humor

28.2.12

juara emang penting, tapi pengalaman jauh lebih penting dan berharga

 


STORY BESIDE BE A CHAMPION

oleh : Fina Rafa Al-farisy

22-23 februari 2012
Moment yang paling menegangkan buat saya. Di moment ini tim dari sekolah saya harus bertanding dengan SMA/MA favorit lainnya. Pasrah! Awalnya itu yang sering kita katakan. Bahkan tim putra yang baru pertama kali ikut ajang English debate competition ini selalu saja berkata “udahlah mbak, kita itu pasti kalah…secara sma ini ma ini favorit, bla,..bla…bla…”.
Tapi saya tidak patah semangat. Kenapa? Meskipun dari luar kita terlihat minder, tapi saya merasakan semangat yang luar biasa. Saya rasa hati mereka yang mengatakan “untuk terus maju” daripada kalah sebelum peperangan di mulai. Saya pun melihat tim putra begitu punya semangat 45 meskipun mereka masih baru dan gak tau dunia debate sama sekali.
Lanjut…saya tidak tau bagaimana detailnya yang dirasakan teman saya yang lain. Namun saya begitu banyak mendapatkan sesuatu selama proses yang panjang untuk jadi champion. Awal sebelum lomba, hati saya gak karuan. Kadang bilang menang, kadang bilang kalah. Tapi saya gak mau mengulangi untuk ke dua kalinya seperti tahun lalu (2011), dimana saya tidak bisa mengusir ketakutan saya dan meyakini sekali bahwa saya kalah. Walhasil saya langsung gugur setelah sebentar angkat senjata. Untuk moment kemaren, saya cepat cepat mengusir semua perasaan jelek karena ingat kalimat “Allah sesuai dengan prasangka hambanya”. Saya pun awalnya berpendapat “capek2 berusaha toh kalau takdirnya menang ya menang, kalah ya kalah”, tapi saya secepatnya mindset atau pola piker saya sendiri. Memang saya gak tau menang atau kalah, yang jelas sekarang kewajiban saya adalah BERUSAHA!
Sebelum bertanding, saya mengirim sms singkat ke semua orang yang ada di kontak HP saya, saya minta untuk membantu mendoakan. Siapa sangka kalau dari sekian banyak orang ada salah satu yang doanya dikabulkan ;)…dan ini yang baru pertama kali saya lakukan, MEMINTA DOA PADA IBU SAYA SETIAP KALI MASUK KE PUTARAN SELANJUTNYA. Jujur setiap kali saya mau lomba, saya tidak pernah berkata pada ibu “bu…doakan ya! Biar lancar”. Sama sekali gak pernah! Dan meminta doa pada ibu secara langsung baru pertama kali saya lakukan pas ada moment ini. Sebelum berangkat saya bilang pada ibu dengan nada guyonan “buk, doanya ya. Biar siapa tau dikasih kelancaran menang”. Ibu saya sudah mengiyakan. Sesampainya di kampus lokasi lomba, babak penyisihan ada 3 ronde, sebelum mulai ronde 1, saya sms ke ibu lagi “buk…doakan biar lancar”, masuk ke ronde yang ke 2, saya sms ibu lagi “buk…doakan biar menang…jadi nanti bisa masuk perempat final”,. Ibu saya menjawab “iya…ibuk doakan biar lancar dan menang. Amiin…”. Dan begitu seterusnya. Perasaan yang saya dapatkan waktu itu adalah LEGA. Merasa orang yang paling dekat dengan saya sejak masih mengandung begitu mendukung saya.
Cerita selanjutnya…selama babak penyisihan yang punya 3 ronde itu, saya terus berdoa “kelancaran berbicara”. Saya memang sengaja tidak berdoa “ya allah..kasih saya kemenangan juara 1/2/2…bla..bla..bla…”. sebelum hari H saya selalu berdoa “dijaga agar tidak menangis kalau kalah…”. Baru pas hari H doa kelancaran berbicara saya sampaikan karena debate menurut saya paling butuh lancar berbicara. Selama duduk menunggu tema apa yang akan diperdebatkan, saya pejamkan mata saya sebentar, saya sudah berusaha dengan berbagai cara misalnya saja rutin latihan debate dengan anak2. Tapi untuk tema apa yang akan dikeluarkan saya pasrah!  Tapi di balik kepasrahan itu, saya minta pada Allah untuk dikasih tema yang sesuai dengan harapan saya dan mengantarkan saya pada kelancaran. Alhamdulillah…tema yang keluar di ronde 1, ke 2, ke 3 selama babak penyisihan selalu sesuai dengan harapan saya dan tema yang sudah saya siapkan sebelumnya. Posisi menjadi pendukung atau oposisi tema itu pun sesuai harapan saya.
Dengan izin Allah saya masuk perempat final yang dilaksanakan pada hari selanjutnya. Malamnya, orang tua saya ke rumah mbah pas tau saya pulangnya ke mbah, bukan ke rumah karena bakalan capek bolak baliknya ke sekolah. Sebelum beliau pulang, saya katakana pada ibu lagi “buk…doakan loh…!hehe”, ibu saya pun mengiyakan. Esoknya saya tidak tau mau lawan siapa, di sini saya sudah pasrah mau dilawankan siapa saja. Di antara tim2 lain yang masuk perempat final, ada 1 tim yang isinya anak kela 1 semua. Dan mereka adalah TARGET saya! Saya mohon pada Allah dipertemukan dengan mereka. Karena ini adalah system gugur, kalau kalah saya tidak akan masuk final lagi. Dan Alhamdulillah….saya dilawankan dengan TARGET saya tadi. Dengan izin Allah saya masuk semi final…
Di semi final, saya harus lawan dengan tim putra dari sekolah saya sendiri untuk menentukan siapa yang menang. Kalau menang ya tanding dengan sekolah lain untuk memperebutkan juara 1&2 kalau kalah 3&4. Hasilnya kita kalah dengan tim putra. Dan tim saya tanding duluan debate di auditorium disaksikan banyak orang. NGEBLANK, NERVOUS, GAK ADA MATERI. Materi yang kita dapat adalah kasus yang ada di luar negeri dan saya tidak mempersiapkannya. Seketika itupun saya menangis dan keluar dari auditorium. Saya sempat protes pada keputusan yang sudah dikehendaki Allah itu, di luar dengan air mata yang gak berhenti2 saya protes “kenapa Allah tidak pernah mengizinkan saya menjadi juara meski hanya sekali saja? Dari kelas 1 sampai kelas 3 saya tidak pernah menang selama debate! Sedangkan teman2 saya sekali ikut banyak yang langsung menang. Padahal ini adalah kesempatan terakhir saya”. Kira2 itulah yang saya sampaikan pada Allah. Teman2 saya yang lain menyusul dan mencoba menasehati saya. Akhirnya saya pun bersalah sudah protes seperti itu. Ini “BELUM AKHIR!”, pikir saya.
Musuh kita ini sudah langganan masuk final kalau ada debate lintas Surabaya. Kita? Jangankan juara, masuk final aja belum pernah. Saya berusaha mati2an berdebate dengan baik, tapi tetep aja tidak maksimal karena saya tidak paham dengan kasus temanya dimana bukan di Indonesia. Teman2 yang lain pun sudah pada lemes. Saya pembiacara ke dua, teman saya yang menjadi pembicara pertama bilang “kita sudah jelas kalahnya. Lihat aja! Mereka sudah siap materi dan argumennya bagus”, sedangkan teman saya yang menjadi pembicara ke 3 bilang “innallah ma’ana…semoga ada keajaiban!”, begitu seterusnya.
Pada saat pengumuman juara 3 atau 4, kita sudah gak mendengarkan karena yakin otomatis kalah. Pas jurinya bilang kalau juara 3 diberikan pada oposisi (tim saya), kita masih bengong begitu lama. Padahal tim putra yang sadar kita menang pada teriak2 semua. Sedangkan saya dan teman2 1 tim pun masih tidak ada respon “kaget plus gembira”. Kita saling memandang satu sama lain gak percaya kalau menang. Akhirnya beberapa detik setelah menyadari, saya langsung bediri dan teriak saking senengnya. Saya langsung memeluk teman2 1 tim. Itu saja teman2 saya masih bengong dua duanya. Hahaha…lucu sekali melihat ekspresi wajah mereka. Juri bilang pada saat mereka menentukan siapa yang menang melalui proses perdebatan yang begitu panjang dengan sesame juri karena sama2 imbang…ternyata lawan kita kalah karena mereka berbicara yang tidak sepantasnya dikeluarkan apalagi untuk seorang debaters di depan banyak orang. Alhamdulillah….sedang tim putra mendapatkan juara 1…itupun nasib mereka sama dengan tim saya.
Jika saya simpulkan dari semua itu adalah yang penting USAHA dulu…selain itu BERDO’A. selama latihan saya dan teman2 benar2 menyerap apa yang di ajarkan pelatih debate…dan berdo’a pun sudah semaksimal mungkin…barulah kita PASRAH apapun keputusannya setelah USAHA DAN DOA kita maksimal…
Saya sempet merasa tidak adil juga, kenapa tim putra yang baru saja ikut langsung juara 1 sedangkan kita harus nunggu 3 th dulu baru bisa jadi juara itu aja juara 3 cuman…tapi akhirnya saya hilangkan, karena saya sadar betul bagaimana tim putra kerja keras demi memahami berdebate itu bagaiimana. Dan 1 hal hikmahnya, saya dan tim lebih bisa merasakan rasanya kegagalan yang gak hanya 1 kali daripada tim putra. Dan itu adalah sebenarnya tempaan untuk ke depan agar lebih kuat daripada sebelumnya…menjadi juara emang penting, tapi pengalaman jauh lebih penting dan berharga…J
Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

3 comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan