humor

12.1.14

Sosiologi Kuliner

 

Sosiologi Kuliner
---
Dari sekian banyak suku bangsa di Indonesia, ada beberapa etnik yang menekankan aspek merantau sebagai bagian dari budaya.

Merantau bisa dipahami dari proses keberangkatan seseorang dari kampung halaman menuju daerah lain yang berbeda secara antropologis-kultural, baik dalam rangka pengembangan intelektual maupun peningkatan strata ekonomis ketika kembali ke kampung halaman. Jangan heran jika kemudian budaya merantau ini menjadi trademark etnik tertentu yang ditandai dengan penguasaan zona ekonomi di sebuah wilayah.

Etnis Jawa, Minang, dan Madura, misalnya, hampir menguasai zona ekonomi berbasis kuliner. Pecel Ponorogo, Soto Ayam Lamongan, Bakso Solo, misalnya, bisa kita santap di salah satu sudut Makassar atau Banda Aceh. Warung Padang juga dapat dijumpai di Nusa Tenggara Timur. Sate Madura apatah lagi, di kawasan rural maupun urban, baik memakai gerobak dorong, kaki lima hingga hotel bintang lima, jaringan sate Madura menggurita.

Ekspansi kuliner ini menandakan adanya kepercayaan diri kelompok etnis dalam melakukan proses gerakan "kontrapunkt", sebuah aksi "perlawanan terselubung" ekperimental demi survivalisme jaringan kultural, selain tentu saja untuk memenuhi selera kuliner sesama anggota kelompok. Melalui lidah, kerinduan terhadap tanah tumpah darah bisa tersalurkan. Di Surabaya dan Sidoarjo, misalnya, mayoritas makanan hampir pasti terdapat campuran petis. Mengapa harus petis? karena pengaruh citarasa kaum Madura. Hingga pada akhirnya, dominasi budaya terdeteksi melalui unsur citarasa. Taruhlah, misalnya, Balado identik dengan Minang, rica-rica identik dengan Manado, kuah santan dengan kuliner Jawa, dan jengkol yang menjadi pelengkap santap khas Betawi.

Dalam skala global, ekspansi kuliner berjalan dengan massifikasi pencitraan alias brand. Sushi, Sashimi, Dim Sum, Hotdog, Burger, Spaghetti, Pizza adalah penanda modernitas, keren, gaya, gaul, dan identitas warga internasional. Semua terkondisi dengan cemerlang sebagai bagian dari gaya hidup. Ingin tahu buktinya? saat menyantap masakan asing di resto kelas atas, secara otomatis gaya bahasa dan aksen anda berubah. Katakanlah, enggan berbicara dengan bahasa daerah, duduk dengan elegan ala table manner, hingga gaya santap yang berbeda (di sini anda tak mungkin jongkok, jingkrang, sambil tiduran atau gaya lainnya yang lazim ditemui di warung kelas koboi). Inilah sistem itu.

Jika di film maupun sinetron Indonesia tak ada tokoh jagoan maupun wanita seksi minum jamu, makan pecel dan coto Makassar, ngemil cenil dan klepon, maupun menyantap rujak, harap maklum. Sebab, ciri bangsa terjajah adalah tatkala selera kulinernya membebek penjajahnya, sungguhpun ia tahu lidahnya terasa aneh mencecapnya.
Akhirnya, bagaimanapun jenis kulinarinya, sambel terong setengah gosong tetaplah ternikmat. Ini jenis makanan "sejuta ummat" di kalangan santri.....Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan