29.1.14

Markas Oelama Djawa Timoer

 

Markas Oelama Djawa Timoer
***
Rapat kerja PMII Rayon Syariah (saat itu) IAIN Sunan Ampel Surabaya, beberapa tahun silam, itu digelar disebuah gedung tua. Lokasinya di sebuah gang di belakang pabrik paku Waru Sidoarjo (yang berhadapan dengan pintu keluar terminal bus Bungurasih). Layaknya gedung tua, arsitekturnya masih gaya lama dengan dinding tebal kokoh. Khas bangunan awal abad XX seperti gedung tua di kawasan "Oud Soerabaia": Kembang Jepun, Jembatan Merah, kawasan Ampel, dan pergudangan di jalan karet.

Gedung yang kami tempati rapat kerja itu kondisinya mengenaskan: cat di tembok banyak yang mengelupas, beberapa sudut bangunan bahkan terkesan tidak terawat. Di depan dan samping kiri gedung, seingat saya, ditanami pohon pisang dan ada tumbuhan rambat lain. Sempurnalah kesan jika gedung ini merana.

Saya menerka bangunan tua itu hanya rumah biasa. Hingga, tatkala mengunjungi Museum NU, saya mengamati detil sebuah sketsa gedung tua. Di bawah sketsa tertulis: MARKAS OELAMA DJAWA TIMOER (MODT). Tak salah lagi, meski melalui sketsa, inilah gedung tua yang kami pakai sebagai lokasi raker. Kami tak menyangka jika rumah tua merana tersebut pernah dijadikan salah satu sentra pergerakan para pejuang kemerdekaan. Di gedung itulah, KH. Bisri Syansuri dan kiai lainnya mengkoordinir para ulama, Barisan Mujahidin, Barisan Sabilillah, Lasykar Hizbullah, dan menyatupadukan perjuangan melalui komunikasi lintas jaringan: BKR-TKR serta lasykar rakyat lainnya dalam perang kemerdekaan.

Adapun Kantor Hofdbestuur NU di Jl. Bubutan, lokasi pencetusan Resolusi Jihad, sudah 'terselamatkan' karena sudah menjadi bangunan Cagar Budaya yang dilindungi Undang-Undang.

Saya tidak tahu lagi nasib gedung bersejarah yang pernah digunakan sebagai MODT ini, karena sudah lama tidak mengunjunginya. Kalaupun tidak dibongkar, sungguh beruntung, meskipun belum diperhatikan kondisinya. Semoga Pemkab Sidoarjo tertarik merenovasi bangunan bersejarah ini dan memproteksinya sebagai Cagar Budaya. Dan, kita yakin, di setiap kota masih banyak bangunan bersejarah yang terlupakan, baik karena ketidaktahuan pemerintah daerah setempat, maupun keengganan ahli waris merawatnya.
WAllahu A'lam


Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan