluk cipta yang maha kuasa itu?.Seperti yang sekarang dia mendekatiku dan berucap.
“Kau cantik hari ini”puji Diera sambil menatap dengan bola mata yang sangat indah bahkan lebih indah dari mata Daniel Retfliffe.Aku tersenyum dan menjitak kepalanya dan Diera merasakan sakit.
“Kau berbohong”senyumku pertanda menang.
“Tidak”ucap Diera sekali lagi.
“Sudahlah, kalimat itu pantas kau beripada Agnes bukan padaku”
Diera memutar badanku menghadapnya.Dia memegang wajahku dan menatapku dengan penuh rasa kasih sayang seorang sahabat dan dari situ aku dapat melihat betapa indahnya sorot mata itu.Aku tak ingin dia pergi jauh dariku.Aku ingin dia ada dan berada disini,seperti sekarang apa yang ia lakukan padaku.Menatapku dan memegang wajahku dengan senyum indahnya.
“Ada tiga wanita yang membuatku nyaman berada disetiap sisinya.Diantaranya kau adalah wanita yang beruntung yang membuatku tenang berada disisimu.Berada dihatiku yang tersimpan di sudut relung hatiku itu kamu”ucap Diera dengan tenang dan pelan.
Kata-katanya merasuk kedalam relung hatiku.Dan aku dapat merasakan setiap ucapannya penuh makna dan arti yang sangat dalam.Terima kasih tuhan,engkau telah sempurnakan hariku.Aku kembali tersenyum.Dan dia masih tetap memegang wajahku.
“Terima kasih atas semuanya.Terima kasih karena kau telah baik padaku.Aku tahu kita seorang sahabat dan persahabatan kita sangat mesra bahkan lebih mesra dari pacar.Aku ingin engkau ada disisiku,disetiap senyumku”harapku dengan senyum.
Diera melepaskan tanganya dari wajahku.Dia memalingkan muka tampannya itu keluar sana.Diera menoleh.
“Bagaimana tadi?Romantis bukan?”tanya Diera.
Aku mengganguk.
 “Itu adalah kata-kata yang akan kuucapkan dimalam aniversaryku kepada Agnes bidadari hatiku.Menurutmu bagaimana?”Diera meminta pendapatku.
Aku tertunduk dan berfikir kalau itu tadi khusus buat diriku namun siapa aku.Aku hanya orang yang menganggumi tapi tak ingin diketahui identitasnya.Itulah aku.
“Oh...ya aku lupa.Nanti malam ya,kalo tak salah.Aku suka dan pastinya Agnes menyukainya”pendapatku.
“Terima kasih sobat”senyum manis dari Diera.
Aku mengangguk namun sedikit kecewa.Diera pamit pulang untuk mempersiapkan hari jadinya dengan Agnes.Ingin rasanya aku marah tapi pada siapa?Pada Diera yang hanya menjadikan aku kelinci percobaannya saja.Sungguh menyebalkan.Aku menutup laptopku lalu pergi dari kampus meuju tempat yang biasanya,yang dapat mentetramkan aku disaat aku galau seperti sekarang.
Aku berbaring diatas rumput yang rindang yang menjadi saksi bahwa aku sedang sakit hati dan galau.Saat itu aku merangkul badanku sendiri,merangkul lututku hingga membentuk sebuah isyarat bahwasanya aku sedang sakit hati.Aku hanya bisa menangisi takdirku.Kenapa ini terjadi padaku?.Aku pulang dengan muka sembab.Selama perjalanan aku memikirkan betapa senangnya Agnes malam ini.Ditemani bintang yang bersinar terang tapi bintang tak mengetahui hatiku sama seperti Agnes dan Diera.Ingin rasanya aku menujukkan kalau aku sangat menyukai Diera.Hanya saja aku,akan menyimpan rahasia terbesarku agar Diera tak mengetahuinya.
Aku sampai dirumah ketika makan malam tiba.Aku melihat kedua orangtuaku sedang duduk dimeja makan sambil menunggu pembantu rumah menyiapkan makanan.Aku juga melihat adik dan kakakku yang asyik dengan dunianya sendiri.Aku duduk disebelah mamaku.Mamaku mengerti apa yang ada difikiranku saat ini.Mamaku mengerti aku menyukai Diera,makhlum mamaku adalah orang yang dekat dengan aku,sangat mengenalku, karena hanya mama  sahabat terbaikku sekaligus tempatku menumpahkan semua keluhan yang ada pada diriku ini.
“Mama”kataku manja.Mama tersenyum dan membelai rambutku dengan rasa sayang.
Setelah makan malam,aku bergegas mandi dan duduk ditepi kolam.Aku sedang menangis dalam hati namun tak mengeluarkan airmata.Aku hanya ingin sendiri.Benar-benar sendiri.Aku meringis kesakitan karena aku tak ingin semua orang tahu kalo asmaku kambuh.Aku semakin sesak dan sesak dalam hitung detik aku tergolek tak berdaya bagai boneka mainan yang siap dimainkan.Dilemparkan kesana kemari tanpa berontak.Dan aku merasakan gelap.
Keesokan harinya aku sadarkan diri.Dan ketika aku membuka mata aku melihat keluargaku dan Dokter Rangga melingkari tubuhku.Dengan selang oksigen aku tak dapat berbuat apa-apa lagi selain diam namun aku tak melihat Diera,sahabatku.Kemana dirimu disaat aku  butuh dirimu,kenapa kau tak ada disampingku?Aku ingin engkau yang ada disini bersama keluargaku?Apa aku hanya mimpi disiang bolong?berharap kau datang kesini?Mamaku tampak senang karena aku telah sadar meskipun aku harus menghirup oksigen.
                                                         @@@@
Seharian ini Diera mencari sahabatnya,padahal Diera ingin bercerita soal yang tadi malam,tepatnya saat aku bersama Agnes tadi malam.Aku mulai putus asa untuk mencari Nina.Ada yang memanggilku dan aku kenal siapa orang yang memanggilku itu adalah Dina,dia sekelas dengan Nina.Dina menghampiriku dan berkata dihadapanku.
“Nina sakit.Apa loe gag berniat jengkuk dia?”beritahu Dina.
Aku kaget bukan main.
“Kok dia gag bilang aku?”
“Orang sakit mana tahu kalo ia akan sekarat”jengkel Dina.
“Tapi......”belum sempat aku berucap untuk kalimat selanjutnya.Dina sudah tak mau mendengarkanku.
“Udah deh,sekarang gue nanya.Loe mau ikut apa gag?”tanya Nina sekali lagi.
“Aku ada janji dengan Agnes tapi aku ingin mengunjunginya.Nanti sajalah kalau aku sudah mengantarkan Agnes ke rumah tantenya”jawabku bimbang.
Tampak wajah  Dina terlihat sedikit marah.
“Disaat loe sakit.Nina bingung bukan main untuk kerumah sakit sekarang balas budi loe mana?Nina sakit dan loe gag  jengkuk Nina.Sahabat macam apa kau?”marah Dina yang muak dengan mukaku ini.
Aku tertunduk.
Dina pergi dengan rasa marah karena aku tak tahu terima kasih pada Nina.Andaikan kau tahu sahabat?aku selalu berdoa untukmu?untuk kesembuhanmu agar kau tak sakit lagi.Tetapi aku tak tahu balas budi,aku hanya seorang sahabat yang mungkin tak baik  untukmu.
Aku meninggalkan kampus untuk pergi kerumah Agnes.Ketika aku sampai disana aku melihat mobil yang tak kukenal itu tengah memarkir didepan rumah Agnes.Aku keluar dari mobil dan membawa sebuket mawar berwarna putih yang kubeli tadi di toko favorit kami.Aku melangkah masuk kedalam rumah itu dan terhenti diambang pintu.Aku mencoba menekan bel beberapa kali,namun tak ada jawaban.Aku menelponnya tapi tak aktif.Kutemukan jalan pintas.Ya. Aku mulai menemukkan jalan pintas untuk masuk kedalam rumah Agnes .Kubuka pintu belakang dan kulihat sepi,aku  berfikir kalau seluruh keluarga Agnes sedang pergi dan aku memutuskan untuk meninggalkan  rumah Agnes.
“Sayang,sebentar lagi aku selesai”teriak Agnes.
Dan aku berhenti untuk menunggu Agnes.Tapi sudah setengah jam aku menunggu Agnes tak juga turun.Aku menaiki tangga meskipun hatiku bimbang.Aku tahu dimana letak kamar Agnes yaitu diatas dilantai 2 dan paling pojok itulah kamar Agnes.Aku membuka pintu dan kulihat Agnes tengah asyik berpelukkan dengan seorang lelaki yang tak kukenal dan aku merasakan cemburu yang hebat.Darah dan seluruh kekuatan ini aku kumpulkan untuk memaki keduanya.Dan aku merasakan sakit yang luar biasa ketika aku tahu Agnes telah melukaiku dari belakang.Padahal aku telah menaruh kepercayaan lebih untuknya,untuk kita.Tapi apa yang dilakukankan saat itu,telah membuat kepercayaan itu luntur dan telah hilang begitu saja.Keduanya menyadari dan tersentak bukan main ketika ada aku dibelakang mereka,seolah aku sutradaranya.Aku menangis,untuk pertama kalinya dan pergi meninggalkan rumah Agnes dan diikuti oleh Agnes yang tak hentinya memanggilku.Tapi aku tak mendengarnya,justru aku berlari kesebuah taman cinta yang letaknya ditepi danau.Aku menangis dan membuang buket bunga itu kedalam danau.Dan aku menjerit,mengadu pada danau cinta kalau hubunganku dengan Agnes telah berakhir.
Pukul  19:30 WIB.Aku datang kerumah sakit,dimana Nina dirawat dan itu kuketahui dari Nena,adik Nina.Aku membuka pintu dan melihat Nina dengan kondisi yang tak perlu  menggunakan oksigen untuk bernafas.Nina kaget tapi ia tersenyum.
“Kau datang juga”senyum darinya.
Aku tersenyum pahit.Nina menghela nafas.
“Ada apa?”tanya Nina yang melihat raut mukaku lecek.
“Aku.......”tak sempat aku berkata lagi karena air mata ini sudah keluar dan menjadi wakil dari apa yang terjadi.Nina mengelus tanganku,turut prihatin.
“Sudah”tenangkan Nina.
Aku menginap semalam dirumah sakit bersama Nina karena dengan bersama Nina aku merasakan tenang dan nyaman.
Aku dibangunkan oleh seorang suster muda lagi cantik,dia tersenyum kepadaku tapi Nina belum juga terbangun .Suster itu memeriksa infus dan keadaan Nina.Aku kekamar mandi untuk mencuci mukaku lalu mengosok gigiku.Aku keluar dari dalam kamar mandi dan mendekati Nina.
“Selamat pagi pak”sapa Suster Imel dengan senyuman.Aku mengetahui namanya dari kartu pengenal yang tertera disisi kanan.
“Bagaimana keadaan Nina?”tanyaku dingin.
“Nina baik-baik saja.Mungkin besok dia diizinkan untuk pulang”jawab suster Imel lembut dan tersenyum ramah.
“Aku pulang dulu ya,sobat”bisikku pada Nina.Lalu meninggalkan Nina dirumah sakit sendiri karena sebentar lagi aku akan ada kelas.
                                                              @@@
Dua bulan sudah hati Diera merasa sepi tanpa kehadiran Agnes namun bila mengingat perbuatan Agnes,Diera jengkel atas penghianatan selama ini.Diera menyayangi Agnes sepenuh hati dan tak pernah berkianat pada Agnes.Nina menepuk bahu Diera lalu Diera menoleh dan tersenyum gentir tapi Nina tersenyum penuh semangat.
“Udahlah,mati 1 tumbuh 1000 kok”senyum Nina.
Diera tersenyum.
“Oh....ya gue mau ngajakin loe pergi.Loe ada kelas gag hari ini?”tanya Diera.
Nina menggeleng.
Keduanya pergi dengan diiringi mata Agnes yang tak berhentinya meminta maaf pada Diera.Namun itu semua kesalahan Agnes.Nasi sudah menjadi bubur bagi Diera.Agnes hanya bisa berdoa semoga Diera bahagia walau tak bersama Agnes.
                                                                   @@@
Aku tak bisa membuat senyum itu diwajah Diera.Apa mungkin Diera terlalu tersakiti?Oh....tuhan tolong kembalikan senyum Diera yang dulu.Apa mungkin hanya Agnes lah yang dapat membuat Diera tersenyum seperti dulu?Jika itu yang bisa membuat Diera tersenyum maka aku akan melakukannya demi melihat seulas senyum dari Diera.Sahabat tersenyumlah???.
Aku menatap wajah Diera yang memandang kosong.Aku seolah merasa kalau Diera yang berada disampingku ini bukan Diera yang dulu.
 “Loli apa senyum buatmu itu mahal?padahal tuhan menciptakan kita didunia ini untuk tersenyum dan bukan merenungi apa yang terjadi?Jika bagimu senyum itu mahal?Aku akan membeli senyummu itu dengan kasih sayang seorang sahabat?”Aku berucap lalu menunduk karena tak tega dengan wajah Diera yang nyaris tak senyum.
“Jika tuhan menciptakan kita untuk tersenyum seharusnya tuhan tak menakdirkan kita untuk melihat apa yang terjadi saat itu?Dan jika kau ingin melihat senyumku,maka aku akan tersenyum untukmu seorang bukan untuk yang lain aku tersenyum sebab ada kau disampingku dan sanubariku”Diera meraih tangan ini lalu menghadap wajahku dan meletakkan tanganku didadanya.Aku diam.Aku merasa seperti mimpi bisa merasakan indahnya panorama danau cinta bersama orang yang sangat aku sayangi.
“Jika kau merasakan detak jantungku lewat tanganmu betapa berartinya kau bagiku.Jika kau merasakan darah yang mengalir ini adalah darah suci yang berasal dari dalam hatimu.Kau ingat,saat kau terkena duri.Aku mengisap darahmu dan darahmu menjadi satu dalam darah ini.Jika kau terluka maka aku orang pertama yang akan menghapus dukamu itu sebagai senyum terindah yang lewat dalam rongga hatiku”Diera memelukku dan aku merasa senang sekaligus terharu.Ternyata dia mengingat saat aku terkena duri dan itu membuatku malu tapi juga senang.Dipelukkan Diera, aku menangis haru.Diera melepaskan pelukannya lalu melihatku menangis,dia membelai rambutku.Dan aku merasa malu.
“Hmmm.......kenapa menangis?”tanya Diera yang melihatiku sambil tersenyum dan aku semakin malu.
“Kalau kau menangis,jelek jadinya.Lihat betapa jeleknya wajahmu saat menangis.Wajahmu merah merona bagaikan tomat yang masak yang siap untuk dimakan.Hehehe.....”Diera tertawa.
Aku malu tapi juga senang karena dapat melihat senyum itu diwajah Diera.
“Hah.....aku kan malu”aku sedikit manja.
Hari telah senja.Tanpa tersadar aku tertidur dipundak Diera.Kata orang rumah aku diantar Diera pulang larut malam.Tapi aku senang dapat membuat senyum diwajah tampannya.
Hufff.......aku menarik nafas lalu mengeluarkannya.Berharap beban ini  sedikit berkurang.Aku keluar dari kelas Mr”D”.Seorang dosen yang sanggar dan lebih mirip preman itu menjadi dosen di Fakultas Sastra.Aku beranjak dari tempat dudukku  untuk pergi kekantin kampus hanya sekedar minum yang hangat.Apalagi kalau bukan Jeruk Hangat tanpa gula.Penjaga kantin seolah hafal dengan minuman favoritku.Aku menikmati dengan ditemani buku favoritku.Seorang cowok berdiri manis itulah Mr”Loli”dia duduk disebelahku.Sepertinya Mr”Loli”senang?Ada apa gerangan?Ada senyuman yang lama sudah tak terlihat kini terlihat?Aku senang dan dapat menikmati senyum indah Mr”Loli”.
“Aku balikkan lagi sama Agnes”girang Diera.
Aku kaget.Seolah darahku berhenti mengalir,jantungku juga terasa mati dan tak ada tanda untukku hidup,nafasku sesak dan aku kembali down.Tapi aku harus senang karena ini adalah doaku untuk Diera.Kini senyum Diera kembali merekah dan dia terlihat senang tanpa  memerpedulikan aku yang sakit karena tadi malam Diera berkata indah dan tak sadar aku tertidur di  pundaknya itulah saat terakhir sebelum Diera meninggalkan aku.Kata-kata yang kemarin hanyalah untaian kata yang kuanggap tak pernah terjadi dan takkan terjadi.Terima kasih tuhan kau telah kembalikan senyuman Diera,Mr”Loli”.
Aku pulang dengan langkah gontai.Aku rebahkan tubuhku ini ke sofa dan tanpa terasa buliran airmata keluar dari kelopak mataku.Beban yang kupikul ini sangat berat.Aku mencintai dia tapi dia tak mencintai aku.Oh...tuhan apa aku tak berarti untukknya?Apa aku tak berhak mendapat cinta darinya?Aku berharap dia tersenyum untukku bukan untuk wanita lain?Aku semakin menangis dan semakin menangis hingga terasa sesak yang mengakibatkan aku tidur untuk semestara waktu.

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan