18.11.13

Firdaus Indonesia

 

Danone dari Prancis. Beroperasi di Indonesia. Mereguk air yang melimpah ruah dari sumber jernih pegunungan Tanah Air. Kemudian, mereka mengemasnya dalam wadah plastik. Diberi merk Aq*a. Dijual lagi ke ORANG INDONESIA. Laris manis. Sebagai penghibur manusia Indonesia, ada dana CSR, ada pula Liga Danone buat para remaja kita. Hadiahnya pelesir Eropa. Tanpa ada upaya pendampingan ke klub sepakbola terkemuka. Selesai. Bungkam sudah kita!

Kapal besar datang dari China. Beroperasi di perairan Indonesia. Majikannya China asing, ABK-nya pribumi. Kapal asing berbendera Indonesia, ini intinya. Mengeruk spesies ikan ribuan ton lalu diangkut ke Tiongkok. Ikan Indonesia itu kemudian dikemas dalam sarden atau bahan olahan lain. Dikasih label Made in China, dan diekspor ke Indonesia. Kita menyantapnya dengan bahagia, sebab ada label Impor dari China. Sekadar menikmati buah-buahan, pun, kita harus impor. Petani pribumi menjerit, kita cuek karena telah tuli akibat kebanyakan tersumpal barang asing.

Di ujung timur Nusantara, ada gunung emas yang dirampok. Tak habis meski telah separuh abad dikeruk. Majikannya anak buah Paman Sam, pekerjanya tetap pribumi. Tak ada tetesan kemajuan bagi pribumi sekitar gunung emas, bahkan bagi ibu pertiwi. 

Istilahnya TNC alias Transnational Corporation, ada juga MNC alias Multinational Corporation. Ini reinkarnasi VOC. Kantor pusatnya di negara maju, bikin pabrik di negara berkembang karena ongkos produksi lebih murah dan karyawan bisa diperlakukan semena-mena. Jika negara berkembang diambang bangkrut, sesegera mungkin mereka angkat kaki. Tiada peduli, tak ada kompensasi, tak ada realisasi janji. Perusahaan dengan merk terkemuka yang lazimnya lancang seperti ini. Apparel olahraga seperti N*ke dan Ad*das adalah contoh. Pusat di Amerika dan Eropa, pabrik di Asia, termasuk Indonesia. Pekerjanya dibayar minimum, produknya dipasarkan dengan harga maksimum. Messi dan Ronaldo dibayar milyaran sebagai bintang iklan. Tapi, untuk kesejahteraan karyawan, janji hanya menjadi bualan. 

Gunung Lauser, Aceh, bekas lahan gerilya GAM. Damai memang telah tercipta, tapi bakda itu, rimba Lauser terbabat secara tidak sah. Kekayaannya dikikis. Diangkut, entah kemana, dan dinikmati, entah oleh siapa. Fokus kita pada Perda Syariat di Bumi Rencong, jalan atau tidak, sesuai syariat Islam atau berlawanan, dan simbol-simbol lain. Tapi, dalam hal SDA, semua seolah abai, tak acuh, karena tidak dianggap bagian Syariat Islam. Demikian, mungkin?

Di Kalimantan, saban hari rimba dibabat. Kayu terbaik ditebang, dialirkan melalui sungai. Tongkang yang mengangkangi sungai di rimba raya menjadi sarana vital melebihi kendaraan lapis baja. Uanglah yang berbicara. Kayu terbaik nusantara diekspor secara tidak sah ke luar negeri. Diolah kembali oleh pihak asing dan dipasarkan lagi di Nusantara dengan label "barang impor".
----
Duhai Ibu Pertiwi, inilah Nusantara. Indonesia kami menyebutnya. Firdaus yang digelar Allah di muka bumi tapi dikelola dengan cengengesan oleh penghuninya; saya, anda, kami, dan kita semua.
----
Allahu A'lam
 
  

 Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan