Biografi Ulama Mojokerto, Membangun Peradaban Melalui Historiografi Lokal

 

Gambar Produk Gambar Produk 2
Promo
Rp50.000
Membangun Peradaban Melalui Historiografi Lokal

@ rijal mumazziq z

Ada salah satu fenomena yang mengasyikkan dalam kurun satu dasawarsa belakangan ini. Yaitu munculnya kesadaran terhadap historiografi lokal, khususnya di kalangan pegiat sejarah NU. Mereka menelaah, melacak jejak, lantas menguraikannya dalam berbagai macam tulisan. Baik dalam artikel yang berserak di media massa, nyata maupun maya, maupun dalam sebuah karya utuh berupa buku.

Narasi sejarah tidak lagi berkutat pada nama-nama ulama masyhur dalam kesejarahan nasional, melainkan pada sosok-sosok yang ada di wilayah lokal. Fokus tidak lagi pada nama-nama besar, melainkan mulai bergeser membidik kiprah para kiai di daerah. Para tokoh agama yang juga memiliki peranan signifikan dalam perkembangan Islam, perjuangan kemerdekaan yang bersifat kedaerahan, maupun memiliki kontribusi besar dalam ruang lingkup yang terbatas. Mereka memiliki andil yang layak ditulis, hanya saja selama ini belum ada yang sempat menjamah kiprahnya lantas menuliskannya secara detail. Mas Isno, senior saya saat kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya, ini telah turut serta menggerakkan gerbong historiografi lokal Mojokerto. Dia dengan telaten mengumpulkan serpihan sejarah yang berserak, melakukan riset kecil namun serius, dan menyajikannya dengan bahasa yang enak dinikmati. Mas Isno tidak hendak menyajikan sejarah dengan penuh glorifikasi dan mistifikasi. Dia menuliskannya secara jujur, apa adanya, dan menggali keteladanan serta kearifan para ulama Mojokerto. Jika boleh dibilang, penulis muda ini telah melakukan upaya menghimpun semacam Thabaqah Ulama Mojokerto. Jika dikembangkan, bisa berjilid-jilid.

Soal aspek kedaerahan, para ulama salaf telah memberi teladan. Mereka dengan bangga menyematkan aspek lokalitas-nya. Tanpa gengsi, tidak minder, dan pada akhirnya catatan emas peradaban Islam merekam jejak kecemerlangannya berikut nama daerah asalnya. Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi menyematkan nama desa kelahirannya, Nawaa, di belakang namanya. Demikian pula dengan Syekh Abdul Qadir al-Jilani, Syekh Nashiruddin al-Baidhawi, Imam Jalaluddin as-Suyuthi, Syekh Syihabuddin ar-Ramli, Syekh Abdul Wahhab as-Sya’rani, dan sebagainya. Semua bangga dengan lokalitasnya. Identitas kedaerahannya.

Di tanah air sendiri, para ulama juga mengajarkan kebanggaan terhadap tumpah darahnya: Syekh Abdurrauf As-Sinkily, Syekh Abdusshamad al-Falimbany, Syekh Arsyad al-Banjary, Syekh Yusuf Maqassary, Syekh Khalil al-Bangkalani, Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Hasyim Asy’ari al-Jumbangi, Syekh Soleh bin Umar As-Samarani, Syekh Baqir al-Jugjawy, Syekh Muthtar bin Atharid al-Bughury, dan sebagainya. Bahkan, dalam kurun beberapa dasawarsa berikutnya, para ulama kita dengan bangga juga menyematkan nama desanya, ya nama desa, seperti Syekh Mahfudz at-Tarmasi, Kiai Djazuli Ploso, Kiai Nawawi Sidogiri, Kiai Romli Rejoso, Kiai Wahab Tambakberas, Kiai Bisri Denanyar, Kiai Munawwir Krapyak, Kiai Syarqawy Guluk-Guluk, Kiai Kiai Mahrus Ali Lirboyo, Kiai Zaini Mun’im Paiton, Kiai Hasan Genggong, Kiai Maimoen Zubair Sarang, dan sebagainya. Hal ini mengindikasikan, beliau-beliau rahimahumullah, memiliki ikatan batin yang kuat dengan daerah kelahiran maupun tempatnya berkiprah. Bangga menjadi wong ndeso, tidak minder, juga tidak beranjak menjadi wong kutho.

Para ulama yang ditulis di buku ini bukan saja memiliki ikatan batiniah yang kuat dengan masyarakat Mojokerto. Melainkan juga memberikan kontribusi berharga dalam ruang lingkup pendidikan Islam, maupun dakwah di kawasan warisan Majapahit ini. Upaya menuliskan kiprah beliau-beliau, menjadikan kita paham apabila kita “belum ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka”, sekaligus menanamkan kecintaan terhadap para ulama. Mengenal Ulama Lokal, Membendung Ekstremisme

Bulan Agustus 2020 silam, beredar video pendek di internet. Isinya, pasukan pemerintah Yaman dibantu milisi Houthi lokal menggerebek tempat persembunyian jaringan kombatan ISIS di negara tersebut. Para petempur ISIS ini berasal dari berbagai negara. Salah satunya dari Indonesia. Yang mengagetkan, dalam potongan video tersebut ditemukan KTP milik teroris yang beralamat Desa Japan, Sooko, Mojokerto. Kok bisa warga kabupaten ini nyelonong ke Yaman dan bergabung organisasi teroris?

Saya haqqul yaqin, dia tidak pernah mondok di pesantren yang berafiliasi ke dalam jejaring nahdliyyin. Sebab, selama ini tidak ada jejak keterlibatan para santri dalam gerakan terorisme internasional. Mengapa bisa demikian?

Saya menduga, tumbuh suburnya gerakan ekstremis di beberapa daerah di tanah air ini, antara lain karena tidak kuatnya historiografi lokal. Anak-anak muda yang punya semangat belajar agama namun tidak memiliki akar kedaerahan yang kuat. Mereka tidak mengenal para ulama di sekitar tempat tinggalnya. Mereka tidak mau tahu dan tidak mengenal figur teladan lokal, dan pada akhirnya melabuhkan pencarian sosok ideal pada beberapa tokoh garis keras yang tentu saja berada di luar daerahnya. Salah memilih panutan. Ironis! Silahkan dicek dalam banyak kasus! Karena itu, buku ini bisa dijadikan sandaran dan referensi penting dalam penguatan historiografi lokal dan semangat ideologisasi Aswaja yang bersifat kedaerahan di Mojokerto. Bisa diperbanyak dan disebarkan melalui jaringan lembaga pendidikan NU, maupun dibagi di setiap masjid dan mushalla. Mengenalkan kiprah para penggerak keislaman di Mojokerto saat ini sama halnya dengan mempertahankan akar ideologi Aswaja Annahdliyyah di masa depan. Kenalkan anak-anak kita, generasi muda kita kepada para kiai kampung, pada ulama di sekitarnya. Ajak sowan. Jika sudah mulai remaja, pondokkan. Jika para ulama yang kita cintai sudah meninggal, tempelkan foto maupun poster mereka di dinding ruang tamu, agar bukan saja anak-anak kita yang mengenal wajah-wajah teduh ulama, melainkan siapapun yang datang ke rumah kita.

Dengan cara itu, minimal, kita bisa mengenalkan mereka pada tokoh-tokoh penting yang telah memberi dampak dalam dunia pendidikan, perjuangan, dan dakwah. Sekali lagi, peradaban bisa runtuh manakala generasi muda telah melupakan jejak kebesaran masa lalu leluhurnya. Ojo Kepaten Obor!

Wallahu A’lam Bisshawab

"Kata Pengantar" yang saya tulis untuk buku karya Mas Isnoe Woeng Sayun, "Biografi Ulama Mojokerto" (Mojokerto: LTN NU, 2020) Pengen membeli? Harga 50.000 bisa langsung menghubungi WA saya di nomor 0856-453-11110

gambar disini







Post a comment