humor

15.1.12

Dia Pergi KarenaNya.,.,

 

Ditulis Oleh  Muthya Sadeea
 
Semua berawal dari kemunafiqanku. Semua keegoanku yang pada akhirnya membuahkan penyesalan hingga detik ini. Saat aku masih harus terus duduk termenung menanti jawaban yang tak tentu. Dan aku tak pernah tahu kemana aku harus mengadukan semua ini. Tentang perasaan yang tak menentu ini.
Hujan rintik-rintik sore tadi, mengantar dingin di pengujung malam ini. Dan di beranda rumah, masih berkawan sunyi, aku duduk menyendiri. Aku tak menyadari, entah sejak kapan, tiba-tiba saja ibu sudah duduk menjejeriku. Aku segera tertunduk menyadari keberadaan beliau.
“Kamu menangis?”, Tanya beliau tanpa menatap wajahku. Aku tergugup. Dasar bodoh! Bisa-bisanya kamu nangis tapi gak sadar. Rutukku sendiri dalam hati.
“Ah, gak kok bu! Cuma kena angin malam aja”, dustaku sambil menyembunyikan sisa-sisa air mata yang ada. Ibu tak lagi bicara. Aku tak berani menatapnya. Fikiranku melayang tanpa menghiraukan ibu yang setia menemani malamku.
2 tahun yang lalu…
“Tuh cowok bener-bener nekat, Han! Liat aja, foto kamu nempel di mana-mana”, suara itu menyapaku tak karuan di ruang perpus pagi itu. Dia Feni. Sahabat terbaikku di kampus ini.
“Kamu betah juga ya Han, di teror kayak gini! Saranku ya, Han…mending kamu terima aja deh! Daripada ngejar-ngejar kamu gak ketulungan gitu”, ujarnya saat ia sudah duduk tepat di sampingku. Aku tak menghiraukannya tapi lebih tepatnya, pura-pura tak menghiraukannya.
“Kalo kemaren-kemaren neroronya pakek nyanyi aja, masih bisa di tolerir. Lha yang ini? Doi uda berani nyebar foto kamu. Ayo dong, Han…kamu yang tegas! Nolak dia atau…”, nada suaranya lebih terdengar seperti menggoda. Perlahan, aku menoleh ke arahnya. Tersenyum simpul.
“OK…aku tahu alasan klise kamu. Tapi dia patut di perhitungkan”, ia beranjak dari duduknya. Berganti tepat berada di depanku. “Dia gak cuma ganteng, kaya atau juga karena dia anak band. Tapi prestasinya juga dari segala bidang. Semua organisasi juga digelutinya”, ujarnya yang sepertinya hanya ingin aku saja yang mendengarnya. Aku kembali tersenyum menatapnya.
“Fen,,,itu semua bukan kriteria yang diinginkan abah. Kalau kamu suka, kamu saja”, paparku lembut.
“My God, Hana…coba Alfa mau sama aku, aku tinggalin aja si Tomi”, tukasnya lebai. Aku tersenyum melihatnya. “It’s ok! Sekarang, yang mau nikah, kamunya atau abah kamu?”, lanjutnya yang kembali seperti berbisik. Aku tertunduk mendengar penuturannya.
“Aku ngerti posisi kamu, Han…aku akan dengar apapun yang ingin kamu suarakan”, ujar Feni saat kurasakan tanganku digenggam olehnya. Perlahan, kuangkat kepalaku. Kudapati senyumnya yang benar-benar tulus. Lalu, ia beranjak meninggalkanku. Membiarkanku sendiri.
Aku tertunduk sepeninggal Feni. Rasanya, aku harus benar-benar bersyukur menemukan sosok seperti Feni di kampus elite ini.
“Assalamu’alaikum, Hana…”, suara itu tiba-tiba saja membuyarkan lamunanku.
“Wa’alaikum salam”, kujawab salam itu sedatar mungkin. Suara ini sudah tak asing lagi di telingaku. Perlahan, kuangkat kepalaku sedikit demi sedikit, berusaha menghindari tatapan matanya yang duduk tepat di hadapanku. Selalu saja aku merasa salah tingkah di hadapnnya.
“Gue, eh, aku tahu. Kamu pasti gak akan pernah bereaksi, segila apapun usaha yang aku lakukan buat dapetin cinta kamu. Tapi jujur Han, gue, eh, salah lagi! Aku serius benar-benar cinta kamu. Ini dari lubuk hati yang paling dalam”, ujarnya setengah berbisik. Entah! Sudah berapa kali kudengar kata-kata ini darinya, tapi aku masih saja selalu terkesiap setiap kali mendengarnya.
“Ini kado mungil dariku. Aku mohon…lihatlah dulu isinya. Jangan langsung kau berikan pada orang lain. Sekali ini, aja!”, suaranya benar-benar seperti memohon. Aku masih menunduk sama sekali tak ingin melihatnya. Berusaha menstabilkan perasaan aneh yang kurasa.
“Ok! Kamu diam aku anggap kamu mendengar permohonanku”, ujarnya sembari menghembuskan nafas besarnya.
“Aku pamit dulu. Ada rapat di mapala. Assalamu’alaikum, Hana…”, pamitnya berlalu. Kujawab salamnya lirih sembari mengangkat kepala. Dan kudapati punggungnya yang telah menjauh.
Kotak mungil itu berada tak jauh di hadapanku. Sejenak, kupandanginya.
“Buka aja! Kamu sampai kapan kamu terus-terusan nolak kado darinya?”, Feni telah kembali di sisiku. Aku menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir. “Atau aku saja yang membukanya?”, lanjutnya lagi meraih kotak mungil itu. Aku tak berontak. Membiarkannya membuka setiap kertas yang membukusnya.
“Nah, Lho, Han…Qur’an?”, sura takjub Feni segera membuatku menoleh mencari kebenaran itu. Dan benar. Kudapati sebuah mushaf mungil di dalamnya.
Apa maksud pemberiannya kali ini? Mengapa harus mushaf?
Itu satu. Dan lagi…


Ramadhan tahun ini benar-benar melelahkan. Karena kuliah masih fulltime. Kudinginkan kepalaku sejenak dengan menikmati rindangnya pohon di taman kampus. Walaupun aku harus melihat pemandangan yang tidak layak ada, saat ramadhan karena masih banyak yang tidak menjalankan puasa. Aku menggeleng-geleng sendiri. Menyadari ini adalah kampus elite di kota metropolitan. Iman harus benar-benar di kokohkan
Tiba-tiba, aku mendengar sebuah kericuhan yang terjadi tak jauh di belakangku. Aku sengaja tak menoleh. Karena aku merasa asing dengan taman ini.
“Memang ada yang lebih penting, dari kebersamaan kita melepas lelah setelah latihan  dengan makan siang bersama? Lo gak punya pikiran buat ngehindar dari kita, kan?”
“Sebenarnya, apa maksud lo nolak tawaran kita buat makan siang bareng tiap kali kita abis latihan?”
“Suka-suka gue! Kalian makan tanpa gue juga, kan bisa! Toh, gue juga gak pernah absen buat latihan ngeband bareng kalian. Apa masih perlu alasan kenapa gue nolak ajakan makan siang kalian?”
“Lo aneh, Fa! Atau jangan-jangan, lo…puasa”, suasana menegang. Terdengar cekikikan merendah tenggelam dalam tegangnya suasana.
Beberapa detik kemudian,
“Gue emang puasa! Salah? Gue muslim!”, suara itu benar-benar familiar di telingaku. “Kalau kalian masih nganggep gue temen kalian, hargai keadaan gue!”
Koridor kampus…
“Nich!”, aku sengaja menawarinya sebotol air minum.
“Gue puasa!”, jawabnya singkat dan terdengar begitu ketus. Aku tersenyum mendengarnya. Aku yaqin, dia masih diliputi dengan kekesalannya. Hingga mungkin, ia enggan untuk sekedar mengangkat kepalanya.
“Sia-sia saja puasanya, kalau masih marah-marah”, ujarku pelan membuatnya seketika berdiri. Aku tertegun dan segera menundukkan kepalaku. Dia berdiri tepat di hadapanku.
“Han, Hana…”, ia terbata seperti nada terkejut.
“Banyak istighfar, ya! Assalamu’alaikum”, pamitku segera berlalu dari hadapannya.
Dia mengorbankan kebersamaan dengan teman bandnya demi puasa?
Itu dua. Dan aku semakin tak mengerti saat…
--------------------------(Part 2)


BRAKK!!!
Aku yang sedang sibuk di depan layar computer, jelas terlonjak mendengar gebrakan pintu yang benar-benar keras. Sesegera mungkin kutoleh si biang kerok itu.
“Heh! Sopan dikit gak bisa? Ini ruangan ada yang nempatin. Bukan gudang!”, kulihat Feni tengah menggertak 4 cowok asing yang datang dengan wajah emosi penuh kemarahan.
“Mana yang namanya Hana?”, wajahku pucat pasi. Siapa mereka? Mengapa mereka menyebut namaku? Apa yang sudah kuperbuat? Perlahan, aku berdiri mendekat ke arah Feni.
“Sadar gak, lo yang udah buat ini semua?”, ujar salah seorang dari mereka sambil membanting kasar setumpuk majalah dan bulletin kampus. Aku tak mengerti maksud mereka. Bahkan aku tak mengenal mereka.
“Lo pikir, lo siapa? Mau nghancurin Bluestar? Ngaca! Cuma cewek udik yang gak tau mode!”, ujar yang lain lagi sambil menuding kasar ke arahku. Dan aku, hanya bisa tertunduk.
“Kalian apa-apaan? Beraninya main keroyok!”, Feni mencoba membelaku.
“Lo diem! Lo gak tau apa-apa tentang ini. Kalo temen kesayangan lo ini berani macem-macem, kita gak segan-segan akan buat dia hengkang dari kampus ini”, ancam salah satu dari mereka. Kemudian, mereka berlalu begitu saja. Menyisakan aku yang terisak dalam pelukan Feni.
“Liat, Han! Alfabyan keluar tiba-tiba dari Bluestar tanpa sepatah katapun”, Feni mengeja salah satu mejalah yang tadi dibawa oleh keempat cowok asing itu. Aku tak ingin tahu lebih dari ini. Aku baru mengerti. Keempat cowok tadi adalah personil Bluestar yang lain. Mahaband di kampus elite ini, tapi, bahkan aku sendiri, tak tahu tentang mereka. Band yang berisikan 5 mahasiswa keren, tampan dan tajir. Aku masih saja terus menangis dalam pelukan Feni.
Apa peranku dalam hengkangnya Alfa dari Bluestar? Siapa aku buat mereka?
Itu tiga. Dan masih banyak lagi tanyaku yang tak terungkap.
Dan semua terjawab…
Aku, Feni dan Ilham, adik bungsu laki-lakiku, terdiam sesaat. Feni sengaja memanggilnya untuk menanyakan perihal kedekatannya dengan Alfa, yang ternyata adalah guru private matematikanya.
“Iam gak pernah tahu, kalau ternyata Mas Alfa yang mbak Hana maksud, adalah Mas Alfa gurunya Iam. Padahal kan, udah hampir 4 bulan Mas Alfa ngajar di rumah ini. Dan selama itu pula, Mas Alfa banyak berbincang-bincang sama abah. Mas Alfa kan, gak neko-neko. Ya…walaupun Iam tahu, abah tidak mungkin tertarik pada Mas Alfa. Tapi, Iam pikir-pikir…kok beda jauh ya, antara Mas Alfa yang biasanya Mbak Hana ceritakan, sama Mas Alfa guru Iam yang Iam kenal. Padahal kan, satu orang yang sama”, ujar Ilham panjang lebar. Feni manggut-manggut mendengarnya. Dan aku masih tertunduk.
“Mungkin, itu memang salah satu usahanya buat meluluhkan hati abahmu”, sahut Feni.
“Oya, sudah 2 minggu ini Mas Alfa berguru pada abah”, tambah Ilham tiba-tiba. Dalam tundukku, aku mengerutkan dahi penasaran.
“Berguru apaan?”, tanya Feni antusias.                                              
“Kayak siraman rohani gitu! Orang yang jadi bahasan ilmu-ilmu agama mulu. Tapi, mana Iam tau!”, jawab Ilham sekenanya.
“Udah ah, Mbak! Abah udah nunggu di bawah. Mbak Hana, Iam pamit dulu. Mari Mbak Feni”, pamit Ilham yang langsung keluar kamar.
Sepeninggal Ilham, Feni beranjak duduk tepat di sampingku, di kasur kamarku.
“Han, sekarang tatap mataku! Semua jawaban tergantung kamu”, ujar Feni lembut mengangkat daguku. “Kamu memberinya harapan?”, tanya Feni saat mataku telah beradu dengan pandangannya.
“Dia mengambil resiko besar dengan perubahan ini demi cintanya ke kamu, Han”, lanjut Feni dengan tatapan yang tak bisa kuhindari. Aku mengelak dari tangannya. Untuk kemudian menunduk dan memunggunginya.
“Kamu menangis?”, ujarnya berlutut di depanku. Sesaat, aku segera memeluknya. Terisak tanpa bisa kutahan. Feni membalas pelukanku. Aku tak mampu berkata-kata.
“Aku tak bisa mencintainya karena perubahannya, Fen. Dan aku juga tak bisa mencintainya, karena aku tahu, abah juga tak mencintainya. Aku hanya ingin semua berjalan alami”, ujarku sebisa mungkin. Kurasakan belaian Feni di kepalaku yang berbalut jilbab.
“Semua akan baik-baik saja! Ikuti kata hatimu. Dahulukanlah mana yang seharusnya kamu dahulukan. Apapun keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu”, suara Feni benar-benar mendamaikanku. Membuat aku tak ingin melepas pelukannya.
Bahkan, semua lebih jelas saat aku dan ibu…
“Walaupun niatnya besar untuk berubah, tapi dia sama sekali bukan laki-laki yang diharapkan abahmu. Masih banyak laki-laki sholeh yang bisa jadi imam hidupmu kelak”, kudengar suara ibu  dengan jelas karena saat itu aku sedang tiduran di pangkuan ibu.
“Walau sebenarnya, abahmu tak memungkiri kalau dia mempunyai pribadi yang baik. Pembawaannya selalu tenang. Mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan dia satu-satunya laki-laki yang kritis di hadapan abahmu. Bukan hanya mengangguk menurut. Dengan segala keterbatasannya tentang islam, membuatnya serius berargumen dengan abahmu”, anganku mulai melayang. Dan aku sudah tak lagi mendengar apa yang ibu tuturkan. Aku terlelap tanpa ibu tau.
Hingga akhirnnya aku menemukan sebuah kenyataan.
“Kita sengaja datang tanpa sepengetahuan Alfa”, ujar salah satu dari 4 tamu laki-laki asing di rumahku.
“Kita ngerasa bener-bener malu, Han, sama lo. Kita gak tahu, darimana musti ngomongnya”, sambung yang lain. Aku hanya menunduk mendengarkan setiap ucapan yang mereka suarakan.
“Alfa udah buka mata kita. Dia benar-benar berubah semenjak dia begitu menggilaimu. Termasuk dengan kegilaannya untuk hijrah ke Mesir”, sahut seorang lagi. Aku tersentak mendengarnya. Namun, aku hanya diam tak menyahut.
“Iya, Han! Bahkan, dia sama sekali tak menyesalkan keputusannya yang harus meninggalkan fakultas hukumnya, yang sangat ia harapkan sejak masih SMA. Dan kita? Siapalah kita buat dia yang sudah sangat berlebihan. Kita baru menyadari, bahwa sebenarnya, kita hanya jadi racun untuknya. Tapi, hebatnya dia, memang selalu punya pendirian yang kuat”, lanjut seorang lagi. Aku semakin membisu mendengarnya.
Entahlah! Kenyataan macam apa lagi yang kudapat. Lagi-lagi, aku hanya bisa menyimpan tanyaku dalam hati. Juga kebimbanganku atas rasa ini.
Dan malam di 2 tahun lalu itu...

------------------(Part 3)
“Ah, bapak ini bisa saja! Putri saya Cuma manusia biasa. Yang merubah, ya hidayah Allah dan pastinya karena pribadi itu sendiri”.
“Dan hidayah itu melalui putri bapak”.
Hening.
Aku baru saja ikut duduk saat terdengar percakapan singkat itu. Dan tidak seperti biasanya, abah terdiam begitu saja dengan tanggapan tamunya.
“Ini, sebenarnya kemari, mau minta barokah doa pada Pak Haji. Insya Allah, minggu depan, Alfa berangkat ke Mesir”, suara itu terdengar begitu lembut. Lembut suara wanita.
“Sekedar doa, semoga semua diberi kemudahan”, lanjutnya kembali.
“Ya...Lagipula, kami juga hanya bisa memberikan doa”, canda abah yang disambut derai tawa dari ketujuh orang yang ada di ruang tamu sederhana rumahku. Tapi, tidak untukku. Aku hanya tertunduk. Menerka apa yang sebenarnya terjadi.
“Mmm, Pak!”, suara tegas itu seperti penanda bahwa tawa harus mereda.
“Iya...”, suara santai abah menyahut.
“Sebenarnya, kami datang ke sini utnuk niat utama, mengkhitbah putri bapak untuk putra bungsu kami, Alfabyan”.
Skak mat!
Aliran darahku seperti terhenti sejenak. Sungguhkah seserius ini?
Tak ada suara menyahut. Dan aku tak berani mengangkat kepalaku. Perlahan, aku mendekat ke arah ibu. Membisikkan sesuatu untuk kemudian pamit berlalu.
Balkon atas depan kamar adalah tempat yang ingin kutuju. Ada Ilham rupanya.
“Hebat ya, Mbak, Mas Alfa! Jarang-jarang lho, ada orang kayak dia. Seribu satu. Yah... walapun perlu dipertanyakan perubahan yang ada padanya. Benar-benar karena Allah, atau justru karena Mbak sendiri. Hahaha!”, candanya sendiri sambil tertawa. Aku tersenyum melihat tingkahnya. Sejenak, aku memiikirkan kata-katanya. Dan aku tak memungkiri, kalau dalam hati, aku membenarkannya.
Tanpa terasa, 1 jam berlalu. Hingga ibu telah menunggu aku dan Ilham untuk kembali ke ruang tamu.
“Ya...kalau jodoh tak kemana, Pak!”, suara itu sempat terdengar. Itu, suara abah. Ternyata, kelima tamu itu pamit pulang. Alfa bersama kedua orang tuanya dan kakak perempuannya bersama suaminya. Kami sekeluarga mengantar mereka.
“Mengapa harus ke Mesir?”, tanyaku lirih dari kaca jendela mobil. Aku dan Ilham berdiri berdampingan tepat di samping mobil bagian belakang.
“Karena memang harus”, jawabnya singkat dengan sesimpul senyum yang sempat aku lihat. Aku tertunduk mendengarnya.
“Mbak Hananya dijaga ya, Am. Besok, Mas Alfa minta”, suaranya begitu lembut. Mesin mobil sudah mulai menderu. Aku berlari meninggalkan semua. Kembali menuju balkon rumah atas. Kulihat dari situ, mobil APV cream itu berlalu ditelan gelap malam.
Tanpa kusadari, air mataku meleleh. Entahlah! Sedihkah aku atas kepergiannya? Merasa kehilangankah aku? Mungkinkah ini tangis bahagia karena dia telah berubah? Atu justru ini luapan perasaan yang selama ini kupendam sendiri? Dan aku hanya bisa menangis sendiri di balkon tersebut. Berharap ribuan bintang yang bersinar bisa menghiburku.
“Mbak...”, kudengar suara Ilham yang berdiri di belakangku. Aku bergeming.
“Iam gak mau ganggu Mbak. Cuma nyampe’in ini. tadi, Mas Alfa nitip ini. pesannya, langsung disuruh buka kalau sudah sampai ke tangan Mbak”, ujarnya. Tak lama, kudengar suara langkahnya yang menjauh.
Sepeninggal Ilham, kulihat sebuah kotak yang dimaksud Ilham. Perlaha, kuraih dan kubuka dengan sangat hati-hati.
2 kaset dan sebuah walkman. 1 kaset dengan cover ‘Bluestar’ dan 1 kaset hijau polos. Ada beberapa lembar kertas. Aku mengambilnya. Dan, Astaghfirullah! Itu adalah kertas-kertas surat darinya yang selalu aku buang. Dan sebuah lembaran itu. Selebaran berisikan photoku yang pernah menyebar di penjuru kampus. Ya Allah... bisa kubaynagkan, betapa terlukanya dia.
Perlahan, kutekan tombol ‘play’ walkman setelah kuisi kaset polos itu.
“Assalamu’alaikum wahai pengagung Robbul ‘Alamin, Hanna Shofya...
Maaf, karena aku telah ukirkan namamu dalam hatiku tanpa seizinmu...
Maaf, karena aku telah lancang meraba jalan suci keseharianmu...
Dan maaf pula, untuk cinta agungmu yang telah kunodai...
Semua, awalnya karena nafsu yang membuncah saat melihat aura keindahan parasmu. Namun, kini terjawab sudah. Dan aku beruasaha untuk memahami ini semua.
Hanna...                                                                                   
Cintaku kini telah berubah berbingkaikan nama agung Nya, Sang Pemilik Cinta. Rinduku juga bukan lagi rindu yang menggebu. Namun, telah melebur bersama gema Ilahi yang selalu berhasil menenangkan hatiku. Dan bahkan, malamku tak lagi berhiaskan kemewahan.
Meskipun pada awalnya, kamulah alasan utamaku, namun, kini telah membaur dengan seluruh kerelaanku atas takdir Nya, Sang Maha Hidup.
Maafkanlah aku atas pengakuan lancangku ini”.
Hening. Hingga berlalu beberapa menit.
“Mungkin, saat kau mendengar suara dalam kaset ini, di rumah aku sedang tak mampu untuk sekedar memejamkan mata. Resah karena harus jauh merantau. Namun, sekali lagi, memantapkan hati untuk langkah yang pasti ini. Aku berusaha mengikhlaskan semua untuk Nya.
Aku tak akan lagi berharap lebih darimu. Namun, satu inginku yang mungkin akan jadi permohonan terakhirku.
Maafkan aku, Han...
Karena aku sadar, tak sedikit kesalahan yang telah aku perbuat di matamu dalam sejarah hidupmu mengenal diriku ini. Atau bahkan mungkin luka dalam hatimu.
Dan untuk pemberian ini, aku tak bermaksud lebih dari kau sudi dan bersedia dengan ketulusanmu, mengenang pernah adanya aku dalam beberapa episode hidupmu.
Aku yang selalu mengusikmu...
Yang selalu tak pernah punya malu...
Yang selalu lainnya, yang melukaimu...
Maaf, Han! Maaf dan maaf seribu maaf yang seterusnya.
Selama ini, aku sudah terlalu banyak berharap padamu. Meski kenyataan pada akhirnya, aku harus menerima hasil nihil. Namun, aku tak pernah pantang menyerah. Karena aku tahu, kamu bukan manusia batu yang akan selamanya diam. Dan kini, aku telah mengetahui jawabannya. Allah telah benar-benar begitu indah mengatur skenario untuk hamba-hamba Nya. Dan aku tersenyum menerima peranku dari Sang Maha Sutradara. Kini, hidayah itu telah menyapaku bersama kemurnian rasaku atas Nya.
Terima kasih, Hanna...
Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh”.   
Air mataku mengalir deras, tanpa suara. Kuraih lembaran lain yang tersisa dalam kotak itu. Sebuah kalender islam. 19 Dzul Qo’dah 1430 H. Dan mungkin, aku akan kembali melihatnya, esok, 4 tahun mendatang.
Dan kisah itu masih terkenang hingga saat ini...
“Ibu tahu, kamu mencintainya”, kata-kata ibu cukup untuk membuatku terlonjak dari tempatku duduk. Ibu menatapku dalam penuh arti.
“Percayalah, Nak... Semua telah diatur oleh Sang Kuasa. Dan ibu yaqin, kamu telah diberi kebahagiaan tersendiri dibalik jutaan hikmah dalam setiap peristiwa yang kamu alami. Kamupun harus kuat dan percaya Allah selalu melindungimu. Dan mungkin, di sana, Allah juga telah menjaganya”, ujar ibu penuh ketenangan. Airmataku meluap. Kupeluk ibu erat.
“Sudah, Nak! Ikhlaskan dia karena Allah”, nasihatnya lembut dalam sela isakku.
“Hati itu urusan Allah. Jadi, jangan ikut campur tentangnya. Biarkan dia seperti itu. Karena itu adalah kuasa Nya. Dia pergi karena dia sadar, bahwa hatinya milik Allah. Begitu juga dengan kamu. Harus bisa mengikhlaskan hatimu. Kalian bertemu karena kuasa Allah. Dan kalian berpisah juga karena kuasa Allah. Ingat! Allah membenci makhluq Nya yang mendahului atas apa yang menjadi kehendak Nya. Karena semua akan indah pada masanya. Yang harus selalu kamu tahu, Allah menyayangi hamba-hamba Nya yang sabar. Dan harusnya kamu bahagia...”, ibu memegang kedua pipiku lembut. Menghapus sisa-sisa air di sudut mata. Menatapku lembut dengan senyum tulusnya. “Dia pergi karena Nya...”, lanjutnya. Kembali aku memeluk ibu.
Allah... Terima kasih untuk seorang malaikat yang Kau hadirkan dalam setiap langkah getir dan gusarku yang tak henti menghantui malam-malamku.
Dan terima kasih, untuk sebuah hati yang masih bisa menerima semua dengan senyum.
Wahai kau yang di sana, Alfabyan....
Sungguh, Allah telah sangat menyayangimu lebih dari aliran kasih sayang yang senantiasa kau terima setiap harinya. Termasuk dariku.
 Ditulis Oleh  Muthya Sadeea
Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/
Penerbit Buku Buku Islam

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan