humor

5.2.15

PEDE EDUCATION

 




PEDE EDUCATION
Ini kalender yang "diterbitkan" Kardinya Primary School, SD tempat bernaung TK-nya Hayun di Perth. Alih-alih mewajibkan orangtua murid untuk membeli kalender resmi sekolah [yang dimaksudkan sekaligus jadi media promo si sekolah, kan?], sekolahnya Hayun bikin kalender sendiri. Gambarnya bukan foto-foto formasi lengkap para guru dan fasilitas-fasilitas sekolah yang yahud. Jauh dari itu. Ini adalah kalender personal yang customized, dengan desain dari para murid sendiri.
Jadi, setiap siswa dikasih kalender dengan bagian atas kosongan, lalu mereka menggambar sendiri pada kalender masing-masing. Setelah itu Bu Guru me-laminating semua kalender bikinan muridnya, kemudian membagikannya lagi ke mereka.
Simpel. Sekilas kelihatan simpel. Tapi agaknya dari situlah anak-anak memperoleh pengakuan atas eksistensi kemampuan mereka. Karya mereka diakui, dipuji, dan tentu saja dipajang--lha wong namanya juga kalender, masak dilempit..
Pada kali lain, ada kegiatan di TK Hayun yang bernama Father's Night. Ini agenda sekolah di sore hari untuk merayakan Hari Ayah, pada setiap Sabtu pertama bulan September. Ayah dari tiap anak diundang ke sekolah. Para papah muda keren diberi waktu menemani anak masing-masing, untuk bermain bersama di dalam ruang kelas. Bongkar-pasang puzzle, melukis, bikin craft, main lempar-tangkap bola, atau yang lain. Permainan-permainan sederhana saja. Saia pun..
Nah, di atas kepala semua anak dan para ayah, digantung gambar-gambar cantik bikinan semua murid, sehingga semua orang [termasuk para papah tadi] bisa bersama mengagumi hasil karya anak mereka. Hayun pun waktu itu dengan ceria dan bangga menunjuk-nunjuk, "Itu lho Paaak, gambarku yang itu lhoo! Bagus kan?"
Dengar-dengar, pendidikan prasekolah dan dasar di Ostrali memang lebih menekankan pada pembentukan kepercayaan diri, alih-alih pendidikan kognitif. Anak dibentuk keyakinannya bahwa ia mampu. Guru pun mencermati kekurangan dan kelebihan setiap anak, untuk kemudian berusaha mencari ruang agar anak yang nggak pede pada satu hal bisa terobati galau hatinya, karena merasa hebat pada lain hal. [Saya yakin, guru-guru di Indonesia yang muda-muda juga sudah sangat paham akan prinsip-prinsip ini].
Hayun sendiri, misalnya. Dia sebenarnya anak yang pemalu [tentu ini sifat turunan dari bapaknya--ehem] dan kurang lancar bersosialisasi. Agak jago kandang lah haha. Meski di rumah ceriwisnya minta ampun, dia selalu butuh waktu adaptasi yang panjang untuk bisa akrab dan meriah dengan teman-teman di luar. Gurunya ngeh pula dengan itu. Maka, tak jarang Bu Guru mendatangi anak yang kesulitan menata puzzle, misalnya. Lalu ia bertanya, "Kamu kesulitan? Why don't you ask Hayun for help? Hayun is very good at masang puzzle!" Tentu, kalimat itu dia ucapkan sambil melirik Hayun dan memastikan Hayun mendengarnya. "Hayuun, come here and help your friend pleeeaaase..!"
Gadis kecil saya pun sumringah, dan dengan bungah hati merasa jadi juru selamat bagi temannya. Dengan cara itu lambat laun dia jadi pede, dan bisa akrab sama kawan-kawannya. Begitulah.
Pada tingkat SD hampir sama juga. Sahabat kami dengan inisial GES yang mbaurekso Perth pernah berbagi cerita. Waktu anak sulungnya masih SD, dia kaget melihat soal-soal hitungan matematika dari sekolah si sulung begitu gampangnya. Amat sangat terlalu gampang untuk anak SD kelas.. empat atau lima, mungkin, saya lupa persisnya. Ternyata, itu memang disengaja. Tujuannya agar anak-anak selalu merasa mampu, dan tak ada yang minder akibat mengira dirinya oon dibanding kawan-kawannya.
Nggak heran, anak-anak seusia itu selalu tampil agak 'sombong', dengan sering berkata, "I can do that! I'm good at... dst." Bahkan kadang disertai dengan, "I can do that, you can't!" Mereka juga selalu balapan angkat jari sambil teriak "I know!!" tiap kali ada orang dewasa ngasih kuis-kuisan. Padahal habis ngangkat jari, belum tentu juga mereka bisa jawab. Hahaha. Pedenya memang kadang habis-habisan.
Demikianlah. Lagi-lagi, tampaknya kita bisa belajar dari hal-hal sederhana beginian. Bibit-bibit anak kandung Nuswantara itu haibat-haibat, karena darah yang mengalir di tubuh kita adalah darah orang-orang kuat. [Mulai, mulai..]. Tapi seringkali kita kesandung pada kendala sederhana, yaitu krisis kepercayaan diri. Jika sisi ini benar-benar bisa kita atasi, nggak usah pakai pilpres pun cita-cita sebagai Macan Asia tak lagi sekadar mimpi. Uhuk.
Maka, mari segera ambil langkah konkret. Pakailah deodorant, sebelum mulai mendidik anak-anak Indonesia. Sadarilah, bahwa bau badan adalah... musuh yang paling nyata bagi keutuhan rasa percaya diri kita.
Salam olah raga.

Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan