humor

7.1.14

Antara Pluralisme dan Kekurangwarasan

 



Dalam catatan penulis kemarin soal plural , pluralisme, pluralitas (ah plar plur plar plur) ada yg memahami jika secara tidak langsung penulis mendukung pluralisme agama yang versi dicampuraduk itu, sehingga jangan heran jika ada kyai ceramah di gereja, orang menjaga misa, dan anak-anak kita hanya jadi Islam KTP. 

Entah dari mana orang itu memahami seperti itu. Bahkan penulis dibilang mempercepat roda kiamat. Komentar lucu sekaligus tanpa ilmu (yang paling dasar sekaligus) dan itu lagi-lagi itu pasti sebab saat membaca catatan penulis mungkin dia membacanya dengan cepat, atau emosi / alergi duluan dengan makhluk buatan bernama pluralisme.

Akhirnya tentu saja yang terjadi adalah gagal paham dan buru-buru menjudge. Sifat yang sama sekali tidak elok bagi seorang yang mengaku muslim.

Semestinya baca dengan tenang, terutama pada poin saat penulis membahas kalimat "semua agama sama", "semua agama benar". Jika memang masih belum paham-paham coba ditingkatkan lagi kualitas makanannya, biar ada perbaikan gizi, agar ada asupan yang cukup ke otak.

Penulis tegaskan bahwa catatan penulis kemarin adalah ajakan keluar dari fitnah istilah. Sebab fitnah istilah (dengan berbagai macamnya itu) sangat mengacau, karena pluralisme agama yang campur aduk itu dalam pemahaman awal saja sudah bertentangan dengan naluri dasar manusia, apapun agamanya.

Isu pluralisme agama jika dicermati dalam-dalam hanya satu dari ribuan jebakan fitnah yang dipasang untuk mengacaukan ketsabilan dan kerukunan umat manusia di dunia, andai kita tahu bahwa ini adalah jebakan untuk menyeret ke fitnah berkepanjangan, maka kita otomatis akan menghindar.

Makanya terus terang bagi kami pribadi, isu pluralisme agama versi campur aduk keyakinan hanya semacam mainan saja. Tidak menarik. Tetapi kenapa kami membahas? Sebab banyak sekali orang yang tercebur permainan yang melenakan ummat dari permasalahan-permasalahan inti mereka (qodhiyyah kubro).

Umpama setiap orang tahu potensi kehidupan (thoqoh hayawiyyah) dan naluri-naluri dasar (ghorizah) yang ada tiga itu dalam dirinya, maka dia tak akan terjebak dalam hal-hal seperti ini. Sebab pada prakteknya di lapangan, tak ada seorangpun yang rela mencampur aduk agamanya dengan keyakinan lain, kecuali orang edan saja.

Contohnya pluralisme agama yang dicampur aduk, secara alamiah bertabrakan dengan wijdan dan ghorizah tadayyun dalam diri tiap manusia. Dan segala apapun yang bertentangan dengan naluri dasar, secara otomatis sistem dalam jiwa orang itu akan menolak sebab telah disetel seperti itu.

Maka, sekarang penulis ingin tanya, apa sih faedah khusus meributkan istilah macam pluralisme misalkan? Sementara yang pasti ada adalah ribut-ribut? Sementara Nabi bilang bahwa muslim yang baik adalah yang meninggalkan hal-hal yang tidak penting.

Dari sini penulis jelaskan bahwa percakapan soal "semua agama sama", "semua agama benar" tak akan berlanjut jika kita tahu modusnya, baik itu positif (jika ada) ataupun negatif. Sebab ternyata "hanya gitu saja". Klutik ngono ae, kalau orang Jawa bilang.

Lha itu kan bisa mengancam akidah ummat, berbahaya buat iman awam? Betul, tapi jangan terlalu lebay menanggapi, akhirnya malah kacau balau. Kalau kata orang Jawa, sing madyo, biasa dan tenang saja menghadapi seperti ini, yang bijak, tidak perlu overacting atau overspeaking.

Karena kaidah kehidupan mengatakan, kullu syai-in idza jawaza haddahu inqolaba ila dhiddhih, bahwa segala sesuatu jika berlebihan malah akan njomplang berbalik. Termasuk soal menanggapi isu pluralisme agama ini.

Alhasil, sampean nggak usah repot-repot, nggak ada prakteknya pluralisme agama itu. Tiap orang tetap meyakini agamanya sendiri yg paling benar dan itu sudah alamiah.

Makanya yang diperlukan sekarang adalah kerukunan, saling menghormati perbedaan. Bukan malah tengkar debat kusir ini itu. Lha wong dengan agama lain yang mau berbuat baik dengan kita itu saja kita juga harus berbuat baik, masa' ini sama Islamnya ribut melulu?

Pangkal masalahnya suka menyalahkan dan suudzon duluan sih. Coba kalau belajar tasawwuf/tazkiyah, pasti tidak akan terjadi hal-hal seperti ini.

Lagipula jika ada seseorang meragukan kebenaran agama yang dipeluknya sendiri artinya dia tidak punya kepercayaan pada diri sendiri dan orang yang tidak punya kepercayaan pada diri sendiri itu hanya orang-orang kurang waras saja, dan tidak bisa mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Dan jika sampean meladeni orang tidak waras artinya sampean ya ikut-ikutan jadi nggak waras. Alamiah sekali ini dan tentu saja lucu.
Akhirnya, saatnya bersama belajar menjadi orang bijak dan menanggapi fenomena kehidupan ini dengan kebijaksanaan. Ma'at taufiq. Salam.Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan