13.11.11

Ibuku Penawar Aneh

 

Ibuku Penawar Aneh
Cerpen Hanif (pengelola blog penerbit imtiyaz) yang ke 2


            “Mba’ baju ini berapa harganya ?”, tanya ibuku kepada salah seorang  penjaga toko baju “45.000 bu !”, “20.000 dech !!” sahut ibuku, aku yang masih terlalu kecil untuk mengerti dunia tawar menawar  tercengang !, antara 20 dengan 45 lumayan terlalu jauh pikir otak kecilku, “ohh ga’ bisa bu 20.000, ga’ bisa nutup modal kita, baju ini 40.000 dah buat ibu” jawabnya sambil menyusui bayi mungilnya, “ga’ bisa lebih murah lagi mba’ ?, 25.000 gimana ?”, heeee ! mental tawar menawar ibu koq kuat banget sich ? kataku menggumam di hati, “ya ga’ bisalah mba’ !” jawab penjual setengah cuek lebih fokus memomong bayinya yang mulai menangis rewel, “gini mba’ !, gimana kalau 60.000 saya beli dua ?”, “gini aja bu 75.000 kalau ibu beli dua baju”, “65.000 aja yo !” kata ibuku dengan nada yang membingungkan, intonasi melas namun agak sedikit maksa, “bu, ayolah kita ke toko buku, beli “donal” !” kataku manja sambil menarik narik tangan ibuku padahal maksud batinku ingin menyudahi kenekatan ibu dalam tawar menawar “sabar yo nak !, entar lagi kita beli “donal” !” sambil mengelus keningku yang mungil, “aduhh 65.000 ga’ bisa bu” jawab penjual, ibuku kemudian menarik tangan mungilku ke arah lain “ayo’ nak kita cari baju buat ayahnya di toko lain aja” kata ibuku dengan suara yang sengaja agak dikeraskan, aku menyadari ibuku melangkah pelan dengan penuh keraguan, beberapa langkah terdengar suara “70.000 dah bu !, tawaran terakhir !!”, ibuku berbalik badan sambil menahan senyum, entah guratan  senyum kemenangan atau kebahagiaan, “ya udah mba’ saya beli 70.000 untuk dua baju”, kemudian ibuku membelikan majalah favoritku “donal duck” tanpa ditawar karena memang sudah harga kuburan, namun aku sedikit heran dan bertanya tanya di benak, aku yang  masih terlalu dini untuk mengenal dunia tawar menawar, berangkat sekolah SD aja uang jajanku hanya 2000, namun menyaksikan transaksi tawar menawar ibuku beberapa pertanyaan pertanyaan dan kesimpulan kesimpulan menumpuk di otak mungilku apakah begini kerjaan ibu ibu, atau ini hanya jurus ibuku untuk memenangkan pertandingan olimpiade tawar menawar ?, apakah jika aku memiliki istri nanti juga harus demikian ?, apakah perempuan lebih ahli dalam pertandingan tawar menawar ?, bla bla bla, segala pertanyaan yang ga’ semestinya harus terpikirkan di usiaku yang masih ingusan nyerobot masuk ke benak tanpa izinku, namun ada beberapa kesimpulan yang aku hasilkan dengan pola hipotesa seumuranku,
  -    Menawarlah dengan serendah rendahnya harga, kalau bisa dibawah setengah harga yang ditetapkan pembeli
  -    Tawaran pastinya tidak langsung diterima, tapi penjual akan menurunkan sedikit harga, tetaplah menawar !, namun dengan cara menaikkan sedikit dari harga tawaran kita sebelumnya
  -    Belilah lebih dari satu, tentu tawaran pasti akan lebih mengena ke hati pembeli,
  -    Jika nilai harga mulai menipis namun tidak sesuai dengan keinginan kita, “pura puralah” pergi beralih ke toko lain, dengan harapan”dipanggil” oleh penjual, tapi mungkin anda akan menderita tekanan batin berupa “gengsi” untuk kembali karena tidak “dipanggil”, dan menyesal karena kehilangan harga yang sudah “tipis”,
  -    Jika anda bersama seseorang, kesempatan anda memberikan efek suara yang mengesankan, dengan setting volume agak dikeraskan sekiranya terdengar oleh penjual, seperti “ yuk kita cari ke lain” “di toko sana mungkin lebih murah”,dll ^o^,.,.,.
  -     Tips & trik ini tidak berlaku pada barang barang harga “kuburan”,
                       Begitulah hasil analisis & hipotesa anak ingusan seumuranku
        ketika ibuku di pinggir jalan sembari menunggu becak yang lewat, sosok seorang tua dengan kumis tebalnya tidak beraturan menghampiri ibuku sambil menggendong bakul penuh dengan botol botol berisi madu, “bu !, beli madunya bu !” ucap sosok penjual madu tua sambil menurunkan bakul, terlihat dari paras mukanya nuansa letih dan lelah, ibuku pun memeriksa madu madunya dan bertanya “berapa pak madunya ?”, “50.000 bu, bisa kurang dah” sahutnya sambil mengusap keringat yang bercucuran di kenignya, “heeee !, 50.000 ??, mending madunya asli, mending madunya berkualitas, botolnya aja bertulisan “marjan”, ketahuan banget madunya ga’ origina & ga berkualitasl” kataku di benak, aku pun kemudian membisikkan ibuku “bu, ga’ asli bu, ga’ usah beli dahh”, tapi ibuku langsung mengambil uang 50.000 dan menyerahkannya TANPA ada adegan tawar menawar, “udahlah nak !, “kasihan” dia, orang sekarang mana ada yang beli madu kayak gitu, peminatnya kurang, setidaknya ibu beli satu mengurangi beban penatnya” ibuku menjawab bisiskanku, becak pun lewat lalu ibuku memanggilnya, “pak ke jalan mentri berapa pak ?” ibuku memulai transaksi tawar menawar pada tukang becak “6000 bu”, heeeeee ! bukankah seharusnya ibuku juga menggunakan sikap “kasihan” sama tukang becak ni !, kan ekonomi & jerih payahnya sama dengan si tua penjual jamu tadi ?, sama sama berkeringat letih, sama sama ekonomi menengah ke bawah !,.,,batinku bergejolak ingin memecahkan “teka teki” keanehan ibuku, ibuku memang “penawar yang aneh” gumam hatiku, “4000 dah pak ya !”, “ialah,” sahut tukang becak dengan wajah kurang ikhlas dan melas, di tengah perjalanan pulang di atas kayuhan becak aku berbincang ringan dengan ibuku “bu, apasih gunanya nawar nawar ?” dengan nada manja plus ingusan,
 “jika penjual punya hak memasang harga, calon pembeli punya hak menawar nak”,
“tapi kan kasihan bu !,” sahutku,
“baguslah kalau kamu punya rasa “kasih” nak, tapi dalam dunia bisnis ya bisnis, kalau pengen luapkan rasa kasih ya diluar daerah bisnis, jika kamu besar dan berkeluarga nanti berbisnislah yang tulus tuk menghidupi keluarga & berilah rasa kasih yang tulus, kalau ibu sendiri berusaha membeli dengan harga paling murah itung itung kan membantu mempertipis pengeluaran ayah, kan hak kita juga lagi pula kan bukan dosa“,
 aku pun mulai bertanya lebih detail
 “ibu ni aneh, udah tau madunya jelek koq ga’ ditawar !”,
 “bukan ibu ga’ tau juga & bukan ibu ga’ bisa menawar !, tapi inget nak kalau kamu membeli sesuatu dan kamu sadar kamu bisa menawar dengan harga yang lebih rendah, kamu niatkan “shodaqoh sirri” artinya sedekah yang rahasia, hanya allah yang tau orang lain ga’ ada yang tau termasuk penjual, disamping ibu juga niatnya bukan tulus “transaksi” tapi “berbelas kasih” sama penjual madu, yahhhh tapi akhirnya jadinya bukan “shodah sirri dah”, kamu kan dah tau nak, sedangkan shodaqoh sirri seharusnya Cuma Allah yang tau, tapi ga’ apalah !, moga kamu bisa mengamalkannya nanti pada waktu tertentu & dapat menyenangkan banyak orang dengan shodaqoh sirri” kata ibuku sambil mengusap punggungku seakan berharap nasehatnya menembus dalam hingga tertanam di hatiku
“Tapi koq ibu tadi pakai acara nawar2 tukang becak segala” dengan suara tegas berbaur heran namun agak pelan takut terdengar oleh tukang becak,
Ibuku hanya menjawab dengan senyuman ^o^, aku dibiarkannya bingung, ketika hampir sampai rumah ibuku mengambil 4 helai ribuan dan 1 helai uang lima ribu, ibuku menatapku sedangkan aku berpura keasyikan baca “donal duck” tanpa disadari ibuku gerak geriknya selalu aku perhatikan, ibu kemudian melipat uang ribuan 4 helai didalamnya sehelai uang lima ribu, layaknya kue dadar gulung dengan isi yang manis, sesampai rumah ibuku langsung menyerahkan pola lipatan dadar gulung ke tukang becak, tukang becak langsung memasukkan ke saku tanpa menghitungnya, hingga berkumpul dengan uang uang jerih keringatnya hari itu, aku sadar, tentunya tukang becak tadi tidak menyadari yang mana uang pemberian ibuku karena telah berbaur di kantongnya, jika pun ia tau ia akan kaget girang, berapakah nilai pundi pahala yang didapat ketika menyenangkan hati seorang muslim ?, itulah yang selalu aku kenang dari “keanehan” ibuku,
“Ibu tadi ngasih berapa ?” tanyaku, padahal aku sadar ibuku telah memberi lebih
“kan tukang becaknya tadi bilang ga’ apa ibu ngasih 4000”, yeah ibuku tidak bohong, hanya menyajikanku jawaban berupa hasil transaksi tawar menawarnya,
Aku mengerti sekarang, mungkin ibu tidak ingin aku mengetahui “shodaqoh sirrinya”, ya Allah terimalah “shodaqoh sirri” ibuku, ibu ! maafkan aku menilaimu sebagai “Sang Penawar Yang Aneh”,.,

(Cerpen Terinspirasi dari sosok “Penawar Tangguh”, yang ahli dalam bidang tawar menawar serta hanif sisipkan nasehat Habib Ali bin Hasan Baharun, hingga tersajilah cerpen sederhana ini, moga para pengunjung penerbit imtiyaz berkenan mencicipi hikmah hikmah yang dihidangkan ^o^)

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan