22.7.17

Profesor Ridwan Nasir Luncurkan Biografi Menyongsong Takdir, Meniti Asa

 









http://.or.id/profesor-ridwan-nasir-luncurkan-biografi-menyongsong-takdir-meniti-asa/

Surabaya — Sabtu pagi (6/5), di aula pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, biografi Prof. Dr. H. Ridlwan Nasir MA dilucurkan. Buku setebal 370 halaman ini merupakan karya persembahan ulang tahunnya yang ke-66. Dalam peluncuran buku tersebut, selain dihadiri sang penulis, tampak pula para kolega dan murid profesor kelahiran Tegal ini.
Prof. Ridlwan, samenuturkan apabila biografi dirinya ini ditulis untuk pengingat bagi anak-cucu serta para muridnya. “Setidaknya dari buku ini keturunan saya bisa belajar banyak dari kehidupan saya selama ini.” kata pria yang pernah menjabat Rektor UIN Sunan Ampel selama dua periode dalam sambutannya.
Menurut Wakil Rais PWNU Jatim tersebut, melalui buku ada berbagai pelajaran hidup yang bisa dipetik dari perjalanannya. Hal ini berbeda apabila hanya disampaikan melalui lisan yang daya jangkau, durasinya lebih pendek, dan gampang dilupakan. Melalui buku, siapapun bisa belajar, kapan pun dan di manapun.
Buku yang ditulis Chafid Wahyudi, Wasid Mansyur, Rijal Mumazziq Z, Ali Hasan Siswanto serta Ach. Syaiful A’la ini mengupas perjalana hidup Prof. Ridlwan sejak menjadi yatim di usia 40 hari, belajar di Pondok Tebuireng, menapak karir sebagai aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PMII, menjabat sebagai rektor, Direktur Pascasarjana UINSA hingga ketua tim seleksi Ketua KPU Nasional.
Rentang perjalanan panjang inilah yang membuat tim penulis sepakat membukukan biografi Prof. Ridlwan. Sedangkan Prof. Masdar Hilmy, Ph.D yang merupakan Wakil Direktur Pascasarjana UINSA menjelaskan apabila buku “Menyongsong Takdir, Meniti Asa” adalah hamparan perjalanan yang pantas diapresiasi dalam sebuah buku. Dia menuturkan perjumpaan awalnya dengan Prof. Ridlwan dan bagaimana metode sang profesor dalam mengatur waktu, menjalin relasi, hingga menjadi organisatoris yang baik. “Apalagi beliau ini punya banyak ijazah amalan dari para kiai, yang juga diijazahkan kepada murid-muridnya.” kata Prof. Masdar.
Di antara amalan rutin yang dilakukan Prof. Ridlwan adalah Shalawat Badawiyah yang dia dapatkan melalui KH. Adlan Aly, Pengasuh PP. Walisongo Cukir Jombang. Amalan inilah yang biasanya dia ijazahkan untuk para mahasiswanya.
Sedangkan Prof. Ali Aziz, MA, salah satu koleganya, menjuluki Prof. Rodlwan sebagai Doctor Humoris Causa karena koleksi humornya yang berlimpah. “Di manapun Mas Ridlwan ini ada, pasti ada humor terbaru. Makanya beliau ini awet muda dan tampaknya nggak pernah susah,” kata dai yang baru saja pulang dari berdakwah di Amerika ini. (Rij/s@if)


ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

20.7.17

Kiai Basyir, Mursyid Bagi Kami

 
Kiai Basyir, Mursyid Bagi Kami
Oleh: Fathor Rahman Jm (dosen IAIN Jember)
Saat itu, pertengahan Juli tahun 2003, pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Latee setelah sebelumnya saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di pondok pesantren di Kecamatan Guluk-Guluk itu.
Keputusan itu saya ambil dengan pertimbangan di antaranya banyak alumni Annuqayah yang saya temui sebelumnya banyak memberikan pencerahan kepada saya dalam persoalan-persoalan sosial keagamaan. Kebanyakan gaya komunikasi alumni Annuqayah yang saya kenal saat itu juga sederhana, akrab, dan santun. Salah satu alumnus Annuqayah yang paling saya kenal baik waktu itu adalah KH. Abdul Muqit Arief, pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, di mana saya menempuh pendidikan selama tiga tahun.
Dari Kiai Muqit inilah saya mendengar tentang kealiman dan kharisma KH. Ahmad Basyir Abdullah Sajjad. Bahkan, saya tahu sendiri, ketika Kiai Muqit mendapatkan panggilan telepon dari Kiai Basyir, jawaban kiai Muqit sangat santun, nadanya rendah, dan sikapnya membungkuk. Seakan-akan Kiai Basyir berada di hadapannya. Dari situ saya dapat merasakan bahwa Kiai Basyir bukanlah tokoh kebanyakan, meskipun saya belum pernah melihat langsung sosok beliau. Hal yang sama juga saya alami ketika saya berjumpa dengan tokoh-tokoh hebat yang kebetulan alumnus Annuqayah.
Hari pertama di Annuqayah itu, kami bertiga, saya, kakak, dan paman saya, bermaksud "menitipkan dan memasrahkan" saya kepada Kiai Basyir untuk menjadi salah satu santri di Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Latee.
Sebelum menuju kediaman Kiai Basyir, saya membayangkan sosok kiai yang kharismatik dengan penampilan yang luar biasa, dengan pelayanan yang tidak sederhana, dan menempati rumah yang mewah. Ternyata bayangan saya tersebut salah total setelah saya tahu kediaman kiai.
Kediaman kiai terletak di pojok barat daya mushalla dan belakang deretan pondok santri. Saya belum begitu yakin kiai dengan nama besar dan kharisma yang menggema ke penjuru negeri, kediamannya tidak lebih bagus dari asrama santri. Karenanya, waktu itu saya bertanya berkali-kali kepada beberapa santri untuk meyakinkan diri bahwa itu adalah kediaman kiai. Ternyata benar, itulah kediaman kiai. Meski tidak bagus dan mentereng, namun sangat bersih dan sejuk.
Di depan pintu gerbang, kami ucapkan salam. Ada seorang santri, mungkin abdi dalem, menjawab salam, menyambut, dan mempersilahkan kami masuk dan duduk di ruang tamu yang menyerupai langgar kecil.
Tidak lama berselang, seorang yang sudah sepuh, bersarung, memakai baju putih, dan peci putih. Sangat sederhana. Batin saya bertanya-tanya, apakah ini Kiai Basyir yang sangat terkenal dan ditakdhimi itu? Sejurus kemudian pikiran saya buyar lantaran pertanyaan dari orang di hadapan saya itu.
"Dari mana?" tanyanya dengan menggunakan bahasa Madura halus.
Kami jawab, "Dari Jember, Silo, Pace."
"Dekat dengan Kiai Jauhari dan Kiai Mahmud Toyyib, ya?" tanyanya singkat dengan tetap memakai bahasa Madura dan suara lirih.
Kami pun menjawab dengan singkat, "Engghi! " dengan suara yang juga pelan.
Waktu itu dalam pikiran saya tetap penuh tanya. Saya lihat demikian juga dengan kakak dan paman saya. Begitupun ketika tuan rumah mengangkat kaleng kue dan menyuguhkan kue kepada kami, "Ngireng pondhut, dhe'er! (Ayo ambil, makan!" pintanya.
Kami pun mengambil kue itu dan setelah itu tuan rumah bergegas ke belakang dan meminta seseorang untuk menyediakan kopi bagi kami. Kami bertiga saling berpandangan. "Itu Kiai Basyir, ya?" kakak bertanya. Saya mengangkat kedua bahu saya tanpa kata, sedangkan paman saya menjawab, "Saya juga nggak tahu."
Itulah kesan pertama saya berjumpa dengan guru yang luar biasa itu. Lantaran penampilan dan sikapnya yang sangat sederhana, saat itu kami tidak sadar sedang berhadapan dengan seorang ulama kharismatik, alim, istikamah, dan banyak melahirkan intelektual Islam di Nusantara.
Tidak hanya sampai di situ, beberapa bulan saya tinggal di Annuqayah, saya tahu, beliau menyiapkan sendiri keperluan-keperluan pribadinya; menjahit sendiri sandalnya, mencuci sendiri pakaiannya, dan memperbaiki sendiri jendela kamarnya yang kropos dimakan rayap. Dan selama saya mondok di sana sekitar lima tahun, saya belum pernah menjumpai beliau bolong mengimami salat berjamaah, kecuali beliau sedang sakit parah atau bepergian jauh.
Karena itu, saat ini saya bisa memahami ketika beberapa alumni Annuqayah, seperti Kiai Muqit Arief (Pengasuh PP Al-Falah Silo Jember dan Wakil Bupati Jember) dan Kiai Hodri Ariev (Pengasuh PP Bahrul Ulum Silo Jember, intelektual muda NU, dan pengurus RMI PBNU) menyatakan bahwa Kiai Basyir Abdullah Sajjad adalah mursyid bagi kami.
Selamat jalan, Kiai. Selamat jalan, mursyid kami. Akuilah kami sebagai santrimu hingga di akhirat nanti. 
(*) 


Foto Rijal Mumazziq Z.




Foto Fathor Rahman Jm.


Beliau berusaha menyelsaikan sendiri keperluan keperluan di rumah beliau
Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Rezim macam apa ini, tega membubarkan HTI hanya untuk

 
Rezim macam apa ini, tega membubarkan HTI hanya untuk mengalihkan isu keluarnya Ayu Ting Ting dari Pesbukers ANTV....
Hih! Dassaaaar!

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Kisah Ajaib Pertemuan Syaikh al-Sya’rawi dengan Mursyid Tarekatnya

 
Kisah Ajaib Pertemuan Syaikh al-Sya’rawi dengan Mursyid Tarekatnya
Siapa yang tidak kenal dengan Syaikh Muhammad Mutawalli al-Sya’rawi, ulama Al-Azhar yang dijuluki dengan imām al-du’āt (pimpinan para dai)? Namanya kesohor ke seantero dunia Islam. Keluasan ilmu dan kedalaman hikmah dalam setiap untaian kata-katanya membuatnya dicintai oleh semua orang, khususnya masyarakat Mesir. Beliau mampu menyajikan materi-materi keislaman dengan bahasa yang sederhana, lugas dan sangat jelas. Di balik semua itu ada sosok yang sangat spesial yang turut memberikan pengaruh pada pribadi Syaikh al-Sya’rawi. Beliaulah Sayyid Muhammad Balqaid al-Hasani, guru sekaligus mursyid tarekatnya.
Pertemuan Syaikh al-Sya’rawi dengan Sayyid Muhammad Balqaid tergolong sangat unik dan ajaib. Suatu ketika Syaikh al-Sya’rawi diminta oleh pihak Al-Azhar untuk menjadi ketua delegasi Al-Azhar ke Aljazair. Namun beliau menolaknya. Tidak lama kemudian beliau bermimpi bertemu seorang lelaki yang berkata kepadanya: “Mengapa kamu menolak untuk datang kepada kami?” Mimpi tersebut membuat Syaikh al-Sya’rawi mengubah sikapnya. Beliau akhirnya mau memenuhi permintaan Al-Azhar untuk menjadi ketua delegasi dan pergi ke Aljazair.
Pada tahun 1963, Syaikh al-Sya’rawi beserta rombongan delegasi Al-Azhar bertolak ke Aljazair. Sesampainya di Aljazair, beliau dan rombongan disambut di istana negara, dimana acara tersebut berbarengan dengan hari kemerdekaan Aljazair yang kedelapan. Dalam acara tersebut, beliau melihat ke deretan para ulama yang hadir. Diantara para ulama itu ada sosok yang pernah beliau lihat dalam mimpi yang menjadi sebab beliau berubah pikiran dan mau dikirim ke Aljazair. Beliau pun segera menghampirinya, dan mereka berdua pun berpelukan.
Tujuh tahun lamanya Syaikh al-Sya’rawi tinggal di Aljazair. Selama di sana beliau memiliki hubungan yang sangat erat dengan Sayyid Muhammad Balqaid, pimpinan para ulama Aljazair pada waktu itu. Beliau tidak pernah absen dalam majelis-majelis dan halaqah-halaqah ilmiah yang diampu oleh Sayyid Balqaid dimana pun itu. Banyak ilmu yang beliau ambil dari sang guru, sehingga beliau menjelma menjadi sosok ulama kharismatik dan cukup disegani di dunia Islam.
Uniknya lagi, Syaikh al-Sya’rawi lahir di tahun yang sama dengan Sang Mursyid, yaitu tahun 1911, dan meninggal dunia juga di tahun yang sama, yaitu tahun 1998. Hanya saja Syaikh al-Sya’rawi wafat dua bulan sebelum wafatnya Sayyid Muhammad Balqaid. Rahimahumallah. Maka, benarlah sabda Rasulullah SAW.: “Ruh-ruh laksana tentara yang berkelompok; yang saling mengenal darinya akan bersatu, dan yang tidak saling mengenal akan berselisih.”
(Admin FP: Pecinta Ulama Al-Azhar)

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

NU dan Keseimbangan ala KH. Ahmad Basyir AS

 
NU dan Keseimbangan ala KH. Ahmad Basyir AS
Oleh: Kiai A Dardiri Zubairi (Pengasuh Ponpes NASA, Sumenep)
Pagi hari, sekitar jam 05.00 lewat beberapa menit saya memperoleh Telpon dari HA. Pandji Taufik, ketua PCNU. Ketika saya angkat, suara tangis Pak Pandji pecah, "ngatore oneng KH Ahmad Basyir AS ampon adinggal" ( mau ngasih kabar, KH Ahmad Basyir wafat). Hanya itu yang disampaikan Pak Pandji sambil disertai isak tangis yang begitu jelas saya dengar. Sangat emosional.
Tahu bahwa Pak Pandji begitu sangat berduka, saya tak bertanya kapan jenazah mau dishalatkan. Tak baik memaksa orang yang sangat berduka hanya untuk tahu informasi yang dengan mudah bisa saya peroleh dari kawan lain.
Sejenak saya pun diam. Saya pun tak kuasa menahan gejolak emosi yang mengaduk-ngaduk hati dan pikiran saya. Tangis saya pun pecah. Sambil mencari informasi kapan beliau dishalatkan, pikiran dan perasaan akan kehilangan makin menguat. Seperti ada ruang kosong yang tersisa. Sepi.
Mungkin semua yang pernah jadi santri beliau, pernah bertatap muka dan mencium "asta" ( tangan) beliau, atau sekedar pernah melihat wajah beliau yang teduh dari jauh sekalipun, tentu akan mengalami perasaan kehilangan seperti saya. Apalagi bagi pengurus NU, kehilangan beliau tentu akan terasa lebih besar.
Mengingat beliau, Ingatan saya menuntun saya pada kiprah beliau di NU. beliau menjadi Rois Syuriah PCNU Sumenep selama 2 periode, meski periode kedua masih tersisa 3 tahun. Sebelum beliau, Rois Syuriah PCNU Sumenep dijabat oleh KH. Ishomuddin AS, saudara beliau.
2010 beliau terpilih sebagai Rois Syuriah PCNU Sumenep yang pertama, sementara HA. Pandji Taufik sebagai Ketua Tanfidziyah. 2015 beliau terpilih lagi secara aklamasi, meski kondisi kesehatan sudah semakin menurun beliau masih bersedia menerima keinginan peserta konfrensi NU yang tetap mengingkan beliau sebagai Rois Syuriah. Kebetulan kyai yang lain tak ada yang bersedia selama masih asa Kyai Basyir, suatu bukti bahwa kepemimpinan beliau yang penuh kearifan dan "ngemong" diterima oleh semua kyai. Sami'na wa atha'na.
Saya yang kebetulan menjadi bagian dari pengurus tanfidziyah PCNU Sumenep sering satu majelis dengan kyai Basyir, terutama ketika ada rapat gabungan syuriah dan tanfidziyan. Kebetulan rapat gabungan secara rutin diadakan per triwulan, pindah dari rumah pengurus secara bergantian. Bahkan beberapa kali rapat gabungan dilangsungkan di "dhalem" beliau. Demikian pula ke kegiatan Bahsul Masail yang rutin diadakan setiap bulan, pindah dari satu MWC NU ke MWC NU lainnya, beliau sering hadir di tengah kesibukannya mendidik ribuan para santri di pesantrennya.
Saya menjadi saksi begitu istiqamahnya beliau menjalankan amanah sebagai Rois Syuriah PCNU Sumenep. Beliau menjalankan fungsi keseimbangan dan menjadi rujukan ketika NU harus memutuskan berbagai masalah, termasuk situasi terakhir menyangkut kegaduhan politik di tingkat nasional yang riuhnya sampai juga ke Madura.
Dalam berbagai kesempatan taushiyahnya di rapat gabungan Syuriah- Tanfidziyah beliau seringkali menyuarakan kepentingan-kepentingan masyarakat umum misalnya, maraknya pencurian sapi dan masalah keamanan lainnya. Juga taushiyahnya berisi tentang akhlak, termasuk juga akhlak (ber)politik.
Bahkan ketika di Sumenep menghadapi masalah "darurat agraria" beliau meresponnya dengan memberikan taushiyah di hadapan kepala desa se Kabupaten Sumenep di pendopo kabupaten, agar tanah-tanah warga tidak lepas ke tangan investor.
Saya juga menjadi saksi, di tengah kondisi kesehatan beliau yang tidak prima, bahkan terkadang dalam keadaan sakit, beliau masih menghadiri rapat atau Bahsul Masail. Karena faktor itulah beliau biasanya segera pulang setelah memberikan taushiyah kepada pengurus NU.
Mendengar beliau menghadap Allah, saya pun tersentak meski sebelumnya memang beredar berita bahwa beliau dibawa ke rumah sakit di Surabaya. Sebagai kyai sepuh yang tersisa, wafatnya beliau tentu akan berpengaruh bagi keseimbangan kehidupan masyarakat, termasuk NU, karena beliau sebagai "pakona dunnya" (pakunya bumi) selama di hidupnya (terutama kiprahnya di NU) benar-benar telah menjalankan fungsi keseimbangan.
Selamat jalan Kyai...
Kami merindukanmu.
Pulau Garam l 17 Juli l 2017
 Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

16.7.17

Para anggota DPR yang sering korupsi disandera oleh teroris di komplek senayan

 
Para anggota DPR yang sering korupsi disandera oleh teroris di komplek senayan. Teroris itu meminta uang tebusan Rp 10 miliar. Rakyat disuruh mengumpulkan uang itu. Jika dalam satu jam tak dibayar, mereka mengancam akan membakar semua anggota DPR hidup-hidup.
Di luar dugaan, masyarakat di sekitar Senayan tampak antusias mengumpulkan sumbangan. Mereka menghentikan mobil dan motor yang melintas.
Pengumpul sumbangan: "Mau ikut nyumbang nggak? Udah banyak yang nyumbang nih,"
Pengguna jalan: "Memang rata-rata pada nyumbang berapa?"
Pengumpul sumbangan: "Rata-rata satu liter bensin.."
--@@@------
Oh my goat!
Beneran nih, banyak amat yang perwakilan Jawa Timur....
Benar benar dombos cheetos kampretos mamamia lezatos domestos nomos!

Foto Rijal Mumazziq Z.
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

"Aamir Khan dan Sentuhan Poskolonialisme dalam Sinema Bollywood"

 


"Aamir Khan dan Sentuhan Poskolonialisme dalam Sinema Bollywood"
Oleh Rijal Mumazziq Z // Pegiat Komunitas Baca Rakyat Surabaya (KOBAR)
Ada dua Amir Khan di dunia. Pertama, Amir Khan petinju Inggris, kedua, Aamir Khan, bintang Bollywood. Nama pertama dikenal sebagai petinju Inggris eksentrik di era 1990-an, seangkatan tapi beda kelas dengan Nasim Hameed, petinju keturunan Yaman itu. Yang kedua, yang akan saya ulas sedikit, adalah Aamir Khan, dengan dua “A” untuk membedakan dengan Amir yang awal. Yang pasti, keduanya sama-sama muslim.
Saya tahu kualitas akting Aamir Khan yang ciamik usai menikmati “Mann” (1999), film bagus yang dia bintangi bersama Manisha Koirala. Bagi saya, “Mann” adalah salah satu film terbaik yang didukung kualitas lagu-lagu yang enak dinikmati telinga.
Seusai membintangi Mann, sebatas pengetahuan saya, Aamir Khan lebih banyak menyibukkan diri para proyek film-film “serius”, bukan film asmara sebagaimana yang dia bintangi di era 1990-an, seperti Qayamat Se Qayamat Tak, Dil, Akele Hum Akele Tum, Raja Hindustani, Ghulam, maupun Mann.
Era 2000-an ke atas, Aamir lebih banyak membintangi film yang punya makna lebih dari sekadar tontonan. Proyek pertama yang dia bintangi adalah “Lagaan”. Ini film dengan durasi di atas rata-rata, lebih dari 3 jam, dengan cerita sederhana namun diolah dengan menarik. Bersetting di pengujung abad ke 19, di era penjajahan Inggris, sekelompok penduduk desa miskin di India menolak kenaikan upeti yang dicanangkan oleh penjajah Inggris. Mereka tidak melakukan penolakan kenaikan upeti ini dengan aksi kekerasan, melainkan melawannya dengan sebuah tindakan sportif, yaitu pertandingan kriket melawan orang-orang Inggris. Taruhannya: jika mereka kalah, upeti naik 3 kali lipat, jika menang, pajak tidak jadi dinaikkan. Bagaimana para penduduk desa ini mengkoordinir dirinya, berlatih dengan keras, lalu bagaimana dengan hasil akhirnya? Monggo, silahkan ditonton sendiri. Sekadar catatan, “Lagaan” masuk dalam daftar nominasi film berbahasa asing terbaik di Academy Awards 74 tahun 2001.
Selain “Lagaan”, film yang berkisah perlawanan rakyat India melawan Inggris adalah “Mangal Pandey : The Rising” (2005). Di film ini, Aamir Khan menjadi bintang utama yang memerankan sosok Mangal Pandey, salah satu pejuang kemerdekaan India yang hidup di pertengahan 1800-an. Pandey adalah prajurit Sepoy, serdadu yang mengabdi sebagai tentara Inggris, lalu berbalik arah melakukan pemberontakan terhadap Inggris, hingga akhirnya dia dihukum gantung. Biopic ini menandai kehadiran Aamir Khan setelah absen selama beberapa tahun.
Setelah itu, dia menjadi sutradara sekaligus membintangi beberapa filmnya yang “punya makna” dan tidak sekadar menghibur, seperti “Taare Zameen Par” (2007), yang membuatnya diganjar sebagai sutradara terbaik dalam Filmfare Award. Film ini mengisahkan seorang guru yang berusaha mendidik siswanya yang menderita disleksia. Setelah itu dia membintangi “Ghajini” (2008), yang menjadi salah satu film terlaris, serta “3 Idiots” (2009) yang menjadi film Bollywood paling sukses sepanjang masa. Kesuksesan ini berlanjut saat Aamir Khan membintangi “PK” (2015), dan film terbarunya yang cakep, “Dangal” (2016). Sekadar catatan, dalam kurun 2000-2016, ada beberapa film yang dia bintangi, seperti “Rang de Basanti”, “Fanaa”, “Dhoom 3”, dan beberapa judul lain. Termasuk "Talaash" yang penampilannya sebagai polisi dengan kumis jeleknya cukup mengganggu. Namun bagi saya, “Taare Zameen Par”, “3 Idiots”, “PK” dan “Dangal” adalah yang terbaik. Tak heran jika film-film ini selain mendapatkan penghasilan baik, juga mendapatkan berbagai penghargaan.
Aamir dan Para Petani Miskin
Saya tertarik menyoroti beberapa film yang dibintangi Aamir Khan ini dalam perspektif studi poskolonialisme, madzhab yang dianut oleh cendekiawan kritis India, Gayatri Chakravorty Spivak. Perempuan kelahiran Kalkuta, India, ini turut mengembangkan wacana poskolonial bersama Homi K. Bhaba, cendekiawan Harvard keturunan India. Berangkat dari sini, kita bisa menikmati film-film yang dibintangi Aamir Khan dari persoektif lain.
Dalam pemikiran Spivak, kolonialisme Barat tidak luntur begitu saja. Sebab struktur politik, budaya, ekonomi dan sosial di bekas negara koloninya masih tetap berkiblat pada penjajahnya. Struktur yang menindas ini akan membuat obyek jajahan tidak dapat bersuara, dan tidak bisa menyuarakan gagasannya secara leluasa. Di sinilah, Spivak yang mengusung madzhab “Subaltern Studies” di India berusaha melakukan dekonstruksi agar pihak yang tertindas ini bisa bersuara. Sebutan “Subaltern” menurut Spivak, lebih pas daripada istilah klasik, “Proletar” yang lebih ditentukan menurut logika kapital. Jadi, sejarah proletar berkaitan dengan sejarah kapital. Sementara sejarah subaltern adalah sejarah orang-orang yang terpinggirkan dari latar mana saja: perempuan Timur, komunitas adat, kelompok tarekat, petani, buruh, dan masyarakat tradisional. Subaltern, kata penganut madzhab ini, merujuk pada orang-orang maupun kelompok yang terpotong dari garis mobilitas sosial kelompok elit. Mereka ini pula yang terdesak ke pinggir oleh garis-garis kultural dan pengetahuan yang memproduksi subyek kolonial. Mereka, kata Mas Ahmad Baso dalam “Islam Pascakolonial” (2016: 54), hanya diatasnamakan, dan tidak pernah menyatakan sendiri nama dan suaranya.
Inilah yang coba diusung oleh Aamir Khan, yaitu menyuarakan kaum yang selama ini (di)bungkam. Dia menyuarakan petani miskin yang terjerat upeti mencekik di tengah kolonialisme dalam “Lagaan”, menyuarakan penderita disleksia dalam “Taare Zameen Par”, serta menggemakan ironi petani fakir dalam “Peepli”, dan terakhir menyuarakan keperkasaan seorang pegulat perempuan di tengah kultur misoginis India dan melalui “Dangal”.
Dalam “Lagaan” (Pajak Tanah), Aamir Khan mengajak kita bertamasya ke era tatkala kolonialisme Inggris mencengkeram India. Dia menghadirkan suasana sebuah desa miskin yang penduduknya kompak dan ceria di tengah himpitan upeti yang mencekik. Kebengisan kolonialisme tidak dia hadirkan di layar dengan brutal dan berdarah-darah, melainkan dia sajikan dengan cara yang khas: kemiskinan di sebuah desa yang kering di satu sisi, dengan keglamouran para penjajah, di sisi lainnya. Dengan caranya, Aamir Khan menampilkan kaum subaltern, para petani, yang melakukan perlawanan bukan dengan senjata, melainkan dengan sebuah olahraga. Kriket adalah olahraga yang menjadi alat tawar bagi penduduk desa miskin yang tak tahu bagaimana cara memainkannya, melawan hegemoni Inggris. Jika para petani miskin ini kalah, pajak dinaikkan tiga kali lipat, apabila mereka menang, bebas membayar upeti selama tiga tahun.
Aamir Khan kembali bermanuver dengan mengangkat kisah para petani: kaum subaltern di India, dan tentu saja di Indonesia, melalui “Peepli (Live)” (2010). Kaum penyangga pangan negeri yang justru paling rentan dihajar para mafia. Petani adalah kaum (di)pinggir(k)an dengan beragam problematikanya; bualan pemerintah, jeratan rentenir, mafia pupuk, sindikat yang menghancurkan harga panen, hingga penggusuran tanah semena-mena atas nama pembangunan.
“Peepli” yang diproduseri Aamir Khan bersama istrinya, Kiran Rao, secara satire mengangkat kehidupan para petani miskin India. Natha, petani miskin, dan kawan-kawannya ditipu aparat desa yang membual apabila negara bagian membagi tanah secara cuma-cuma bagi petani yang bunuh diri. Ada juga petani kurus kerontang bernama Hori Mahato yang menjual tanahnya. Dia bukan menjual tanah dengan cara meteran, hektare, maupun satuan luas tertentu sebagaimana lazimnya, melainkan benar-benar menggali tanah sempit yang dia miliki, mewadahinya dalam karung, mengangkatnya ke atas sepeda, lalu dengan tubuh cekingnya mengendarai sepeda anginnya. Kemana? Menjual tanah! Ini gambaran kemiskinan dan ketidakberdayaan yang fatal. Kulit legam, tatapan nanar, tubuh kurus, dan nafas yang terengah saat mencangkul dan mengayuh sepeda, adalah gambaran nestapa seorang petani yang ketika menggali tanah, seolah sedang menggali lubang kuburnya sendiri. Sebuah satire sarkastik yang diusung oleh Aamir Khan sebagai produser dengan tetap mengandalkan ciri khasnya: komikal dan menonjok, seperti yang diusung dalam “3 Idiots” dan “PK”.
Film-film yang dibintangi, disutradarai maupun digarap oleh Aamir Khan memang tidak seartistik dan seanggun gaya produksi Sanjay Leela Banshali, tidak seglamour produksi Yash Raj Chopra, tidak semeriah film-film yang disutradarai Karan Johar, juga tidak semewah garapan Rohit Shetty. Film-film Aamir Khan masih membumi dengan tetap menampilkan dan (bangga) dengan identitas ke-India-annya seperti cirikhas film-film bikinan Ashutosh Gowariker.
Melalui beberapa film yang dia bintangi, dia sutradarai, dan juga dia produseri bersama istrinya, Kiran Rao, Aamir Khan melakukan (semacam) penyuaraan kelompok-kelompok yang selama ini termarjinalkan dan terpinggirkan, maupun tidak didengar jeritannya. Dia tidak melakukan “mimikri”, dalam istilah Homi K. Babha, dengan meniru-niru gaya Hollywood dan kaum Barat dalam tampilan, plot, gaya, hingga setting film. Dia menghindari apa yang disebut oleh Gayatri Spivak sebagai “The Big Other” (yang lain yang besar), yakni manakala Barat menampilkan diri sebagai obyek hasrat ideal bagi pribumi terjajah. Dalam relasi ini, sang pribumi terjajah tidak pede dengan gambaran dirinya sendiri, tapi butuh gambaran orang lain—sang penjajah—untuk memberikan penilaian “modern”, “maju”, “progresif”, dan “kekinian”. Dalam relasi ini, banyak film Bollywood akhirnya melangit dan sama sekali terasing dari kenyataan, sebab dunia yang diusung dalam filmnya sama sekali bukan Delhi dengan kesemrawutannya, Mumbai yang kosmopolit namun menyisakan kekumuhan di pinggirannya, maupun Agra yang eksotik. Yang ditemui malah film-film Bollywood yang bersetting New York, London, Amsterdam, hingga Zurich. Ini yang coba dihindari oleh Aamir Khan.
Pada akhirnya, gaya kebarat-baratan seperti film “Kites” (Hrithik Roshan), “Roy” (Arjun Rampal), “Don” dan “Dilwale” (Shah Rukh Khan), nyaris tidak kita temui dalam film yang digarap Aamir Khan selama satu dasawarsa terakhir. Kecuali “Dhoom 3”, Aamir Khan tetap bergerak dalam aras Hindustan beserta kehidupan kesehariannya. Amerika dan Hollywood yang dianggap sebagai rujukan sahih dalam banyak hal, justru dia hindari. Pada titik ini, kita ingat gaya sutradara Abbas Kiarostami yang tetap bangga dengan corak sinematrografi tradisional Iran dan Akira Kurosawa yang mengusung sentuhan teatrikal Kabuki Jepang dalam berbagai karyanya.
Wallahu A’lam Bisshawab

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

MENENGOK KEMBALI KONEKSI ULAMA NUSANTARA DAN INDIA

Tulisan terlampau panjang. Nggak usah dibaca. Biar nggak buang-buang waktu panjenengan!
MENENGOK KEMBALI KONEKSI ULAMA NUSANTARA DAN INDIA
Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta’lif Wan Nasyr PCNU Surabaya)
Madrasah Shaulatiyah, Makkah, pada suatu siang, di tahun 1934. Zulkifli, seorang pelajar, menerima kiriman Majalah Berita Nahdlatoel Oelama dari Indonesia. Sebagaimana biasanya, adik KH. Zubair (Salatiga, kelak menjadi Rektor Pertama IAIN Walisongo) ini membacanya dengan antusias bersama kawan-kawannya sesama orang Indonesia. Tak disangka, gurunya tahu lalu memaksa mengambil majalah tersebut, merobek-robeknya dan membuangnya ke arah jendela di lantai tiga lembaga pendidikan tersebut. Peristiwa ini membuat para siswa sewot. Namun yang lebih membuat muntab mereka adalah kalimat penghinaan yang dilontarkan guru tersebut: “Kalian orang-orang Jawa [Indonesia] adalah bangsa yang berbudi rendah!”
Kejadian di siang hari itu benar-benar menyakiti hati para pelajar. Mereka dengan kompak mogok belajar. Kegiatan di madrasah pun lumpuh. Sebab, 95% siswa di Shaulatiyah berasal dari Indonesia. Demikian juga sebagian pengajarnya. Karena sudah terlanjur sakit hati, maka aksi ini berlanjut dengan tindakan yang tak kalah mencengangkan: para pengajar asal Indonesia memutuskan mendirikan sebuah madrasah sendiri.
Para orangtua siswa menghimpun dana, dibantu oleh para “syekh haji Indonesia” yang ada di Makkah. Syekh Abdul Manan ditunjuk sebagai penggerak proyek pendidikan ini. Hingga pada akhirnya, rencana ini berhasil diwujudkan. Lokasinya ada di Suq al-Layl. Gedungnya disediakan oleh Syekh Ya’qub, yang berasal dari Perak, Malaysia.
Lembaga gres ini diberi nama Madrasah Darul Ulum, siswanya merupakan pindahan dari Shaulatiyah, dan Sayyid Muhsin al-Musawa, seorang ulama muda kelahiran Palembang yang cakap ilmunya, disepakati menjadi pimpinan. Sejak saat itu, Darul Ulum mulai menapak jejaknya sebagai salah satu lembaga pendidikan yang berpengaruh di Makkah, khususnya bagi para pelajar dari kawasan Nusantara. Selain Syekh Muhsin al-Musawa, ada juga Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, ulama keturunan Indonesia, yang punya reputasi jempolan di bidang hadits. Syekh Yasin ini memimpin Darul Ulum sampai beliau wafat, 20 Juli 1990.
Kejadian di atas ditulis dengan detail oleh H. Abubakar Atjeh dalam biografi KH. A. Wahid Hasyim, “Sedjarah Hidup KH. A. Wahid Hasjim dan Karangan Tersiar” (1957: 90). Sebuah peristiwa yang membuka Kotak Pandora pasang surut hubungan antara ulama Nusantara dengan India.
Meskipun ada rasa sentimentil kebangsaan yang membuat para pelajar dan pengajar Nusantara memutuskan mendirikan lembaga pendidikan tersendiri, namun keberadaan Madrasah Shaulatiyah tidak bisa disingkirkan begitu saja dalam lanskap sejarah peranan ulama kita. Sebab, sejak pertama kali didirikan oleh komunitas India di Makkah, lembaga pendidikan ini menjadi salah satu jujugan utama para pelajar Nusantara di Hijaz di penghujung abad ke XIX hingga awal abad XX. KH. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), KH. Hasyim Asy’ari, dan Tuan Guru Zainuddin Abdul Majid (Nahdlatul Wathan), adalah tiga ulama besar yang pernah belajar di Madrasah Shaulatiyah.
Sebagaimana dikutip dari Majalah Tarikhiyyah Ilmiyyah Alumni Madrasah Shaulatiyah, nama KH. M. Hasyim Asyari sendiri tercantum dalam buku absensi tahun 1403 H/ 1893 M. Sampai sekarang madrasah legendaris ini tetap bertahan, dan pada bulan September 2016 silam, jajaran PBNU yang dipimpin oleh KH. Miftahul Akhyar didampingi PCI NU Arab Saudi dan puluhan perwakilan PCI NU seluruh dunia melakukan silaturrahim bersama di Makkah yang dilanjutkan dengan napaktilas tempat belajar KH. Hasyim Asy’ari di Makkah, khususnya di Madrasah Shaulatiyah.
Nama Shaulatiyah sendiri merupakan nisbat kepada Shaulatun Nisa, seorang perempuan filantropis India yang membantu sepenuhnya pendirian sebuah madrasah, pada 1290 H. Pada awalnya, akan didirikan semacam ribath. Namun usulan ini ditolak oleh Syekh Rahmatullah al-Kairanawi al-Hindi, yang berkeinginan agar ada sebuah lembaga yang secara inspiratif melanjutkan ruh Madrasah Nizamiyah, Baghdad, tempat Imam al-Ghazali pernah mengajar, beberapa ratus tahun sebelumnya. Usulan Syekh Rahmatullah diterima dan diwujudkan menjadi sebuah madrasah yang berdiri pada 1875 M.
Lantas, siapa sebenarnya Syekh Rahmatullah al-Hindi yang menjadi penggerak madrasah ini? Kalau pembaca mencermati rujukan yang digunakan oleh Dr. Zakir Naik dalam beberapa debatnya, niscaya pembaca akan menemukan kitab Idzharul Haq. Sebuah karya Syekh Rahmatullah al-Kairanawi al-Hindi. Kitab ini ditulis oleh ulama keturunan Sayidina Utsman bin Affan itu untuk mematahkan argumentasi pemuka Kristen, Gottlieb Pfander, ketika kedua pemuka agama ini berdebat soal teologi selama 3 hari di salah satu daerah di India, pada tahun 1850-an.
Syekh Rahmatullah, selain menguasai fiqh dan tasawuf, juga mahir dalam melakukan debat teologis melawan para misionaris garis keras yang disokong oleh penjajah Inggris. Hingga pada puncaknya, Syekh Rahmatullah turut serta menggerakkan revolusi Indian Mutiny, 1857, di mana beliau kemudian diburu Inggris lalu lari ke Makkah dan disambut Sayyid Zaini Dahlan, Mufti Syafiiyah di Haramain. (Catatan: Film mengenai Indian Mutiny, 1857, dibintangi Aamir Khan, Rani Mukherjee dan Amisha Patel, berjudul "The Rising: Mangal Pandey". Sebuah biopic seolah pahlawan besar India. Sorry, misionaris Bollywood lagi melakukan indoktrinasi hahaha).
Makkah saat itu adalah kota suci yang kosmopolit dan terbuka untuk kajian keilmuan lintas madzhab, tidak seperti saat ini yang dikuasai Wahhabi yang menghendaki monopoli paham keagamaan dan ekspor ideologi. Di kota suci inilah di kemudian hari, Syekh Rahmatullah al-Kairanawi al-Hindi yang punya banyak karya tulis itu menghimpun dan mengorganisir orang-orang India untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan Shaulatiyah, sebuah madrasah yang di kemudian berkembang pesat dan menjadi jujugan para pelajar asal Nusantara.
Ada yang menilai KH. M. Hasyim Asyari pernah berguru kepada ulama top India ini, meskipun dari tahunnya tampaknya tidak ada pertemuan antara keduanya, sebab Kiai Hasyim tiba di Makkah sekitar 1892, sedangkan Syekh Rahmatullah wafat 1891. Saya menduga, Kiai Hasyim berguru ke putra beliau, Syekh Salim bin Rahmatullah al-Hindi. Meski demikian, keberadaan Shaulatiyah menjadi penanda relasi erat antara ulama India dan Indonesia, sebab Shaulatiyah menjadi kawah candradimuka bagi para pelajar Indonesia di masanya.
Salah satu bentuk relasi erat ulama Indonesia dengan ulama India juga dikisahkan oleh H. Abubakar Atjeh dalam buku yang sama. Pada 1935 KH. Muhammad Ilyas (1911-1970), yang di kemudian hari menjadi Menteri Agama RI, kembali ke Indonesia dari Makkah melalui jalur India dan Malaysia. Dalam perjalanan itu dia berkeinginan mengadakan studi banding tentang sistem pendidikan Islam. Di India, ia mengunjungi beberapa kota dan universitas, juga tokoh-tokoh penting dan ulama.
Ketika berada di Bombai (Mumbai), ia bersama kawan-kawannya berjumpa dengan salah seorang ulama berpengaruh, Syekh Sa’dullah al-Maimani, Mufti Bombay. Yang cukup mengejutkan, Syekh Sa’dullah mengundangnya untuk ikut makan siang. Kiai Ilyas tidak tahu mengapa Syekh India ini memberikan perhatian dan pelayanan yang begitu istimewa kepadanya. Bahkan, meskipun Syekh Sa’dullah mempunyai banyak pelayan, dia lebih senang melayani sendiri para tamunya yang masih muda tersebut.
Tidak hanya itu, ketika Kiai Ilyas dan kawan-kawannya hendak bertolak meninggalkan New Delhi, Syekh Sa’dullah juga ikut mengantarkannya hingga ke stasiun kereta, bahkan menunggui hingga kereta api berangkat pukul 11 malam. Menjadi tuan rumah yang baik adalah hal yang semestinya dilakukan oleh seorang muslim, namun yang menjadi keheranan Kiai Ilyas adalah bahwa Syekh Sa’dullah al-Maimani adalah seorang mufti kenamaan.
Kiai Ilyas yang penasaran dengan perlakuan istimewa dari seorang ulama besar tersebut terus mencari jawaban. Sebab, dia merasa tidak pantas mendapatkan pelayanan yang sepenting itu. Keheranannya ini terus menjadi tanda tanya besar dalam pikiran dari minggu ke minggu.
Akhirnya, dua bulan kemudian, misteri tersebut terungkap ketika Kiai Ilyas pergi ke Kolkata dan bertemu dengan Zainuddin, seorang santri Jawa yang berasal dari Kediri, yang tinggal di kota itu. Zainuddin yang pernah tinggal di rumah Syekh Sa’dullah dan disekolahkan olehnya, bercerita apabila dia selalu menerima perlakuan atau pelayanan yang sama dari Syekh Sa’dullah dan yakin bahwa sang Syekh akan memberikan pelayanan terbaik tidak hanya kepadanya atau kepada Kiai Ilyas, namun juga kepada semua orang Indonesia lainnya.
Alasannya, menurut Zainuddin, adalah jelas, bahwa Syekh al-Maimani adalah murid langsung dari Syekh Mahfudz at-Tarmasi ketika berada di Makkah pada dekade pertama abad itu. Ulama tersebut merasa berkewajiban memperlihatkan rasa hormat dan terima kasihnya kepada semua orang Indonesia karena dia memperoleh pengetahuan dari orang Indonesia, Syekh Mahfudz at-Tirmasi. Luar biasa tawadlu’nya Syekh Sa’dullah ini!
PERSEMBAHAN DARI ULAMA INDIA UNTUK SYEKH ABDUSSHAMAD AL-FALIMBANI
Dalam Mahakarya Islam Nusantara: Kitab, Naskah, Manuskrip dan Korespondensi Ulama Nusantara, Mas Ahmad Ginanjar Sya'ban menyodorkan fakta unik. Seorang ulama India, Syekh Shadiq al-Madani ibn Umar Khan yang hidup pada abad 18, secara khusus menulis sebuah karya yang dipersembahkan kepada ulama Nusantara, Syekh Abdusshamad bin Abdurrahman al-Falimbani.
Kitab yang berjudul Qathf Azhar al-Mawahib al-Rabbaniyyah min Afnan Riyadh an-Nafhah al-Qudsiyyah ditulis pada saat Syekh Shadiq tinggal di Madinah. Kitab ini telah ditahqiq dan diterbitkan ulang oleh Dar al-Qahirah li At-Thiba’ah, Mesir, pada tahun 2006 silam, dengan jumlah 240 halaman.
Syekh Shadiq dan Syekh Abdusshamad dipertemukan dalam satu majelis keilmuan di Madinah pada saat keduanya bersama-sama bermulazamah kepada Syekh Muhammad ibn Abdul Karim As-Samman al-Madani. Ulama yang masyhur dengan sebutan Syekh Samman (1718-1775), Mursyid Tarekat Sammaniyyah, dan juga penjaga makam Rasulullah.
Pada saat itu, Syekh Abdusshamad meminta agar Syekh Shadiq al-Madani menuliskan sebuah syarh (penjelasan) atas teks puisi yang ditulis oleh guru mereka, Syekh Samman, yang berjudul an-Nafhah al-Qudsiyyah atau dikenal dengan al-Qashidah al-Ainiyyah, yang memuat ajaran tasawuf.
Permintaan ini kemudian dipenuhi. Syekh Shadiq lantas menuliskan kitab ini untuk sahabatnya asal Palembang tersebut. Dalam kata pengantarnya, sebagaimana yang dicatat oleh Mas Ahmad Ginanjar Sya’ban, Syekh Shadiq dengan rendah hati menjelaskan apabila dirinya hanya mempermudah penjelasan sebuah syair yang ditulis oleh gurunya. Saat itu, Syekh Abdusshamad memberinya sebuah teks syarh puisi karya orang lain yang masih terlalu berat dipahami. Oleh karena itu, Syekh Shadiq memutuskan menerima permohonan sahabatnya. Maka, jadilah kitab Qathf Azhar al-Mawahib al-Rabbaniyyah (fi Syarh) min Afnan Riyadh al-Nafhah al-Qudsiyyah tersebut.
Relasi ulama India dan Indonesia semakin erat manakala di kemudian hari, juniornya Syekh Abdusshamad al-Falimbani, yaitu Syekh Muhammad Nafis al-Banjari (w. 1812), menjadi murid Syekh Shadiq bin Umar Khan. Dalam karyanya yang berjudul Ad-Durr al-Nafis, Syekh Muhammad Nafis menyebut nama gurunya dengan hormat sekaligus menyinggung syarh al-Qashidah al-‘Ainiyah karya Syekh Shadiq yang kemungkinan besar ditulis pada rentang tahun 1770-1780-an tersebut.
DUET KAKEK DAN CUCU DARI MALABAR YANG POPULER
Selain Syekh Shadiq bin Umar Khan, ada ulama India lain, Syekh Zainuddin al-Malibari, yang menancapkan pengaruh kuat di kawasan Nusantara, sebab karyanya dikaji hingga saat ini. Mengkaji fiqh di pesantren tanpa menyertakan bahasan Fath al-Mu’in rasanya tidak lengkap. Sebagai salah satu kitab rujukan di bidang madzhab Syafi’i, kitab ini menjadi salah satu karya yang popular dan dikaji selama ratusan tahun dan bertahan hingga kini. Saking populernya, banyak umat Islam menggunakan nama Fath al-Mu’in sebagai nama buah hatinya ini. Semata-mata tabarrukan ppada faidah dan kemanfaatan kitab ini.
Kitab masyhur ini ditulis oleh Syekh Zainuddin al-Malibari (w. 987 H./1579 M). Ulama fiqh madzhab Syafii kelahiran Malabar, India yang juga disebut sebagai Zainuddin Ats-Tsani, karena kakeknya juga bernama Zainuddin. Zainuddin Ats-Tsani ini adalah penulis Fath al-Mu’in yang merupakan syarah atas karyanya sendiri, Qurratul‘Ain bi Muhimmatid Din. Isryadul Ibad ila Sabil Ar-Rasyad adalah karya lainnya.
Sedangkan kakeknya, Zainuddin bin Ali bin Ahmad al-Malibari juga merupakan pakar fiqh Syafiiyah yang lahir di Malibar/ Malabar pada tahun 872 H/1467 M dan wafat di Ponani (Fanan) pada 928 H./ 1521 M. Karya sang kakek yang cukup populer di Indonesia adalah kitab tasawuf Hidayatul Adzkiya Ila Thariqil Auliya.
Zainuddin al-Malibari senior ini juga dikenal dengan nama Zainuddin al-Fanani, dinisbatkan pada nama tempat wafatnya. Kitab Hidayatul Adzkiya Ila Thariqil Auliya’ini adalah salah satu kitab tasawuf yang paling populer di awal abad ke XX, di mana ulama sekaliber KH. Sholeh Darat memberi syarah kitab ini dengan judul Minhaj al-Atqiya fi Syarh Hidayatul Adzkiya Ila Thariqil Auliya.
Selain duo Malibari ini, di abad ke 17 dan 18 di wilayah Sumatera dan Jawa para bangsawan Aceh dan Yogyakarta akrab dengan kitab Tuhfat al Mursalah ila Ruh an Nabi, kitab tasawuf yang mengupas Martabat Tujuh dan pemikiran spiritual Ibn Arabi. Kitab karya ulama India, Syekh Fadhlullah Burhanpuri (w. 1620 M) ini membumi seiring dengan dominasi Tarekat Syattariyah di lingkungan elit keraton.
Tarekat ini pun didirikan oleh ulama India, Syekh Abdullah Asysyattari (w. 1485), dan disebarkan oleh orang India pula, seperti Syekh Sibghatallah al-Barwaji (w. 1606 M, sebagian mengejanya al-Baruji, atau Barauch, Gujarat), ulama India keturunan Persia. Syekh Sibghatallah ini menjadi penyebar dua kitab terkenal tarekat Syattariyah, yaitu Tuhfat al-Mursalah-nya Al-Burhanpuri dan Jawahir al-Khamsah karya Muhammad Ghauts al-Hindi (w. 1563 M).
Begitu populernya kitab Tuhfah al-Mursalah ini, sehingga Pangeran Diponegoro yang menjadi pengamal Tarekat Syattariah menjadikannya sebagai kitab kesayangan, selain kitab Taqrib (kalau Kiai Mojo memilih Fath al-Wahhab sebagai kitab pegangan, bahkan pengajaran kitab ini terus berlangsung pada saat bergerilya).
GENERASI AWAL: PAMAN DAN KEPONAKAN DARI GUJARAT
Karena tulisan ini disusun secara kronologis mundur, dari abad XX sampai abad XV, maka sampailah pada salah satu titik terpenting koneksi antara ulama India dengan Indonesia. Yaitu pada saat Syekh Muhammad Jilani bin Hasan Muhammad al-Humaidi, datang dari Gujarat, India, ke Kesultanan Aceh antara tahun 1583-1583. Dia mengajar fiqh, ushul fiqh, etika, dan retorika. Namun masyarakat yang hidup di bawah naungan Sultan Alauddin Riayat Syah ini ternyata menyukai tasawuf. Maka Syekh Muhammad Jilani kemudian berangkat ke Makkah untuk memperdalam kajian di bidang tasawuf agar bisa mengajar masyarakat Aceh.
Kiprah Syekh Jilani kemudian dilanjutkan oleh keponakannya yang lebih populer, Syekh Muhammad Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasanji al-Hamid Al-Aydarusi Ar-Raniri (w. 1658). Lahir di kota tua Randir (Ranir) di Gujarat, Syekh Nuruddin menjadi mufti (syaikh al-Islam) di era kesultanan Iskandar Tsani.
Karena memiliki kemampuan komplit di berbagai bidang keilmuan, Syekh Ar-Raniri memainkan peranan penting dalam pengokohan madzhab fiqh Syafi’iyah, penguatan tasawuf akhlaqi, dan pembaruan bahasa Melayu, sungguhpun bahasa ini bukan merupakan bahasa ibu Syekh Ar-Raniri.
Melalui As-Sirath al-Mustaqim, dia mengkokohkan madzhab Syafi’i, sebab inilah kitab fiqh lengkap pertama yang ditulis oleh seorang mufti di kawasan Nusantara. Karyanya yang lain, Bustan As-Salathin, selain berisi narasi historis Melayu-Nusantara, juga menyuguhkan berbagai nasehat bagi para raja. Saat menulis kitab ini, Syekh Ar-Raniri meniru langkah Imam al-Ghazali ketika menyusun Nashihat al-Muluk.
Di bidang akidah, Syekh Ar-Raniri menerjemah, menggubah, sekaligus memberi keterangan atas karya Najmuddin An-Nasafi yang berjudul Mukhtashar al-‘Aqaid. Karya ini cenderung rumit, dan bahasa Arabnya sulit dipahami oleh orang non-Arab. Di tangan Syekh Ar-Raniri, kitab ini diulas dengan menggunakan bahasa yang sederhana melalui Durrat al-Faraid bi Syarh al-’Aqaid. Karya lainnya, Tibyan fi Ma’rifat al-Adyan, berisi perbandingan agama dan karakteristik “kelompok sesat dan menyesatkan”.
Karya-karya di atas, antara lain, diselesaikan oleh Syekh Ar-Raniri selama menjabat sebagai Syaikhul Islam (1637-1644 M) di Kesultanan Aceh. Bahkan, sebelum kembali ke Ranir, ulama yang mengikuti Tarekat Rifaiyah, Qadiriyah dan Aidarusiyah ini sempat menulis sebuah karya berjudul Jawahir al-Ulum fi Kasyf al-Ma’lum, yang kemudian diselesaikan oleh salah seorang muridnya.
Ketika menjabat sebagai mufti, Syekh Ar-Raniri banyak berpolemik dengan para pengikut ajaran Hamzah Fansuri dan Syamsudin As-Sumaterani, dua tokoh pengajar tasawuf falsafi. Kelak, ketika Iskandar Tsani wafat dan digantikan oleh istrinya, Ratu Shafiyatuddin, Syekh Ar-Raniri mulai tersingkir oleh kebijakan baru penguasa baru. Hingga pada puncaknya, Syekh Saifur Rijal al-Minangkabawi al-Azhari diangkat sebagai pengganti Syekh Ar-Raniri. Setelah kembali ke kota kelahirannya di Gujarat, Syekh Ar-Raniri menuliskan berbagai karyanya, termasuk menjalin korespondensi dengan Sultan Banten, Abu al-Mafakhir Abdul Qadir al-‘Ali. Pada hari Sabtu, 22 Dzulhijjah 1068/21 September 1658, ulama besar ini wafat.
“Meski masa karier Ar-Raniri di Nusantara relatif sebentar, peranannya dalam perkembangan Islam di wilayah Melayu-Indonesia tak bisa diabaikan. Tanpa mengabaikan peranan para pembawa Islam dari Timur Tengah atau tempat-tempat lain di masa lebih awal, kita dapat mengatakan Ar-Raniri merupakan suatu mata rantai yang sangat kuat, yang menghubungkan tradisi Islam di Timur Tengah dengan tradisi Islam di Nusantara.” tulis Azyumardi Azra dalam “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Akar Pembaruan Islam di Indonesia” (2004: 222).
DUA MUSTHAFA AHLI HADITS
Setelah menelusuri relasi erat ulama Nusantara dan India dalam kurun setengah milenium terakhir yang disusun mundur, lantas bagaimana dengan koneksi pasca Indonesia merdeka.
Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, 1945, dan India, 1947, jalur keilmuan kedua negara ini lebih banyak terjalin melalui hubungan para aktivis Jamaah Tabligh, yang mulai menguat sejak 1990-an. Relasinya dipilin melalui transmisi para murid Syekh Muhammad Zakariyya ibn Muhammad Yahya ibn Muhammad Ismail al-Kandahlawi yang masyhur dengan karyanya, Fadhail al-Amal, itu.
Di bidang hadis, seingat saya, ada relasi erat dua pakar bidang ini yang sama-sama bernama Musthafa. Dari India, ada Syekh Muhammad Musthafa Azami, sedangkan dari Indonesia, ada KH. Ali Musthafa Ya'qub. Keduanya saling menjalin relasi erat. Bahkan di era 1990-an, Kiai Ali Musthafa mengundang Syekh Musthafa Azami untuk mengisi seminar di Jakarta. Relasi keduanya semakin erat karena Kiai Ali Musthafa mendapatkan izin menerjemahkan karya Syekh MM. Azami, ulama besar di bidang hadits itu, yang terbit dengan judul “Hadits Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya”. Bahkan, ketika memperdalam ilmu hadits di jenjang S-3, Kiai Ali Musthafa memilih Universitas Nizamia di Hyderabad, India.
Adapun ulama top India saat ini, Maulana Wahiduddin Khan tidak begitu populer di Indonesia. Maklum, di negara kita, pejuang perdamaian dan kemanusiaan akan kalah pamor dan kalah populer dibandingkan dengan tukang provokasi dan penganjur kekerasan.
Padahal nama terakhir ini turut andil dalam menjaga stabilitas kehidupan beragama di India. Ulama berwajah teduh dan berpenampilan kalem ini giat mengkampanyekan moderatisme Islam sejak tahun 1970-an. Maulana Wahiduddin Khan juga mendirikan Center for Peace and Spirituality, satu yayasan yang mendakwahkan kedamaian dan spiritualitas, tasawuf. Ia kerap berkunjung ke berbagai wilayah dan bertemu berbagai tokoh lintas iman untuk berdialog, bukan berdebat.
Pada 2015 lalu, di Abu Dhabi, Syekh Wahiduddin Khan mendapat penghargaan dari Majlis Hukama al-Muslimin pimpinan Syekh Abdullah bin Bayyah atas kerja kerasnya mengkampanyekan perdamaian sepanjang hidupnya.
Ini hanya artikel rintisan. Masih banyak yang belum ditulis mengenai relasi penting ulama India dan Indonesia sejak awal masuknya Islam di Nusantara, yang ditengarai--antara lain-- melalui jalur Gujarat. Silahkan melanjutkan tulisan ini berdasarkan informasi lain, karena artikel ini sangat terbatas.



ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

JAMAAH KURA-KURA DAN KUTUKAN KHOTBAH JUMAT

 
Pascapilkada DKI dan Ahok akhirnya dibui, khotbah Jumat kembali stabil. Sebelumnya, tahu sendirilah, sejak Pilpres 2014 yang brutal itu, residu politik terbawa-bawa hingga mimbar Jumat, di mana-mana. Khotbah Jumat malah menjadi terompet provokasi dan corong ujaran kebencian.
Bagi saya, khotbah Jumat adalah salah satu fase menyegarkan kembali pikiran umat Islam yang sebelumnya dedel-duel mengurusi pernak-pernik duniawi. Hari Jumat bisa menjadi oase, ajang instrospeksi, sekaligus disambung dengan pijat refleksi. Enak, to?
Meski kadang terlambat, saya berusaha menahan diri agar tetap melek mendengarkan khotbah, dan beberapa kali gagal. Tidak apa-apa, maklumi saja, manusiawi kok. (Bahkan saran saya, penderita insomnia akut bisa datang lebih awal mengikuti prosesi salat Jumat. Sebab, mungkin saja penyakit sulit tidurnya bisa diterapi dengan mendengarkan khotbah. Hoaaaawmmmh.)
Baiklah, jamaah Jumat pembaca yang dimuliakan Allah …. Hari Jumat memang sangat istimewa. Rasulullah menyebutnya sayyidul ayyam, hari yang utama. Sedangkan para malaikat menyebutnya Yaumul Mazid, karena pada hari ini pintu rahmat dibuka oleh Allah. Pada hari Jumat pula, menurut Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, Allah menumpahkan berbagai keutamaan (yafidlu min al-fadli) dan berbagai keistimewaan (yabsuth min al-khairi). Keren, kan?
Pada zaman Jahiliyyah, hari sebelum Sabtu ini bernama ‘Arubah. Setelah Islam datang, ‘Arubah diganti menjadi Jumu’ah yang berarti “hari berkumpul”. Maksudnya, agar kaum muslimin berkumpul pada hari itu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bersama-sama mendirikan salat.
Oke, itu aspek sejarahnya. Biar kita tahu dan lebih menghargai salat Jumat dengan tidak telatan dan nggak ngantukan.
Selanjutnya, agar jamaah Jumat kuat lebih melek, dan agar tulisan ini semanis senyum Jonru Tatjana Saphira, saya menyarankan para takmir masjid menyediakan cangkir-cangkir kecil kopi espresso dengan kadar kepahitan di atas rata-rata. Tentu indah sekali jika para takmir dengan seragam doreng putih bersarung itu menyambut jamaah di halaman masjid, lalu menawarkan kopi dengan senyum manis dan gestur ramah seperti kasir Indomaret. Dan, tim takmir sebaiknya memberi saran agar jamaah bersungguh-sungguh berkumur sambil melem-melek saat berwudu. Selain merupakan sunah wudu, tentu saja berkumur menjadi salah satu prasyarat agar penikmat kopi tadi tidak klamut-klamut saat duduk mendengarkan khotbah.
Cara ini saya kira efektif untuk mengurangi jumlah jamaah yang sengaja memindahkan waktu bobok siangnya di masjid sambil (pura-pura) mendengarkan khutbah. Kopi punya kandungan kafein, dan jika dimanfaatkan dengan baik, lumayan bisa membuat hadirin melek.
Agar tidak diprotes jamaah, sebaiknya dana beli kopi Jumat ini disayembarakan melalui pengumuman menjelang khotbah. Siapa yang mau nyumbang, monggo. Dengan cara ini, ada dua pembagian wilayah: uang kas masjid yang dihimpun kotak amal tidak bercampur dengan uang kopi Jum’at. Enak, kan?
Ayolah, sesekali takmir masjid mesti kreatif sedikit, sambut jamaah dengan senyum dan secangkir kopi. Daripada jamaah sumpek melihat sales khilafah membagi-bagikan buletin Al-Islam yang isinya istikamah begitu-begitu melulu, seistikamah gaya rambut Mas Felix Siauw.
Itu urusan menjelang khotbah. Lantas bagaimana mekanisme seorang khatib menyampaikan khotbahnya? Macam-macam, Anda tahu sendirilah. Ada yang kalem, ada yang tegas dengan intonasi teratur, ada pula yang bergaya orator, sebagian malah pakai gaya propaganda. Yang terakhir ini biasanya mengusung tema politik. Kalau bukan politik, biasanya nyinggung bid’ah, neraka, sambil tuduh sana-sini. Hadeeeh.
Sampai sekarang saya lebih nyaman mendengar khotbah Jumat mengenai akhlak, pembenahan ruhani, introspeksi diri, dan beberapa tema yang menganjurkan menengok ke dalam diri secara lebih jernih. Ini gaya kiai-kiai kampung yang sederhana dan tidak muluk-muluk. Saking ademnya, khotbah model begini kerap membuat jamaah terlelap. Penderita insomnia dijamin sembuh sebentar.
Di kota, khususnya Surabaya, saya beberapa kali menjumpai khotbah agak keras. Mungkin karena pengetahuan khatibnya yang kosmopolit dan jamaah Jumat yang multikultural sehingga tema khotbahnya lebih realistis dengan pembahasan sosial-politik. Kalau begini, biasanya jamaah jarang terlelap, tapi khotbah jadi mirip orasi politik yang meminggirkan etika berkhotbah. Kata-kata yang terlontar bahkan lebih mirip provokasi.
Akhirnya, terserah kita punya kecenderungan yang mana. Meskipun saya sudah bisa mafhum, khotbah yang menggebu-gebu mirip provokasi itu penyaluran rasa frustrasi SEBAGIAN kecil umat Islam atas problem yang terjadi dan BUNTUNYA saluran politik mereka. Embuhlah, saya juga mumet kalau lihat khatib teriak-teriak begitu.
Sidang Jumat pembaca yang dimuliakan Allah dan senantiasa terlihat tamvan memesona ….
Tiba-tiba saya ingat, di awal kekuasaan Dinasti Umayyah, khotbah Jumat menjadi ajang pelecehan atas pribadi dan kemuliaan Sayidina Ali Karramallahu Wajhah. Beginilah kalau politik digeret ke wilayah agama. Sakralitas menjadi banal.
Kelak, karma berlaku. Di akhir-akhir kekuasaan Umayyah, muncul sosok misterius yang mengibarkan panji hitam dengan sorak-sorai bergemuruh. Dia memperkenalkan diri sebagai Muslim ibn Muslim Abu Muslim (seorang Islam yang merupakan anak dari orang Islam dan bapak orang Islam). Kita mengenalnya sebagai Abu Muslim al-Khurasani: propagandis ulung nan karismatik.
Dia menjadikan khotbah Jumat sebagai ajang propaganda antipemerintah Umayyah. Orasi politiknya yang memukau, membuat Abu Abbas Assafah, khalifah awal Dinasti Abbasiyah, terpesona dan mereka pun menjalin koalisi. Duet maut yang meruntuhkan anak-cucu Umayyah.
Malang tak dapat ditolak, pada akhirnya, nasib Abu Muslim tak kalah tragis. Suatu hari, Abu Ja’far al-Mansur, pengganti Abu Abbas, mengundang Abu Muslim ke istana, mempersilakannya masuk ke ruangan pribadi, lalu memerintahkan pengawal menutup pintu dan mengeksekusinya. Jenazah Abu Muslim dibuang ke sungai. Menyedihkan.
Maka jangan sekali-sekali mempermainkan khotbah. Ini yang hendak saya sampaikan, wahai sahabat Mario Tegap yang zuperrrr!
Sebelum saya akhiri khutbah Jumat  tulisan ini, saya ingatkan kembali problem klasik yang berlaku selama berabad-abad di kalangan umat Islam: dalam setiap khotbah Jumat, jamaah model kura-kura selalu ada dan berlipat ganda. Mereka duduk, mendengarkan khotbah, kesirep, dan kepala mereka hilang jika diamati dari belakang. Ajaibnya, kepalanya nongol kembali saat ikamah berkumandang. Persis kepala kura-kura.
Saya sendiri adalah loyalis kelompok kura-kura ini. Mereka bukan antek PKI, Asing, Aseng, dan Asu, mereka hanya antek dari rasa kantuk. Kopi mana, kopi?


ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Advertisement

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan