humor

7.2.17

Para Mursyid di Lapangan Hijau

 

Para Mursyid di Lapangan Hijau

Oleh: Rijal Mumazziq Z

Karena tubuhnya tak berisi, ia bisa melesat bagai kijang, dan meliuk-liuk lincah menghindari kepungan lawan. Semifinal Piala FA, 14 April 1999, yang mempertemukan Manchester United versus Arsenal membuktikannya. Hingga kini, gol yang dicetak Ryan Giggs, si kijang Wales itu, masih dikenang sebagai salah satu gol terbaik. Berlari dari tengah, dia merajang lapangan dengan lincah. 4 bek Arsenal pontang panting berusaha menghadangnya, namun gagal. Dengan kaos yang tampak kedodoran dia meliuk-liuk melewati hadangan pemain The Gunners, hingga pada puncaknya dia melesatkan bola yang bersarang di gawang David Seaman. Dia berlari menuju kawan-kawannya sembari melepas kaosnya dan berteriak girang. Gol pada menit ke- 104 itu pada akhirnya mengantar United ke final dan merengkuh juara.

Giggs, salah satu pemain terbesar Manchester United telah dikenang sebagai salah satu legenda yang telah membela Setan Merah lebih dari 1000 kali. Sudah 3 dekade dia berkostum merah. Loyalitas yang tak diragukan bersama United membuatnya mampu merengkuh berbagai tropi bersama Sir Alex Ferguson. Kekurangannya satu, dia belum bisa berprestasi bersama Wales. Itu saja. Sisanya hanyalah kisah kejayaan, plus sedikit skandal.

Orang boleh saja melihat Giggs dengan segala kebesarannya. Tapi pria Wales ini tak mungkin menjadi legenda tanpa ada sosok Dennis Schofield, penjual susu keliling. Silahkan selidik foto masa muda Giggs bersama Schofield, niscaya anda akan menemukan seorang remaja yang berdiri takzim dengan tangan ngapurancang di samping tukang susu itu. Giggs begitu mengormatinya, sebab tanpa daya penciuman Schofield, niscaya bakat besar Giggs tak bakal terendus. Jika bukan karena insting Schofield, mungkin Giggs bakal menjadi buruh pabrik di industri Manchester, atau penjaga bar di London, mungkin juga pengantar susu di Oldham. Schofield, yang juga talent scout di Manchester City, sudah sejak awal menasehati manajemen City agar memagari Giggs dengan kontrak pemain remaja, tapi tak digubris. Dan, tepat di usia 14, justru Alex Ferguson, manajer Manchester United, musuh bebuyutan City, yang mendatangi Giggs di rumah kontrakannya dan menawarkan kontrak. Lalu, sejarah baru seorang legenda dimulai…….

Dari Talent Scout hingga Global Scouting System

Talent Scout adalah istilah modern untuk menyebut para pengendus dan pemburu bakat hebat sepakbola. Ada yang professional, ada yang sampingan, ada juga yang amatir. Mereka berkeliling, di pelosok-pelosok negeri, untuk mencari calon bintang di masa depan. Mereka bagai pemburu harta karun yang berpencar dengan lokasi berbeda untuk mendapatkan hasil maksimal. Namanya juga pemandu bakat, mereka butuh mengintai calon bintang ini berkali-kali, selama beberapa minggu, bahkan bulan, untuk memastikan apabila pemain incarannya benar-benar punya skill yang oke. Biar target tidak lepas, mereka juga melakukan pedekate secara pribadi, baik dengan pemain maupun dengan keluarganya. Di Eropa, ketelatenan seorang pemandu bakat juga ditentukan sejauh mana dia bisa berhubungan baik dengan klub yang menunggu pasokan bibit-bibit unggulan. Sevilla, klub yang merajai kasta kedua Eropa dalam tiga tahun terakhir, bahkan disebut memiliki 500 pengendus bakat yang menjelajah di Benua Biru dan Afrika. Di Belanda, Ajax sudah melakukannya tiga dasawarsa silam sehingga dikenal sebagai pabrik penghasil pemain muda dengan kualitas di atas rata-rata.

Namun, saya kira yang terkonsep matang ada di Inggris. Arsenal mempelopori penggunaan Global Scouting System, konsep temuan filsuf lapangan hijau, Arsene Wenger, untuk memantau perkembangan talenta muda di seluruh dunia. Mereka menyebar pemandu bakat di negara-negara “dunia ketiga”. Dengan konsep ini, Wenger ikut memutar ekonomi makro di Arsenal. Dia “kulak” pemain berbakat yang masih “undervalue” dari berbagai negara “dunia ketiga” dalam sepakbola, kemudian digodog di akademi Arsenal, dipoles, lalu dijual. Bagaimana dengan di Indonesia? Dari sekian banyak, yang paling berkesan mungkin cara Indra Sjafri yang menggunakan pola scouting tatkala berkeliling mencari bibit-bibit terbaik di sekujur Indonesia untuk timnas U-19.

Karena pendekatannya yang manusiawi, maka hubungan antara penemu bakat dengan pemilik talenta terasa lebih mendekati hubungan antara anak-ayah, atau murid-guru. Tak perlu jauh-jauh, relasi Indra Sjafri dengan anak asuhnya di timnas U-19 secara kasat mata membuktikannya. Bahkan, generasi emas angkatan Evan Dimas ini senantiasa dengan takzim mencium tangan Indra saat berjumpa. Beberapa di antaranya alumni U-19 ini bahkan menelepon coach Indra untuk meminta pertimbangan memilih klub yang tepat. Mereka demikian hormat pada orang yang telah menemukan talentanya dan memberi harapan baginya untuk berkembang.

Relasi demikian dekat ini saya rasa bukan hanya di Indonesia saja. Sejak bocah ingusan hingga menjadi legenda, Ryan Giggs demikian takzim pada Schofield si pengecer susu. Di lain pihak, ada juga Cristiano Ronaldo yang menghormati Aurelio Pareira, pencari bakat di Sporting Lisbon yang mengendus talenta istimewanya. Sedangkan Robinho dan Neymar sudah terlanjur menganggap Jose Ely de Miranda alias Zito, penemu bakat keduanya sebagai ayah angkatnya. Andaikata Zito, penggawa yang mengantarkan Tim Selecao merengkuh dua gelar Piala Dunia 1958 dan 1962, tidak mengerek kemampuan Robinho dan Neymar, mungkin keduanya bakal menjadi orang biasa di Favela Sao Paolo dan Sao Vicente.

Ada banyak orang yang kemampuan khusus seperti Schofield, Pareira, dan Zito. Mereka bisa menemukan permata di kubangan lumpur dan menggosoknya hingga mengkilap. Mereka bisa melihat calon bintang dalam kondisi apapun, dalam perang sekalipun. Bakat Luka Modric ditemukan dalam kecamuk Perang Balkan oleh Tomislav Basic. Modric, bocah kerempeng dari keluarga fakir itu nyaris tak pernah diperhatikan orang-orang. Ayahnya serdadu Kroasia yang sibuk dengan negaranya, sedangkan ibunya hanya perempuan biasa. Justru di tengah ketidakpedulian itu, Basic mencium keistimewaan gelandang Modric. Dia menggaet bocah kurus itu untuk bergabung dengan tim muda Zadar. Basic menemukan, memoles, memberi instruksi dan menginjeksikan motivasi hingga Modric mulai menemukan klub yang tepat beberapa tahun kemudian, Dinamo Zagreb. Saat bermain di Tottenham Hotspur maupun di Real Madrid, Modric senantiasa dengan rendah hati mengunjungi gurunya. Bahkan,  ketika penemu bakatnya itu wafat, 23 Februari 2014, Modric dengan tergesa-gesa pulang ke Kroasia untuk menghadiri pemakaman pria yang sangat dia hormati itu.

Pathfinder

Talent Scout sudah menjadi matarantai dalam pramida persepabolaan Eropa. Beberapa dari mereka bahkan sudah melanglangbuana ke benua Afrika dan menjelajahi sekujur benua itu hingga ke pelosok-pelosok. Di masing-masing daerah, mereka sudah punya mata-mata yang tinggal merekam dan mempromosikan kepada si bos yang bermata biru. Bagaikan ksatria Brom yang melatih Eragon menunggang Saphira si naga betina dalam novel karya Christopher Paolini, para pelancong dari benua biru ini kemudian juga mengasah insting para pemain kulit hitam ini tatacara bermain bola yang profesional dan aturan main resmi.

Jika para talent scout ini bilang kepada para remaja ini, “Show me your talent!”, maka di kemudian hari ada agen yang menaunginya yang akan berkata dengan percaya diri ke setiap klub yang berminat kepada asuhannya, “Show me the money!” sebagaimana ucapan masyhur Jerry Maguire dalam filmnya. Mungkin di sini hubungan simbiosis antara pengasah bakat dengan pemilik talenta berakhir, namun relasi emosional masih bisa terjaga, sebab merekalah yang disebut pathfinder, alias pembuka jalan. Mereka menemukan bakat istimewa di saat orang lain tak mampu menelisiknya, sebagaimana Glen Foy yang melihat talenta tukang kebun bernama Santiago Munez dalam film Goal. Atau, dalam kisah nyata, dapat kita jumpai saat pelatih tinju Cus D’amato menemukan potensi menakjubkan dari berandal cilik bernama Mike Tyson. D’amato memang bukan jawara dunia, namun justru di tangannya lahir petinju paling brutal setelah era Muhammad Ali yang flamboyan. Inilah fungsi pathfinder sebenarnya, yaitu pembuka jalan, perintis kejayaan, dan yang lebih penting “pengenalan diri”. Dalam konsep edukatif, mereka adalah murabbi, sang pendidik; dalam konsep yang religius, mereka adalah pengarah alias mursyid.

Jika Musa menemukan ke”diri”annya saat mendampingi Khidir, Jalaluddin Rumi menemukan potensi ruhaniahnya setelah mendapatkan bimbingan Syamsuddin Tabrizi, Brandal Lokajaya menjadi Sunan Kalijaga dalam naungan ruhani Sunan Bonang, Jaka Samudera merintis jenjang spiritual hingga menjadi Sunan Giri berkat didikan Raden Rahmatullah Sunan Ampel, maupun Sukarno yang menemukan identitas hakikinya sebagai penggerak di bawah asuhan Tjokroaminoto, maka demikian pula masing-masing pesepakbola di atas. Mereka beruntung karena bertemu dengan pemandu bakat, pathfinder, mursyid, murabbi--atau apapun istilahnya-- yang tepat dan benar-benar membuka setapak jalan menuju kesuksesan masing-masing.

Wallahu A’lam Bisshawab

Cc: Sirajudin Hasbi Yamadipati Seno Chico Habib Mendes Mas Nuzulul

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam.

No comments:
Write comments

Advertisement

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan