humor

27.5.13

Serpihan keterangan dari KH. Agus Sunyoto penulis "Atlas Walisongo" dalam bedah Buku "Pesantren Studies" karya Gurutta Ahmad Baso,

 


Kitab-kitab Byuha (strategi perang) yang berbahasa Sanskerta maupun berbahasa Jawa, yang menjadi rujukan saat era Majapahit-Demak-Pajang, tidak lagi menjadi referensi keraton semenjak membanjirnya kitab-kitab dari Timur Tengah. Hingga akhirnya kapasitas militer dan formasi tempur (Diradameta, Cakrabyuha, Glatikneba, Supit Urang) di laut dan darat tak lagi menjadi salah satu ilmu favorit era Mataram Islam.

Dominasi kitab berbahasa Arab yang mengalami transformasi menggunakan huruf pegon (Arab Melayu) akhirnya mengakibatkan banyak karya intelektual muslim (Walisongo maupun murid-muridnya) yang menggunakan aksara Jawa tergeser dan terstigma sebagai Islam Kejawen yang sinkretik. Hingga akhirnya tradisi yang digulirkan Walisongo tetap berjalan, namun epistemologi pengetahuan rasional-intuitif yang dibangun mulai ditinggalkan.

Rasionalisasi dan capaian teknologi militer di era Majapahit dan Demak akhirnya runtuh saat era Mataram Islam dengan corak mistiknya. Apalagi pasca kegagalan Sultan Agung menaklukkan Batavia, bacaan-bacaan yang ada di kalangan priyayi bukan lagi kitab byuha, melainkan bacaan dan kisah bercorak mesianistik.

Oda Nobunaga, salah satu Daimyo pemersatu Jepang, memodernisasi tentaranya dengan membeli meriam asal Malaka. Meriam Malaka ini ternyata made in Jepara. Di pesisir laut Jawa era Demak para adipati muslim memiliki angkatan laut handal. Makanya Portugis hanya mentok menyerbu Sunda Kelapa lalu ngendon di Malaka.

Teknologi mesiu dan meriam yang berpusat di Jepara ini merupakan jerih payah Raden Fatah, sultan Demak, yang memerintahkan Raden Husen, adiknya, membawa eksodus Tionghoa Palembang ke kawasan Jepara dan mengembangkan kemampuannya di sini.

Teknologi metalurgi di era Majapahit bisa mencapai puncak keemasan karena para empu dan pandai besi mengimpor baja dari Khurasan, Iran, kemudian memadukannya dengan meteorit dan titanium.
---
Serpihan keterangan dari KH. Agus Sunyoto (penulis "Atlas Walisongo") dalam bedah Buku "Pesantren Studies" karya Gurutta Ahmad Baso, hari ini, di IAIN Sunan Ampel Surabaya, yang diselenggarakan oleh IPNU-IPPNU Komisariat IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan