12.3.18

Biar saya bisa menjadi contoh bagi anak-anak saya

 
Beliau di antara mahasiswa Ahwalus Syakhsiyyah STAIFAS (SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AL-FALAH ASSUNNIYYAH) Kencong Jember yang aktif mengikuti perkuliahan. Beliau juga paling rajin dan telaten mencatat keterangan dosen dan tidak malu bertanya.
Hari ini, beliau menjadi peserta ujian skripsi paling sepuh, 52 tahun. Dulu, ketika saya bertanya kepada Pak Abdurrahman, mengapa masih kuliah di usia menjelang 50 tahun, beliau saat itu menjawab ringkas: "agi anak-anak saya kalau belajar itu tidak mengenal usia dan agar anak-anak saya juga mencintai ilmu."
Biar saya bisa menjadi contoh b
Mantab Pak Abdurrahman. Angkat kopi(ah) buat panjenengan deh!
Cc: Mbah Nanang Budianto, Bu Titin Nur Hidayati
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Madzhab Spesialis Tawuran

 
Tulisan saya setahun silam ini dihapus fesbuk. Padahal kemarin masih bisa dibaca. Mungkin karena dilaporkan rame-rame sama para "abu" itu khakhakhakha....saya muat lagi deh!
-----
Madzhab Spesialis Tawuran
-----
Kelompok yang mengklaim diri sebagai Salafi—mereka menolak disebut Wahhabi—ini kelompok kecil, tapi perpecahannya dahsyat. Bahkan saling mengkafirkan. Wkwkwkwk…
Abu Husein At-Thuwaliby saling mubahalah dengan Fauzan al-Anshari, Salafi Jihadi simpatisan ISIS. Ngefek? Wallahu A’lam, tapi At-Thuwailiby mengakui dirinya “menang” karena setelah mubahalah Fauzan Al-Anshari, dedengkot Majelis Mujahidin Indonesia, itu sakit, lalu wafat. Ketika video sighat mubahalah diupload di youtube, Abu Aiman Al-Jimrasi yang merupakan pendukung Fauzan al-Anshari melaknat At-Thuwailiby dan menyebutnya sebagai munafik.
Abu Jibril pada awalnya sependapat dengan Aman Abdurrahman. Tapi ketika Aman Abdurrahman, yang dipenjara atas kasus terorisme itu bersama Abu Bakar Baasyir berbaiat kepada Abu bakar al-Baghdadi, maka Abu Jibril berbeda pendapat sengit dengan kedua orang di atas. Abu Jibril pro Jabhat An-Nushrah sedangkan Abu Bakar baasyir dan Aman Abdurrahman pro ISIS. Para pengebom di berbagai daerah rata-rata anak buah Aman Abdurrahman yang dibina melalui jaringannya, termasuk Santoso dan pengebom panci yang tewas di Bandung.
Saya menelusuri pemikiran Aman Abdurrahman dalam buku karyanya, “Ya Mereka Memang Thaghut”. Isinya mengerikan, hehehe, hampir semua dikafirkan! Gaya buku Aman Abdurrahman ini nyaris mirip karya Imam Samudera, “Aku Melawan Teroris”, tuduh sana sini. Klaim kebenaran mutlak ini berceceran dalam halaman per halaman, sebagaimana buku karya terakhir trio bomber Bali ( Imam Samudera, Mukhlas dan Amrozi), yang saya beli dari Ali Fauzi, adik Amrozi. Yang pasti, pemetaan di kubu Salafi Jihadi sangat mengerikan. Saling ancam bunuh, salaing tuding sebagai kilabun nar (asune neroko), saling tuduh munafik dan taghut, dan sebagainya. Kalau anda melihat kombatan ISIS menyembelih komandan tank kubu Jabhat an-Nushrah, nggak heran, itu adalah puncak saling mengkafirkan di antara dua kubu yang bertempur di Suriah ini. Sama-sama bersyahadat, dan sama sama bertakbir saat menyembelih umat Islam. Naudzubillah min dzalik…..
Perpecahan kubu Salafi ini juga tampak saat membaca buku “Sebuah tinjauan Syar’i: Mereka Adalah Teroris” karya Luqman Baabduh, yang juga mengklaim diri sebagai Salafi. Buku ini merupakan bantahan dari buku Imam Samudera, “Aku Melawan Teroris”. Luqman yang merupakan murid Syekh Muqbil bin Hadi al-Wad’i di Yaman, mencela gerakan yang dilakukan oleh Imam Samudera Cs, termasuk Abdullah Azzam, mentor “pejuang” Afganistan, sebagai gerakan Khawarij. Kubu trio bomber Bali tidak terima atas sangkaan sebagai khawarij ini, termasuk yang keberatan dengan tendensi itu adalah kubu Salafi lainnya, yaitu Abu Salma Al-Atsari, murid dari Abdul Hakim Abdat dan Abu Qatadah. Harus diakui gaya bahasa dalam buku karya Luqman Baabduh ini kasar, sangat kasar, hingga Imam Samudera dan Ali Ghufron (Mukhlas) menyebut Luqman sebagai seorang yang sembrono dan jahil murakkab (padahal dua nama terakhir ini lebih kasar dalam tulisan-tulisannya qiqiqiqi).
Setelah buku “Aku Melawan Teroris” yang dibantah oleh buku “Mereka Adalah Teroris”, muncul kemudian buku “Siapa Teroris? Siapa Khawarij?” karya Abduh Zulfidar Akaha. Mbulet ae ya? Hahaha…isinya yang mencoba memetakan kembali kontradiksi kedua kubu Salafi di atas. Selain itu, di kalangan Wahabi sendiri, gesekan-gesekan saling menguat karena ada rasan-rasan apabila Luqman Ba’abduh ditahdzir oleh gurunya sendiri seperti Syaikh Yahya al-Hajuri, dan masyaikh di Darul Hadist Dammaj, Yaman, tempat menuntut ilmunya.
Selesai? Belum. Silahkan mencermati saling cela antara kubu Wahabi di Indonesia. Abu Qatadah, salah seorang ustadz Wahabi yang dihormati kubunya, dituduh oleh kelompok Wahabi lainnya sebagai Salafi Sururi. Sebutan ini merupakan penisbatan kelompok yang mengikuti jalan Syaikh Muhammad Surur bin Nayif Zainal Abidin, salah seorang pentolan Wahabi asal Saudi yang kemudian bermukim di London. Sebutan Salafi Sururi alias Salafi Hizbi ini adalah istilah tendensius dan pejoratif di kalangan Wahabi sendiri. Abu Hamzah al Atsari (embuh, nama aslinya siapa) habis-habisan mencela Abu Qatadah sebagai ahli bid’ah, pengikut hawa nafsu, melenceng dari sunnah, dan sebagainya. Sekadar catatan, Abu Qatadah (ini lagi, nggak tau nama aslinya), ini juga sama dengan Luqman Baabduh, sama-sama alumni Dammaj, Yaman.
Bagaimana Wahabi lainnya? Embuh, podo gelut karepe dewe. Agomo digawe geluuut ae. Wkwkwkw Mereka geram karena Salafi Sururi menyebut trio ulama legendaris Wahabi: Bin Baaz, Al-Albani dan Utsaimin sebagai ulama haidh dan nifas. Embuh, apa maksudnya ini. Yang pasti, di kalangan Wahabi sendiri masing-masing kubu berebut klaim sebagai Salafi dan Ahlussunnah.
Tampaknya, ada polarisasi antara Wahabi jaringan Saudi dengan Wahabi jaringan Yaman. Alumni Saudi tidak menyerang kerajaan sebagai taghut (ya iyalah, majikan gitu loh) dan banyak menyandarkan pendapatnya pada ulama-ulama Saudi dalam berbagai masalah. Sedangkan Wahabi alumni Yaman, di Dammaj, lebih terbuka dalam melakukan “serangan” terhadap pemerintah. Namun soal penyeberangan ideologis menjadi Salafi Jihadi, itu tergantung sikon. Bahkan ada kecenderungan apabila yang menjadi pelaku bom bunuh diri di tanah air maupun terlibat gerakan teror tidak pernah secara langsung belajar di Saudi maupun Yaman. Mereka rata-rata baru belajar agama secara intens selama beberapa tahun terakhir lalu tertular ideologi radikal kemudian menjadi ekstremis. Aspek terakhir ini membutuhkan kajian mendalam, saya kira.
Membaca berbagai perseteruan dan saling mentahdzir antara masing-masing kubu Wahabi ini juga banyak faktor. Pemetaannya rumit, karena masing-masing pihak kadang kala merasa independen, meskipun pada saat yang sama mereka seiya sekata. Setidaknya ini yang bisa saya cermati dalam berbagai ulasan di media mereka maupun pengajian para ustadznya, yang tersebar banyak di internet.
Kalau saudara-saudara kita tersebut menuduh kaum muslimin di luar kelompoknya sebagai ahli bid’ah, musyrikin, penyembah kuburan, pengikut taghut dengan cara memutilasi ayat Al-Qur’an untuk mendukung tuduhannya, maka semoga kita tidak tergoda melirik mereka dengan penggalan Surat al-Hasyr ayat 14: tahsabuhum jamian wa qulubuhum syatta….
Semoga tidak, jangan! Eman eman kalau ayat al-Qur'an dipake mainan begitu....
Paham, kan Kak Emma? 
Wallahu A’lam Bisshawab.
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

2.2.18

kegiatan diskusi yang berbarakah di Pesantren Luhur Al-Husna, Surabaya, pada malam gerhana bulan ini, 31 Januari 2018

 

Meski sempat tertunda, akhirnya acara ini terlaksana juga. Terimakasih Gus Ahmad Maududi yang sudah melibatkan saya dalam
kegiatan diskusi yang berbarakah di Pesantren Luhur Al-Husna, Surabaya, pada malam gerhana bulan ini, 31 Januari 2018.
Selain judul yang membuat saya mumet, saya tetap bangga meminum secangkir Kopi Tjap Kapal Terbang kiriman Mas Hamam Muhlishun, menggunakan baju hadiah dari istri Nisfu Laili, memakai sandal pemberian CakSyaifullah Ibnu Nawawi, berbalut sarung hadiah dari Pak Ma'ruf Asrori Bos Khalista, dan memasang kopiah Gus Dur hadiah dari Songkok Azkafada di kepala saya....
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Seminar deradikalisasi dan penguatan nilai kebangsaan

 
#crito nabi-nabi...

Matursuwun Gus Abdul Mughits Naufal dan MasMuhammad Sulton Fatoni yang sudah melibatkan saya dalam acara pertemuan BEM Perguruan Tinggi di bawah pesantren se-Jawa Timur dan Jawa Tengah di STAI Bustanul Ulum Krai, Yosowilangun, Lumajang, pagi tadi.

Terimakasih juga Mas Muhammad Burhanuddin Armaiyn yang telah menjemput-antar saya.
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

1.2.18

Barakallah lakuma

 
Buku karya Gus Muhammad Al-Faiz ini berisi kumpulan kisah seputar pernikahan. Sisi unik buku ini adalah 50 cerita suami-istri dan dinamika rumahtangga semuanya disarikan dari kitab-kitab salaf. Monggo segera dipesan melalui saya via inbox atau 085-645-311-110.
"Inilah souvenir pernikahan yang indah dan istimewa. Memuat kisah-kisah menarik seputar pernikahan dan kehidupan keluarga secara umum. Selamat untuk penulisnya dan pernikahannya. Mabruk, alfu-alfi mabruk."
(KH. A. Mustofa Bisri. Pengasuh PP. Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang)
"Keluarga adalah miniatur negara. Keharmonisan keluarga adalah gambaran keharmonisan bangsa dan negara. Sebaliknya kekacauan suatu keluarga adalah cermin dari kekacauan bangsa dan negara."
(KH. Agoes Ali Masyhuri. Pengasuh PP. Bumi Shalawat Sidoarjo)
"Karya ini sangat distingtif. Melalui rujukan ke berbagai khazanah hikmah dan kearifan Islam yang relatif komprehensif, buku ini menyuguhkan nilai-nilai di balik pernikahan yang sangat luhur. Dapat dikatakan, upaya Faiz, sang penulis, dalam meramu kumpulan nilai yang berkaitan dengan cinta, pernikahan dan ibadah secara utuh merupakan sesuatu yang nyaris belum pernah dilakukan sebelumnya."
(Prof. Dr. KH. Abd A'la M. Ag. Pengasuh PP. Annuqayah Guluk-Guluk. Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya)

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

21.1.18

Pak De Mad


Pakde Mad
----
Nama lengkapnya KH. Achmad Zaini Syafawi. Orang kampung memanggilnya Gus Mad atau Yai Mad. Keluarga kami menyapanya Pakde Mad, sebab beliau anak sulung kakek kami. Perawakannya tidak tinggi, sedang saja. Tidak gemuk, tapi proporisonal. Wajahnya teduh, bercahaya. Jika memandang paras wajah beliau dari dekat, saya teringat keteduhan wajah KH. Sya'roni Ahmadi, wajah yang memancarkan kasih sayang, yang membuat orang sekitar nyaman, bahkan segan. Beliau juga tak pernah menampilkan wajah menyebalkan. Sepasang bibirnya juga menyiratkan senyum yang tertahan. Beliau nyaris tak pernah marah. Kalau pun ada yang tidak sreg di hatinya, Pakde Mad mengungkapkannya dengan lembut dan santai, tak pernah reaksioner dan meledak-ledak.
Demikian juga saat mendapatkan kabar. Beliau tak lantas langsung menyebarkannya, apalagi dengan ceroboh menyampaikan kepada para santrinya. Pengasuh PP. Mabdaul Maarif, Desa/Kec. Jombang Kab. Jember ini menyimpannya sembari melainkan mencari alternatif informasi lain. Kalaupun sudah terverifikasi kebenarannya, biasanya beliau menjelaskan kepada para santri dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Saat saya sowan, yang biasanya ditanyakan Pakde Mad kepada saya adalah seputar isu-isu "sensitif", khususnya yang berkaitan dengan NU, organisasi yang beliau cintai. Misalnya, ketika TEMPO mengangkat soal "Algojo 1965", Pakde Mad meminta saya agar membawakannya majalah tersebut. Beliau ingin membaca secara langsung, bukan katanya, dan katanya.
Kalaupun ada santri yang mbeling, beliau tak pernah merendahkannya di hadapan santri lain. Biasanya hanya dipanggil dan dinasehati. Cara lainnya, beliau menegur santri melalui surat. Betapa malunya seorang santri jika disurati pengasuhnya.
Santri KH. Bisri Syansuri ini sangat menghindari hukuman fisik bagi para santri. Sebab, kata beliau kepada saya, aku ini diamanahi orangtua santri untuk mendidik putra-putrinya, bukan untuk memukulinya. Bukankah cubitan itu kadang dibutuhkan untuk menyadarkan santri yang nakal, pakde? Saya bertanya. Tidak, bagiku al-fatihah dan shalawat jauh lebih bermanfaat untuk meredam santri yang belum baik. Demikian beliau menjawab. Lihatlah, kawan, bahkan guru saya ini menghindari istilah "nakal", dan menggantinya dengan istilah optimistik, "belum baik".
Alumnus Ponpes Ma'had Ulum As-Syar'iyyah [MUS] Sarang, Rembang, ini sangat kelihatan meniru jejak keteladanan guru beliau, KH. Ahmad Syua’ib dan KH. Abdurrohim Ahmad. Baik dari kesederhanaan, ketawadluan dan kekhumulan. Ketika mewarisi estafet kepemimpinan Ponpes Mabdaul Maarif dari ayahnya, KH. Syafawi Ahmad Basyir, sejak 1984, Pakde Mad sudah lahirbatin mendidik santri dan melayani masyarakat. Tampaknya beliau sudah kenyang dicemooh, dimaki, bahkan difitnah. Ketika saya mendengar fitnah di luar dan menyampaikannya kepada beliau, Pakde Mad hanya mendengarkan, lalu diam, kemudian tersenyum sambil geleng-geleng. Lho, mboten marah, pakde? Tanya saya. Nggak usah digubris, jawab beliau sambil terkekeh lirih.
Selain menghadapi fitnah, Pakde Mad juga serangan gaib, semacam santet. Juni 1996, saya ingat betul saat listrik padam dan saya berniat mencari lilin bersama Muslimin, sahabat saya. Saat berjalan di depan gedung MTs (saat ini dipake sebagai unit SMK dan Diniyah Wustho), suasana tiba-tiba benderang dan kami melihat bola api dengan bentuk seperti komet meluncur dari atas langit langsung menghantam rumah Pakde Mad. Kemudian suasana gelap kembali. Anehnya, tak ada suara dentuman maupun "prak" layaknya benda keras menghantam genteng. Hanya sunyi saja seperti sebelumnya. Keesokan harinya, saya menceritakan peristiwa aneh ini kepada Pakde Mad. Beliau yang sedang sarapan hanya diam lalu (seperti biasa) tersenyum. "Nanti sampeyan akan tahu sendiri apa itu." Dan, di kemudian hari saya tahu itu adalah santet yang mengerikan. Untunglah, beliau senantiasa dilindungi Allah dari hal-hal jahat seperti itu.
Almarhum bapak saya mengomentari kakak iparnya ini sebagai "...laki-laki yang tidak punya duri di hatinya." Sedangkan saya menjuluki beliau "kitab akhlak berjalan", sebab apabila ingin belajar mengenai kesabaran, ketekunan, kedisiplinan, dan ketawadluan, beliau adalah jujukan, sebab sudah melekat dalam kesehariannya. Soal kealiman, Pakde Mad lebih banyak menyamarkannya dengan penampilannya yang bersahaja. Khumul dan menjauhi popularitas. Saya masih ingat saat beberapa kali para santri mencantumkan gelar "KH" di depan nama beliau dalam surat maupun publikasi umum, beliau dengan cermat mencoret "KH" di depan namanya. Paling banter hanya mencantumkan huruf "H" saja.
Masih banyak karakter pribadi beliau yang belum saya ulas di sini. Yang paling saya ingat, kemampuan beliau menahan diri agar tidak melakukan ghibah, apalagi namimah. Apabila ada tamu yang mulai memancing beliau agar menggunjing, biasanya langsung dipotong dengan lembut dan dialihkan ke pembicaraan lain. Kemampuan yang membutuhkan latihan berat dan kedisiplinan untuk menahan mulut dan mengikis "rasa penasaran" terhadap aib orang lain.
____
Beliau wafat pada 2 Februari 2017 silam dalam usia 75 tahun. Mohon doanya agar segala dosa beliau diampuni Allah, amal baiknya menjadi penerang alam kubur, dan pahala jariyah beliau senantiasa mengalir.
Nanti malam haul beliau di PP. Mabdaul Maarif, Desa/Kec, Jombang Kab. Jember



ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

NU vs DI/TII

 

NU vs DI/TII
----
Sepulang dari Bandung menuju Jakarta, Idham Chalid, Ketua I PBNU, menginap di Puncak. Tiba-tiba gerombolan DI/TII menembakinya dari arah perbukitan. Dia tiarap di kolong ranjang. Untungnya, segera datang bantuan tentara dari Cipanas. Kontak senjata berlangsung berjam-jam. Malam menjadi bising karena desingan peluru. Mereka lari menjelang subuh dengan menderita banyak korban jiwa dan luka-luka. Di pihak tentara juga ada yang terluka.
Pengalaman lain yang dialami Idham ketika naik kereta api menuju Jawa Timur. Dia ditembaki gerombolan DI/TII antara Gambir dan Pegangsaan. Beruntung peluru hanya mengenai ujung kopiah ajudannya, H. Djumaksum. “Sasaran tembakan pastilah saya, menteri yang mengurusi keamanan,” kata Idham dalam biografinya, Tanggungjawab Politik NU dalam Sejarah.
Dari 24 Maret 1956 hingga 9 April 1957, Idham menjabat Wakil Perdana Menteri merangkap Kepala Badan Keamanan. Salah satu perhatian utama Kabinet Ali Sastroamidjojo II itu adalah pemulihan keamanan dari DI/TII di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, dan Sulawesi Selatan.
“Tugas saya yang paling berat adalah menghadapi gerombolan yang membawa dalil-dalil agama Islam, yaitu Darul Islam Kartosuwiryo di Jawa Barat, Ibnu Hadjar di Kalimantan Selatan, Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan, dan Tengku Daud Beureueh di Aceh,” kata Idham.
Menurut Idham, DI/TII merugikan Islam. Banyak umat Islam yang menjadi korban kekejaman mereka. Mungkin di Aceh tidak terjadi perbuatan seperti di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan di mana gerombolan DI/TII membakar madrasah dan masjid yang tidak sependapat dengan mereka.
“NU yang dianggap sebagai pengkhianat Islam karena keluar dari Masjumi juga dianggap musuh utama DI/TII. Mereka menganggap NU membantu Republik Indonesia Kafir (RIK). Apalagi salah seorang ketuanya menjadi wakil perdana menteri yang memegang urusan keamanan. Beberapa orang pimpinan cabang NU di Jawa Barat dibakar rumahnya oleh DI/TII, bahkan ada yang ditembak mati. Suatu rapat NU pernah diserang mereka,” kata Idham.

Sejarawan Cornelis van Dijk mengungkapkan bahwa pada Juli 1953 DI/TII melancarkan aksi serentak. Komandan DI/TII di Ciamis Selatan, Uchjan Effendi, memerintahkan pasukannya meningkatkan aksi untuk mengacaukan musuh. Mereka melakukan tindakan apa pun untuk membuat kekacauan.
“Angkatan Kepolisian Negara Islam, misalnya, ditugaskan untuk menghukum warga yang tidak sepakat dengan Darul Islam. Uchjan juga memberikan perintah kepada masing-masing satuan Angkatan Kepolisian yang beroperasi pada tingkat kecamatan. Mereka ditugaskan untuk membunuh paling sedikit satu orang warga dan membakar paling sedikit lima bangunan yang didirikan pemerintah Republik dalam waktu dua minggu. Ancamannya, bila ada anggota yang gagal melakukan aksi ini akan dituntut secara hukum,” tulis Van Dijk dalam Darul Islam: Sebuah Pemberontakan.
Dalam menghadapi DI/TII, Idham melibatkan para kiai. Dia membentuk KPK (Kiai-Kiai Pembantu Keamanan) yang diketuai KH Muslich dari Jakarta. Anggotanya ditunjuk satu orang dari masing-masing wilayah di mana terdapat DI/TII. Khusus untuk Jawa Barat sebagai daerah yang paling luas dikuasai DI/TII, KPK menunjuk dua orang wakil yaitu KH Dimyati (Ciparai) dan Moh. Marsid.
Anggota KPK lainnya antara lain KH Baidowi Tafsir (Jakarta), KH Malik (Jawa Tengah), KH As’ad Syamsul Arifin (Jawa Timur), KH Ahmad Sanusi (Kalimantan), KH Zahri (Lampung), KH Jusuf Umar (Sumatra Selatan), KH Kahar Ma’ruf (Sumatra Tengah), Tengku Mohammad Ali Panglima Pulen (Aceh dan Sumatra Utara), dan KH Abdullah Joesoef (Sulawesi).
“Mereka dengan sungguh-sungguh melaksanakan panggilan kewajibannya sebagai seorang Islam dan warga negara untuk berbicara dengan rakyat tentang kesadaran mematuhi ajaran agama dan hidup bernegara,” kata Idham.
Mereka menghubungi para kiai di daerah masing-masing untuk menyampaikan kesadaran itu karena gangguan keamanan yang berlarut-larut merugikan negara dan rakyat. Mereka melakukan kegiatannya melalui pengajian atau kegiatan lainnya.
Panglima-panglima militer di daerah gembira dengan adanya KPK. Dalam setiap peninjauan maupun operasi militer mereka selalu mengikutsertakan KPK. Di daerah yang berhasil dikuasai, sang kiai memberikan ceramah kepada rakyat. Mereka juga memberikan penyadaran kepada anggota gerombolan DI/TII yang menyerah.
“Mereka sama sekali tidak diganjar dengan nilai penghasilan tertentu, tetapi hanya mendapat sekadar uang jalan dan uang saku,” kata Idham. “Jasa kiai-kiai pembantu keamanan tidak bisa saya lupakan.”
(historia.id)
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Tabarrukan di PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Palengaan Pamekasan Madura




Tabarrukan di PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Palengaan Pamekasan Madura, bersama Cak Iksan Sahri dan Mas Abd Basid.
Terimakasih Mas Bahauddin Amyasi
Siapa yang alumni pesantren keren ini?:-)
 

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z
Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Etika di Medsos

 

Di medsos itu,
- Tidak perlu emosional.
- Tidak perlu fanatik berlebihan.
- Tidak perlu kagetan.
- Tidak perlu terpengaruh berita yang bombastis.
Di kehidupan sekitar kita, semuanya baik-baik saja.
Santailah di medsos dan seriuslah di kehidupan nyata... 😊
Salam.
(KH. M Afifudin Dimyathi)
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

14.10.17

Inskripsi Masjid Sunan Kudus (956 H/ 1549 M) dan Pengantar Menuju Sanad Keilmuan Wali Songo


Inskripsi Masjid Sunan Kudus (956 H/ 1549 M) dan Pengantar Menuju Sanad Keilmuan Wali Songo
----
Ini adalah foto inskripsi Masjid Sunan Kudus (al-Aqsha) yang terdapat di kota Kudus, Jawa Tengah. Inskripsi tertulis di atas lempengan batu dengan menggunakan bahasa Arab dan jenis khat “tsulusi”. 

Inskripsi ini memuat informasi tentang sosok Sunan Kudus yang bernama asli Syaikh Ja’far Shadiq dan bergelar “Syaikhul Islam”, juga bergelar “al-Qâdhî”. Nama masjid yang dibangunnya tersebut bernama “Masjid al-Aqsha” dan selesai dibangun pada tanggal 28 Rajab 956 Hijri (bertepatan dengan 22 Agustus 1549 Masehi).

Inskripsi ini sekarang ditempel pada dinding masjid, tepat di atas mihram pengimaman. Dua sarjana Prancis, L. Kalus dan C. Gullot pernah melakukan penelitian terhadap inskripsi ini. Saya pun berhutang kepada hasil alih tulisan dan edisi teks yang dilakukan keduanya terhadap inskripsi tersebut.

Berikut ini adalah hasil edisi teks dan alih tulisan serta terjemahan bahasa Indonesia dari inskripsi di Masjid Sunan Kudus tersebut:

(1) بسم الله الرحمن الرحيم (.) بنا هذا المسجد الأقصى وبلد القدس خليفة هذا الدهر حبر مكمل
(2) يستجزئ غدا في جنة الخلد نزلا وقربا من الرحمن (؟) منزل (.) أنشأ هذا المسجد المبارك المسمى بالأقصى خليفة الله
(3) في الأرض الحاضر في أجلها والعرش شيخ الإسلام والمسلمين زين العلماء والمجتهدين العالم الكامل الفاضل
(4) المخصوص بعناية ربان الخالق القاضي جعفر الصادق (،) ابتغاء لوجه الله وعواد بره من يد الله واتباعا لسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم
(5) وكان التاريخ ثمانية وعشرين من شهر رجب في سنة ست وخمسين وتسع مائة من الهجرة النبوية (.) وصلى الله على سيدنا محمد وآله وأصحابه أجمعين

(1) Bismillâhirrahmânirrahîm. Telah membangun masjid al-Aqsha dan kota Kudus ini, seorang pemimpin zaman ini, yang ilmunya seumpama tinta dan telah sempurna

(2) Dengan berharap meminta ganjaran besok di surga yang kekal, sebagai pahala dan karunia dari Allah Yang Maha Rahman (?). Telah mendirikan masjid yang diberkahi ini yang dinamakan dengan Masjid al-Aqsha, seorang Khalifatullâh

(3) Di bumi pada zaman ini (?), Syaikhul Islam dan umat Muslim, hiasan sekalian ulama dan para mujtahidin, seorang yang alim, yang sempurna, yang memiliki keutamaan
(4) Yang mendapatkan pertolongan Sang Pencipta, al-Qâdhî Ja’far Shadiq. Membangun semata-mata hanya karena Allah (?) dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

(5) Adapun tanggal (pembangunannya) adalah delapan belas (18) bulan Rajab tahun Sembilan Ratus Lima Puluh Enam (956) Hijri. Semoga Allah melimpahkan do’a keselamatan kepada Nabi kita Muhammad, juga keluarganya dan semua sahabatnya.

Melihat titimangsa pembangunan masjid di atas (956 H/1549 M), dan melihat julukan Sunan Kudus yang bergelar “Syaikh al-Islam” dan “al-Qadhi”, saya jadi memiliki dugaan kuat jika sanad, genealogi intelektual, dan jaringan keilmuan Sunan Kudus bersambung kepada Syaikh Ibn Hajar al-Haitamî al-Makkî (w. 974 H/ 1566 M), ulama sentral dunia Islam pada zamannya yang juga pengarang kitab “al-Manhaj al-Qawwîm”.

Jika benar tersambung, maka Sunan Kudus juga berjejaring dengan Syaikh Zainuddîn al-Fanânî al-Malîbârî (w. 991 H/ 1582 M), yang berjejuluk “Syaikhul Islam” dan “al-Qadhi” dari negeri Malibar, pesisir India Barat (dekat Gujarat), dan juga pengarang kitab “Fath al-Mu’în”. Syaikh Zainuddîn al-Malibârî adalah murid langsung dari Syaikh Ibn Hajar al-Haitamî.

Jika jejak sejarah hubungan dan kontak keilmuan antara Syaikh Zainuddîn al-Malibârî dengan Syaikh Ibn Hajar al-Haitamî ada banyak terlacak dalam sumber-sumber sejarah tertulis, maka tidak demikian halnya dengan sejarah hubungan dan kontak keilmuan antara Sunan Kudus dengan Syaikh Ibn Hajar tadi.

Setidaknya, inskripsi yang terdapat di Masjid Sunan Kudus di atas dapat menjadi pengantar terhadap upaya pelacakan jejak sanad, genealogi intelektual, dan jaringan keilmuan Islam Nusantara masa Walisanga dengan Timur Tengah.

Bandung, Oktober 2017 M/ Muharram 1439 H
Oleh: Ustadz A. Ginanjar Sya'ban

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar ilmu selain Arab, Turki, dan Urdu.

 

2 tahun silam, atas bantuan Mas Sewu Pengalem Humeid saya bisa mendapatkan harta karun ini. Baru bisa membaca dan mengupas singkat karya Syekh Nuruddin Arraniri, "Sirath al-Mustaqim" dan "Tarjuman al-Mustafid"-nya Syekh Abdurrauf Assinkili. Sisanya belum baca, termasuk "Bahrul Madzi Syarah Sunan Attirmidzi" karya Syekh Idris al-Marbawi, dan karya lainnya.
Semua ditulis oleh para ulama Nusantara dengan menggunakan bahasa Melayu dan diterbitkan di Mesir. Hal ini membuktikan bahwa komunitas Nusantara adalah pangsa pasar terbuka di wilayah pengetahuan sejak dulu. Bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar ilmu selain Arab, Turki, dan Urdu.


ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

2.8.17

Habib Luthfi bin Ali bin Yahya tentang MEMBANGUN EKONOMI UMMAt melalui masjid

 

Habib Luthfi bin Ali bin Yahya tentang MEMBANGUN EKONOMI UMMAt melalui masjid
-----
Sebaiknya, uang yg masuk ke masjid jangan diatas-namakan wakaf atau sedekah jariyah, sebab nanti alokasinya hanya akan kembali ke masjid saja. Jika diatas-namakan wakaf atau jariyah, maka kas masjid akan menumpuk karena tidak bisa dialokasikan ke yg lain. Uang masjid diatas-namakan dana sosial saja, supaya pihak takmir lebih leluasa mengelolanya dan bisa mengalokasikan labanya kepada selain masjid.
Melalui dana sosial yg terkumpul di masjid tersebut, buatlah supermarket, toko kecil-kecilan, sampai bisa membeli lahan sawah atau kebun. Tanamilah lahan itu dgn singkong atau padi. Hasil itu semua bisa untuk kepentingan umum masyarakat, seperti membantu biaya pemakaman, membelikan sarung untuk jama'ah masjid yg tidak punya sarung, membantu modal usaha, dan lain-lain.
Jangan sampai dana masjid menumpuk karena diatas-namakan wakaf, namun kaum fakir-miskin masyarakat setempat tidak terurus. Nanti kalau ada misionaris masuk dgn membawa supermi, beras dan lain-lain, baru geger. Bukannya kita ingin memanjakan kaum fakir-miskin, tapi ingin memberdayakan mereka. Jangan beri mereka ikan, tetapi berilah kail agar mereka bisa mencari ikan sendiri.
Silahkan juga dirikan bank tanpa riba. Mungkin dgn memberi pinjaman tanpa meminta bunga lewat akad. Sifatnya murni menolong dan mengentaskan kemiskinan. Jadi bank di sini bukan bank sesungguhnya (konvensional), tetapi untuk mempermudah istilah saya saja.
NAMUN, untuk membahas urusan ekonomi jangan di masjid, tetapi di tempat lain, karena masjid bukan tempatnya membahas ekonomi. Mungkin di gedung yg dibangun di samping masjid, yg khusus untuk membahas ekonomi.
Jika saya memberi penjelasan lebih, mungkin sedikit akan menyinggung perasaan sebagian orang. Mereka yg sering umroh, mungkin dalam setahun bisa 2 atau 3 kali, coba uangnya dialokasikan saja untuk kesejahteraan umat. Taruhlah jika biaya umroh 1 kali adalah 20 juta, maka sudah berapa dana yg akan terkumpul ? Itu baru 1 orang, bagaimana jika dari banyak orang ? Kalau umroh mungkin hanya untuk mendapat nama saja, agar disebut mampu umroh berkali-kali.
Biaya yg akan digunakan umroh tersebut bisa digunakan untuk memberi pinjaman modal pada tetangganya yg kekurangan, dgn tanpa bunga dan pengembaliannya dibebaskan kapan saja. Jangan sampai bisa umroh berkali-kali namun tetangga kanan-kirinya kelaparan.
Tambahan Admin :
Agar dana masjid tidak berstatus wakaf atau amal jariyah, maka pihak takmir masjid bisa mengumumkannya kepada masyarakat saat semua berkumpul, mungkin sebelum sholat Jum'at, bahwa dana yg akan diserahkan pd masjid dimohon diatas-namakan dana sosial saja. Papan pengumuman juga ditulis pengumuman di atas. Demikian juga kotak-kotak amal jangan ditulis wakaf atau amal jariyah, namun ditulisi "dana sosial".
Dalam kesempatan lain, beliau juga mencontohkan agar ekonomi kemasjidan tersebut bisa membantu biaya pendidikan masyarakat sekitar. Coba bayangkan, jika masjid A bisa membiayai para mahasiswa sampai wisuda, dapat membiayai anak mondok sampai lulus, dan seterusnya. Sangat membanggakan kan ?
Marilah bangun kemandirian ekonomi kita melalui komunitas terdekat kita. Bisa melalui ta'mir masjid atau musholla, komunitas anak muda, komunitas Anshor atau IPNU, komunitas jama'ah ngaji dll. Kelola dgn profesional, militan dan transparan.
Malam Ahad (bil ma'na), 23 Romadlon 1438 H./ 17 Juni 2017 M.
(FB TintaSantri)


ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Bukan Kriminalisasi Ulama

 

KH. Miftahul Achyar
KH. Maimoen Zubair
KH. Ma'ruf Amin
Pak Jokowi
KH. Muhtadi
Pak Jusuf Kalla
Pak Lukman Hakim Saifuddin Zuhri



 
*semoga membawa keberkahan untuk Indonesia*








ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

fakta yang sengaja ditutup-tutupi oleh Rezim Jokowi

 

Menurut saya, ada beberapa fakta yang sengaja ditutup-tutupi oleh Rezim Jokowi. Tujuannya, agar rakyat tidak bergolak, lalu melakukan revolusi yang bisa menumbangkan kekuasaannya. Contohnya, penyanyi tengil Bastian Steel yang pedekate ke Chelsea Islan. Ini fakta. Datanya sudah ada di BIN dan CIA. Tapi sengaja ditutup-tutupi oleh pemerintah dengan menggulirkan isu beras oplosan. Rakyat dibohongi!!!!
Jadi, ini memang konspirasi menyembunyikan fakta. Rezim macam apa ini yang tega merahasiakan cinta Chelsea Islan. Rakyat butuh transparansi.
Transparansi atau revolusi!!!

#Front Pembela IslaN
#savechelseaislan
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://penerbitimtiyaz.com/ Direktur Penerbit imtiyaz. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

1.8.17

"Saya ini ikut NU-nya Mbah Hasyim....."

 
"Saya ini ikut NU-nya Mbah Hasyim....."
"Hwallah, ra sah megayaaaaa. Lha wong Mbah Hasyim itu nggak pernah memakan dan menyebar hoax kayak sampeyan kok...."
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,penerbitimtiyaz.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

29.7.17

Cover Cover Penerbit Imtiyaz

 








ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)


27.7.17

Kreativitas di Eropa dan Indonesia

 
Kreativitas di Eropa dan Indonesia
-----
Zenedine Zidane // Juventus ke Real Madrid// Rp 800 miliar
Cristiano Ronaldo// Manchester United ke Real Madrid// Rp 1,3 triliun
Gonzalo Higuain// Napoli ke Juventus// Rp 1,3 triliun
Gareth Bale // Tottenham Hotspurs ke Real Madrid// Rp 1,4 triliun
Luis Suarez// Liverpool ke Barcelona// Rp 1,4 triliun
Paul Pogba // Juventus ke Manchester United// Rp 1,5 triliun
E-KTP// rakyat Indonesia ke rekening anggota DPR RI// Rp 2,3 triliun



ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

SULTAN IDRUS QAIMUDDIN : SULTAN, SUFI & ULAMA BESAR BUTON

SULTAN IDRUS QAIMUDDIN : SULTAN, SUFI & ULAMA BESAR BUTON
Ramai dari kalangan para ulama di Nusantara yang pernah diangkat menjadi sultan. Salah seorang darinya ialah Syeikh Idrus Qaimuddin Al Buthoni.
Syeikh Idrus Qaimuddin Al Buthoni adalah Sultan Kerajaan Buton, Sulawesi yang ke-29 yang ditabalkan pada tahun 1821. Beliau juga seorang ulama besar yang banyak menghasilkan penulisan dalam bahasa Arab.
Sepanjang hidupnya, beliau dikatakan telah menulis lebih 20 buah kitab dalam bahasa Arab. Namun hanya sebahagian sahaja yang masih ada.
Antara kitabnya yang masyhur ialah Misbah Ar Rajin Fi Zikri Salatu Was Salam Alan Nabi Syafi’il Muznibin iaitu kitab tentang himpunan selawat dan kelebihan selawat atas Rasulullah SAW. Kemampuan beliau mengarang kitab dalam bahasa Arab membuktikan ketinggian ilmunya dalam bidang agama.
Antara guru-guru Sultan Idrus Qaimuddin ialah Syeikh Muhammad ibn Syais Sumbul al-Makki, Sayyid Abdullah bin Sayyid Ahmad al-Baghdadi an-Naqshabandi dan Syeikh Muhammad Zain bin Syamsuddin al-Jawi.
Sultan Idrus Qaimuddin juga seorang ulama bertarekat Khalwatiyah, Sammaniyah dan Syattariyah. Beliau telah membina sebuah tempat untuk bersuluk sekitar 1 km dari istana Buton. Di sinilah beliau menulis kitab-kitab di samping beribadat. Beliau juga dimakamkan di samping tempat suluknya ini.
Semasa memerintah Buton, beliau mengukuhkan perlaksanaan syariat Islam di Buton. Beliau juga memperkukuhkan institusi zawiyah (madrasah) yang melahirkan ulama-ulama Buton termasuk seorang puteranya iaitu Syeikh Abdul Hadi (ulama besar Buton).
Sultan Idrus Qaimuddin juga terkenal sebagai seorang sultan yang zuhud dan tawaduk. Beliau sering menulis syair bagi memperingati dirinya bahawa jawatannya itu hanyalah sementara.
Senarai antara kitab-kitab dalam bahasa Arab yang ditulis oleh Allamah Syeikh Sultan Idrus Qaimuddin Al Buthoni:-
1) Misbah Ar Rajin Fi Zikri Salatu Was Salam Alan Nabi Syafi’il Mudznibin
2) Mu’nisah Al Qulub fi Zikr wa Musyahadah
3) Dhiya’ Al Anwar fi Tasyfiah Al Aqdar
4) Kasyful Hijab fi Muraqabah Al Wahab
5) Kasyful Muntazar Lima Yarah Al Muhtadar
6) Hadis Arbain
7) Al Maulid Al-Karim Wa Ar-Rasul Al-Azim
8) Fath Ar-Rahim Fi At-Tauhid Rabb Al-Arsy Al-Azim
9) Hidayat Al-Basyir Fi Ma’rifat Al-Qadir
10) Zubdat Al-Asrar fi Tahqiqi Ba’di Nasyarib fi Al-Akhyar wa Risalah As-Syatariyyah
11) Mu’nasat Al-Qulub fi Az-Zikir Wa Musyahadat ‘Alam Al-Ghuyub
12) Sabil As-Salam Li Bulughi Al-Maram
13) Sabil As-Salam Li Bulughi Al-Maram Fi Ahadisi Sayyid Al-Anam
14) Tahsin Al-Aulad Fi Ta’at Rabb Al-Ibad
15) Tanbih Al Gafil Wa Tanzilat Al-Mahafil
16) Tanqiayat Al-Qulub Fi Ma’rifat ‘Alam Al-Guyub
17) Ibtida Sayr Al-Arifin
Oleh: Ustadz Hasanuddin Yusof (Maktab Penyelidikan
Tamadun Islam Nusantara)

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

RAIS ‘AM PBNU: PESANTREN & TUGAS KEULAMAAN

 
RAIS ‘AM PBNU: PESANTREN & TUGAS KEULAMAAN
Banyak poin penting dari pidato Rais Am PBNU, Prof. Dr.KH. Ma’ruf Amin, yang beliau sampaikan pada acara al-Haflatul Kubro (23/7/2017) di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, yang juga dihadiri oleh Hadratus Syaikh Maimun Zubair (Mustasyar PBNU), Tuan Guru Zainul Majdi (Gubernur NTB, doktor lulusan al Azhar Mesir) dan banyak Kiai lainnya, antara lain:
1. Tugas utama pesantren adalah i’dad-ul mutafaqqihina fid-din (menyiapkan generasi ulama yang memiliki kedalaman ilmu agama). Sebab, ilmu agama kelak akan diangkat oleh Allah dengan wafatnya para ulama. Ketika para ulama telah wafat dan tidak tersisa seorang pun dari mereka, maka masyarakat akan mengulama’kan orang-orang bodoh (juhhal) yang pada akhirnya akan sesat menyesatkan.
2. Tugas utama ulama adalah himayat-ud din, yaitu melindungi agama dari pengaruh-pengaruh al-‘aqaid al-fasidah (akidah sesat) dan al-afkar al-munharifah (pemikiran-pemikiran menyimpang, esktrem, dan radikal) yang membahayakan agama.
3. Pemikiran radikal yang harus diwaspadai ada dua macam, yaitu radikalisme agama dan radikalisme sekuler. Radikalisme agama adalah kelompok-kelompok yang memahami agama secara radikal. Mereka terbagi menjadi dua golongan, yaitu ithbatiyyun (ekstrem kanan) dan mutaghayyirun (ekstrem kiri). Yang pertama adalah golongan tekstualis yang rigid (kaku) dalam memahami agama sehingga mengabaikan subtansi (maqashid al-shari’ah) dari agama itu sendiri. Mereka menutup mata, sama sekali tidak mau berkompromi dengan problematika masyarakat yang terus berkembang (al-umur al-mustajaddah). Kebalikan dari yang pertama, golongan kedua (mutaghayyirun) memahami agama secara liberal, melampaui batasan-batasan yang ditentukan oleh syara’. Lantas, di mana posisi kita? Posisi kita harus ada di tengah (mutawassitun). La tekstualiyyun wa laa librariyyun, tidak tekstualis dan tidak pula liberal.
4. Tugas ulama lainnya adalah himayat-ud daulah (melindungi negara). Saat ini negara tidak hanya menghadapi ancaman dari kelompok-kelompok radikalis agama yang anti Pancasila, tapi juga kelompok-kelompok radikalis sekuler yang kehilangan semangat religiusitas (al-ruh al-diniyah) dalam bernegara. Mengutip pidato Hadratus Syaikh M. Hasyim Asy’ari, “ laqad dha’ufat al-ruh al-diniyyah fi al-‘alam al-siyasi fi al-ayyam al-akhirah”, sungguh telah melemah semangat keagamaan di dunia politik dewasa ini. Kita patut bersyukur, Indonesia memiliki UU Penodaan Agama. Sebagian kalangan menghendaki dihapusnya UU tersebut, karena rawan kriminalisasi. Seharusnya tidak demikian, karena yang kriminal bukanlah undang-undangnya, tapi orangnya. Selama kita tidak berbuat kriminal, maka tidak perlu takut dengan undang-undang tersebut. Kita juga patut bersyukur dengan disahkannya Perppu Ormasy yang berimplikasi pada dibubarkannya kelompok anti-Pancasila (HTI) yang dapat mengancam keutuhan bangsa dan negara.
5. Untuk menghidupkan kembali semangat keagamaan (al-ruh al-diniyah) dan kebangsaan, Rais Am bersama Presiden akan membentuk Majlis Dzikir Hubbul Wathon yang secara rutin akan digelar di Istana Negara.
6. Tugas ulama yang berikutnya adalah islah al-ummah (melakukan perbaikan umat). Sebagai rijal al-islah (aktor-aktor perbaikan), ulama seyogyanya tidak hanya berpedoman pada kaidah al-muhafadhah ala al-qadim al-salih wa al-akhdzu bi al-jadid al-aslah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengadopsi tradisi baru yang lebih baik), tapi juga islahu ma huwa al-aslah fa al-aslah tsumma al-aslah (memperbaiki apa yang sudah baik agar menjadi lebih baik, lalu menjadi lebih baik lagi, dan seterusnya).
------
Semoga kita, orang-orang pesantren, mampu mengemban amanah sebagaimana ditegaskan oleh beliau, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, di atas.
Wallahu ‘alam
Disarikan oleh *Miftakhul Arif, kandidat Doktor UIN Sunan Ampel, Pengajar MA Unggulan K.H. Abd. Wahab Hasbulloh & Pesantren Putri Al Lathifiyyah 2 Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Advertisement

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Menyongsong Taqdir Meniti Asa

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan

Rasionalisasi Tuhan