14.10.17

Inskripsi Masjid Sunan Kudus (956 H/ 1549 M) dan Pengantar Menuju Sanad Keilmuan Wali Songo


Inskripsi Masjid Sunan Kudus (956 H/ 1549 M) dan Pengantar Menuju Sanad Keilmuan Wali Songo
----
Ini adalah foto inskripsi Masjid Sunan Kudus (al-Aqsha) yang terdapat di kota Kudus, Jawa Tengah. Inskripsi tertulis di atas lempengan batu dengan menggunakan bahasa Arab dan jenis khat “tsulusi”. 

Inskripsi ini memuat informasi tentang sosok Sunan Kudus yang bernama asli Syaikh Ja’far Shadiq dan bergelar “Syaikhul Islam”, juga bergelar “al-Qâdhî”. Nama masjid yang dibangunnya tersebut bernama “Masjid al-Aqsha” dan selesai dibangun pada tanggal 28 Rajab 956 Hijri (bertepatan dengan 22 Agustus 1549 Masehi).

Inskripsi ini sekarang ditempel pada dinding masjid, tepat di atas mihram pengimaman. Dua sarjana Prancis, L. Kalus dan C. Gullot pernah melakukan penelitian terhadap inskripsi ini. Saya pun berhutang kepada hasil alih tulisan dan edisi teks yang dilakukan keduanya terhadap inskripsi tersebut.

Berikut ini adalah hasil edisi teks dan alih tulisan serta terjemahan bahasa Indonesia dari inskripsi di Masjid Sunan Kudus tersebut:

(1) بسم الله الرحمن الرحيم (.) بنا هذا المسجد الأقصى وبلد القدس خليفة هذا الدهر حبر مكمل
(2) يستجزئ غدا في جنة الخلد نزلا وقربا من الرحمن (؟) منزل (.) أنشأ هذا المسجد المبارك المسمى بالأقصى خليفة الله
(3) في الأرض الحاضر في أجلها والعرش شيخ الإسلام والمسلمين زين العلماء والمجتهدين العالم الكامل الفاضل
(4) المخصوص بعناية ربان الخالق القاضي جعفر الصادق (،) ابتغاء لوجه الله وعواد بره من يد الله واتباعا لسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم
(5) وكان التاريخ ثمانية وعشرين من شهر رجب في سنة ست وخمسين وتسع مائة من الهجرة النبوية (.) وصلى الله على سيدنا محمد وآله وأصحابه أجمعين

(1) Bismillâhirrahmânirrahîm. Telah membangun masjid al-Aqsha dan kota Kudus ini, seorang pemimpin zaman ini, yang ilmunya seumpama tinta dan telah sempurna

(2) Dengan berharap meminta ganjaran besok di surga yang kekal, sebagai pahala dan karunia dari Allah Yang Maha Rahman (?). Telah mendirikan masjid yang diberkahi ini yang dinamakan dengan Masjid al-Aqsha, seorang Khalifatullâh

(3) Di bumi pada zaman ini (?), Syaikhul Islam dan umat Muslim, hiasan sekalian ulama dan para mujtahidin, seorang yang alim, yang sempurna, yang memiliki keutamaan
(4) Yang mendapatkan pertolongan Sang Pencipta, al-Qâdhî Ja’far Shadiq. Membangun semata-mata hanya karena Allah (?) dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

(5) Adapun tanggal (pembangunannya) adalah delapan belas (18) bulan Rajab tahun Sembilan Ratus Lima Puluh Enam (956) Hijri. Semoga Allah melimpahkan do’a keselamatan kepada Nabi kita Muhammad, juga keluarganya dan semua sahabatnya.

Melihat titimangsa pembangunan masjid di atas (956 H/1549 M), dan melihat julukan Sunan Kudus yang bergelar “Syaikh al-Islam” dan “al-Qadhi”, saya jadi memiliki dugaan kuat jika sanad, genealogi intelektual, dan jaringan keilmuan Sunan Kudus bersambung kepada Syaikh Ibn Hajar al-Haitamî al-Makkî (w. 974 H/ 1566 M), ulama sentral dunia Islam pada zamannya yang juga pengarang kitab “al-Manhaj al-Qawwîm”.

Jika benar tersambung, maka Sunan Kudus juga berjejaring dengan Syaikh Zainuddîn al-Fanânî al-Malîbârî (w. 991 H/ 1582 M), yang berjejuluk “Syaikhul Islam” dan “al-Qadhi” dari negeri Malibar, pesisir India Barat (dekat Gujarat), dan juga pengarang kitab “Fath al-Mu’în”. Syaikh Zainuddîn al-Malibârî adalah murid langsung dari Syaikh Ibn Hajar al-Haitamî.

Jika jejak sejarah hubungan dan kontak keilmuan antara Syaikh Zainuddîn al-Malibârî dengan Syaikh Ibn Hajar al-Haitamî ada banyak terlacak dalam sumber-sumber sejarah tertulis, maka tidak demikian halnya dengan sejarah hubungan dan kontak keilmuan antara Sunan Kudus dengan Syaikh Ibn Hajar tadi.

Setidaknya, inskripsi yang terdapat di Masjid Sunan Kudus di atas dapat menjadi pengantar terhadap upaya pelacakan jejak sanad, genealogi intelektual, dan jaringan keilmuan Islam Nusantara masa Walisanga dengan Timur Tengah.

Bandung, Oktober 2017 M/ Muharram 1439 H
Oleh: Ustadz A. Ginanjar Sya'ban

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar ilmu selain Arab, Turki, dan Urdu.

 

2 tahun silam, atas bantuan Mas Sewu Pengalem Humeid saya bisa mendapatkan harta karun ini. Baru bisa membaca dan mengupas singkat karya Syekh Nuruddin Arraniri, "Sirath al-Mustaqim" dan "Tarjuman al-Mustafid"-nya Syekh Abdurrauf Assinkili. Sisanya belum baca, termasuk "Bahrul Madzi Syarah Sunan Attirmidzi" karya Syekh Idris al-Marbawi, dan karya lainnya.
Semua ditulis oleh para ulama Nusantara dengan menggunakan bahasa Melayu dan diterbitkan di Mesir. Hal ini membuktikan bahwa komunitas Nusantara adalah pangsa pasar terbuka di wilayah pengetahuan sejak dulu. Bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar ilmu selain Arab, Turki, dan Urdu.


ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

2.8.17

Habib Luthfi bin Ali bin Yahya tentang MEMBANGUN EKONOMI UMMAt melalui masjid

 

Habib Luthfi bin Ali bin Yahya tentang MEMBANGUN EKONOMI UMMAt melalui masjid
-----
Sebaiknya, uang yg masuk ke masjid jangan diatas-namakan wakaf atau sedekah jariyah, sebab nanti alokasinya hanya akan kembali ke masjid saja. Jika diatas-namakan wakaf atau jariyah, maka kas masjid akan menumpuk karena tidak bisa dialokasikan ke yg lain. Uang masjid diatas-namakan dana sosial saja, supaya pihak takmir lebih leluasa mengelolanya dan bisa mengalokasikan labanya kepada selain masjid.
Melalui dana sosial yg terkumpul di masjid tersebut, buatlah supermarket, toko kecil-kecilan, sampai bisa membeli lahan sawah atau kebun. Tanamilah lahan itu dgn singkong atau padi. Hasil itu semua bisa untuk kepentingan umum masyarakat, seperti membantu biaya pemakaman, membelikan sarung untuk jama'ah masjid yg tidak punya sarung, membantu modal usaha, dan lain-lain.
Jangan sampai dana masjid menumpuk karena diatas-namakan wakaf, namun kaum fakir-miskin masyarakat setempat tidak terurus. Nanti kalau ada misionaris masuk dgn membawa supermi, beras dan lain-lain, baru geger. Bukannya kita ingin memanjakan kaum fakir-miskin, tapi ingin memberdayakan mereka. Jangan beri mereka ikan, tetapi berilah kail agar mereka bisa mencari ikan sendiri.
Silahkan juga dirikan bank tanpa riba. Mungkin dgn memberi pinjaman tanpa meminta bunga lewat akad. Sifatnya murni menolong dan mengentaskan kemiskinan. Jadi bank di sini bukan bank sesungguhnya (konvensional), tetapi untuk mempermudah istilah saya saja.
NAMUN, untuk membahas urusan ekonomi jangan di masjid, tetapi di tempat lain, karena masjid bukan tempatnya membahas ekonomi. Mungkin di gedung yg dibangun di samping masjid, yg khusus untuk membahas ekonomi.
Jika saya memberi penjelasan lebih, mungkin sedikit akan menyinggung perasaan sebagian orang. Mereka yg sering umroh, mungkin dalam setahun bisa 2 atau 3 kali, coba uangnya dialokasikan saja untuk kesejahteraan umat. Taruhlah jika biaya umroh 1 kali adalah 20 juta, maka sudah berapa dana yg akan terkumpul ? Itu baru 1 orang, bagaimana jika dari banyak orang ? Kalau umroh mungkin hanya untuk mendapat nama saja, agar disebut mampu umroh berkali-kali.
Biaya yg akan digunakan umroh tersebut bisa digunakan untuk memberi pinjaman modal pada tetangganya yg kekurangan, dgn tanpa bunga dan pengembaliannya dibebaskan kapan saja. Jangan sampai bisa umroh berkali-kali namun tetangga kanan-kirinya kelaparan.
Tambahan Admin :
Agar dana masjid tidak berstatus wakaf atau amal jariyah, maka pihak takmir masjid bisa mengumumkannya kepada masyarakat saat semua berkumpul, mungkin sebelum sholat Jum'at, bahwa dana yg akan diserahkan pd masjid dimohon diatas-namakan dana sosial saja. Papan pengumuman juga ditulis pengumuman di atas. Demikian juga kotak-kotak amal jangan ditulis wakaf atau amal jariyah, namun ditulisi "dana sosial".
Dalam kesempatan lain, beliau juga mencontohkan agar ekonomi kemasjidan tersebut bisa membantu biaya pendidikan masyarakat sekitar. Coba bayangkan, jika masjid A bisa membiayai para mahasiswa sampai wisuda, dapat membiayai anak mondok sampai lulus, dan seterusnya. Sangat membanggakan kan ?
Marilah bangun kemandirian ekonomi kita melalui komunitas terdekat kita. Bisa melalui ta'mir masjid atau musholla, komunitas anak muda, komunitas Anshor atau IPNU, komunitas jama'ah ngaji dll. Kelola dgn profesional, militan dan transparan.
Malam Ahad (bil ma'na), 23 Romadlon 1438 H./ 17 Juni 2017 M.
(FB TintaSantri)


ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Bukan Kriminalisasi Ulama

 

KH. Miftahul Achyar
KH. Maimoen Zubair
KH. Ma'ruf Amin
Pak Jokowi
KH. Muhtadi
Pak Jusuf Kalla
Pak Lukman Hakim Saifuddin Zuhri



 
*semoga membawa keberkahan untuk Indonesia*








ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

fakta yang sengaja ditutup-tutupi oleh Rezim Jokowi

 

Menurut saya, ada beberapa fakta yang sengaja ditutup-tutupi oleh Rezim Jokowi. Tujuannya, agar rakyat tidak bergolak, lalu melakukan revolusi yang bisa menumbangkan kekuasaannya. Contohnya, penyanyi tengil Bastian Steel yang pedekate ke Chelsea Islan. Ini fakta. Datanya sudah ada di BIN dan CIA. Tapi sengaja ditutup-tutupi oleh pemerintah dengan menggulirkan isu beras oplosan. Rakyat dibohongi!!!!
Jadi, ini memang konspirasi menyembunyikan fakta. Rezim macam apa ini yang tega merahasiakan cinta Chelsea Islan. Rakyat butuh transparansi.
Transparansi atau revolusi!!!

#Front Pembela IslaN
#savechelseaislan
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

1.8.17

"Saya ini ikut NU-nya Mbah Hasyim....."

 
"Saya ini ikut NU-nya Mbah Hasyim....."
"Hwallah, ra sah megayaaaaa. Lha wong Mbah Hasyim itu nggak pernah memakan dan menyebar hoax kayak sampeyan kok...."
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,penerbitimtiyaz.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

29.7.17

Cover Cover Penerbit Imtiyaz

 








ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)


27.7.17

Kreativitas di Eropa dan Indonesia

 
Kreativitas di Eropa dan Indonesia
-----
Zenedine Zidane // Juventus ke Real Madrid// Rp 800 miliar
Cristiano Ronaldo// Manchester United ke Real Madrid// Rp 1,3 triliun
Gonzalo Higuain// Napoli ke Juventus// Rp 1,3 triliun
Gareth Bale // Tottenham Hotspurs ke Real Madrid// Rp 1,4 triliun
Luis Suarez// Liverpool ke Barcelona// Rp 1,4 triliun
Paul Pogba // Juventus ke Manchester United// Rp 1,5 triliun
E-KTP// rakyat Indonesia ke rekening anggota DPR RI// Rp 2,3 triliun



ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

SULTAN IDRUS QAIMUDDIN : SULTAN, SUFI & ULAMA BESAR BUTON

SULTAN IDRUS QAIMUDDIN : SULTAN, SUFI & ULAMA BESAR BUTON
Ramai dari kalangan para ulama di Nusantara yang pernah diangkat menjadi sultan. Salah seorang darinya ialah Syeikh Idrus Qaimuddin Al Buthoni.
Syeikh Idrus Qaimuddin Al Buthoni adalah Sultan Kerajaan Buton, Sulawesi yang ke-29 yang ditabalkan pada tahun 1821. Beliau juga seorang ulama besar yang banyak menghasilkan penulisan dalam bahasa Arab.
Sepanjang hidupnya, beliau dikatakan telah menulis lebih 20 buah kitab dalam bahasa Arab. Namun hanya sebahagian sahaja yang masih ada.
Antara kitabnya yang masyhur ialah Misbah Ar Rajin Fi Zikri Salatu Was Salam Alan Nabi Syafi’il Muznibin iaitu kitab tentang himpunan selawat dan kelebihan selawat atas Rasulullah SAW. Kemampuan beliau mengarang kitab dalam bahasa Arab membuktikan ketinggian ilmunya dalam bidang agama.
Antara guru-guru Sultan Idrus Qaimuddin ialah Syeikh Muhammad ibn Syais Sumbul al-Makki, Sayyid Abdullah bin Sayyid Ahmad al-Baghdadi an-Naqshabandi dan Syeikh Muhammad Zain bin Syamsuddin al-Jawi.
Sultan Idrus Qaimuddin juga seorang ulama bertarekat Khalwatiyah, Sammaniyah dan Syattariyah. Beliau telah membina sebuah tempat untuk bersuluk sekitar 1 km dari istana Buton. Di sinilah beliau menulis kitab-kitab di samping beribadat. Beliau juga dimakamkan di samping tempat suluknya ini.
Semasa memerintah Buton, beliau mengukuhkan perlaksanaan syariat Islam di Buton. Beliau juga memperkukuhkan institusi zawiyah (madrasah) yang melahirkan ulama-ulama Buton termasuk seorang puteranya iaitu Syeikh Abdul Hadi (ulama besar Buton).
Sultan Idrus Qaimuddin juga terkenal sebagai seorang sultan yang zuhud dan tawaduk. Beliau sering menulis syair bagi memperingati dirinya bahawa jawatannya itu hanyalah sementara.
Senarai antara kitab-kitab dalam bahasa Arab yang ditulis oleh Allamah Syeikh Sultan Idrus Qaimuddin Al Buthoni:-
1) Misbah Ar Rajin Fi Zikri Salatu Was Salam Alan Nabi Syafi’il Mudznibin
2) Mu’nisah Al Qulub fi Zikr wa Musyahadah
3) Dhiya’ Al Anwar fi Tasyfiah Al Aqdar
4) Kasyful Hijab fi Muraqabah Al Wahab
5) Kasyful Muntazar Lima Yarah Al Muhtadar
6) Hadis Arbain
7) Al Maulid Al-Karim Wa Ar-Rasul Al-Azim
8) Fath Ar-Rahim Fi At-Tauhid Rabb Al-Arsy Al-Azim
9) Hidayat Al-Basyir Fi Ma’rifat Al-Qadir
10) Zubdat Al-Asrar fi Tahqiqi Ba’di Nasyarib fi Al-Akhyar wa Risalah As-Syatariyyah
11) Mu’nasat Al-Qulub fi Az-Zikir Wa Musyahadat ‘Alam Al-Ghuyub
12) Sabil As-Salam Li Bulughi Al-Maram
13) Sabil As-Salam Li Bulughi Al-Maram Fi Ahadisi Sayyid Al-Anam
14) Tahsin Al-Aulad Fi Ta’at Rabb Al-Ibad
15) Tanbih Al Gafil Wa Tanzilat Al-Mahafil
16) Tanqiayat Al-Qulub Fi Ma’rifat ‘Alam Al-Guyub
17) Ibtida Sayr Al-Arifin
Oleh: Ustadz Hasanuddin Yusof (Maktab Penyelidikan
Tamadun Islam Nusantara)

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

RAIS ‘AM PBNU: PESANTREN & TUGAS KEULAMAAN

 
RAIS ‘AM PBNU: PESANTREN & TUGAS KEULAMAAN
Banyak poin penting dari pidato Rais Am PBNU, Prof. Dr.KH. Ma’ruf Amin, yang beliau sampaikan pada acara al-Haflatul Kubro (23/7/2017) di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, yang juga dihadiri oleh Hadratus Syaikh Maimun Zubair (Mustasyar PBNU), Tuan Guru Zainul Majdi (Gubernur NTB, doktor lulusan al Azhar Mesir) dan banyak Kiai lainnya, antara lain:
1. Tugas utama pesantren adalah i’dad-ul mutafaqqihina fid-din (menyiapkan generasi ulama yang memiliki kedalaman ilmu agama). Sebab, ilmu agama kelak akan diangkat oleh Allah dengan wafatnya para ulama. Ketika para ulama telah wafat dan tidak tersisa seorang pun dari mereka, maka masyarakat akan mengulama’kan orang-orang bodoh (juhhal) yang pada akhirnya akan sesat menyesatkan.
2. Tugas utama ulama adalah himayat-ud din, yaitu melindungi agama dari pengaruh-pengaruh al-‘aqaid al-fasidah (akidah sesat) dan al-afkar al-munharifah (pemikiran-pemikiran menyimpang, esktrem, dan radikal) yang membahayakan agama.
3. Pemikiran radikal yang harus diwaspadai ada dua macam, yaitu radikalisme agama dan radikalisme sekuler. Radikalisme agama adalah kelompok-kelompok yang memahami agama secara radikal. Mereka terbagi menjadi dua golongan, yaitu ithbatiyyun (ekstrem kanan) dan mutaghayyirun (ekstrem kiri). Yang pertama adalah golongan tekstualis yang rigid (kaku) dalam memahami agama sehingga mengabaikan subtansi (maqashid al-shari’ah) dari agama itu sendiri. Mereka menutup mata, sama sekali tidak mau berkompromi dengan problematika masyarakat yang terus berkembang (al-umur al-mustajaddah). Kebalikan dari yang pertama, golongan kedua (mutaghayyirun) memahami agama secara liberal, melampaui batasan-batasan yang ditentukan oleh syara’. Lantas, di mana posisi kita? Posisi kita harus ada di tengah (mutawassitun). La tekstualiyyun wa laa librariyyun, tidak tekstualis dan tidak pula liberal.
4. Tugas ulama lainnya adalah himayat-ud daulah (melindungi negara). Saat ini negara tidak hanya menghadapi ancaman dari kelompok-kelompok radikalis agama yang anti Pancasila, tapi juga kelompok-kelompok radikalis sekuler yang kehilangan semangat religiusitas (al-ruh al-diniyah) dalam bernegara. Mengutip pidato Hadratus Syaikh M. Hasyim Asy’ari, “ laqad dha’ufat al-ruh al-diniyyah fi al-‘alam al-siyasi fi al-ayyam al-akhirah”, sungguh telah melemah semangat keagamaan di dunia politik dewasa ini. Kita patut bersyukur, Indonesia memiliki UU Penodaan Agama. Sebagian kalangan menghendaki dihapusnya UU tersebut, karena rawan kriminalisasi. Seharusnya tidak demikian, karena yang kriminal bukanlah undang-undangnya, tapi orangnya. Selama kita tidak berbuat kriminal, maka tidak perlu takut dengan undang-undang tersebut. Kita juga patut bersyukur dengan disahkannya Perppu Ormasy yang berimplikasi pada dibubarkannya kelompok anti-Pancasila (HTI) yang dapat mengancam keutuhan bangsa dan negara.
5. Untuk menghidupkan kembali semangat keagamaan (al-ruh al-diniyah) dan kebangsaan, Rais Am bersama Presiden akan membentuk Majlis Dzikir Hubbul Wathon yang secara rutin akan digelar di Istana Negara.
6. Tugas ulama yang berikutnya adalah islah al-ummah (melakukan perbaikan umat). Sebagai rijal al-islah (aktor-aktor perbaikan), ulama seyogyanya tidak hanya berpedoman pada kaidah al-muhafadhah ala al-qadim al-salih wa al-akhdzu bi al-jadid al-aslah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengadopsi tradisi baru yang lebih baik), tapi juga islahu ma huwa al-aslah fa al-aslah tsumma al-aslah (memperbaiki apa yang sudah baik agar menjadi lebih baik, lalu menjadi lebih baik lagi, dan seterusnya).
------
Semoga kita, orang-orang pesantren, mampu mengemban amanah sebagaimana ditegaskan oleh beliau, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, di atas.
Wallahu ‘alam
Disarikan oleh *Miftakhul Arif, kandidat Doktor UIN Sunan Ampel, Pengajar MA Unggulan K.H. Abd. Wahab Hasbulloh & Pesantren Putri Al Lathifiyyah 2 Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Para sultan di Nusantara mayoritas berbaiat tarekat...

 
Para sultan di Nusantara mayoritas berbaiat tarekat...
Kesultanan Aceh banyak dipengaruhi Syattariah (via Syaikh Abdurrauf Singkel), Banten era Sultan Ageng Khalwatiyah (dipengaruhi Syekh Yusuf Maqassari), di Kesultanan Pontianak dan Palembang dipengaruhi Alawiyah (sadat Alawiyyin banyak menduduki pos vital pemerintahan), Kesultanan Buton dan Kesultanan Gowa dominan Khalwatiyah.
Adapun Tarekat Sammaniyah hadir di elit kesultanan Banjar. Pangeran Antasari bahkan mengabadikan nama pendiri tarekat ini pada nama puteranya, Muhammad Saman, yang kemudian menjadi Sultan Banjar hingga pada tahun 1905.


-------------------------------------
Dalam email tertanggal 15 Agustus 2015, Oman Fathurrahman, filolog UIN Syarif Hidayatullah, menjelaskan kepada Peter Carey, bahwa Ratu Ageng, nenek buyut Pangeran Diponegoro, adalah penganut Tarekat Syattariyah.
Menurut Oman, berdasarkan penelitian atas naskah Jav. 69 [Silsilah Syattariyah] dari koleksi Colin Mackenzie di British Library, London, Ratu Ageng--yang disebut 'Kangjeng Ratu Kadipaten' dalam naskah-- disebutkan dalam empat bait sebagai penganut setia yang memiliki pertalian langsung dengan para mursyid utama Tarekat Syattariyah di Jawa Barat, Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan (1640-1715) melalui empat silsilah ulama.
Anggota kesultanan lain yang disebut sebagai penganut Syattariyah adalah Permaisuri Hamengkubuwono II (bertakhta 1792-1810/1811-1812/1826-8), Ratu Mas, dan ayahnya Pangeran Pakuningrat, menak keturunan Mataram yang menikah dengan anak Pakubuwono II (bertakhta 1726-1749) dan Ratu Alit dari Kertasura. Pakuningrat dibaiat dalam Syattariyah oleh Kiai Abdullah (Kiai Muhammad Kastuba) dari Pesantren Alang-Alang Ombo di Bagelen. Selain itu bangsawan lain yang menjadi pejalan Syattariyah adalah Raden Ayu Kilen, selir Hamengkubuwono II.
Lalu, siapa Ratu Ageng yang menjadi titik bahasan di awal status ini? Dia adalah nenek buyut Pangeran Diponegoro. Perempuan perkasa itu adalah istri Hamengkubuwono I. Dia ikut mendampingi suaminya manakala bergerilya dalam Perang Giyanti. Ratu Ageng jauh dari kesan perempuan Jawa yang gemulai. Sebab, selain terkenal memiliki kecintaan terhadap ilmu pengetahuan karena merupakan cucu Ki Ageng Sulaiman Bekel Jamus, dia juga punya bakat militer kuat warisan genetika Sultan Abdul Qahir, Bima. Di bawah komando Ratu Ageng, korps Prajurit Estri yang terdiri dari para pendekar perempuan, mengalami kemajuan.
Kelak, beberapa tahun menjelang Perang Jawa, korps Prajurit Estri peninggalannya ini membuat utusan negara Eropa melongo dan terkagum-kagum saat menyaksikan keterampilan para pendekar cewek mengendarai kuda, melepaskan tembakan salvo, dan ketepatan membidik.
Jika banyak orang melihat bahwa tradisi santri Pangeran Diponegoro dipengaruhi oleh koneksi para ulama pathok nagari maupun para tentara haji di korps Suranatan, saya justru melihat titik terang berada di tangan buyut puterinya, Ratu Ageng itu, yang mengasuh Raden Mas Mustahar, nama kecil sang pangeran sejak usia tujuh tahun.
Di bawah kepengasuhan nenek buyutnya ini, sejak muda sang pangeran telah dibiasakan dengan tradisi santri. Dia dijauhkan dari keraton yang sudah terkena polusi kehidupan tidak agamis dan mulai dirambah konflik internal. Raden Mas Mustahar dijauhkan dari suasana yang tidak kondusif bagi perkembangan jiwanya lalu diperkenalkan dengan ritus-ritus kehidupan kaum santri.
Melalui bimbingan Ratu Ageng, sang pangeran di usia mudanya menjelajahi pesantren demi pesantren dengan menggunakan baju sederhana dan menjalani laku tirakat yang kuat. Ia sowan ke berbagai ulama, kemudian juga menziarahi makam leluhurnya. Kelak, ziarah akademis dan spiritual ini justru memperkaya koneksinya saat Perang Jawa tiba.
Di bawah asuhan Ratu Ageng, Diponegoro banyak melalap kitab-kitab fiqh melalui para ulama yang sering diundang berdiskusi (bahtsul masail) di balairung kediamannya di Tegalrejo. Melalui tradisi keilmuan yang dicanangkan oleh buyut putrinya tersebut, Diponegoro mempelajari Muharrar-nya Imam ar-Rafi’i dan Lubab al-Fiqh-nya Al-Mahamili. Namun favoritnya tetap Taqrib-nya Abu Syuja al-Isfahani dan Fath al-Wahhab-nya Imam Zakariya al-Anshari. Taqrib menjadi pegangan Diponegoro saat berperang dan hingga kini disimpan di rumah penangkapan Diponegoro di Magelang (selain al-Qur’an dan serban), sedangkan Fath al-Wahhab menjadi kitab yang rutin dikaji oleh Kiai Mojo di hadapan para ulama saat bergerilya.
Di tangan Ratu Ageng, yang mahir membaca naskah berbahasa Jawa dan beraksara Pegon, Diponegoro diseret ke dalam keasyikan dunia pengetahuan fiqh sekaligus tasawuf. Buyut puterinya membuatkan sebuah balairung luas di samping tempat tinggalnya khusus bagi para ulama untuk berdiskusi beragam tema, dari fiqh hingga tatanegara. Buyut putrinya pula yang memperkenalkan Diponegoro dengan tradisi akademis Tarekat Syattariyah melalui kitab Tuhfat al-Mursalah ila Ruh an-Nabi karya Syaikh Muhammad bin Fadhlullah a-Burhanpuri. Kitab ini menjelaskan falsafah sufisme tentang ajaran “martabat tujuh” yang klop dengan pemikiran manusia Jawa manakala merenungkan Allah, dunia dan kedudukan manusia. Sebagai penganut Tarekat Syattariah (dan Naqsyabandiyah), sangat masuk akal apabila Diponegoro tidak tertarik pola beragama ala Wahhabisme yang mulai merambah wilayah Sumatera Barat.
Pada saat Ratu Ageng yang salehah itu mangkat pada 17 Oktober 1803, Raden Mas Mustahar alias Ontowiryo alias Diponegoro, kehilangan pembimbing utama yang mendampinginya melewati masa remaja hingga menjelang dewasa. Namun, di tahun-tahun setelahnya, sang pangeran lebih intens berdekatan dengan rakyat dan mulai membina koneksi berharga yang akan dia gunakan pada saat memulai berjuang, 1825.
WAllahu A’lam bisshawab
----
Referensi:
1. Ensiklopedi 22 Aliran Tarekat karya KH. A. Aziz Masyhuri.
2. Kuasa Ramalan: Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa karya Peter Carey.
3. Perempuan-Perempuan Perkasa Di Jawa abad XVIII-XIX karya Peter Carey dan Vincent Houben.

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

"Agresi Militer Belanda I dan Upaya Penghancuran Basis Kaum Santri"

 
Juli 1947-Juli 2017
"Agresi Militer Belanda I dan Upaya Penghancuran Basis Kaum Santri"
Oleh: Rijal Mumazziq Z
70 tahun silam, berdasarkan hitungan masehi, 25 Juli 1947 (7 Ramadan 1366 H), KH. M. Hasyim Asy'ari wafat. Penyebabnya, antara lain, serangan jantung yang bermula dari rasa shock bercampur sedih mendengar kabar jatuhnya Kota Malang ke tangan Belanda. Di film Sang Kiai (2013), detik-detik wafatnya Kiai Hasyim digambarkan dengan detail.
Kota Malang, yang merupakan benteng terakhir sekaligus basis terkuat milisi Hizbullah dan Sabilillah, pada akhirnya jatuh di hari kelima Agresi Militer Belanda I. Milisi santri mempertahankan kota ini mati-matian. Banyak syuhada gugur dalam pertempuran di berbagai titik kota ini. Sehingga, di kemudian hari, didirikan Masjid Sabilillah untuk mengenang jasa milisi yang beranggotakan para kiai ini.
Pakde saya, Pak Matrai (ayahnya Mbak Trisnaning dan Mbak Dian Qies Dian) saat itu anggota Hizbullah, ikut bertempur di front Malang ini, pada akhirnya mundur ke selatan, kemudian bergerilya di selatan timur, lalu memutar melalui Lumajang hingga tiba di Jember. (Beliau peenah cerita kalau kawan-kawannya banyak yang gugur diberondong pesawat sesaat setelah merebut satu pos milik Belanda).
Dengan melancarkan aksi militer bersandi "Operatie Product" ini, Belanda dengan seenaknya melanggar Perjanjian Linggarjati. Aksi ini melibatkan beberapa kesatuan militer elit yang brutal seperti Korps Speciale Troepen (KST)--Kopassusnya Belanda-- yang ditugaskan menggasak wilayah Sumatera Timur, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tujuan taktis, menguasai kantong-kantong sumberdaya alam seperti perkebunan, industri strategis seperti pabrik gula, dan area logistik yang melimpah.
Secara strategis, operasi militer ini sengaja dijalankan pada bulan Ramadan 1366 H, saat umat Islam beribadah. Lebih fokus lagi, yang ingin dihancurkan oleh Belanda bukan pemerintahan RI (sebagaimana yang terjadi dalam Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta, Desember 1948), melainkan basis kekuatan milisi-milisi lokal. Khususnya Hizbullah dan Sabilillah, sebab Jawa Timur adalah basis utama dua kekuatan ini.
Tengara lain, sungguhpun secara resmi operasi miter ini dijalankan sejak 21 Juli hingga 5 Agustus 1947, namun pergerakan pasukan Belanda semakin kurangajar setelah tanggal operasi berakhir, bahkan hingga awal tahun 1948.
Apabila dilihat di peta pergerakan pasukan Belanda, mereka sengaja bergerak di pedesaan, di basis rural kaum santri. Dan, faktanya banyak pondok pesantren yang dibakar pada agresi militer ini dan para kiai juga banyak yang gugur pada detik-detik ini. Misalnya, KH. Abdullah Sajjad Assyarqawy, pengasuh PP. Annuqayah Guluk-Guluk, yang gugur bersama pasukannya pada 3 Desember 1947 (20 Muharram 1367 H). Di Situbondo, pasukan Belanda menyerbu PP. Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, asuhan KH. Syamsul Arifin. Putranya yang kemudian menjadi pahlawan nasional, KH. Asad Syamsul Arifin, memilih bergerilya di kawasan Tapal Kuda.
Di Jember, ada beberapa pesantren yang "diperiksa" Belanda. Yang paling dekat dengan rumah saya, PP. Mabda-ul Maarif menjadi target kedua setelah PP. Assunniyyah Kencong menjadi target sebelumnya. Menyisir ke arah barat, Lumajang, Belanda kemudian disergap oleh sepasukan TNI yang dipimpin seorang ulama, Kapten Kiai Ilyas. Nama terakhir gugur dan namanya diabadikan sebagai nama salah satu jalan di kota Lumajang.
Pengasuh Ponpes Sidogiri, KH. Abdul Djalil, juga menjadi syahid setelah diberondong sepasukan Belanda saat menunaikan shalat subuh. Di fase 1947-1948, silahkan dicek, banyak pesantren yang menjadi korban kebiadaban Belanda (lebih kurang ajar lagi, PKI dan FDR menusuk dari belakang pada September 1948). Nestapa akibat Agresi Militer I dan II dipotret dari perspektif santri oleh KH. Saifuddin Zuhri dalam dua memoarnya, "Guruku Orang-Orang Pesantren" (LKiS: 2001) dan "Berangkat dari Pesantren" (LKiS: 2012). Di buku ini akan kita jumpai bagaimana para ulama, antara lain KH. A. Wahid Hasyim, membina jaringan teliksandi di Jawa Timur hingga pedalaman Jawa Tengah; KH. Masjkur dan jaringan Kementerian Agama yang tetap menjalankan amanah Presiden Sukarno untuk melayani masyarakat di tengah keterbatasan infrastuktur; hingga anekdot-anekdot ala santri di tengah kecamuk perang.
Agresi Militer I ini kemudian dilanjutkan Belanda dengan menggelar "Operasi Gagak" pada 18 Desember 1948 yang fokus pada penguasaan ibukota RI di Yogyakarta sekaligus menangkap para pemimpin RI. Sebuah upaya menghabisi republik yang masih terengah-engah akibat ulah PKI-FDR di Madiun, September 1948. Setahun kemudian, keruwetan bertambah lagi saat 7 Agustus 1949, SM Kartosuwiryo mendeklarasikan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia.
Wallahu A'lam bisshawab
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Mengapa saya nggak minat sama NU Garis Lurus

 
Mengapa saya nggak minat sama NU Garis Lurus? Selain karena bercorak pikir hitam putih, NU Garis Lurus ini suka main klaim. Banyak sih yang sakit hati gara-gara keberadaannya. Seruduk sana-sini, tak peduli caci-maki. Yang penting jalan terus, lurus seperti klaimnya. Beberapa tahun silam ada seorang tokoh yang dibully terus menerus gara-gara nggak sesuai dengan ekspektasi NU Garis Lurus ini. Kasihan juga sih. Tapi di sisi lain, NU Garis Lurus ini juga memuja tokoh lain, seolah-olah tiada cacat sama sekali. Seolah-olah hanya tokoh ini yang mampu membawa kejayaan bagi NU Garis Lurus. Preketheeeek. Ya namanya juga kelompok, om. Dimaklumi saja.
Meski banyak yang menentang, toh NU Garis Lurus banyak juga pendukungnya. Sampai sekarang pun NU Garis Lurus tetap sesuai dengan madzhab dan karakternya yang keras. Sebagai salah satu klub sepakbola Inggris, NU Garis Lurus memang hanya menjadi klub medioker yang hanya sliwar-sliwer di kasta tengah saban musim kompetisi. Toh, pendukung klub berjuluk "The Toon" ini tetep setia dan punya harapan tinggi. Lihat saja manakala Hatem Ben Arfa yang digadang-gadang bisa menggeret prestasi di NU Garis Lurus nyatanya hanya bisa menunduk-nunduk kepalang tanggung. Kasihan sekali anak muda Prancis ini dibully lalu dipinjamkan ke beberapa klub beberapa tahun silam. Setelah itu, ada fase Georginio Wijnaldum dan Aleksander Mitrovic, dua pemain mahal, yang dirisak karena gagal mempertahankan NU Garis Lurus di EPL dan harus melorot ke Championship, musim 2015/16.
Ekspektasi manajemen NU Garis Lurus yang terlampau tinggi menyebabkan siapapun striker maupun gelandang yang didatangkan di sini dibayang-bayangi kebesaran Alan Shearer, striker legendaris yang suka selebrasi ngangkat tangan kanan sambil dadah-dadah itu. Hanya Shearer yang dianggap jempolan di NU Garis Lurus. Dua periode (1996-2006) mengabdi sudah cukup bagi dirinya menjadi King Of St. James' Park, meski sebagai pelatih dia gagal menyelamatkan NU di musim 2008 silam.
Namanya juga Garis Lurus, ya dimaklumi saja kalau selalu nyinyir sama lawan dan main klaim kebenaran madzhab sepakbola Britania Raya di atas lapangan hijau St. James' Park. Ingin buktinya? Nonton saja film "Goal: The Dream Begins" (2005) tentang anak muda Meksiko, Santiago Munez, yang mengerek romantisme The Magpies ini.
Selamat menikmati era Newscastle United (NU) Garis Lurus dibawah kepemimpinan Rais Aam Syuriah NU Garis Lurus, Rafael Benitez. NU Garis Lurus harus berterimakasih kepada manajer Spanyol itu. Sebab, di musim ini, klub berjersey garis hitam putih lurus itu kembali ke khittahnya, English Premier League.
Salam,
Cristiano RIJALdo


ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

22.7.17

Profesor Ridwan Nasir Luncurkan Biografi Menyongsong Takdir, Meniti Asa

 















http://.or.id/profesor-ridwan-nasir-luncurkan-biografi-menyongsong-takdir-meniti-asa/

Surabaya — Sabtu pagi (6/5), di aula pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, biografi Prof. Dr. H. Ridlwan Nasir MA dilucurkan. Buku setebal 370 halaman ini merupakan karya persembahan ulang tahunnya yang ke-66. Dalam peluncuran buku tersebut, selain dihadiri sang penulis, tampak pula para kolega dan murid profesor kelahiran Tegal ini.
Prof. Ridlwan, samenuturkan apabila biografi dirinya ini ditulis untuk pengingat bagi anak-cucu serta para muridnya. “Setidaknya dari buku ini keturunan saya bisa belajar banyak dari kehidupan saya selama ini.” kata pria yang pernah menjabat Rektor UIN Sunan Ampel selama dua periode dalam sambutannya.
Menurut Wakil Rais PWNU Jatim tersebut, melalui buku ada berbagai pelajaran hidup yang bisa dipetik dari perjalanannya. Hal ini berbeda apabila hanya disampaikan melalui lisan yang daya jangkau, durasinya lebih pendek, dan gampang dilupakan. Melalui buku, siapapun bisa belajar, kapan pun dan di manapun.
Buku yang ditulis Chafid Wahyudi, Wasid Mansyur, Rijal Mumazziq Z, Ali Hasan Siswanto serta Ach. Syaiful A’la ini mengupas perjalana hidup Prof. Ridlwan sejak menjadi yatim di usia 40 hari, belajar di Pondok Tebuireng, menapak karir sebagai aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PMII, menjabat sebagai rektor, Direktur Pascasarjana UINSA hingga ketua tim seleksi Ketua KPU Nasional.
Rentang perjalanan panjang inilah yang membuat tim penulis sepakat membukukan biografi Prof. Ridlwan. Sedangkan Prof. Masdar Hilmy, Ph.D yang merupakan Wakil Direktur Pascasarjana UINSA menjelaskan apabila buku “Menyongsong Takdir, Meniti Asa” adalah hamparan perjalanan yang pantas diapresiasi dalam sebuah buku. Dia menuturkan perjumpaan awalnya dengan Prof. Ridlwan dan bagaimana metode sang profesor dalam mengatur waktu, menjalin relasi, hingga menjadi organisatoris yang baik. “Apalagi beliau ini punya banyak ijazah amalan dari para kiai, yang juga diijazahkan kepada murid-muridnya.” kata Prof. Masdar.
Di antara amalan rutin yang dilakukan Prof. Ridlwan adalah Shalawat Badawiyah yang dia dapatkan melalui KH. Adlan Aly, Pengasuh PP. Walisongo Cukir Jombang. Amalan inilah yang biasanya dia ijazahkan untuk para mahasiswanya.
Sedangkan Prof. Ali Aziz, MA, salah satu koleganya, menjuluki Prof. Rodlwan sebagai Doctor Humoris Causa karena koleksi humornya yang berlimpah. “Di manapun Mas Ridlwan ini ada, pasti ada humor terbaru. Makanya beliau ini awet muda dan tampaknya nggak pernah susah,” kata dai yang baru saja pulang dari berdakwah di Amerika ini. (Rij/s@if)


ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

20.7.17

Kiai Basyir, Mursyid Bagi Kami

 
Kiai Basyir, Mursyid Bagi Kami
Oleh: Fathor Rahman Jm (dosen IAIN Jember)
Saat itu, pertengahan Juli tahun 2003, pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Latee setelah sebelumnya saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di pondok pesantren di Kecamatan Guluk-Guluk itu.
Keputusan itu saya ambil dengan pertimbangan di antaranya banyak alumni Annuqayah yang saya temui sebelumnya banyak memberikan pencerahan kepada saya dalam persoalan-persoalan sosial keagamaan. Kebanyakan gaya komunikasi alumni Annuqayah yang saya kenal saat itu juga sederhana, akrab, dan santun. Salah satu alumnus Annuqayah yang paling saya kenal baik waktu itu adalah KH. Abdul Muqit Arief, pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, di mana saya menempuh pendidikan selama tiga tahun.
Dari Kiai Muqit inilah saya mendengar tentang kealiman dan kharisma KH. Ahmad Basyir Abdullah Sajjad. Bahkan, saya tahu sendiri, ketika Kiai Muqit mendapatkan panggilan telepon dari Kiai Basyir, jawaban kiai Muqit sangat santun, nadanya rendah, dan sikapnya membungkuk. Seakan-akan Kiai Basyir berada di hadapannya. Dari situ saya dapat merasakan bahwa Kiai Basyir bukanlah tokoh kebanyakan, meskipun saya belum pernah melihat langsung sosok beliau. Hal yang sama juga saya alami ketika saya berjumpa dengan tokoh-tokoh hebat yang kebetulan alumnus Annuqayah.
Hari pertama di Annuqayah itu, kami bertiga, saya, kakak, dan paman saya, bermaksud "menitipkan dan memasrahkan" saya kepada Kiai Basyir untuk menjadi salah satu santri di Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Latee.
Sebelum menuju kediaman Kiai Basyir, saya membayangkan sosok kiai yang kharismatik dengan penampilan yang luar biasa, dengan pelayanan yang tidak sederhana, dan menempati rumah yang mewah. Ternyata bayangan saya tersebut salah total setelah saya tahu kediaman kiai.
Kediaman kiai terletak di pojok barat daya mushalla dan belakang deretan pondok santri. Saya belum begitu yakin kiai dengan nama besar dan kharisma yang menggema ke penjuru negeri, kediamannya tidak lebih bagus dari asrama santri. Karenanya, waktu itu saya bertanya berkali-kali kepada beberapa santri untuk meyakinkan diri bahwa itu adalah kediaman kiai. Ternyata benar, itulah kediaman kiai. Meski tidak bagus dan mentereng, namun sangat bersih dan sejuk.
Di depan pintu gerbang, kami ucapkan salam. Ada seorang santri, mungkin abdi dalem, menjawab salam, menyambut, dan mempersilahkan kami masuk dan duduk di ruang tamu yang menyerupai langgar kecil.
Tidak lama berselang, seorang yang sudah sepuh, bersarung, memakai baju putih, dan peci putih. Sangat sederhana. Batin saya bertanya-tanya, apakah ini Kiai Basyir yang sangat terkenal dan ditakdhimi itu? Sejurus kemudian pikiran saya buyar lantaran pertanyaan dari orang di hadapan saya itu.
"Dari mana?" tanyanya dengan menggunakan bahasa Madura halus.
Kami jawab, "Dari Jember, Silo, Pace."
"Dekat dengan Kiai Jauhari dan Kiai Mahmud Toyyib, ya?" tanyanya singkat dengan tetap memakai bahasa Madura dan suara lirih.
Kami pun menjawab dengan singkat, "Engghi! " dengan suara yang juga pelan.
Waktu itu dalam pikiran saya tetap penuh tanya. Saya lihat demikian juga dengan kakak dan paman saya. Begitupun ketika tuan rumah mengangkat kaleng kue dan menyuguhkan kue kepada kami, "Ngireng pondhut, dhe'er! (Ayo ambil, makan!" pintanya.
Kami pun mengambil kue itu dan setelah itu tuan rumah bergegas ke belakang dan meminta seseorang untuk menyediakan kopi bagi kami. Kami bertiga saling berpandangan. "Itu Kiai Basyir, ya?" kakak bertanya. Saya mengangkat kedua bahu saya tanpa kata, sedangkan paman saya menjawab, "Saya juga nggak tahu."
Itulah kesan pertama saya berjumpa dengan guru yang luar biasa itu. Lantaran penampilan dan sikapnya yang sangat sederhana, saat itu kami tidak sadar sedang berhadapan dengan seorang ulama kharismatik, alim, istikamah, dan banyak melahirkan intelektual Islam di Nusantara.
Tidak hanya sampai di situ, beberapa bulan saya tinggal di Annuqayah, saya tahu, beliau menyiapkan sendiri keperluan-keperluan pribadinya; menjahit sendiri sandalnya, mencuci sendiri pakaiannya, dan memperbaiki sendiri jendela kamarnya yang kropos dimakan rayap. Dan selama saya mondok di sana sekitar lima tahun, saya belum pernah menjumpai beliau bolong mengimami salat berjamaah, kecuali beliau sedang sakit parah atau bepergian jauh.
Karena itu, saat ini saya bisa memahami ketika beberapa alumni Annuqayah, seperti Kiai Muqit Arief (Pengasuh PP Al-Falah Silo Jember dan Wakil Bupati Jember) dan Kiai Hodri Ariev (Pengasuh PP Bahrul Ulum Silo Jember, intelektual muda NU, dan pengurus RMI PBNU) menyatakan bahwa Kiai Basyir Abdullah Sajjad adalah mursyid bagi kami.
Selamat jalan, Kiai. Selamat jalan, mursyid kami. Akuilah kami sebagai santrimu hingga di akhirat nanti. 
(*) 


Foto Rijal Mumazziq Z.




Foto Fathor Rahman Jm.


Beliau berusaha menyelsaikan sendiri keperluan keperluan di rumah beliau
Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Rezim macam apa ini, tega membubarkan HTI hanya untuk

 
Rezim macam apa ini, tega membubarkan HTI hanya untuk mengalihkan isu keluarnya Ayu Ting Ting dari Pesbukers ANTV....
Hih! Dassaaaar!

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Kisah Ajaib Pertemuan Syaikh al-Sya’rawi dengan Mursyid Tarekatnya

 
Kisah Ajaib Pertemuan Syaikh al-Sya’rawi dengan Mursyid Tarekatnya
Siapa yang tidak kenal dengan Syaikh Muhammad Mutawalli al-Sya’rawi, ulama Al-Azhar yang dijuluki dengan imām al-du’āt (pimpinan para dai)? Namanya kesohor ke seantero dunia Islam. Keluasan ilmu dan kedalaman hikmah dalam setiap untaian kata-katanya membuatnya dicintai oleh semua orang, khususnya masyarakat Mesir. Beliau mampu menyajikan materi-materi keislaman dengan bahasa yang sederhana, lugas dan sangat jelas. Di balik semua itu ada sosok yang sangat spesial yang turut memberikan pengaruh pada pribadi Syaikh al-Sya’rawi. Beliaulah Sayyid Muhammad Balqaid al-Hasani, guru sekaligus mursyid tarekatnya.
Pertemuan Syaikh al-Sya’rawi dengan Sayyid Muhammad Balqaid tergolong sangat unik dan ajaib. Suatu ketika Syaikh al-Sya’rawi diminta oleh pihak Al-Azhar untuk menjadi ketua delegasi Al-Azhar ke Aljazair. Namun beliau menolaknya. Tidak lama kemudian beliau bermimpi bertemu seorang lelaki yang berkata kepadanya: “Mengapa kamu menolak untuk datang kepada kami?” Mimpi tersebut membuat Syaikh al-Sya’rawi mengubah sikapnya. Beliau akhirnya mau memenuhi permintaan Al-Azhar untuk menjadi ketua delegasi dan pergi ke Aljazair.
Pada tahun 1963, Syaikh al-Sya’rawi beserta rombongan delegasi Al-Azhar bertolak ke Aljazair. Sesampainya di Aljazair, beliau dan rombongan disambut di istana negara, dimana acara tersebut berbarengan dengan hari kemerdekaan Aljazair yang kedelapan. Dalam acara tersebut, beliau melihat ke deretan para ulama yang hadir. Diantara para ulama itu ada sosok yang pernah beliau lihat dalam mimpi yang menjadi sebab beliau berubah pikiran dan mau dikirim ke Aljazair. Beliau pun segera menghampirinya, dan mereka berdua pun berpelukan.
Tujuh tahun lamanya Syaikh al-Sya’rawi tinggal di Aljazair. Selama di sana beliau memiliki hubungan yang sangat erat dengan Sayyid Muhammad Balqaid, pimpinan para ulama Aljazair pada waktu itu. Beliau tidak pernah absen dalam majelis-majelis dan halaqah-halaqah ilmiah yang diampu oleh Sayyid Balqaid dimana pun itu. Banyak ilmu yang beliau ambil dari sang guru, sehingga beliau menjelma menjadi sosok ulama kharismatik dan cukup disegani di dunia Islam.
Uniknya lagi, Syaikh al-Sya’rawi lahir di tahun yang sama dengan Sang Mursyid, yaitu tahun 1911, dan meninggal dunia juga di tahun yang sama, yaitu tahun 1998. Hanya saja Syaikh al-Sya’rawi wafat dua bulan sebelum wafatnya Sayyid Muhammad Balqaid. Rahimahumallah. Maka, benarlah sabda Rasulullah SAW.: “Ruh-ruh laksana tentara yang berkelompok; yang saling mengenal darinya akan bersatu, dan yang tidak saling mengenal akan berselisih.”
(Admin FP: Pecinta Ulama Al-Azhar)

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Advertisement

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan