11.7.14

Korespondensi Mufti Palestina dengan Rais Akbar NU

 

Korespondensi Mufti Palestina dengan Rais Akbar NU
----
Di antara bukti reputasi Internasional ulama Indonesia adalah tatkala Syekh Muhammad Amin al-Husaini, Mufti Palestina yang juga Ketua Kongres Umat Islam se-Dunia berkorespondensi dengan KH. M. Hasyim Asy'ari. Saat itu, Syekh al-Husaini, sebagai bagian strategi, dikenal dekat dengan Hitler, bahkan beliau memobilisasi muslim Bosnia dan Albania untuk berkoalisi dengan Nazi Jerman dalam menjaga wilayahnya. Syekh al-Husaini memusuhi Yahudi karena ingin mempertahankan tanah suci Palestina, sedangkan Hitler memusuhi Yahudi karena dendam sejarah dan juga pandangan politik rasialnya.

Keduanya pun bersekutu. Al-Husaini yang memobilisasi muslim di kawasan balkan, sedangkan Heinrich Himmler, Panglima Schutz Staffel (SS), mengkonsolidasikannya dalam Brigade Handjar dan Brigade Kama, kemudian meleburnya dalam satu komando bernama "IX. Waffen-Gebirgs Korps der SS".

Klop sudah. Al-Husaini butuh mempertahankan wilayah Palestina dari efek Perjanjian Balfour dan membebaskannya dari cengkeraman Inggris dan imigran Yahudi, sedangkan Hitler butuh negara fassal di wilayah Balkan untuk menopang ambisinya. Lagipula, wilayah balkan sangat strategis membendung dominasi Sekutu (AS, Inggris, dan Rusia).

Menjelang akhir tahun 1944, poros Jerman-Italia-Jepang terdesak di berbagai front, baik di Eropa, Afrika, maupun Asia, akibat gebukan Sekutu. Jerman dan Italia mulai tergelincir, Jepang sudah ngos-ngosan mengelola wilayah taklukannya.

Jepang tahu diri, pada 7 September 1944, Perdana Menteri Jepang Kuniaki Kaiso menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia, setelah serdadunya kocar kacir di berbagai front.

Elit militer Jepang mulai mencium aroma kekalahan. Janji manis itu segera direspons secara positif oleh Pimpinan Kongres Umat Islam se-Dunia, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini. Mufti Palestina itu mengirimkan surat kepada pemerintahan Jepang melalui Duta Besar berkuasa penuh pemerintah Jepang untuk Jerman. Surat itu juga ditembuskan kepada K.H. Hasyim Asy’ari. Isinya, mendesak Jepang agar melaksanakan janji kemerdekaannya terhadap bangsa Indonesia. Salinan surat ini juga dikirimkan kepada Hadratussyaikh. Dengan tangkas Hadratussyaikh menyelenggarakan rapat khusus Masyumi khusus membahas permasalahan ini pada tanggal 12 Oktober 1944. Rapat ini menghasilkan resolusi ditujukan kepada pemerintah Jepang. Isinya;

Pertama, mempersiapkan umat Islam Indonesia agar mampu dan siap menerima kemerdekaan Indonesia dan agama Islam.

Kedua, mengaktifkan kekuatan umat Islam Indonesia untuk memastikan terlaksananya kemenangan final dan mengatasi setiap rintangan dan serangan musuh yang mungkin berusaha menghalangi kemajuan kemerdekaan Indonesia dan agama Islam.

Ketiga, bertempur dengan sekuat tenaga bersama Jepang Raya di jalan Allah untuk mengalahkan musuh.

Keempat, menyebarkan resolusi ini kepada seluruh tentara Jepang dan kepada segenap bangsa Indonesia.

Setelah itu Hadratussyaikh membalas surat Syekh al-Husaini dan mengirimkan salinan surat ini kepada PM Jepang. Isinya, sebagai wakil umat Islam Indonesia, Hadratussyaikh sangat berterimakasih kepada Syekh al-Husaini mengenai usahanya menekan Jepang agar memenuhi janji kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.

Selain itu, Hadratussyaikh juga mendoakan agar perjuangan Palestina dan negara Arab lain memperoleh kemerdekaan segera tercapai.
--
Wallahu A'lam
Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan