2.2.18

kegiatan diskusi yang berbarakah di Pesantren Luhur Al-Husna, Surabaya, pada malam gerhana bulan ini, 31 Januari 2018

 

Meski sempat tertunda, akhirnya acara ini terlaksana juga. Terimakasih Gus Ahmad Maududi yang sudah melibatkan saya dalam
kegiatan diskusi yang berbarakah di Pesantren Luhur Al-Husna, Surabaya, pada malam gerhana bulan ini, 31 Januari 2018.
Selain judul yang membuat saya mumet, saya tetap bangga meminum secangkir Kopi Tjap Kapal Terbang kiriman Mas Hamam Muhlishun, menggunakan baju hadiah dari istri Nisfu Laili, memakai sandal pemberian CakSyaifullah Ibnu Nawawi, berbalut sarung hadiah dari Pak Ma'ruf Asrori Bos Khalista, dan memasang kopiah Gus Dur hadiah dari Songkok Azkafada di kepala saya....
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Seminar deradikalisasi dan penguatan nilai kebangsaan

 
#crito nabi-nabi...

Matursuwun Gus Abdul Mughits Naufal dan MasMuhammad Sulton Fatoni yang sudah melibatkan saya dalam acara pertemuan BEM Perguruan Tinggi di bawah pesantren se-Jawa Timur dan Jawa Tengah di STAI Bustanul Ulum Krai, Yosowilangun, Lumajang, pagi tadi.

Terimakasih juga Mas Muhammad Burhanuddin Armaiyn yang telah menjemput-antar saya.
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

1.2.18

Barakallah lakuma

 
Buku karya Gus Muhammad Al-Faiz ini berisi kumpulan kisah seputar pernikahan. Sisi unik buku ini adalah 50 cerita suami-istri dan dinamika rumahtangga semuanya disarikan dari kitab-kitab salaf. Monggo segera dipesan melalui saya via inbox atau 085-645-311-110.
"Inilah souvenir pernikahan yang indah dan istimewa. Memuat kisah-kisah menarik seputar pernikahan dan kehidupan keluarga secara umum. Selamat untuk penulisnya dan pernikahannya. Mabruk, alfu-alfi mabruk."
(KH. A. Mustofa Bisri. Pengasuh PP. Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang)
"Keluarga adalah miniatur negara. Keharmonisan keluarga adalah gambaran keharmonisan bangsa dan negara. Sebaliknya kekacauan suatu keluarga adalah cermin dari kekacauan bangsa dan negara."
(KH. Agoes Ali Masyhuri. Pengasuh PP. Bumi Shalawat Sidoarjo)
"Karya ini sangat distingtif. Melalui rujukan ke berbagai khazanah hikmah dan kearifan Islam yang relatif komprehensif, buku ini menyuguhkan nilai-nilai di balik pernikahan yang sangat luhur. Dapat dikatakan, upaya Faiz, sang penulis, dalam meramu kumpulan nilai yang berkaitan dengan cinta, pernikahan dan ibadah secara utuh merupakan sesuatu yang nyaris belum pernah dilakukan sebelumnya."
(Prof. Dr. KH. Abd A'la M. Ag. Pengasuh PP. Annuqayah Guluk-Guluk. Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya)

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

21.1.18

Pak De Mad


Pakde Mad
----
Nama lengkapnya KH. Achmad Zaini Syafawi. Orang kampung memanggilnya Gus Mad atau Yai Mad. Keluarga kami menyapanya Pakde Mad, sebab beliau anak sulung kakek kami. Perawakannya tidak tinggi, sedang saja. Tidak gemuk, tapi proporisonal. Wajahnya teduh, bercahaya. Jika memandang paras wajah beliau dari dekat, saya teringat keteduhan wajah KH. Sya'roni Ahmadi, wajah yang memancarkan kasih sayang, yang membuat orang sekitar nyaman, bahkan segan. Beliau juga tak pernah menampilkan wajah menyebalkan. Sepasang bibirnya juga menyiratkan senyum yang tertahan. Beliau nyaris tak pernah marah. Kalau pun ada yang tidak sreg di hatinya, Pakde Mad mengungkapkannya dengan lembut dan santai, tak pernah reaksioner dan meledak-ledak.
Demikian juga saat mendapatkan kabar. Beliau tak lantas langsung menyebarkannya, apalagi dengan ceroboh menyampaikan kepada para santrinya. Pengasuh PP. Mabdaul Maarif, Desa/Kec. Jombang Kab. Jember ini menyimpannya sembari melainkan mencari alternatif informasi lain. Kalaupun sudah terverifikasi kebenarannya, biasanya beliau menjelaskan kepada para santri dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Saat saya sowan, yang biasanya ditanyakan Pakde Mad kepada saya adalah seputar isu-isu "sensitif", khususnya yang berkaitan dengan NU, organisasi yang beliau cintai. Misalnya, ketika TEMPO mengangkat soal "Algojo 1965", Pakde Mad meminta saya agar membawakannya majalah tersebut. Beliau ingin membaca secara langsung, bukan katanya, dan katanya.
Kalaupun ada santri yang mbeling, beliau tak pernah merendahkannya di hadapan santri lain. Biasanya hanya dipanggil dan dinasehati. Cara lainnya, beliau menegur santri melalui surat. Betapa malunya seorang santri jika disurati pengasuhnya.
Santri KH. Bisri Syansuri ini sangat menghindari hukuman fisik bagi para santri. Sebab, kata beliau kepada saya, aku ini diamanahi orangtua santri untuk mendidik putra-putrinya, bukan untuk memukulinya. Bukankah cubitan itu kadang dibutuhkan untuk menyadarkan santri yang nakal, pakde? Saya bertanya. Tidak, bagiku al-fatihah dan shalawat jauh lebih bermanfaat untuk meredam santri yang belum baik. Demikian beliau menjawab. Lihatlah, kawan, bahkan guru saya ini menghindari istilah "nakal", dan menggantinya dengan istilah optimistik, "belum baik".
Alumnus Ponpes Ma'had Ulum As-Syar'iyyah [MUS] Sarang, Rembang, ini sangat kelihatan meniru jejak keteladanan guru beliau, KH. Ahmad Syua’ib dan KH. Abdurrohim Ahmad. Baik dari kesederhanaan, ketawadluan dan kekhumulan. Ketika mewarisi estafet kepemimpinan Ponpes Mabdaul Maarif dari ayahnya, KH. Syafawi Ahmad Basyir, sejak 1984, Pakde Mad sudah lahirbatin mendidik santri dan melayani masyarakat. Tampaknya beliau sudah kenyang dicemooh, dimaki, bahkan difitnah. Ketika saya mendengar fitnah di luar dan menyampaikannya kepada beliau, Pakde Mad hanya mendengarkan, lalu diam, kemudian tersenyum sambil geleng-geleng. Lho, mboten marah, pakde? Tanya saya. Nggak usah digubris, jawab beliau sambil terkekeh lirih.
Selain menghadapi fitnah, Pakde Mad juga serangan gaib, semacam santet. Juni 1996, saya ingat betul saat listrik padam dan saya berniat mencari lilin bersama Muslimin, sahabat saya. Saat berjalan di depan gedung MTs (saat ini dipake sebagai unit SMK dan Diniyah Wustho), suasana tiba-tiba benderang dan kami melihat bola api dengan bentuk seperti komet meluncur dari atas langit langsung menghantam rumah Pakde Mad. Kemudian suasana gelap kembali. Anehnya, tak ada suara dentuman maupun "prak" layaknya benda keras menghantam genteng. Hanya sunyi saja seperti sebelumnya. Keesokan harinya, saya menceritakan peristiwa aneh ini kepada Pakde Mad. Beliau yang sedang sarapan hanya diam lalu (seperti biasa) tersenyum. "Nanti sampeyan akan tahu sendiri apa itu." Dan, di kemudian hari saya tahu itu adalah santet yang mengerikan. Untunglah, beliau senantiasa dilindungi Allah dari hal-hal jahat seperti itu.
Almarhum bapak saya mengomentari kakak iparnya ini sebagai "...laki-laki yang tidak punya duri di hatinya." Sedangkan saya menjuluki beliau "kitab akhlak berjalan", sebab apabila ingin belajar mengenai kesabaran, ketekunan, kedisiplinan, dan ketawadluan, beliau adalah jujukan, sebab sudah melekat dalam kesehariannya. Soal kealiman, Pakde Mad lebih banyak menyamarkannya dengan penampilannya yang bersahaja. Khumul dan menjauhi popularitas. Saya masih ingat saat beberapa kali para santri mencantumkan gelar "KH" di depan nama beliau dalam surat maupun publikasi umum, beliau dengan cermat mencoret "KH" di depan namanya. Paling banter hanya mencantumkan huruf "H" saja.
Masih banyak karakter pribadi beliau yang belum saya ulas di sini. Yang paling saya ingat, kemampuan beliau menahan diri agar tidak melakukan ghibah, apalagi namimah. Apabila ada tamu yang mulai memancing beliau agar menggunjing, biasanya langsung dipotong dengan lembut dan dialihkan ke pembicaraan lain. Kemampuan yang membutuhkan latihan berat dan kedisiplinan untuk menahan mulut dan mengikis "rasa penasaran" terhadap aib orang lain.
____
Beliau wafat pada 2 Februari 2017 silam dalam usia 75 tahun. Mohon doanya agar segala dosa beliau diampuni Allah, amal baiknya menjadi penerang alam kubur, dan pahala jariyah beliau senantiasa mengalir.
Nanti malam haul beliau di PP. Mabdaul Maarif, Desa/Kec, Jombang Kab. Jember



ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

NU vs DI/TII

 

NU vs DI/TII
----
Sepulang dari Bandung menuju Jakarta, Idham Chalid, Ketua I PBNU, menginap di Puncak. Tiba-tiba gerombolan DI/TII menembakinya dari arah perbukitan. Dia tiarap di kolong ranjang. Untungnya, segera datang bantuan tentara dari Cipanas. Kontak senjata berlangsung berjam-jam. Malam menjadi bising karena desingan peluru. Mereka lari menjelang subuh dengan menderita banyak korban jiwa dan luka-luka. Di pihak tentara juga ada yang terluka.
Pengalaman lain yang dialami Idham ketika naik kereta api menuju Jawa Timur. Dia ditembaki gerombolan DI/TII antara Gambir dan Pegangsaan. Beruntung peluru hanya mengenai ujung kopiah ajudannya, H. Djumaksum. “Sasaran tembakan pastilah saya, menteri yang mengurusi keamanan,” kata Idham dalam biografinya, Tanggungjawab Politik NU dalam Sejarah.
Dari 24 Maret 1956 hingga 9 April 1957, Idham menjabat Wakil Perdana Menteri merangkap Kepala Badan Keamanan. Salah satu perhatian utama Kabinet Ali Sastroamidjojo II itu adalah pemulihan keamanan dari DI/TII di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, dan Sulawesi Selatan.
“Tugas saya yang paling berat adalah menghadapi gerombolan yang membawa dalil-dalil agama Islam, yaitu Darul Islam Kartosuwiryo di Jawa Barat, Ibnu Hadjar di Kalimantan Selatan, Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan, dan Tengku Daud Beureueh di Aceh,” kata Idham.
Menurut Idham, DI/TII merugikan Islam. Banyak umat Islam yang menjadi korban kekejaman mereka. Mungkin di Aceh tidak terjadi perbuatan seperti di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan di mana gerombolan DI/TII membakar madrasah dan masjid yang tidak sependapat dengan mereka.
“NU yang dianggap sebagai pengkhianat Islam karena keluar dari Masjumi juga dianggap musuh utama DI/TII. Mereka menganggap NU membantu Republik Indonesia Kafir (RIK). Apalagi salah seorang ketuanya menjadi wakil perdana menteri yang memegang urusan keamanan. Beberapa orang pimpinan cabang NU di Jawa Barat dibakar rumahnya oleh DI/TII, bahkan ada yang ditembak mati. Suatu rapat NU pernah diserang mereka,” kata Idham.

Sejarawan Cornelis van Dijk mengungkapkan bahwa pada Juli 1953 DI/TII melancarkan aksi serentak. Komandan DI/TII di Ciamis Selatan, Uchjan Effendi, memerintahkan pasukannya meningkatkan aksi untuk mengacaukan musuh. Mereka melakukan tindakan apa pun untuk membuat kekacauan.
“Angkatan Kepolisian Negara Islam, misalnya, ditugaskan untuk menghukum warga yang tidak sepakat dengan Darul Islam. Uchjan juga memberikan perintah kepada masing-masing satuan Angkatan Kepolisian yang beroperasi pada tingkat kecamatan. Mereka ditugaskan untuk membunuh paling sedikit satu orang warga dan membakar paling sedikit lima bangunan yang didirikan pemerintah Republik dalam waktu dua minggu. Ancamannya, bila ada anggota yang gagal melakukan aksi ini akan dituntut secara hukum,” tulis Van Dijk dalam Darul Islam: Sebuah Pemberontakan.
Dalam menghadapi DI/TII, Idham melibatkan para kiai. Dia membentuk KPK (Kiai-Kiai Pembantu Keamanan) yang diketuai KH Muslich dari Jakarta. Anggotanya ditunjuk satu orang dari masing-masing wilayah di mana terdapat DI/TII. Khusus untuk Jawa Barat sebagai daerah yang paling luas dikuasai DI/TII, KPK menunjuk dua orang wakil yaitu KH Dimyati (Ciparai) dan Moh. Marsid.
Anggota KPK lainnya antara lain KH Baidowi Tafsir (Jakarta), KH Malik (Jawa Tengah), KH As’ad Syamsul Arifin (Jawa Timur), KH Ahmad Sanusi (Kalimantan), KH Zahri (Lampung), KH Jusuf Umar (Sumatra Selatan), KH Kahar Ma’ruf (Sumatra Tengah), Tengku Mohammad Ali Panglima Pulen (Aceh dan Sumatra Utara), dan KH Abdullah Joesoef (Sulawesi).
“Mereka dengan sungguh-sungguh melaksanakan panggilan kewajibannya sebagai seorang Islam dan warga negara untuk berbicara dengan rakyat tentang kesadaran mematuhi ajaran agama dan hidup bernegara,” kata Idham.
Mereka menghubungi para kiai di daerah masing-masing untuk menyampaikan kesadaran itu karena gangguan keamanan yang berlarut-larut merugikan negara dan rakyat. Mereka melakukan kegiatannya melalui pengajian atau kegiatan lainnya.
Panglima-panglima militer di daerah gembira dengan adanya KPK. Dalam setiap peninjauan maupun operasi militer mereka selalu mengikutsertakan KPK. Di daerah yang berhasil dikuasai, sang kiai memberikan ceramah kepada rakyat. Mereka juga memberikan penyadaran kepada anggota gerombolan DI/TII yang menyerah.
“Mereka sama sekali tidak diganjar dengan nilai penghasilan tertentu, tetapi hanya mendapat sekadar uang jalan dan uang saku,” kata Idham. “Jasa kiai-kiai pembantu keamanan tidak bisa saya lupakan.”
(historia.id)
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Tabarrukan di PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Palengaan Pamekasan Madura




Tabarrukan di PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Palengaan Pamekasan Madura, bersama Cak Iksan Sahri dan Mas Abd Basid.
Terimakasih Mas Bahauddin Amyasi
Siapa yang alumni pesantren keren ini?:-)
 

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z
Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Etika di Medsos

 

Di medsos itu,
- Tidak perlu emosional.
- Tidak perlu fanatik berlebihan.
- Tidak perlu kagetan.
- Tidak perlu terpengaruh berita yang bombastis.
Di kehidupan sekitar kita, semuanya baik-baik saja.
Santailah di medsos dan seriuslah di kehidupan nyata... 😊
Salam.
(KH. M Afifudin Dimyathi)
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

14.10.17

Inskripsi Masjid Sunan Kudus (956 H/ 1549 M) dan Pengantar Menuju Sanad Keilmuan Wali Songo


Inskripsi Masjid Sunan Kudus (956 H/ 1549 M) dan Pengantar Menuju Sanad Keilmuan Wali Songo
----
Ini adalah foto inskripsi Masjid Sunan Kudus (al-Aqsha) yang terdapat di kota Kudus, Jawa Tengah. Inskripsi tertulis di atas lempengan batu dengan menggunakan bahasa Arab dan jenis khat “tsulusi”. 

Inskripsi ini memuat informasi tentang sosok Sunan Kudus yang bernama asli Syaikh Ja’far Shadiq dan bergelar “Syaikhul Islam”, juga bergelar “al-Qâdhî”. Nama masjid yang dibangunnya tersebut bernama “Masjid al-Aqsha” dan selesai dibangun pada tanggal 28 Rajab 956 Hijri (bertepatan dengan 22 Agustus 1549 Masehi).

Inskripsi ini sekarang ditempel pada dinding masjid, tepat di atas mihram pengimaman. Dua sarjana Prancis, L. Kalus dan C. Gullot pernah melakukan penelitian terhadap inskripsi ini. Saya pun berhutang kepada hasil alih tulisan dan edisi teks yang dilakukan keduanya terhadap inskripsi tersebut.

Berikut ini adalah hasil edisi teks dan alih tulisan serta terjemahan bahasa Indonesia dari inskripsi di Masjid Sunan Kudus tersebut:

(1) بسم الله الرحمن الرحيم (.) بنا هذا المسجد الأقصى وبلد القدس خليفة هذا الدهر حبر مكمل
(2) يستجزئ غدا في جنة الخلد نزلا وقربا من الرحمن (؟) منزل (.) أنشأ هذا المسجد المبارك المسمى بالأقصى خليفة الله
(3) في الأرض الحاضر في أجلها والعرش شيخ الإسلام والمسلمين زين العلماء والمجتهدين العالم الكامل الفاضل
(4) المخصوص بعناية ربان الخالق القاضي جعفر الصادق (،) ابتغاء لوجه الله وعواد بره من يد الله واتباعا لسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم
(5) وكان التاريخ ثمانية وعشرين من شهر رجب في سنة ست وخمسين وتسع مائة من الهجرة النبوية (.) وصلى الله على سيدنا محمد وآله وأصحابه أجمعين

(1) Bismillâhirrahmânirrahîm. Telah membangun masjid al-Aqsha dan kota Kudus ini, seorang pemimpin zaman ini, yang ilmunya seumpama tinta dan telah sempurna

(2) Dengan berharap meminta ganjaran besok di surga yang kekal, sebagai pahala dan karunia dari Allah Yang Maha Rahman (?). Telah mendirikan masjid yang diberkahi ini yang dinamakan dengan Masjid al-Aqsha, seorang Khalifatullâh

(3) Di bumi pada zaman ini (?), Syaikhul Islam dan umat Muslim, hiasan sekalian ulama dan para mujtahidin, seorang yang alim, yang sempurna, yang memiliki keutamaan
(4) Yang mendapatkan pertolongan Sang Pencipta, al-Qâdhî Ja’far Shadiq. Membangun semata-mata hanya karena Allah (?) dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

(5) Adapun tanggal (pembangunannya) adalah delapan belas (18) bulan Rajab tahun Sembilan Ratus Lima Puluh Enam (956) Hijri. Semoga Allah melimpahkan do’a keselamatan kepada Nabi kita Muhammad, juga keluarganya dan semua sahabatnya.

Melihat titimangsa pembangunan masjid di atas (956 H/1549 M), dan melihat julukan Sunan Kudus yang bergelar “Syaikh al-Islam” dan “al-Qadhi”, saya jadi memiliki dugaan kuat jika sanad, genealogi intelektual, dan jaringan keilmuan Sunan Kudus bersambung kepada Syaikh Ibn Hajar al-Haitamî al-Makkî (w. 974 H/ 1566 M), ulama sentral dunia Islam pada zamannya yang juga pengarang kitab “al-Manhaj al-Qawwîm”.

Jika benar tersambung, maka Sunan Kudus juga berjejaring dengan Syaikh Zainuddîn al-Fanânî al-Malîbârî (w. 991 H/ 1582 M), yang berjejuluk “Syaikhul Islam” dan “al-Qadhi” dari negeri Malibar, pesisir India Barat (dekat Gujarat), dan juga pengarang kitab “Fath al-Mu’în”. Syaikh Zainuddîn al-Malibârî adalah murid langsung dari Syaikh Ibn Hajar al-Haitamî.

Jika jejak sejarah hubungan dan kontak keilmuan antara Syaikh Zainuddîn al-Malibârî dengan Syaikh Ibn Hajar al-Haitamî ada banyak terlacak dalam sumber-sumber sejarah tertulis, maka tidak demikian halnya dengan sejarah hubungan dan kontak keilmuan antara Sunan Kudus dengan Syaikh Ibn Hajar tadi.

Setidaknya, inskripsi yang terdapat di Masjid Sunan Kudus di atas dapat menjadi pengantar terhadap upaya pelacakan jejak sanad, genealogi intelektual, dan jaringan keilmuan Islam Nusantara masa Walisanga dengan Timur Tengah.

Bandung, Oktober 2017 M/ Muharram 1439 H
Oleh: Ustadz A. Ginanjar Sya'ban

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar ilmu selain Arab, Turki, dan Urdu.

 

2 tahun silam, atas bantuan Mas Sewu Pengalem Humeid saya bisa mendapatkan harta karun ini. Baru bisa membaca dan mengupas singkat karya Syekh Nuruddin Arraniri, "Sirath al-Mustaqim" dan "Tarjuman al-Mustafid"-nya Syekh Abdurrauf Assinkili. Sisanya belum baca, termasuk "Bahrul Madzi Syarah Sunan Attirmidzi" karya Syekh Idris al-Marbawi, dan karya lainnya.
Semua ditulis oleh para ulama Nusantara dengan menggunakan bahasa Melayu dan diterbitkan di Mesir. Hal ini membuktikan bahwa komunitas Nusantara adalah pangsa pasar terbuka di wilayah pengetahuan sejak dulu. Bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar ilmu selain Arab, Turki, dan Urdu.


ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

2.8.17

Habib Luthfi bin Ali bin Yahya tentang MEMBANGUN EKONOMI UMMAt melalui masjid

 

Habib Luthfi bin Ali bin Yahya tentang MEMBANGUN EKONOMI UMMAt melalui masjid
-----
Sebaiknya, uang yg masuk ke masjid jangan diatas-namakan wakaf atau sedekah jariyah, sebab nanti alokasinya hanya akan kembali ke masjid saja. Jika diatas-namakan wakaf atau jariyah, maka kas masjid akan menumpuk karena tidak bisa dialokasikan ke yg lain. Uang masjid diatas-namakan dana sosial saja, supaya pihak takmir lebih leluasa mengelolanya dan bisa mengalokasikan labanya kepada selain masjid.
Melalui dana sosial yg terkumpul di masjid tersebut, buatlah supermarket, toko kecil-kecilan, sampai bisa membeli lahan sawah atau kebun. Tanamilah lahan itu dgn singkong atau padi. Hasil itu semua bisa untuk kepentingan umum masyarakat, seperti membantu biaya pemakaman, membelikan sarung untuk jama'ah masjid yg tidak punya sarung, membantu modal usaha, dan lain-lain.
Jangan sampai dana masjid menumpuk karena diatas-namakan wakaf, namun kaum fakir-miskin masyarakat setempat tidak terurus. Nanti kalau ada misionaris masuk dgn membawa supermi, beras dan lain-lain, baru geger. Bukannya kita ingin memanjakan kaum fakir-miskin, tapi ingin memberdayakan mereka. Jangan beri mereka ikan, tetapi berilah kail agar mereka bisa mencari ikan sendiri.
Silahkan juga dirikan bank tanpa riba. Mungkin dgn memberi pinjaman tanpa meminta bunga lewat akad. Sifatnya murni menolong dan mengentaskan kemiskinan. Jadi bank di sini bukan bank sesungguhnya (konvensional), tetapi untuk mempermudah istilah saya saja.
NAMUN, untuk membahas urusan ekonomi jangan di masjid, tetapi di tempat lain, karena masjid bukan tempatnya membahas ekonomi. Mungkin di gedung yg dibangun di samping masjid, yg khusus untuk membahas ekonomi.
Jika saya memberi penjelasan lebih, mungkin sedikit akan menyinggung perasaan sebagian orang. Mereka yg sering umroh, mungkin dalam setahun bisa 2 atau 3 kali, coba uangnya dialokasikan saja untuk kesejahteraan umat. Taruhlah jika biaya umroh 1 kali adalah 20 juta, maka sudah berapa dana yg akan terkumpul ? Itu baru 1 orang, bagaimana jika dari banyak orang ? Kalau umroh mungkin hanya untuk mendapat nama saja, agar disebut mampu umroh berkali-kali.
Biaya yg akan digunakan umroh tersebut bisa digunakan untuk memberi pinjaman modal pada tetangganya yg kekurangan, dgn tanpa bunga dan pengembaliannya dibebaskan kapan saja. Jangan sampai bisa umroh berkali-kali namun tetangga kanan-kirinya kelaparan.
Tambahan Admin :
Agar dana masjid tidak berstatus wakaf atau amal jariyah, maka pihak takmir masjid bisa mengumumkannya kepada masyarakat saat semua berkumpul, mungkin sebelum sholat Jum'at, bahwa dana yg akan diserahkan pd masjid dimohon diatas-namakan dana sosial saja. Papan pengumuman juga ditulis pengumuman di atas. Demikian juga kotak-kotak amal jangan ditulis wakaf atau amal jariyah, namun ditulisi "dana sosial".
Dalam kesempatan lain, beliau juga mencontohkan agar ekonomi kemasjidan tersebut bisa membantu biaya pendidikan masyarakat sekitar. Coba bayangkan, jika masjid A bisa membiayai para mahasiswa sampai wisuda, dapat membiayai anak mondok sampai lulus, dan seterusnya. Sangat membanggakan kan ?
Marilah bangun kemandirian ekonomi kita melalui komunitas terdekat kita. Bisa melalui ta'mir masjid atau musholla, komunitas anak muda, komunitas Anshor atau IPNU, komunitas jama'ah ngaji dll. Kelola dgn profesional, militan dan transparan.
Malam Ahad (bil ma'na), 23 Romadlon 1438 H./ 17 Juni 2017 M.
(FB TintaSantri)


ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Bukan Kriminalisasi Ulama

 

KH. Miftahul Achyar
KH. Maimoen Zubair
KH. Ma'ruf Amin
Pak Jokowi
KH. Muhtadi
Pak Jusuf Kalla
Pak Lukman Hakim Saifuddin Zuhri



 
*semoga membawa keberkahan untuk Indonesia*








ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

fakta yang sengaja ditutup-tutupi oleh Rezim Jokowi

 

Menurut saya, ada beberapa fakta yang sengaja ditutup-tutupi oleh Rezim Jokowi. Tujuannya, agar rakyat tidak bergolak, lalu melakukan revolusi yang bisa menumbangkan kekuasaannya. Contohnya, penyanyi tengil Bastian Steel yang pedekate ke Chelsea Islan. Ini fakta. Datanya sudah ada di BIN dan CIA. Tapi sengaja ditutup-tutupi oleh pemerintah dengan menggulirkan isu beras oplosan. Rakyat dibohongi!!!!
Jadi, ini memang konspirasi menyembunyikan fakta. Rezim macam apa ini yang tega merahasiakan cinta Chelsea Islan. Rakyat butuh transparansi.
Transparansi atau revolusi!!!

#Front Pembela IslaN
#savechelseaislan
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

1.8.17

"Saya ini ikut NU-nya Mbah Hasyim....."

 
"Saya ini ikut NU-nya Mbah Hasyim....."
"Hwallah, ra sah megayaaaaa. Lha wong Mbah Hasyim itu nggak pernah memakan dan menyebar hoax kayak sampeyan kok...."
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,penerbitimtiyaz.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

29.7.17

Cover Cover Penerbit Imtiyaz

 








ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)


27.7.17

Kreativitas di Eropa dan Indonesia

 
Kreativitas di Eropa dan Indonesia
-----
Zenedine Zidane // Juventus ke Real Madrid// Rp 800 miliar
Cristiano Ronaldo// Manchester United ke Real Madrid// Rp 1,3 triliun
Gonzalo Higuain// Napoli ke Juventus// Rp 1,3 triliun
Gareth Bale // Tottenham Hotspurs ke Real Madrid// Rp 1,4 triliun
Luis Suarez// Liverpool ke Barcelona// Rp 1,4 triliun
Paul Pogba // Juventus ke Manchester United// Rp 1,5 triliun
E-KTP// rakyat Indonesia ke rekening anggota DPR RI// Rp 2,3 triliun



ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

SULTAN IDRUS QAIMUDDIN : SULTAN, SUFI & ULAMA BESAR BUTON

SULTAN IDRUS QAIMUDDIN : SULTAN, SUFI & ULAMA BESAR BUTON
Ramai dari kalangan para ulama di Nusantara yang pernah diangkat menjadi sultan. Salah seorang darinya ialah Syeikh Idrus Qaimuddin Al Buthoni.
Syeikh Idrus Qaimuddin Al Buthoni adalah Sultan Kerajaan Buton, Sulawesi yang ke-29 yang ditabalkan pada tahun 1821. Beliau juga seorang ulama besar yang banyak menghasilkan penulisan dalam bahasa Arab.
Sepanjang hidupnya, beliau dikatakan telah menulis lebih 20 buah kitab dalam bahasa Arab. Namun hanya sebahagian sahaja yang masih ada.
Antara kitabnya yang masyhur ialah Misbah Ar Rajin Fi Zikri Salatu Was Salam Alan Nabi Syafi’il Muznibin iaitu kitab tentang himpunan selawat dan kelebihan selawat atas Rasulullah SAW. Kemampuan beliau mengarang kitab dalam bahasa Arab membuktikan ketinggian ilmunya dalam bidang agama.
Antara guru-guru Sultan Idrus Qaimuddin ialah Syeikh Muhammad ibn Syais Sumbul al-Makki, Sayyid Abdullah bin Sayyid Ahmad al-Baghdadi an-Naqshabandi dan Syeikh Muhammad Zain bin Syamsuddin al-Jawi.
Sultan Idrus Qaimuddin juga seorang ulama bertarekat Khalwatiyah, Sammaniyah dan Syattariyah. Beliau telah membina sebuah tempat untuk bersuluk sekitar 1 km dari istana Buton. Di sinilah beliau menulis kitab-kitab di samping beribadat. Beliau juga dimakamkan di samping tempat suluknya ini.
Semasa memerintah Buton, beliau mengukuhkan perlaksanaan syariat Islam di Buton. Beliau juga memperkukuhkan institusi zawiyah (madrasah) yang melahirkan ulama-ulama Buton termasuk seorang puteranya iaitu Syeikh Abdul Hadi (ulama besar Buton).
Sultan Idrus Qaimuddin juga terkenal sebagai seorang sultan yang zuhud dan tawaduk. Beliau sering menulis syair bagi memperingati dirinya bahawa jawatannya itu hanyalah sementara.
Senarai antara kitab-kitab dalam bahasa Arab yang ditulis oleh Allamah Syeikh Sultan Idrus Qaimuddin Al Buthoni:-
1) Misbah Ar Rajin Fi Zikri Salatu Was Salam Alan Nabi Syafi’il Mudznibin
2) Mu’nisah Al Qulub fi Zikr wa Musyahadah
3) Dhiya’ Al Anwar fi Tasyfiah Al Aqdar
4) Kasyful Hijab fi Muraqabah Al Wahab
5) Kasyful Muntazar Lima Yarah Al Muhtadar
6) Hadis Arbain
7) Al Maulid Al-Karim Wa Ar-Rasul Al-Azim
8) Fath Ar-Rahim Fi At-Tauhid Rabb Al-Arsy Al-Azim
9) Hidayat Al-Basyir Fi Ma’rifat Al-Qadir
10) Zubdat Al-Asrar fi Tahqiqi Ba’di Nasyarib fi Al-Akhyar wa Risalah As-Syatariyyah
11) Mu’nasat Al-Qulub fi Az-Zikir Wa Musyahadat ‘Alam Al-Ghuyub
12) Sabil As-Salam Li Bulughi Al-Maram
13) Sabil As-Salam Li Bulughi Al-Maram Fi Ahadisi Sayyid Al-Anam
14) Tahsin Al-Aulad Fi Ta’at Rabb Al-Ibad
15) Tanbih Al Gafil Wa Tanzilat Al-Mahafil
16) Tanqiayat Al-Qulub Fi Ma’rifat ‘Alam Al-Guyub
17) Ibtida Sayr Al-Arifin
Oleh: Ustadz Hasanuddin Yusof (Maktab Penyelidikan
Tamadun Islam Nusantara)

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

RAIS ‘AM PBNU: PESANTREN & TUGAS KEULAMAAN

 
RAIS ‘AM PBNU: PESANTREN & TUGAS KEULAMAAN
Banyak poin penting dari pidato Rais Am PBNU, Prof. Dr.KH. Ma’ruf Amin, yang beliau sampaikan pada acara al-Haflatul Kubro (23/7/2017) di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, yang juga dihadiri oleh Hadratus Syaikh Maimun Zubair (Mustasyar PBNU), Tuan Guru Zainul Majdi (Gubernur NTB, doktor lulusan al Azhar Mesir) dan banyak Kiai lainnya, antara lain:
1. Tugas utama pesantren adalah i’dad-ul mutafaqqihina fid-din (menyiapkan generasi ulama yang memiliki kedalaman ilmu agama). Sebab, ilmu agama kelak akan diangkat oleh Allah dengan wafatnya para ulama. Ketika para ulama telah wafat dan tidak tersisa seorang pun dari mereka, maka masyarakat akan mengulama’kan orang-orang bodoh (juhhal) yang pada akhirnya akan sesat menyesatkan.
2. Tugas utama ulama adalah himayat-ud din, yaitu melindungi agama dari pengaruh-pengaruh al-‘aqaid al-fasidah (akidah sesat) dan al-afkar al-munharifah (pemikiran-pemikiran menyimpang, esktrem, dan radikal) yang membahayakan agama.
3. Pemikiran radikal yang harus diwaspadai ada dua macam, yaitu radikalisme agama dan radikalisme sekuler. Radikalisme agama adalah kelompok-kelompok yang memahami agama secara radikal. Mereka terbagi menjadi dua golongan, yaitu ithbatiyyun (ekstrem kanan) dan mutaghayyirun (ekstrem kiri). Yang pertama adalah golongan tekstualis yang rigid (kaku) dalam memahami agama sehingga mengabaikan subtansi (maqashid al-shari’ah) dari agama itu sendiri. Mereka menutup mata, sama sekali tidak mau berkompromi dengan problematika masyarakat yang terus berkembang (al-umur al-mustajaddah). Kebalikan dari yang pertama, golongan kedua (mutaghayyirun) memahami agama secara liberal, melampaui batasan-batasan yang ditentukan oleh syara’. Lantas, di mana posisi kita? Posisi kita harus ada di tengah (mutawassitun). La tekstualiyyun wa laa librariyyun, tidak tekstualis dan tidak pula liberal.
4. Tugas ulama lainnya adalah himayat-ud daulah (melindungi negara). Saat ini negara tidak hanya menghadapi ancaman dari kelompok-kelompok radikalis agama yang anti Pancasila, tapi juga kelompok-kelompok radikalis sekuler yang kehilangan semangat religiusitas (al-ruh al-diniyah) dalam bernegara. Mengutip pidato Hadratus Syaikh M. Hasyim Asy’ari, “ laqad dha’ufat al-ruh al-diniyyah fi al-‘alam al-siyasi fi al-ayyam al-akhirah”, sungguh telah melemah semangat keagamaan di dunia politik dewasa ini. Kita patut bersyukur, Indonesia memiliki UU Penodaan Agama. Sebagian kalangan menghendaki dihapusnya UU tersebut, karena rawan kriminalisasi. Seharusnya tidak demikian, karena yang kriminal bukanlah undang-undangnya, tapi orangnya. Selama kita tidak berbuat kriminal, maka tidak perlu takut dengan undang-undang tersebut. Kita juga patut bersyukur dengan disahkannya Perppu Ormasy yang berimplikasi pada dibubarkannya kelompok anti-Pancasila (HTI) yang dapat mengancam keutuhan bangsa dan negara.
5. Untuk menghidupkan kembali semangat keagamaan (al-ruh al-diniyah) dan kebangsaan, Rais Am bersama Presiden akan membentuk Majlis Dzikir Hubbul Wathon yang secara rutin akan digelar di Istana Negara.
6. Tugas ulama yang berikutnya adalah islah al-ummah (melakukan perbaikan umat). Sebagai rijal al-islah (aktor-aktor perbaikan), ulama seyogyanya tidak hanya berpedoman pada kaidah al-muhafadhah ala al-qadim al-salih wa al-akhdzu bi al-jadid al-aslah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengadopsi tradisi baru yang lebih baik), tapi juga islahu ma huwa al-aslah fa al-aslah tsumma al-aslah (memperbaiki apa yang sudah baik agar menjadi lebih baik, lalu menjadi lebih baik lagi, dan seterusnya).
------
Semoga kita, orang-orang pesantren, mampu mengemban amanah sebagaimana ditegaskan oleh beliau, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, di atas.
Wallahu ‘alam
Disarikan oleh *Miftakhul Arif, kandidat Doktor UIN Sunan Ampel, Pengajar MA Unggulan K.H. Abd. Wahab Hasbulloh & Pesantren Putri Al Lathifiyyah 2 Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Para sultan di Nusantara mayoritas berbaiat tarekat...

 
Para sultan di Nusantara mayoritas berbaiat tarekat...
Kesultanan Aceh banyak dipengaruhi Syattariah (via Syaikh Abdurrauf Singkel), Banten era Sultan Ageng Khalwatiyah (dipengaruhi Syekh Yusuf Maqassari), di Kesultanan Pontianak dan Palembang dipengaruhi Alawiyah (sadat Alawiyyin banyak menduduki pos vital pemerintahan), Kesultanan Buton dan Kesultanan Gowa dominan Khalwatiyah.
Adapun Tarekat Sammaniyah hadir di elit kesultanan Banjar. Pangeran Antasari bahkan mengabadikan nama pendiri tarekat ini pada nama puteranya, Muhammad Saman, yang kemudian menjadi Sultan Banjar hingga pada tahun 1905.


-------------------------------------
Dalam email tertanggal 15 Agustus 2015, Oman Fathurrahman, filolog UIN Syarif Hidayatullah, menjelaskan kepada Peter Carey, bahwa Ratu Ageng, nenek buyut Pangeran Diponegoro, adalah penganut Tarekat Syattariyah.
Menurut Oman, berdasarkan penelitian atas naskah Jav. 69 [Silsilah Syattariyah] dari koleksi Colin Mackenzie di British Library, London, Ratu Ageng--yang disebut 'Kangjeng Ratu Kadipaten' dalam naskah-- disebutkan dalam empat bait sebagai penganut setia yang memiliki pertalian langsung dengan para mursyid utama Tarekat Syattariyah di Jawa Barat, Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan (1640-1715) melalui empat silsilah ulama.
Anggota kesultanan lain yang disebut sebagai penganut Syattariyah adalah Permaisuri Hamengkubuwono II (bertakhta 1792-1810/1811-1812/1826-8), Ratu Mas, dan ayahnya Pangeran Pakuningrat, menak keturunan Mataram yang menikah dengan anak Pakubuwono II (bertakhta 1726-1749) dan Ratu Alit dari Kertasura. Pakuningrat dibaiat dalam Syattariyah oleh Kiai Abdullah (Kiai Muhammad Kastuba) dari Pesantren Alang-Alang Ombo di Bagelen. Selain itu bangsawan lain yang menjadi pejalan Syattariyah adalah Raden Ayu Kilen, selir Hamengkubuwono II.
Lalu, siapa Ratu Ageng yang menjadi titik bahasan di awal status ini? Dia adalah nenek buyut Pangeran Diponegoro. Perempuan perkasa itu adalah istri Hamengkubuwono I. Dia ikut mendampingi suaminya manakala bergerilya dalam Perang Giyanti. Ratu Ageng jauh dari kesan perempuan Jawa yang gemulai. Sebab, selain terkenal memiliki kecintaan terhadap ilmu pengetahuan karena merupakan cucu Ki Ageng Sulaiman Bekel Jamus, dia juga punya bakat militer kuat warisan genetika Sultan Abdul Qahir, Bima. Di bawah komando Ratu Ageng, korps Prajurit Estri yang terdiri dari para pendekar perempuan, mengalami kemajuan.
Kelak, beberapa tahun menjelang Perang Jawa, korps Prajurit Estri peninggalannya ini membuat utusan negara Eropa melongo dan terkagum-kagum saat menyaksikan keterampilan para pendekar cewek mengendarai kuda, melepaskan tembakan salvo, dan ketepatan membidik.
Jika banyak orang melihat bahwa tradisi santri Pangeran Diponegoro dipengaruhi oleh koneksi para ulama pathok nagari maupun para tentara haji di korps Suranatan, saya justru melihat titik terang berada di tangan buyut puterinya, Ratu Ageng itu, yang mengasuh Raden Mas Mustahar, nama kecil sang pangeran sejak usia tujuh tahun.
Di bawah kepengasuhan nenek buyutnya ini, sejak muda sang pangeran telah dibiasakan dengan tradisi santri. Dia dijauhkan dari keraton yang sudah terkena polusi kehidupan tidak agamis dan mulai dirambah konflik internal. Raden Mas Mustahar dijauhkan dari suasana yang tidak kondusif bagi perkembangan jiwanya lalu diperkenalkan dengan ritus-ritus kehidupan kaum santri.
Melalui bimbingan Ratu Ageng, sang pangeran di usia mudanya menjelajahi pesantren demi pesantren dengan menggunakan baju sederhana dan menjalani laku tirakat yang kuat. Ia sowan ke berbagai ulama, kemudian juga menziarahi makam leluhurnya. Kelak, ziarah akademis dan spiritual ini justru memperkaya koneksinya saat Perang Jawa tiba.
Di bawah asuhan Ratu Ageng, Diponegoro banyak melalap kitab-kitab fiqh melalui para ulama yang sering diundang berdiskusi (bahtsul masail) di balairung kediamannya di Tegalrejo. Melalui tradisi keilmuan yang dicanangkan oleh buyut putrinya tersebut, Diponegoro mempelajari Muharrar-nya Imam ar-Rafi’i dan Lubab al-Fiqh-nya Al-Mahamili. Namun favoritnya tetap Taqrib-nya Abu Syuja al-Isfahani dan Fath al-Wahhab-nya Imam Zakariya al-Anshari. Taqrib menjadi pegangan Diponegoro saat berperang dan hingga kini disimpan di rumah penangkapan Diponegoro di Magelang (selain al-Qur’an dan serban), sedangkan Fath al-Wahhab menjadi kitab yang rutin dikaji oleh Kiai Mojo di hadapan para ulama saat bergerilya.
Di tangan Ratu Ageng, yang mahir membaca naskah berbahasa Jawa dan beraksara Pegon, Diponegoro diseret ke dalam keasyikan dunia pengetahuan fiqh sekaligus tasawuf. Buyut puterinya membuatkan sebuah balairung luas di samping tempat tinggalnya khusus bagi para ulama untuk berdiskusi beragam tema, dari fiqh hingga tatanegara. Buyut putrinya pula yang memperkenalkan Diponegoro dengan tradisi akademis Tarekat Syattariyah melalui kitab Tuhfat al-Mursalah ila Ruh an-Nabi karya Syaikh Muhammad bin Fadhlullah a-Burhanpuri. Kitab ini menjelaskan falsafah sufisme tentang ajaran “martabat tujuh” yang klop dengan pemikiran manusia Jawa manakala merenungkan Allah, dunia dan kedudukan manusia. Sebagai penganut Tarekat Syattariah (dan Naqsyabandiyah), sangat masuk akal apabila Diponegoro tidak tertarik pola beragama ala Wahhabisme yang mulai merambah wilayah Sumatera Barat.
Pada saat Ratu Ageng yang salehah itu mangkat pada 17 Oktober 1803, Raden Mas Mustahar alias Ontowiryo alias Diponegoro, kehilangan pembimbing utama yang mendampinginya melewati masa remaja hingga menjelang dewasa. Namun, di tahun-tahun setelahnya, sang pangeran lebih intens berdekatan dengan rakyat dan mulai membina koneksi berharga yang akan dia gunakan pada saat memulai berjuang, 1825.
WAllahu A’lam bisshawab
----
Referensi:
1. Ensiklopedi 22 Aliran Tarekat karya KH. A. Aziz Masyhuri.
2. Kuasa Ramalan: Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa karya Peter Carey.
3. Perempuan-Perempuan Perkasa Di Jawa abad XVIII-XIX karya Peter Carey dan Vincent Houben.

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

"Agresi Militer Belanda I dan Upaya Penghancuran Basis Kaum Santri"

 
Juli 1947-Juli 2017
"Agresi Militer Belanda I dan Upaya Penghancuran Basis Kaum Santri"
Oleh: Rijal Mumazziq Z
70 tahun silam, berdasarkan hitungan masehi, 25 Juli 1947 (7 Ramadan 1366 H), KH. M. Hasyim Asy'ari wafat. Penyebabnya, antara lain, serangan jantung yang bermula dari rasa shock bercampur sedih mendengar kabar jatuhnya Kota Malang ke tangan Belanda. Di film Sang Kiai (2013), detik-detik wafatnya Kiai Hasyim digambarkan dengan detail.
Kota Malang, yang merupakan benteng terakhir sekaligus basis terkuat milisi Hizbullah dan Sabilillah, pada akhirnya jatuh di hari kelima Agresi Militer Belanda I. Milisi santri mempertahankan kota ini mati-matian. Banyak syuhada gugur dalam pertempuran di berbagai titik kota ini. Sehingga, di kemudian hari, didirikan Masjid Sabilillah untuk mengenang jasa milisi yang beranggotakan para kiai ini.
Pakde saya, Pak Matrai (ayahnya Mbak Trisnaning dan Mbak Dian Qies Dian) saat itu anggota Hizbullah, ikut bertempur di front Malang ini, pada akhirnya mundur ke selatan, kemudian bergerilya di selatan timur, lalu memutar melalui Lumajang hingga tiba di Jember. (Beliau peenah cerita kalau kawan-kawannya banyak yang gugur diberondong pesawat sesaat setelah merebut satu pos milik Belanda).
Dengan melancarkan aksi militer bersandi "Operatie Product" ini, Belanda dengan seenaknya melanggar Perjanjian Linggarjati. Aksi ini melibatkan beberapa kesatuan militer elit yang brutal seperti Korps Speciale Troepen (KST)--Kopassusnya Belanda-- yang ditugaskan menggasak wilayah Sumatera Timur, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tujuan taktis, menguasai kantong-kantong sumberdaya alam seperti perkebunan, industri strategis seperti pabrik gula, dan area logistik yang melimpah.
Secara strategis, operasi militer ini sengaja dijalankan pada bulan Ramadan 1366 H, saat umat Islam beribadah. Lebih fokus lagi, yang ingin dihancurkan oleh Belanda bukan pemerintahan RI (sebagaimana yang terjadi dalam Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta, Desember 1948), melainkan basis kekuatan milisi-milisi lokal. Khususnya Hizbullah dan Sabilillah, sebab Jawa Timur adalah basis utama dua kekuatan ini.
Tengara lain, sungguhpun secara resmi operasi miter ini dijalankan sejak 21 Juli hingga 5 Agustus 1947, namun pergerakan pasukan Belanda semakin kurangajar setelah tanggal operasi berakhir, bahkan hingga awal tahun 1948.
Apabila dilihat di peta pergerakan pasukan Belanda, mereka sengaja bergerak di pedesaan, di basis rural kaum santri. Dan, faktanya banyak pondok pesantren yang dibakar pada agresi militer ini dan para kiai juga banyak yang gugur pada detik-detik ini. Misalnya, KH. Abdullah Sajjad Assyarqawy, pengasuh PP. Annuqayah Guluk-Guluk, yang gugur bersama pasukannya pada 3 Desember 1947 (20 Muharram 1367 H). Di Situbondo, pasukan Belanda menyerbu PP. Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, asuhan KH. Syamsul Arifin. Putranya yang kemudian menjadi pahlawan nasional, KH. Asad Syamsul Arifin, memilih bergerilya di kawasan Tapal Kuda.
Di Jember, ada beberapa pesantren yang "diperiksa" Belanda. Yang paling dekat dengan rumah saya, PP. Mabda-ul Maarif menjadi target kedua setelah PP. Assunniyyah Kencong menjadi target sebelumnya. Menyisir ke arah barat, Lumajang, Belanda kemudian disergap oleh sepasukan TNI yang dipimpin seorang ulama, Kapten Kiai Ilyas. Nama terakhir gugur dan namanya diabadikan sebagai nama salah satu jalan di kota Lumajang.
Pengasuh Ponpes Sidogiri, KH. Abdul Djalil, juga menjadi syahid setelah diberondong sepasukan Belanda saat menunaikan shalat subuh. Di fase 1947-1948, silahkan dicek, banyak pesantren yang menjadi korban kebiadaban Belanda (lebih kurang ajar lagi, PKI dan FDR menusuk dari belakang pada September 1948). Nestapa akibat Agresi Militer I dan II dipotret dari perspektif santri oleh KH. Saifuddin Zuhri dalam dua memoarnya, "Guruku Orang-Orang Pesantren" (LKiS: 2001) dan "Berangkat dari Pesantren" (LKiS: 2012). Di buku ini akan kita jumpai bagaimana para ulama, antara lain KH. A. Wahid Hasyim, membina jaringan teliksandi di Jawa Timur hingga pedalaman Jawa Tengah; KH. Masjkur dan jaringan Kementerian Agama yang tetap menjalankan amanah Presiden Sukarno untuk melayani masyarakat di tengah keterbatasan infrastuktur; hingga anekdot-anekdot ala santri di tengah kecamuk perang.
Agresi Militer I ini kemudian dilanjutkan Belanda dengan menggelar "Operasi Gagak" pada 18 Desember 1948 yang fokus pada penguasaan ibukota RI di Yogyakarta sekaligus menangkap para pemimpin RI. Sebuah upaya menghabisi republik yang masih terengah-engah akibat ulah PKI-FDR di Madiun, September 1948. Setahun kemudian, keruwetan bertambah lagi saat 7 Agustus 1949, SM Kartosuwiryo mendeklarasikan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia.
Wallahu A'lam bisshawab
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Advertisement

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan