16.11.13

KH. A. Mujab Mahalli

 

kreatifitas KH. A. Mujab Mahalli, kiai bertubuh tambun berkaca mata tebal yang sering dijuluki Gus Dur-nya Yogyakarta. Memang ada kemiripan. Keduanya, selain gemar menulis juga suka humor. Pengasuh PP al-Mahalli ini lahir di Bantul, 25 Agustus 1958.

Setelah merampungkan pendidikan aliyahnya, Mujab muda memilih mondok di Pesantren Salafiyah Banjarsari, Tempuran, Magelang, pimpinan KH. Muhammad Suyuhti. Di sini ia nyantri selama sembilan tahun dari 1973-1982.
Puas di sini, ia meminta petunjuk kepada Mbah Hamid Kajoran Magelang. Mbah Hamid membawanya ke sebuah pesantren kecil yang jumlah santrinya baru sepuluh orang. Mbah Hamid bilang, Di sini kamu harus tujuh tahun. Itu kalau mau jadi (orang). Kalau enggak mau, ya enggak jadi orang, begitulah, mulai itu dia dalam bimbingan spiritual Mbah Hamid.

Ia sempat berniat melanjutkan studi ke Timur Tengah, namun dilarang Mbah Hamid. "Saat itu jiwa muda saya bergolak mendengar Mbah Hamid tak memeprbolehkan saya keluar negeri," terangnya dalam sebuah kesempatan.

Ketika ia kelihatan bingung, ia disuruh memilih salah satu, berangkat ke timur tengah, kemudian jadi pejabat gede dan tidak bisa meneruskan perjuangan bapaknya, atau tidak berangkat tetapi bisa meneruskan perjuangan bapaknya. Ya saya memilih yang tidak berangkat. Mulai saat itu ijazah saya bakar semua, katanya mengenang momentum yang paling menentukan jalan hidupnya itu.

Ternyata, ia baru menyadari bahwa Mbah Hamid mengarahkannya untuk menekuni dunia tulis menulis serta melanjutkan pesantren yang telah dirintis abahnya. Memang, potensi menulisnya ia asah semasa mondok pada awal delapan puluhan. Saat itu ia mulai merintis menulis buku-buku bertema psikologi berbahasa Arab. Ia terjemahkan, hasilnya ia terbitkan. Buku buah pena pertamanya berjudul Mutiara Hadits Qudsi, diterbitkan oleh al-Maarif, Bandung, tahun 1980. Sejak itulah ia begitu bergelora terjun di dunia kepenulisan. Apalagi semenjak mengenal Mahbub Junaidi, penulis kawakan. Saat itu, Mahbub kagum dengan semangat menulis yang dimiliki seorang santri bernama Mujab. "Buku karya saya yang tebal-tebal saya kirim ke sana, dan Mahbub ternyata tertarik. Menurutnya, ada anak muda kok sudah menulis buku tebal-tebal,". Akhirnya, Mahbub inilah yang menghadiahinya sebuah mesin ketik.
Saat itu saya berumur sekitar 22 tahun. Tapi saya juga menulis buku pesantren. Misalnya, Aqidat al-awam, diterbitkan oleh Cahaya, Magelang. Bentuknya menggunakan Arab pegon. katanya.

Mahbub inilah yang pernah memberi nasehat, Kemana sarjana-sarjana kita? Sekarang orang-orang banyak membawa ijazah, melamar pekerjaan. Setiap ia melamar, setiap itu pula ia ditolak. Padahal ada satu perusahaan besar yang membutuhkan beribu-beribu karyawan, dan karyanya tidak pernah ditolak. Mana itu? Dunia tulis menulis. Siapa yang menolak karya tulis? Tidak laku sekarang, kan laku besok. Tidak diterbitkan di Penerbit Maarif, kan ada penerbit lain yang berselera. Kamu masih muda, tekuni nulis.

Mulai dari itu ia makin giat menulis, hasilnya bisa untuk hidup. Hingga akhir hayatnya, sudah seratus enam puluhan buku ia tulis, baik terjemah maupun saduran. Isinya macam-macam. Pendidikan maupun agama. Tetapi tekanannya lebih banyak pada agama.

Saat ditanya suka duka menulis, dia mengatakan sukanya banyak sekali. Dukanya, menjadi penulis pemula dia kena pingpong. Tapi ia mengalami tidak terlalu lama. Yang membuat saya sangat marah dulu, kalau ada anggapan bahwa yang background-nya bukan orang kampus, seakan-akan karyanya tidak bisa diandalkan. Saya hidup di pesantren. Image yang berkembang, tulisan-tulisan orang pesantren tidak bermutu. Tapi setelah ada dukungan Mahbub Junaidi, ada Mustofa Mahdami, ternyata buku kita laku juga, kata kiai yang dikenal bicara blak-blakan ini.

Kiai Mujab merasa beruntung mentaati nasehat Mbah Hamid dari Kajoran. Sebab tahun 1982. Sepulang dari pondok langsung mendirikan kembali pondok pesantren yang pernah dirintis ayahnya. Santri pertama berjumlah 7 orang. Hingga tahun 2000-an, santri Ponpes al-Mahalli melonjak hingga 300 orang. Kiai bersajaha ini wafat pada 15 November 2003. Siapa yang berminat menjadi penulis seperti Kiai Mujab?

(Diolah dari Majalah Fadillah yang telah "almarhum", No. 1 Juni 2003, h. 11 14.
Majalah ini merupakan pemberian [almaghfurlah] KH. Zainal Arifin Thaha, muassis majalah tersebut, yang sengaja saya simpan sebagai kenang-kenangan dan amal jariyah beliau)

----LaHUM al-Fatihah
Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan