humor

22.11.13

"Kalau kita tidak pintar, setidaknya kita berpikir JERNIH!"

 

"Kalau kita tidak pintar, setidaknya kita berpikir JERNIH!"
GUS DUR MENGANGKAT DERAJAT RAKYAT INDONESIA
(Wawancara Wimar Witoelar dengan DUTA MASYARAKAT, 07 Februari 2010)

Pada 30 Desember 2009 kita kehilangan seorang tokoh, panutan dan inspirasi yaitu KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Presiden Republik Indonesia ke-4. Gus Dur meninggalkan banyak kesan mendalam bagi banyak orang mengenai pemikirannya, perjuangannya dan sebagainya. Mengapa setelah Gus Dur wafat banyak yang mengelu-elukan sebagai pahlawan, apa memang dia cocok dengan sebutan itu?

Menurut saya cocok, menurut orang lain mungkin ada yang lebih cocok. Wawancara ini saya kira tidak mungkin mencakup seluruh cerita mengenai Gus Dur. Jadi, kalau Anda berminat memang harus dengar dari beberapa sumber.

Nah sekarang saya harus secara sangat pelan-pelan menjelaskan mengenai Gus Dur dianggap pahlawan. Setiap pahlawan tidak akan menjadi demikian hanya karena dirinya, tetapi selalu dalam konteks dan dinilai dari dampak yang dia hasilkan. Itu artinya sebuah “hero”. Banyak orang yang hebat tapi tidak pernah menjadi pahlawan, banyak orang yang tidak begitu hebat tapi menjadi pahlawan karena saatnya ada dalam sejarah.

Nah, Gus Dur adalah orang yang sangat hadir dalam sejarah Indonesia. Bukan hanya selama dua tahun dia menjadi presiden, tapi selama kira-kira 20 tahun memimpin Nahdlatul Ulama (NU), sebelum jadi presiden, dan selama kira-kira sembilan tahun setelah lengser sebagai presiden. Dampaknya lebih besar daripada sewaktu dia menjadi presiden terutama di luar negeri. Kalau Anda sekarang berusia lebih dari 20 tahun berarti pada 1998 barangkali Anda masih ingat bagaimana kehidupan Indonesia pada waktu itu. Sebelum keributan pada 1998, barangkali Anda masih ingat bahwa presiden kita adalah Soeharto.Nah, selama Soeharto memerintah 33 tahun banyak hal baik yang dilakukan, tapi banyak juga hal buruk yang dia lakukan. Tapi satu hal, saat itu orang tidak ada perbandingan karena tidak pernah mempunyai presiden lain kecuali Soekarno dimana orang sudah lupa.

Pada akhir 1990-an sudah mulai kelihatan hal-hal yang buruk dari Presiden Soeharto karena dia memberikan hal yang terlalu baik untuk orang-orang sekitarnya, teman politik, keluarga dan sahabat karibnya. Kekayaan negara dihabiskan untuk kepentingan pribadi bernilai kira-kira US$ 30 miliar, lebih besar dari kekayaan Aburizal Bakrie. Itu yang dimakan sendiri. Yang dibagikan nilainya dua kali itu. Jadi, Indonesia sangat kokoh karena banyak yang sangat nyaman di sekitar kita. Ada persepsi bahwa tentara mendukung Soeharto, padahal tidak. Yang mendukung hanya pimpinannya. Jadi orang tidak punya perbandingan, yang terasa adalah Soeharto dan koleganya makin makmur. Ada mal, bioskop, Cinema 21 yang didirikan oleh sepupunya-saudaranya. Jalan tol didirikan oleh anaknya, mobil dibuat oleh Tomy Soeharto. Semua dibuat oleh keluarganya dan seakan-akan keluarganya itu kreatif. Padahal, yang membuat itu adalah orang luar negeri dengan menggunakan nama keluarga Soeharto.

Selama 30 tahun orang tidak mempunyai perbandingan mengenai sosok presiden. Saya kebetulan mengalami semuanya, saya berusia 18 tahun sewaktu Soeharto menjadi presiden dan berusia 50-an tahun saat dia turun. Kehidupan saya lebih enak dengan adanya Soeharto karena tadi jalan berlubang menjadi baik, membeli beras yang semula antri menjadi tidak, sekolah yang semula jarang menjadi banyak, dan sebagainya. Kebetulan saya juga termasuk keluarga yang beruntung mendapat hak-hak istimewa dari Soeharto karena satu dan lain hal. Namun untuk rakyat kebanyakan, sebetulnya itu makin lama makin susah. Paling tidak dibandingkan dengan orang lain. Apalagi orang yang mempunyai sedikit masalah dengan Soeharto, sedikit punya pendapat lain, maka akan diasingkan lalu dibunuh.

Pemerintahan Gus Dur itu tidak pernah membunuh warga negara. Di Era Soeharto, mereka dibunuh dalam skala ribuan. Ratusan orang dibunuh di Tanjung Priok, ratusan di Kedung Ombo, ribuan di Lampung, puluhan ribu di Aceh, kemudian di Timor Timur.

Nah, untunglah di satu negara tidak pernah dikuasai satu orang sekaligus. Ada orang baik, ada orang jahat. Orang baiknya waktu itu ada tapi di bawah permukaan, ada di sekolah-sekolah, mahasiswa, perusahaan. Tidak berani muncul karena juga tidak bisa muncul. Kalau sekarang, walaupun ada TV yang memonopoli berita tapi orang bisa saja bicara di internet. Waktu itu arus informasi tertutup sama sekali. Jadi banyak anak muda waktu itu tidak tahu betapa jeleknya Indonesia di era Soeharto. Orang menjadi tahu hanya kalau dia ke luar negeri. Dari luar negeri citra Indonesia kelihatan jelek sekali, dipersepsikan orang Indonesia yang tenang-tenang ini seperti monyet di kebun binatang. Dikasih makan setiap hari tapi tidak mempunyai kemerdekaan, tidak menjadi pintar. Gus Dur termasuk orang yang mendidik orang Indonesia untuk berpikir sendiri, di samping orang-orang dari golongan lain. Dia dari basis NU.

Akhirnya, karena Soeharto tidak beres mengurus ekonomi dan terlalu banyak tidak didukung oleh rakyatnya maka dia jatuh. Yang menjatuhkan Soeharto bukan Gus Dur, bukan mahasiswa dan bukan Megawati. Soeharto jatuh akibat dirinya sendiri karena terlalu korup dan terlalu kotor. Setelah Soeharto jatuh, orang sangat rajin membuat demokrasi dan secara bagus memilih presiden yang baru. Prosesnya panjang, tapi kita tahu mula-mula MPR condong ke Megawati akhirnya terpilih pasangan Gus Dur dan Megawati. Itu boleh dikatakan bulan madu bagi Indonesia karena ada pasangan dari golongan lain, NU dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Ada DPR yang istilahnya “pelangi” (berisi macam-macam golongan). Ada Amien Rais yang mendukung. Semuanya happy karena mereka tidak mau mengulangi masa rezim Soeharto yang mencekam.

Apakah reaksi internasional terhadap pasangan Gus Dur dan Megawati ketika itu sangat positif?

Pada waktu mereka terpilih, saya sedang berada di Amerika Serikat (AS), saya sedang menyetir mobil dari Madison ke Chicago pada pukul 21.00. Saya menyalakan radio lokal, saya kaget ketika disebut “Indonesia just elected its President Abdurrahman Wahid and Vice President Megawati.” mereka dikenal sebagai tokoh demokrasi dan “unbelievable” bahwa Indonesia yang adalah negara diktator yang korup sekarang menjadi negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.

Sampai sekarang kalau saya cerita mengenai hal itu, mata saya masih berlinang dengan airmata. Di tengah “kekelaman malam”, kalau saya pinjam kata-kata puisi dari twitter, muncul suara orang AS secara tulus memuji Indonesia, pasangan Gus Dur - Megawati. Sambutannya baik. Gus Dur disambut bukan karena akan memperbaiki ekonomi, tapi ia memberikan humanisme pada Indonesia. Artinya, Indonesia akan dibuat menjadi baik sebaik orangnya.

Apakah selama ini tidak seperti itu?

Tidak. Selama ini manusianya baik, tapi kalau sudah berkumpul seperti Golongan Karya (Golkar) sudah menjadi tidak benar, menjadi biadab, menekan, manipulasi dan merusak kesejahteraan orang. Itu adalah suatu optimisme yang besar, dan Gus Dur tidak mengecewakan.

Masuk ke pertanyaan Anda, mengapa Gus Dur dianggap begitu hebat dan berhak mendapat gelar pahlawan. Itu karena Gus Dur masuk ke sendi-sendi kepentingan negara. Bukan soal Bank Century, bukan soal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), bukan soal dana pelabuhan tapi budi pekerti orang Indonesia. Bahwa orang Indonesia tidak boleh membedakan sesama atas dasar ras, suku, jender. Kalau antara laki-laki dan perempuan boleh dibedakan tapi haknya tidak boleh dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Selain, tidak boleh dibedakan atas dasar agama, turunan etnis, dan lain-lain. Kalau pembaca ada yang keturunan Tionghoa, mengaku saja bahwa dulu tidak enak zaman Soeharto karena nama saja harus diganti-ganti.

Jadi sikap Gus Dur mengenai pluralisme, penegakan hak asasi manusia (HAM) dan demokrasi betul-betul konsisten dilakukan baik sebelum, ketika menjadi presiden ataupun sesudah menjabat presiden, betulkah?

Sebelum, selama dan sesudahnya oleh temannya, anak buahnya dan pengikutnya. Gus Dur percaya betul bahwa orang Tionghoa sama dengan siapa pun. Itu tentu saja termasuk Arab dan India juga, tapi mereka tidak terlalu tertindas. Yang tertindas sebetulnya orang Tionghoa. Hal kecil saja, Imlek sudah boleh dirayakan. Kalau Anda sebagai Muslim tidak diizinkan merayakan Lebaran maka tidak enak. Mengumpet-umpet di rumah, mau berkunjung susah. Jadi dengan dimerdekakannya merayakan Imlek membuat orang itu hidup.

Masyarakat menilai bahwa keberhasilan seorang pemimpin dari sisi keberhasilan ekonomi, sedangkan Anda mengatakan penghargaan terhadap demokrasi dan pluralisme merupakan keberhasilan tersendiri. Mengapa?

Orang sering salah menafsirkan bahwa pemerintah yang bisa menaikkan gaji dan menyediakan sembilan bahan pokok (Sembako) dan menyelenggarakan ekonomi. Saya ingin mencoba menjelaskan karena ini memang rumit tapi sebetulnya kita bisa melihat secara sederhana. Seperti Marsillam Simandjuntak mengatakan, “Kalau Anda tidak pintar setidaknya Anda berfikir jernih.” Kalaupun kita tidak mengerti ekonomi, tapi kita harus tahu bahwa ekonomi tidak dibuat oleh pemerintah atau kepala negara. Ekonomi dibuat oleh rakyat. Negara mengatur diri supaya dia tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi. Apalagi dalam sistem bebas seperti AS dan China dimana negara minggir supaya rakyat bisa berkarya. Kalau negara berkembang dibantu pemerintah supaya lebih cepat.
Saat Gus Dur menjadi presiden, persoalan Indonesia bukan ekonomi. Persoalan Indonesia adalah keamanan jiwa dari tekanan. Keamanan dari diskriminasi, militerisme dan korupsi. Jadi kalau orang dibawa ke rumah sakit mungkin dia sakit pilek, tapi selain itu ia memiliki sakit liver. Gus Dur langsung kepada penyakit yang paling besar, yaitu saling menindas antara orang Indonesia. Militer menindas sipil kemudian Gus Dur mengganti beberapa pimpinan militer supaya orang jangan salah sangka bahwa militer itu kejam. Mereka baik sekali tetapi banyak pimpinan militer yang kurang baik. Jadi ia melakukan reformasi.

Anda tadi mengatakan masyarakat tidak menyadari bahwa kekerasan negara melalui militer terhadap masyarakat sipil benar-benar terjadi berpuluh-puluh tahun, lalu kemudian Gus Dur mencoba membalikkan stigma melalui demiliterisasi. Apakah langkah radikal Gus Dur ini tepat di tengah hegemoni militer yang masih kuat ?

Kalau saya analisa politik, mungkin saya bisa memikirkan ini. Sebagai orang Indonesia yang hidup di sini saat itu, saya lega saja bahwa tentara yang kejam dipinggirkan, Wiranto dan Prabowo dihilangkan dari peredaran sebelum dimunculkan lagi, bahwa orang Tionghoa menjadi bebas sampai sekarang, bahwa orang asing hormat lagi kepada kita.

Saya hanya melihat itu sebagai hal-hal yang baik. Tentu tergantung dari posisi masing-masing orang. Tentang ekonomi, sekarang kondisinya baik. Padahal semua pemerintah dari Gus Dur sampai sekarang belum sempat melakukan inisiatif ekonomi yang besar. Namun sesuatu yang dilahirkan oleh Gus Dur dan kawan-kawan adalah meletakkan dasar ekonomi yang tidak mengganggu. Antara lain, menghilangkan ketidakefisienan, memberantas korupsi, mereformasi Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (BI) sehingga lembaga itu tidak korup. Orang sekarang tidak ingat bahwa dahulu yang paling korup adalah BI dan Departemen Keuangan, saya tidak mau sebut nama. Sedangkan anak muda sekarang hanya tahu Gus Dur jatuh dari jabatan kepresidenan karena kasus Bulog dan Bruneigate yang berupa indikasi korupsi.

Apakah memang ini mengindikasikan bahwa Gus Dur tidak serius dalam menangani pemberantasan korupsi?

Buloggate dan Bruneigate dituduhkan kepada Gus Dur dan dibuat Panitia Khusus (Pansus) DPR untuk membongkar itu tapi tidak terbuktikan. Akhirnya mereka give up dan langsung minta turun Presiden. Ketika Gus Dur turun dan Amien Rais ditanya oleh wartawan asing, “Apa sebetulnya alasan Gus Dur diturunkan?” Jawabannya, “Yah tidak usah tanyalah, pokoknya turun.” Itu jawaban Amien Rais yang seorang Profesor, Doktor. Jadi tidak ada pembuktian dalam Buloggate. Barangkali kesalahan kami adalah tidak mempropagandakan Gus Dur. Kami dulu pikir, orang baik tidak perlu dipropagandakan.

Jadi sewaktu menjabat presiden, Gus Dur tetap konsisten terhadap pemberantasan korupsi melalui kabinet dan kebijakannya?

Satu-satunya kabinet yang berisi jaksa agung yang keras ada di kabinet Gus Dur yaitu Baharuddin Lopa dan Marsillam Simandjuntak.

Itu bisa membuktikan bahwa Gus Dur memang presiden yang konsisten terhadap pemberantasan korupsi dengan memilih orang-orang yang bersih dan dapat dipercaya. Soal lain, stigma di anak muda yang mengatakan Gus Dur sering jalan-jalan ke luar negeri. Kalau di benak anak muda persepsi ke luar negeri itu wisata. Misalnya, saya lima menit konferensi selebihnya jalan-jalan. Bagaimana pandangan Anda yang waktu itu mendampingi Gus Dur sebagai juru bicara?

Saya kira kalau mahasiswa cocoklah lima menit konferensi selebihnya jalan-jalan karena kalau serius itu anggota Pansus, tidak tahu cara hidup yang seimbang.

Jalan-jalan dengan Gus Dur, pertama, tidak menghabiskan uang karena naik pesawat yang sudah bobrok sekali. Bahkan, dari sini ke Bangkok harus berhenti di Medan untuk mengisi bensin. Pulangnya ada yang harus naik Garuda karena bensinnya kurang. Di sana saya tinggal di hotel yang biasa. Saya tinggal berdua sekamar. Beda dengan sekarang saya di InterMatrix Communications tidak pernah berdua sekamar tapi sendiri karena cukup ada uang untuk bayar kamar hotel.

Gus Dur hemat sekali. Di sana boro-boro jalan-jalan. Dari mulai bangun tidur pukul 05.00 sampai tidur pukul 23.00, Gus Dur bergiliran menerima bermacam-macam tamu. Contoh, saat Sidang Umum ASEAN di Singapura. Saya selalu ikut karena Gus Dur kurang bisa melihat dan senang diajak bicara, saya selalu mendampinginya. Pukul 05.00 saya sudah di kamar Gus Dur menerima kunjungan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhammad. Sesudah itu, Lee Kuan Yew (mantan Perdana Menteri Singapura). Kalau di sarapan yang resmi, saya duduk agak jauh karena jabatan saya rendah, juru bicara. Kalau dalam pertemuan yang penting saya hadir.

Kemudian di sidang, saya juga beruntung karena ruang sidang hanya kepala pemerintahan saja yang boleh masuk, tapi karena Gus Dur kurang bisa melihat maka ada izin khusus untuk saya menemani. Jadi saya selalu ikut sidang dengan kepala pemerintahan. Saya mengikutinya sangat serius, tanpa catatan tapi jauh lebih paham daripada beberapa perdana menteri yang lain.

Apakah yang diperjuangkan adalah kepentingan nasional kita?

Tidak, kepentingan manusia. Itulah kehebatan Gus Dur karena ia tidak membatasi diri semata pada kepentingan nasionalisme. Kita memerdekakan manusia agar sama-sama makmur. Juga memberantas kekerasan dan korupsi. Gus Dur percaya kalau kita meningkatkan derajat manusia, negaranya juga akan maju. Gus Dur bukan seperti orang yang misalnya mempropaganda Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) atau Merah Putih agar kita maju tapi orang lain sengsara.

Jadi, Gus Dur selalu bertemu dengan tamu-tamu, saya juga buktinya. Kalau di luar negeri, Gus Dur dan rombongan sudah tidak bisa jalan-jalan. Misalnya, wartawan yang ikut 40 orang maka pulangnya pasti ada 10 orang sakit.

Jadi Gus Dur ke luar negeri bukan untuk jalan-jalan tapi untuk membersihkan nama Indonesia, betulkah?

Gus Dur tidak perlu jalan-jalan karena sebelum menjadi presiden sudah 35 kali ke Australia, dan 20 kali ke AS. Barangkali presiden lain yang belum pernah ke luar negeri, kecuali Habibie yang memang belum pernah ke Indonesia karena tinggalnya di luar negeri. Itu adalah hal yang tidak dimengerti orang dikira jalan-jalan itu senang, padahal ini pekerjaan.

Anak-anak Gus Dur misalnya, kalau ke Singapura tidak kemana-mana. Kalau ke luar hotel diam-diam dan saat kembali lalu saya tanya, “Belanja nih?” Mereka menjawab, “Iya nih Om.” Namun saat isi kantong belanjaan dibuka ternyata isinya buku bukan Barbie doll ataupun gadget.

Masyarakat banyak yang punya persepsi negatif mengenai Gus Dur dan kepresidenannya. Kapan kira-kira masyarakat bisa melihat dengan perspektif jernih bahwa Gus Dur adalah aset bangsa, punya legasi kuat dan kita bisa menikmati hasilnya sampai sekarang?

Gus Dur tidak akan meminta supaya orang melihat dia dengan baik. Ia hanya mengharapkan bahwa nilai-nilai yang dianut menjadi nilai bersama. Dia mengatakan, “Tidak penting saya menjadi presiden. Saya tidak care, saya dijatuhkan.” Yang dia care adalah bahwa koleksi CD Beethoven milik dia jangan hilang. Ide-ide dia berjalan atau tidak bagi dia tidak penting karena dunia ini terlalu banyak orang yang punya kebebasan pendapat, dan memang harus demikian. Jadi tidak ada gunanya untuk menyeragamkan pendapat. Yang penting adalah mengoptimalkan hasil bersama.Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan