humor

7.6.12

Legalisasi nikah sesama jenis, Rasionalisasi Syari'at yang Irasional

 


Legalisasi nikah sesama jenis
Rasionalisasi Syari'at yang Irasional 

Penulis : M Hanif Alatas

Eric James, seorang nasrani liberal yang menjabat sebagai petinggi gereja di Inggris menulis sebuah buku berjudul “homosexuality and a pastoral church” di dalam buku itu ia menghimbau gereja agar mentoleransi homoseksualitas dan lesbianisme dan melegalkan perkawinan sesama jenis. Pada november 2003, para pastur gereja anglikan di New Hampshire AS mengangkat uskup homoseks bernama Gene Robinshon. Oleh karena itu, di berbagai negara barat, homoseks dan lesbi tidak dikategorikan sebagai tindak kriminal jika mendapat persetujuan masyarakat. Di Amerika Serikat, Mahkamah Agung di Washington DC telah mengesahkan pernikahan sesama jenis. Sinjoyla Townsend dan Angelisa Young, salah satu pasangan sejenis, seperti dikutip CNN, mengatakan, mereka menunggu bertahun-tahun sampai saat berbahagia ini tiba. Begitu UU itu disahkan, mereka menjadi pasangan sejenis pertama yang mendaftarkan diri untuk menikah di AS pada tahun 2010. Dan lebih dahsyat lagi, pada Juni 2011, Dewan Hak Asasi Manusia – Perserikatan Bangsa Bangsa dengan dukungan suara 23 negara dengan 19 negara yang menolak, sedangkan 3 negara abstain, meluncurkan “ Resolusi persamaan hak bagi semua orang tanpa memandang orientasi seksual” yang isinya menjamin dan mengakui homoseks dan lesbi sebagai bagian dar Hak Asasi Manusia (HAM), sehingga pelarangan dan hukuman bagi pelaku Homoseks dan lesbi di negara manapun dianggap sebagai Pelanggaran HAM. 
           
Sejak bergulirnya reformasi di Indonesia pada tahun 1998, angin euforia demokrasi berhembus kencang dan keras, sehingga meruntuhkan sendi-sendi keluhuran budi pekerti dan tatanan moral kehidupan masyarakat. Kebebasan yang kebablasan merasuk masuk ke semua sektor kehidupan berbangsa dan bernegara, batasan nilai kebebasan yang selama ini dikontrol oleh agama, adat dan negara menjadi  hilang dan sirna. Sehingga tidak hanya di dunia barat, fenomena tragis seperti di atas mulai tampak di bumi pertiwi. Ironisnya, jika di eropa dan Amerika suara-suara menjijikan ini diteriakkan oleh  non-muslim. di Indonesia, yang gencar menyuarakan ide-ide busuk ini adalah sebuah komunitas yang gemar menamakan diri meraka sebagai “Intelektual Muslim” dan banyak menyusup ke instansi pendidikan islam di negri ini.   
           
Di tahun 2004, Perhimpunan Lesbian dan Gay (PELANGI) menggelar konferensi pers di kantor YLBHI Yogyakarta yang dihadiri oleh dedengkot Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla dkk, untuk menuntut pembuatan Undang-Undang tentang Perlindungan Lesbian dan Gay.
Prof. Dr. Siti Musdah Mulia guru besar UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Jakarta,  dalam wawancaranya dengan jurnal perempuan pada tahun 2007, meyatakan bahwa perkawinan sejenis HALAL dan diperbolehkan oleh agama, baik homo atau lesbi. Dia menegaskan bahwa yang diharamkan dalam alqur’an adalah perbuatan “sodominya” bukan orientasi seksual homo atau lesbinya. Musdah juga mendefinisikan perkawinan hanya sebatas “akad yang sangat kuat dilakukan dalam keadaan sadar oleh dua orang” dengan demikian definisi ini mencakup perkawinan sesama jenis, karena perbedaan jenis kelamin tidak disyaratkan didalamnya. Bahkan dalam harian berbahasa Inggris “The Jakarta Post” edisi Jum’at (28/3/2008) Musdah Mulia dengan “IJTIHADnya” yang ngawur, terang-terangan menisbatkan legalitas perkawinan sesama jenis kepada islam. ia menyatakan “Homosexuals and homosexuality are natural and created by God, thus permissible within Islam”  Homoseksualitas adalah alami dan diciptakan oleh Tuhan, karena itu dihalalkan dalam Islam. Tidak aneh, Karena sepak terjangnya yang begitu mencengangkan, pada hari perempuan dunia tanggal 8 maret 2007, Musdah Mulia menerima penghargaan International Women of Courage dari Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice di kantor kementerian luar negeri Amerika Serikat (AS) Washington.
Selain itu, pada tahun 2004, terbit Jurnal Justisia dari Fakultas Syariah IAIN Semarang yang menghalalkan homoseksual. Kemudian jurnal itu berkembang dan  diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul “Indahnya Kawin Sesama Jenis : Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual” (Semarang:Lembaga Studi Sosial dan Agama/eLSA, 2005). Dalam buku tersebut dijelaskan strategi yang harus dilakukan untuk melegalkan perkawinan homoseksual di Indonesia, yaitu (1) mengorganisir kaum homoseksual untuk bersatu dan berjuang merebut hak-haknya yang telah dirampas oleh negara, (2) memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa apa yang terjadi pada diri kaum homoseksual adalah sesuatu yang normal dan fitrah, sehingga masyarakat tidak mengucilkannya bahkan sebaliknya, masyarakat ikut terlibat mendukung setiap gerakan kaum homoseksual dalam menuntut hak-haknya, (3) melakukan kritik dan reaktualisasi tafsir keagamaan (tafsir kisah Luth dan konsep pernikahan) yang tidak memihak kaum homoseksual, (4) menyuarakan perubahan UU Perkawinan No 1/1974 yang mendefinisikan perkawinan harus antara laki-laki dan wanita.” (hal. 15)
Dalam catatan penutup buku karya anak-anak Fakultas Syariah IAIN Semarang tersebut, dimuat tulisan berjudul “Homoseksualitas dan Pernikahan Gay: Suara dari IAIN”. Penulisnya, mengaku bernama Mumu, mencatat, “Ya, kita tentu menyambut gembira upaya yang dilakukan oleh Fakultas Syariah IAIN Walisongo tersebut.” Juga dikatakan dalam buku tersebut: “Hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya. Bagi kami, tiada alasan kuat bagi siapapun dengan dalih apapun, untuk melarang perkawinan sejenis. Sebab, Tuhan pun sudah maklum, bahwa proyeknya menciptakan manusia sudah berhasil bahkan kebablasan.”
 Kaum liberal memiliki penafsiran, bahwa faktor tunggal yang menjadi sebab (‘illat) diharamkannya homo dan lesbi pada zaman Nabi Muhammad saw, terlebih zaman Nabi Luth as adalah sedikitnya populasi umat manusia pada saat itu. Sehingga, Untuk menjamin kesinambungan umat manusia sebagai khalifah di muka bumi, perkawinan pria dan wanita mutlak diperlukan. Karenanya, pengharaman homo dan lesbi merupakan solusi sosial bagi problem tingkat populasi pertumbuhan umat mausia yang sangat rendah.
Namun saat ini, ketika populasi ummat manusia membeludak, bahkan telah menimbulkan problem sosial yang sangat serius dari beragam sektor kehidupan, mereka berpendapat bahwa   ‘illat dari haramnya perkawinan sesama jenis sudah tidak ada. dan sudah maklum, bahwa, “alhukmu yaduru ma’a illatihi”. Sehingga pengharaman homoseksual harus di evaluasi kembali dan dikaji ulang. Dan mereka mengambil kesimpulan, di zaman sekarang  Homo dan Lesbi menjadi SOLUSI SOSIAL bagi problem ledakan pertumbuhan penduduk dunia, dan problem-problem sosial lainnya terkait penyediaan sandang, pangan, papan dan lapangan kerja.
Dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi, kaum liberal meneriakan  hasiI ijtihad yang belum pernah ada dalam sejarah Islam dan  membela habis-habisan perkara yang sudah jelas diharamkan oleh Allah dan RasulNya. Bahkan Nabi SAW, dengan tegas, memerintahkan umatnya untuk membunuh  jika mendapatkan orang yang melakukan amal kaum luth. Beliau bersabda :
"من وجدتموه يعمل عمل قوم لوط فاقتلوا الفاعل والمفعول به " رواه أحمد والأربعة
“ barang siapa yang kalian dapati melakukan ‘amal KAUM LUTH ( homo dan lesbi ) maka Bunuhlah pelaku dan korban “ HR. Ahmad.
             Penafsiran Kafir Liberal dan anteknya terhadap nash-nash agama penuh manipulasi hujjah dan korupsi dalil. Penggunaan Metode Hermeneutika dalam menafsirkan Al-Quran dan Hadits merupakan penistaan dan pengkhianatan terhadap Islam, karena metode tersebut sejak kelahirannya hanya diperuntukkan bagi penafsiran Bibel, bukan Al-Qur'an maupun Hadits. Prof. Josef van Ess, seorang Tahuneolog dari Universitas Tuebingen-Jerman dengan jujur menegaskan: "Bahwa Hermeneutika yang berasal dari Jerman tidak ditujukan untuk Kajian Keislaman", sebagaimana dikutip oleh Irene A. Bierman dalam bukunya "Text and Context in Islamic Studies" terbitan tahun 2004.
Penghalalan Homoseksual dan Lesbianisme melalui pendekatan sosiologis-historis dengan mengabaikan Kaidah Tafsir yang telah disepakati Ulama Salaf dan Khalaf, sangat berbahaya. Populasi pertumbuhan umat manusia yang masih sedikit di zaman Nabi Muhammad SAW, begitu pula di zaman Nabi Lutahun AS, bukan merupakan "illat" yang menyebabkan lahirnya hukum pengharaman Homoseksual dan Lesbianisme. Andaikata hal tersebut yang menjadi sebab pengharaman, sebagaimana diklaim oleh Tafsir Liberal, maka tentu akan ada keterangan dalam Al-Qur'an atau Hadits yang menjelaskan itu, sekurangnya mengisyaratkannya. Ternyata, baik secara eksplisit maupun implisit sama sekali tidak ada keterangan atau isyarat ke arah itu.

Justru, dalam Al-Qur'an dengan tegas disebutkan bahwa perilaku Homoseksual dan Lesbianisme adalah merupakan "Fahisyah" yaitu "perbuatan keji" yang hina, jorok dan menjijikkan. Jadi, "Fahisyah" inilah yang menyebabkan lahirnya hukum pengharaman Homoseksual dan Lesbianisme. Sedangkan "Fahisyah" yang jadi 'illat pengharaman itu  bersifat permanen  dan tidak tergantung situasi maupun kondisi, sehingga kekejian perbuatan tersebut tetap berlaku sampai akhir zaman tanpa dipengaruhi oleh tingkat populasi pertumbuhan umat manusia.

Adapun penempatan Homoseksual dan Lesbianisme sebagai SOLUSI SOSIAL bagi problem ledakan pertumbuhan penduduk dunia, dan problem-problem sosial lainnya terkait penyediaan sandang, pangan, papan dan lapangan kerja, merupakan pendapat murahan yang didasari oleh kebodohan yang mendarah daging.

Allah SWT Maha Mengetahui tentang populasi pertumbuhan umat manusia dari zaman ke zaman. Allah SWT juga Maha Mengetahui tentang segala problem sosial yang timbul akibat ledakan pertumbuhan penduduk yang teramat pesat. meski demikian, Allah SWT tidak pernah menjadikan Homoseksual dan Lesbianisme sebagai solusi sosial bagi problem-problem tersebut, bahkan mengharamkannya dengan sebab kekejian perilaku yang hina, jorok dan menjijikkan, bukan dengan sebab populasi perkembangan penduduk.

Soal solusi bagi problem sosial yang ditimbulkan oleh ledakan pertumbuhan umat manusia yang terkait sandang, pangan, papan dan lapangan kerja, maka Allah SWT sudah memberikan solusi lain yang sangat menakjubkan. Tatkala populasi umat manusia masih sedikit, Allah SWT hanya memberi manusia kemampuan panen sekali setahun dalam pertanian dan perkebunannya. Dan tatkala populasinya bertambah, maka Allah SWT memberi manusia kemampuan panen dua kali dalam setahun. Lalu tatkala populasinya makin berlipat, maka Allah SWT mengaruniakan manusia kemampuan panen berlipat dalam satu lahan yang sama, dimana biasanya per petak sawah hanya panen sebesar 3 - 5 ton beras, tapi dengan teknologi canggih pertanian bisa panen 15 - 20 ton beras per petaknya. Belum lagi buah-buahan yang dengan teknologi enzim besarnya bisa berlipat-lipat dari asalnya, lalu masih ada berbagai suplemen yang isinya sebanding dengan ribuan protein, kalori, vitamin dan gizi yang dikandung berbagai jenis makanan dan minuman.

Terkait problem pemukiman tempat tinggal manusia, solusinya tidak kalah menakjubkan, yaitu tatkala populasi umat manusia masih sedikit, Allah SWT hanya memberi manusia kemampuan membuat rumah-rumah kecil dan mungil. Namun ketika populasinya bertambah, maka Allah SWT memberi kemampuan mendirikan rumah-rumah besar, bahkan bertingkat. Selanjutnya, saat populasinya naik berlipat, maka Allah SWT mengkaruniakan manusia kemampuan membangun kondominium dan apartemen, sehingga ukuran satu kelurahan yang semula membutuhkan luas tanah hektaran, kini cukup hanya dengan satu atau dua gedung tinggi berpuluh tingkat. Lapangan kerja pun terbuka lebar untuk pembangunan. Subhanallaah !

Adapun  pernyataan Musdah Mulia tentang pengharaman Al-Qur'an hanya sebatas perilaku "sodomi"nya yaitu memasukkan alat kelamin laki-laki ke dalam dubur, bukan orientasi seksual Homo maupun Lesbi, merupakan pemutarbalikkan tafsir. Justru di dalam Al-Qur'an maupun Hadits tidak disebut soal "sodomi" nya, melainkan yang disebut secara eksplisit tentang orientasi Homo dan Lesbiannya dengan istilah "mendatangi" sejenisnya. Ada pun definisi Musdah tentang perkawinan hanya sebatas "akad yang sangat kuat yang dilakukan secara sadar oleh dua orang", sehingga akad tersebut boleh dilakukan antar yang sejenis, merupakan pendapat ngawur dan keblinger, karena dalam berbagai ayat Al-Qur'an dan Hadits jelas disebut secara eksplisit maupun implisit bahwa pasangan perkawinan itu adalah pria dan wanita. Dengan demikian, hujjah dan dalil mana lagi yang mau dimanipulasi dan dikorupsi oleh Tafsir Liberal.

 Fenomena tragis ini selaras dengan apa yang dikhawatirkan oleh Rasul SAW dalam hadistnya :
إنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي عَمَلُ قَوْمِ لُوط

“sesungguhnya yang paling aku takutkan atas ummatku adalah perbuatan kaum luth”(HR. Hakim)
Hal ini mulai tampak, Kaum homo dan lesbi mulai berani unjuk gigi, karena mendapatkan dukungan dari  berbagai pihak. Sebagai Umat islam tindakan apa yang sudah kita lakukan terhadap mereka yang berani  memutar balik Hukum Allah ? Akankah kita hanya bungkam seribu bahasa menunggu azab Allah ? wallahu waliyyu taufiq.(Hnf)



Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

2 comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan