humor

12.1.14

Media pesing seperti Arrahmah.com pernah menuding beliau sebagai Syiah.....

 

Media pesing seperti Arrahmah.com pernah menuding beliau sebagai Syiah.....
Tololnya, kok ya ada santri yang percaya berita sampah begitu...
Maaf, Saya Muqallid Buta

Saya sudah menjadi mahasiswa al-Azhar ketika itu, tapi saya belum kenal pasti apa itu al-Azhar. Suatu ketika, setelah kuliah saya sempatkan hunting kitab di toko-toko buku dekat al-Azhar. Di sana saya melihat banyak sekali buku-buku dengan nama penulis yang sama, yaitu SYEKH ALI JUM’AH.

Saya hanya tahu bahwa beliau adalah seorang Mufti Mesir ketika itu. Saya sangat berniat untuk membeli kitab-kitab tersebut jika sudah ada rejeki.

Sampai di tempat kost saya berbincang-bincang dengan seorang mahasiswa senior. Karena senior, saya coba cari tahu tentang Syekh Ali Jum’ah. Beliau berkata, “Hati-hati dek, beliau itu dipilih oleh penguasa."

Haaah…?

Saya sangat kecewa dengan Syeikh Ali Jum’ah.

Setahun kemudian saya iseng melihat jadwal di masjid al-Azhar, saya melihat jadwal pengajian Tafsir al-Quran yang disampaikan oleh Syeikh Ali Jumah. Saya sangat bingung, dari satu sisi saya sangat ingin mengenal sosok yang begitu dipuji oleh ulam-ulama al-Azhar lainnya. Namun di sisi lain, ucapan senior saya itu masih terngiang dipikiran saya.

Malam itu saya memutuskan untuk mendatangi pengajian beliau. Dari jauh, saya melihat orang-orang di dalam masjid yang sedang menunggu kedatangan beliau bangun dan ambruk ke hadapan beliau, untuk mencium tangannya. Saya hanya di tempat, buat apa dicium tangannya, toh beliau itu diangkat oleh penguasa.

Pengajian pun dimulai. Dengan modal satu al-Quran di tangan, di depan para ulama lainnya satu persatu ayat al-Quran ditafsirkan. Bukan hanya saya yang takjub, para murid beliau lainnya yang di antara mereka juga merupakan guru-guru al-Azhar kadang- kadang mengucapkan takbir, ketika sampai pada poin-poin luar biasa yang beliau sampaikan. Saya tidak melihat wajah munafik itu. Saya hanya melihat seorang ulama yang sedang duduk di depan saya, keturunan Rasulullah.

Setelah pengajian selesai saya bangun seraya meraih tangan beliau yang sangat mulia itu. Hati saya berkata, “Aku telah mengatai seorang laki-laki karena ilmunya yang banyak dan akalnya yang luas, dan aku beristighfar kepada Allah, sesungguhnya aku telah melakukan kesalahan yang sangat jelas.”

Syahadan:

Ibn Mubarak mengatakan “Aku pergi ke Syam untuk menjumpai al-Auza’i, aku bejumpa dengannya di Beirut. Al-Auza’i berkata kepadaku, “Wahai Khurasani (panggilan bagi orang yang berasal dari Khurasan)! “Siapa sang Mubtadi’ yang berasal dari Kufah yang digelar dengan Abu Hanifah?”

Kemudian aku kembali ke rumah, mengambil kitab-kitab Abu Hanifah lalu aku mengambil darinya beberapa permasalahan yang sangat bagus. Aku melakukan itu selama tiga hari.

Pada hari ketiga aku datang menjumpainya, ia merupakan seorang muadzin dan imam masjid. Kitab tersebut aku pegang di tangan, lalu ia bertanya. “Kitab apakah ini?” lalu aku menyerahkannya kepadanya.

Beliau melihat kepada permasalahan yang telah aku beri tanda di sana dengan “Telah berkata Nukman”. Beliau pun senantiasa membacanya sambil berdiri sampai waktu iqamah. Setelah iqamah ia mengimami shalat dan menyimpan kitab tersebut dalam kantong bajunya.

Setelah shalat ia mengelurkannya dan mendatangiku, lalu ia bertanya kepadaku, “Wahai Khurasani! Siapakah Nukman bin Tsabit ini? Aku berkata, “Dia adalah seorang syekh yang aku jumpai di Irak. Kemudian beliau berkata, “Nukman bin Tsabit merupakan seorang syekh yang sangat pandai, pergi dan ambillah ilmu sebanyak-banyaknya darinya.” Lalu aku berkta “Dialah Abu Hanifah yang engkau larang aku darinya.”

Hafidh Ad Din Al Kurdiri menambahkan pada riwayat lain juga dari Ibn Mubarak. Ibn Mubarak berkata “Kemudian kami berjumpa di Makkah. Aku melihat al-Auza’i berbincang- bincang dengan Abu Hanifah tetang permasalahan tersebut. Abu Hanifah menjelaskan kepadanya lebih banyak daripada apa yang aku tulis.

Ketika kami akan berpisah aku berkata kepada al-Auza’i, “Apa pendapatmu tentangnya?" Beliau menjawab “Aku telah mengatai seorang laki-laki karena ilmunya yang banyak dan akalnya yang luas, dan aku beristighfar kepada Allah, sesungguhnya aku telah melakukan kesalahan yang sangat jelas. Ambillah ilmu darinya, sesungguhnya ia berbeda dengan berita yang sampai kepadaku.”

Syeikh Jamal Faruq, setelah menyebutkan kisah ini beliau mengatakan “Hendaklah mereka yang hari ini mencaci para ulama mengambil pelajaran dari kisah ini. Seandainya mereka duduk di depan ulama-ulama tersebut, sungguh mereka akan melihat kebalikan dari apa berita yang sampai kepada mereka.

Oleh: Husni Nadzir














Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan