humor

15.1.17

turunnya minat membaca akan menaikkan hasrat berkomentar

 

Hasil pengukuran tingkat literasi dunia pada April 2016 menempatkan Indonesia di urutan buncit, posisi ke-60 dari 61 anggota. Lebih tinggi daripada Botswana, negara kecil Afrika dengan penduduk hanya 2,1 juta jiwa.
Di sisi lain, tingkat kecerewetan manusia Indonesia menempati posisi atas. Amerika boleh mengklaim sebagai negara dengan jumlah pengguna twitter terbanyak di dunia, tapi dalam hal urusan cuitan, Indonesia menempati urutan numero uno, dinilai dari jumlah cuitan yang disemburkan setiap waktu via twitter. Andaikata cuitan via twitter ini digabung dengan rilisan status di linimasa fesbuk dan jeprat jepret Instagram, saya haqqul yaqin kita menjadi jawara sejagat.
Satu hal lagi, soal konsumsi berita sampah, kabar palsu, maupun informasi bohong, tampaknya Indonesia menempati urutan 5 besar. Jika negara melek aksara kayak Amrik saja bisa dikacaukan oleh hoax, yang menyebabkan Donald Trump jadi kampiun pilpres, apalagi negara kita. Bahkan, demikian bedebahnya berita palsu, menteri pertahanan Pakistan saja tertipu soal nuklir Israel gara-gara berita hoax. Malu-maluin saja, nyaris perang nuklir gara-gara hoax!
Di internet, kabarnya, ada jasa iklan yang membayar USD 1 (Rp 13.500) per seribu klik. Jika dalam sehari website yang memuat berita hoax dikunjungi 500.000 kali, maka pembuat berita sampah bisa mendapatkan USD 500 (Rp 6,6 juta). Kampret tenan to? Nah, para pembuat web "tjap tahi asoe" ini mereguk keuntungan dari berita sampah yang dirilis dan dibaca lalu disebarkan oleh orang dungu yang terpesona berita-berita menakjubkan dan bombastis.
Kedunguan dalam menyebar berita palsu bisa menimpa siapapun. Bisa saya, anda atau siapa saja. Bahkan seorang khatib jumat pun mengutip hoax dalam materi khutbah yang dia sampaikan. Ini sama konyolnya dengan doktor alumni luar negeri yang menyebarkan hoax versi Jonru. Jika seorang doktor saja mengutip hoax versi Jonru, maka bagaimana kita bisa mengukur kualitas pendidikan kita?
Bahkan, asbabun nuzulnya QS. Al-Hujurat ayat 6 juga berkaitan dengan hoax yang diterima oleh kaum mukminin dan nyaris terjadi pertumpahan darah gara-gara informasi palsu ini, hingga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan pentingnya klarifikasi (tabayyun) maupun kroscek sebuah kabar berita melalui ayat tadi.
Yang pasti, turunnya minat membaca akan menaikkan hasrat berkomentar. Sedangkan rendahnya budaya membaca akan memompa semangat menyebar berita apapun yang telah diterima. Adapun keinginan menjadi nomor satu telah membuat orang bergegas menyebar berita yang didengar maupun dibaca. Dan, sebagaimana kata Kanjeng Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, "....cukuplah seseorang (dianggap) berdusta jika ia menceritakan semua yang ia dengar."
WAllahu A'lam Bisshawab


ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam.

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan