4.6.13

Politik Dinasti

 


---
Dalam sejarah Islam banyak muncul ragam wangsa: Umayyah, Abbasiyah, Fathimiyah, Mughal, dlsb. Inggris, Spanyol, Belanda, Prusia, Perancis juga mengalaminya. Trah tetap menjadi salah satu unsur penting dalam kekuasaan. Pasca Perang Dunia II, politik dinasti tetap menjadi magnet. Jika dalam sistem kerajaan dinasti merupakan wadah wajib, wangsa tetap menjadi pertimbangan di dalam konsep negara demokrasi. Di Amerika, ada keluarga Kennedy. Di India ada trah Gandhi-Nehru. Di Myanmar ada anak Jenderal Aung San. Di Filipina ada dinasti Aquino. Di Pakistan ada jalinan keluarga Bhutto. Di Suriah muncul Bani Assad.

Di Indonesia lebih variatif. Saat era kolonial, hanya trah priayi yang bisa berkiprah. Selepas kemerdekaan lebih beragam: Trah Soekarno, Wangsa Soeharto, Bani Hasyim (Asy'ari), hingga lingkar keluarga Sarwo Edhie Wibowo. Yang terakhir ini yang unik.

Sarwo Edhie Wibowo, komandan RPKAD yang menjadi andalan Pak Harto menumpas PKI, justru disingkirkan pasca andil gemilangnya dalam era genting tersebut. Sarwo Edhie terlempar dari lingkaran kekuasaan Pak Harto dengan halus: ia diangkat sebagai Pangdam Bukit Barisan lalu Pangdam Cenderawasih. Pengidola Jenderal Erwin Rommel ini semakin tersingkir manakala dijadikan Duta Besar di Korea Selatan. Keriernya sengaja dimandegkan oleh Pak Harto yang lebih memilih Benny Moerdani, perwira RPKAD sekaligus orang kepercayaannya saat Operasi Mandala. Pak Harto cerdas: ia memilih Benny dalam Operasi Mandala, kemudian memilih Sarwo Edhie dalam menumpas PKI dan proses Pepera di Papua lalu mem"buang"nya. Setelah itu Pak Harto menyingkirkan Panglima Kostrad Kemal Idris dan Pangdam Siliwangi HR Dharsono, sembari merangkul kembali Benny Moerdani dan Ali Moertopo. Kemal dijadikan Duta Besar di Yugoslavia, Dharsono menempati pos duta besar di Thailand. Pak Harto semakin berjaya sebelum kemudian muncul Petisi 50, gabungan purnawirawan jenderal yang berseberangan dengan Pak Harto.

Karier Sarwo Edhie mentok dengan cara disipilkan melalui jabatan sebagai Kepala Badan Pembinaan, Pendidikan , dan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7); sebuah tugas yang jauh dari desing peluru.

Sungguhpun ia tersingkir dari lingkar kekuasaan Orde Baru, tapi karier di lingkaran keluarganya justru melesat pasca reformasi. Tiga menantunya menjadi pentolan di berbagai level elit Indonesia; Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden RI, Erwin Sudjono pernah menjadi Pangkostrad, dan Hadi Utomo juga sempat menjadi ketua umum Partai Demokrat. Pramono Edhie Wibowo, anak Sarwo Edhie yang perawakannya paling mirip dengannya, baru saja pensiun sebagai KASAD, setelah sebelumnya menjadi Danjen Kopassus, jabatan yang pernah digenggam ayahnya. Sedangkan dua cucunya; Agus Harrimurti, alumni Harvard dan Nanyang, karier militernya juga lumayan moncer, adapun Edhie Baskoro juga menjabat sebagai Sekjend Partai Demokrat. Semakin lengkap pula manakala SBY menjadi besan Hatta Rajasa.

Kita tunggu kelanjutannya, akankah kiprah Dinasti Sarwo Edhie Wibowo bertahan, atau bahkan ambruk beberapa tahun mendatang....
Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan